
Seperti biasanya, bagun pagi solat subuh dan memasak sarapan pagi adalah rutinitas wajib bagi Alodie palsu. Hanya saja pagi ini ia bangun sedikit terlambat dari biasanya. Ia merasa badannya sedikit tidak enak, tapi Alodie palsu atau Fathia tetap memaksakan dirinya untuk bangun.
"Mas, bangun sudah jam 6 pagi. Aku bagun kesiangan," kata Fathia membangunkan Aka.
"Hhmm... "
"Bagun dan mandi Mas, aku harus kedapur mau bikin sarapan," kata Fathia lagi menyiapkan baju kerja suaminya.
Aka duduk di atas kasur menggosok wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menyerang mata.
"Pakai baju sendiri habis itu turun kebawah ya," ujar Fathia meninggalkan Aka yang masih mengumpulkan nyawanya dari alam mimpi.
Masakan simpel seperti nasi goreng jadi pilihan Fathia kali ini. Sambil mengolah nasi di wajan sesekali ia tampak memejamkan matanya menghilangkan rasa pusing yang menyerang kepala.
Sedangkan Aka baru saja selesai membersihkan diri dari kamar mandi lalu ia memakai kemeja dan celana yang di siapkan sang istri. Terakhir Aka mengancingkan lengan kemejanya.
Ppprrraaannnggg....
Suara pecahan piring terdengar dari arah dapur.
Aka membuka pintu kamar mengulurkan kepalanya untuk memanggil sang istri.
"Honey? kamu nggak apa-apa kan?" teriak Aka untuk memastikan.
Tak ada jawaban, suara Alodie palsu pun tak terdengar menyahut.
"Al?" panggil Aka lagi.
Sama, hanya hening yang di dapat Aka. Ia bergegas turun untuk melihat istrinya di dapur.
"Astaghfirulah, Al," kaget Aka melihat istrinya tergeletak di lantai dapur tak sadarkan diri. Aka mengangkat tubuh istrinya menuju sofa di ruang tengah. Lalu ia mengambil kotak yang berisikan obat-obatan untuk mengobati luka di kaki Fathia yang terkena pecahan piring. Aka juga memeriksa kondisi istrinya, mengoleskan sedikit minyak kayu putih di hidung Fathia agar cepat sadar.
"Uuumm... iiisss," ringis Fathia bangun dari pingsannya.
Aka membantu istrinya untuk menyandar di tangan sofa beralaskan bantal. "Kamu demam sayang," ujarnya.
"Kepala aku pusing banget Mas."
"Kenapa nggak ngomong dari tadi?" cemas Aka.
"Aku pikir cuma pusing biasa, lagian aku harus masak sarapan buat kamu."
"Pasti karena hujan-hujan semalam! tensi kamu juga rendah, kita ke RS ya," ajak Aka.
"Nggak perlu Mas, aku minum paracetamol aja," elak Fathia. "Kamu bisa pergi ke kantor."
"Aku nggak jadi ke kantornya! kita ke RS sekarang ya. Tunggu di sini aku ambil baju ganti buat kamu," kata Aka berlari menuju kamar. Ia bergegas menganti bajunya lalu memilih baju ganti untuk istrinya. Tak mungkin Alodie palsu di larikan kerumah sakit memakai piyama satin nan tipis itu.
Aka membantu istrinya berganti pakaian lalu ia mengeluarkan mobil dari garasi dan kembali ke dalam rumah untuk menjemput istrinya.
"Loh, Mbak Alodie kenapa?" tanya Mita yang baru sampai dan ia memarkirkan motornya di halaman.
__ADS_1
"Demam Mit, bantu saya buka pintu mobilnya," ujar Aka mengendong Fathia. Mita membantu Aka yang tampak kesulitan membawa sang istri.
"Mit, kamu jaga rumah ya! bi Runi nggak ada. Saya mau bawa Alodie ke RS," titah Aka.
"Siap Pak Dokter!"
πΎπΎπΎπΎ
"Bagaiman Alodie dokter?" tanya Aka pada dokter Indra.
"Cuma demam biasa karena kelelahan dan kurang istirahat. Nanti saya resepkan vitamin. Banyak minum air putih dan makan buah juga sayur."
"Boleh saya bawa pulang?" tanya Aka.
"Silahkan, tapi kalau bisa di infus ya, istri anda kekurangan cairan jadinya dehidrasi," tambah dokter Indra.
"Terimakasih dokter."
Dokter Indra mengangguk lalu menepuk pundak Aka. "Kalau bisa kerja malamnya jangan sampai lembur ya, kasian istri kamu," tambah dokter Indra tersenyum.
Aka hanya tersenyum malu membalas dokter Indra.
"Ntar kebobolan loh Ka, kalau pabriknya kerja lembur," timpal Biya yang datang menjenguk Alodie.
"Santai aja, aman kok," jawab Aka santai. "Gue titip Alodie dulu ya Bi, mau ke apotik."
Biya mengangguk menuju brankar Alodie. "Berapa ronde semalam, sampai masuk rumah sakit?" tanya dokter Biya pada Alodie palsu.
"Tahan-tahan dulu Al, takutnya nanti kebobolan. Kamu masih mengkonsumsi obat dari dokter Labib kan?"
Alodie palsu mengangguk.
"Sabar, tinggal satu tahun lagi kamu bisa lepas alat kontrasepsi nya dan kalian bisa program hamil," tambah dokter Biya.
"Kenapa Alodie? tanya dokter Labib datang bersama Aka untuk menjenguk.
"Demam karena kecapekan," jawab Aka.
"Kerja lembur semalam," tambah Biya.
Dokter Labib menatap horor pasutri itu. "Ingat ya kalian, belum boleh hami! Alodie masih harus minum obat dari saya dan itu nggak baik untuk ibu hamil." Tegas Labib mengingatkan.
"Ia, ia gue tau! cuma semalam gue lembur bayar libur seminggu kok," jawab Aka santai.
"Alasan lo," cibir Labib. "Bilang aja nggak puas saking enaknya."
"Hahaha... tuh tau!"
"Iihh... udah ah, kalian para dokter kok ngomong mesum," potong Fathia.
"Suami kamu yang mesum dan perlu di ingatkan!" jawab dokter Biya.
__ADS_1
"Ah, dokter Bi belum nikah sih! nikah dulu habis itu kawin nah kalau udah tau rasanya pasti nggak bisa nolak mau pengen terus," kata Fathia ikut mesum.
Aka dan Labib tertawa keras. "Benar tuh Bi, nikah gih sama Beno," tambah Aka.
"Tau Ah, mendingan saya pergi aja dari sini,mau periksa pasien," kesal dokter Biya pergi dengan wajah cemberut.
Dokter Labib masih tertawa. "Gue juga cabut ya. Ingat ya Al, Aka jangan sampai kebobolan!" tegasnya lagi meninggalkan pasutri itu.
Keduanya mengangguk bersamaan. "Pulang sekarang yuk!" ajak Aka.
"Gendong," rengek Fathia manja mengangkat kedua tangannya.
ππππ
Sampai dirumah Fathia dibawa Aka menuju kamar mereka lalu ia membaringkan Fathia di atas kasur tak lupa Aka memasangkan jarum infus di tangan istrinya.
"Berapa botol Mas?"
"Cuma satu aja."
"Kenapa nggak di RS aja tadi?"
"Lama nunggunya, mendingan di rumah sekalian kamu bisa langsung istirahat."
"Mbak Alodie kenapa dokter?" tanya Mita ikut menyusul ke kamar.
"Kecapekan aja Mit," jawab Aka.
"Oh. Tadi aku udah telpon Mbak Rike buat batalin seluruh jadwalnya Mbak Alodie satu minggu kedepan," jelas Mita.
"Bagus!"
"Mbak mau makan apa?" tanya Mita menghampiri Alodie palsu di atas ranjang.
"Nggak ada Mit, nggak *****," jawab Fathia lemah.
"Makan dikit ya, habis itu minum obatnya," bujuk Aka.
"Ya udah, aku mau makan mie ayam!"
"Ada lagi?"
"Sama pisang molen."
"Mit, tolong kamu pesan makanan yang di minta istri saya," titah Aka membetulkan posisi istrinya agar lebih nyaman.
"Ok. Pak dokter mau pesan juga?"
"Nggak usah! Oh ya setelah ini kamu telpon bi Runi sama mama saya ya, bilang Alodie sakit. Saya mau ke ruang kerja dulu, mau hubungin Beno dan kirim beberapa email penting," kata Aka pada Mita. "Aku tinggal bentar ya sayang," izinnya pada Alodie palsu.
"Ia Mas."
__ADS_1
"Mit, jagain istri saya!" kata Aka tegas keluar dari kamar.