
Fathia membuka mata saat telinganya seperti mendengar suara suaminya memanggil namanya.
"Hhhmmmm..... hhhhhuuuuufff " helaan nafas Fathia menyadari kalau ia hanya bermimpi.Di lihatnya jam dinding menunjukkan pukul empat sore ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu lalu menunaikan solat Ashar.
"Bi, masakannya sudah beres?" tanya Fathia menghampiri bi Runi di dapur.
"Belum Mbak," jawab Runi memotong sayuran.
"Ya sudah, saya bantu ya," kata Fathia. Meski hatinya masih terluka, tapi Fathia tak ingin orang lain tau. Ia akan menutup luka hatinya dengan senyuman yang meyakinkan.
Hampir jam lima sore, Fathia di bantu bi Runi menyelesaikan masakan yang akan di bawanya kerumah sakit untuk sang suami, Aka dan juga mertuanya.
"Bi, tolong tata di rantang ya. Aku mau ke kamar ganti baju dulu," pinta Fathia.
"Baik Mbak."
ππππ
"Ok Fathia kamu harus bisa senyum dan bersikap seperti biasa di depan Mas Aka dan juga mama papanya nanti," ingat Fathia pada dirinya sendiri sebelum turun dari mobil.
Berkali-kali ia menghela nafas untuk melegakan hati dan pikirannya.Memantapkan hatinya kembali untuk menjadi Alodie palsu. Merasa yakin, Fathia turun dari mobil dan berjalan menuju ruang inap Aka dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya saat menyapa orang yang berpapasan dengannya.
"Assalamualaikum." ucap Fathia masuk.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" jawab Alia dan suami juga Aka.
"Maaf ya aku telat, soalnya tadi masak dulu buat kita makan malam di sini," pinta Fathia.
"Nggak maslah Al. Cuma suami kamu itu dari tadi uring-uringan kamunya nggak ada," jawab Alia.
Fathia tersenyum hangat menghampiri Aka lalu memeluk suaminya.
"Kangen" rajuk Aka manja.
Fathia tergelak sikap Aka yang seperti anak-anak bisa menghibur dirinya.
"Baru di tinggal bentar aja udah kangen.Mas mau makan?"
"Ya udah, aku siapin dulu. Mamah sama Papa mau makan sekarang? sekalian aku siapin ya. Habis itu Mama sama Papa bisa pulang."
"Nggak pelu Al, kamu urus suami kamu. Papa sama Mama bisa sendiri," jawab Faris.
"Kamu cantik banget sih," puji Aka saat Fathia menyuapinya makan.
"Gombal kamu Mas!"
"Serius! kamu udah pakai make up?"
__ADS_1
"Jadi cantiknya cuma karena aku pake make up?"
"Bukan gitu sayang, kalau dandan jadi lebih cantik."
Fathia memang sengaja memoles make up tipis untuk menutupi wajahnya yang pucat juga matanya yang sedikit sembab habis menangis.Juga dokter Labib sudah mengizinkannya untuk memakai kosmetik jadi Fathia mulai belajar kembali merias wajahnya yang baru.
"Sengaja tampil cantik buat suami, biar cepat sembuh." jelas Fathia memberikan suapan pada Aka.
Aka tersenyum girang. "Jadi nggak sabar cepat pulang kerumah."
Fathia begitu telaten merawat suaminya. Setelah menyuapi makan ia menyiapkan obat yang akan di minum Aka.
"Mama sama Papa pulang ya," pamit Alia.
"Boleh Mah. Sekali lagi terimakasih sudah bantu aku jagain Mas Aka, maaf kalau bikin repot," pinta Fathia merasa tak enak.
"Nggak lah Al, Aka itu kan anak Mama. Kamu kok kayak sama orang lain aja. Oh, ya terimakasih makanannya, enak."
"Allhamdulillah kalau Mama Papa suka.Aku antar kedepan ya."
"Jangan Al, kamu di sini saja temani Aka," larang Faris. "Aka, kami pulang ya," pamitnya.
"Hati-hati di jalan Mah, Pah," jawab Aka.
__ADS_1
Kepergian mertuanya Fathia membantu Aka untuk membersihkan diri di kamar mandi. Sebenarnya Aka bisa sendiri hanya saja karena ia begitu ingin di manja oleh istrinya jadilah ia merengek untuk di bantu membersihkan diri, alasannya takut pusing atau jatuh nanti di kamar mandi.