
SAH ...
Ucap para saksi dan tamu undangan setelah Aka mengucapkan ijab kabul. Semuanya mengaminkan doa yang dibaca oleh penghulu sebelum pengantin wanita di sandingan dengan pengantin laki-laki.
Gemuruh di dada Aka belum berhenti meski ijab kabul sudah selesai ia ucapkan dengan satu tarikan nafas. Menunggu kedatangan istrinya, ia berkali-kali menghembuskan nafas berat. Matanya tak lepas dari pintu utama tempat pernikahan mereka berlangsung di salah satu gedung hotel mewah.
Akhirnya yang di nantikan pun muncul. Tampak Fathia berjalan di apit oleh Ciara dan Mita. Dalam balutan kebaya kutu baru berwarna putih dan batik coklat wanita itu tampak sangat anggun. Wajahnya semakin mempesona lewat bibir maroon, pipi berona peach, shimmered brown eyeshadow dan false lashes yang lentik.
Semakin manis dengan gulungan sanggul rambutnya yang berhiaskan ronce bunga melati. Ditambah veil yang menutupi kepala hingga wajahnya membuat Fathia tampil elegan bak putri seorang raja.
Aka yang memakai beskap putih dan batik nan senada dengan istri menunggu di balik meja dengan jantung yang semakin berdebar kencang ketika wanitanya semakin mendekat.
Ciara dan Mita membantu Fathia duduk di bangku samping suaminya. Untuk pertama kalinya Aka melihat wajah asli sang istri yang begitu cantik dan mampu membuatnya seolah tak berpijak di bumi.
"Silahkan tandatangani surat-suratnya," kata petugas KUA.
Aka yang terpesona akan bidadari di sampingnya tak mendengar ucapan tadi.
"Mas, kita tandatangani surat-suratnya dulu." Fathia menepuk lengan Aka.
"Hah, oh iya." Aka seperti orang kebingungan tak tau harus apa.
Petugas KUA pun menunjukkan surat-surat dan meminta Aka serta Fathia membubuhkan tandatangan di beberapa kolom yang tersedia. Setelah itu mereka pun mendapatkan dua buku berwarna merah dan hijau.
"Pasang cincinnya," kata Alia memberikan kotak cincin pada sang putra.
Saat menyematkan cincin ke jari manis sang istri Aka masih saja berdebar tak karuan.
"Cantik!" bisiknya saat mereka sedang berfoto memperlihatkan cincin di jari manis masing-masing pada lensa kamera.
"Kamu juga ganteng!"
"Aku jatuh cinta!"
"Hahaha ... jadi kalau aku jelek kamu nggak akan jatuh cinta?"
"Mau jelek sekalipun aku tetap cinta, tapi kali ini aku benar-benar jatuh cinta. Dari tadi jantungku tak berhenti berdebar."
"Gombal!"
"Aku serius!"
"Foto keluarga," sorak fotografer.
Percakapan mereka terhenti sebab sesi foto keluarga harus di lakukan sebelum para tamu menghampiri untuk mengucapkan selamat.
"Aduh, menantu, Mama cantik sekali," puji Alia yang juga baru pertama kali melihat wajah asli Fathia.
"Makasih, Mah!"
__ADS_1
"Pantas ya, anak kalian ganteng banget. Mamanya cantik gini," tambah Risma.
"Tante bisa aja." Fathia tersipu malu.
Beberapa kru WO meminta Fathia dan Aka untuk bersiap di pelaminan karena ada beberapa tamu yang ingin mengucapkan selamat.
Usai salam-salam dan menemani para tamu yang hadir di akad. Fathia dan Aka di minta istirahat terlebih dahulu sebelum acara resepsi nanti jam 8 malam.
"Uluh, uluh anak, Mama nggak rewel kan? Nggak nangiskan?" Fathia segera menemui sang putra di kamar hotel yang selama dua minggu ini di tempatinya.
"Anteng kok, Bu," jawab baby sitter yang mengasuh Kafha.
"Ganti baju dulu sayang, biar Kafha sini sama aku," kata Aka mengambil alih sang putra dari gendongan sang istri.
Fathia di bantu oleh beberapa kru WO dan make up artis melepaskan baju dan beberapa perhiasan yang melekat di tubuhnya. Sekalian membersihkan make up Fathia mulai memompa ASI nya.
"Nanti habis magrib aja kita mulai make up nya ya, Mbak. Saya mau make up resepsi nanti yang simpel aja," pinta Fathia pada make up artis.
"Siap, Mbak." Mereka semua pun keluar dari kamar dan memberikan waktu pada pada pengantin baru itu untuk istirahat sebentar.
"Ayo sini, sama Mama. Giliran Papa yang ganti baju." Fathia pun mengambil alih sang putra dari gendongan sang suami.
"Baju kamu udah aku siapin di atas kasur, Mas."
Ia pun membawa Kafha menuju sofa di dekat jendela kaca duduk di sana menyusui sang putra.
"Kamu nggak mandi?" tanya Fathia pada Aka yang kembali menghampiri mereka.
"Udah tidur aja dia," kata Aka mengelus pipi gembul putranya.
"Capek kali, Mas."
"Habis itu giliran aku, ya," goda Aka mengedipkan sebelah mata.
Fathia memukul lengan suaminya. "Nggak bisa apa nanti malam aja?"
"Sekarang pembukaan nanti malam baru yang utama."
"Nanti malam aja ya, Mas. Sekarang aku mau bobok dulu sama Kafha," jawab Fathia santai berjalan menuju kasur sembari mengendong sang putra yang masih menyusu.
Aka pun ikut berbaring di samping sang istri yang memunggunginya sebab masih menyusui.
"Honey."
"Mas, nanti aja. Ngalah dulu sama anak kenapa sih. Nanti malam dia bakalan tidur sama, Mama kok jadi sekarang aku mau habisin waktu sama dia dulu."
"Benar, ya?"
"Iya, nanti kamu bisa puas-puas deh. Sekarang tidur, nanti malam pasti capek layani tamu-tamu kamu yang banyak itu," kata Fathia mulai memejamkan mata.
__ADS_1
ππππ
Usai solat magrib dan makan malam Fathia pun sudah di rias oleh make up artis. Sesuai pesannya tadi, wajah Fathia hanya di poles make up tipis dan simpel tapi tak mengurangi kecantikannya.
Mengusung konsep outdoor Fathia mengenakan gaun simpel berwarna baby pink. Rambutnya yang panjang di jalin bak rambut barbie. Sedangkan Aka memakai kemeja senada dengan sang istri di padukan dengan celana di atas lutut berwarna putih serta sneaker.
Baby Kafha juga tak lupa di dandani serupa dengan sang Papa. Keluarga kecil itu siap menyambut dan menyapa para tamu yang sudah berdatangan. Tak ada panggung atau pelaminan. Pengantin memilih untuk menghampiri para tamu-tamu mereka.
"Gila, istri lo cantik banget, bro," puji teman Aka.
"Hahaha ... thanks. Gue juga kaget sih punya istri secantik dia."
"Kok gitu?" tanya teman Aka.
"Baru tadi habis ijab kabul gue lihat wajah aslinya setelah operasi."
"Wwaahh surprise dong."
"Iya, gitu lah. Jantung gue nggak berhenti deg-dean dari tadi."
"Sekarang masih?"
"Deg-degan malam pertama. Doa in semoga si kecil nggak rewel."
Mereka semua tertawa sedangkan Fathia hanya tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang merona merah.
Acara berlangsung seru. Para tamu dan keluarga pun berbaur. Baby Kafha juga menjadi pangeran kecil malam itu sebab banyak yang gemas akan tubuhnya yang bulat berisi. Juga ketampanannya membuat para tamu ingin menggendongnya.
Lantunan musik slow mengajak para pasangan untuk berdansa menikmati malam yang semakin larut dan menikmati langit kelam bertaburan bintang.
"I love you," bisik Aka di telinga sang istri saat mereka ikut berdansa.
"Love you to, Mas!"
Mata Aka tak lepas dari wajah sang istri. Entah mengapa rasanya wajah ini tak asing dalam ingatannya.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu?"
"Aku kayak pernah ketemu sama kamu deh," kata Aka sambil tubuh mereka bergoyang kiri dan kanan.
"Kapan, Mas? Bukannya kamu bilang baru pertama kali lihat wajah aku."
"Nah itu. Aku bingung! Tapi benar, berasa pernah gitu ketemu kamu, tapi di mana," jelas Aka mencoba mengigat.
Fathia hanya tertawa.
"Kok kamu ketawa?"
Ia pun menggeleng. "Aku lihat Kafha dulu, kayaknya dia mau bobok." Fathia melepaskan rangkulannya dari pundak Aka.
__ADS_1
"Jangan lama-lama," kata Aka menahan tangan sang istri.
"Nggak, aku mau tidurin Kafha dulu habis itu kesini lagi."