ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
110


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa kan, Aka?" tanya Alia khawatir menyambangi anaknya di ruang rawat setelah Beno memberikan kabar pagi ini tentang musibah yang menimpa Aka.


"Aku baik-baik aja Mah, Pah!" jawab Aka santai agar kedua orang tuanya dapat merasa tenang.


"Kenapa nggak kabari kami dari semalam?" tanya mamanya Beno.


"Mah, sudahlah! kami sengaja nggak kasih kabar waktu kejadian karena nggak mau bikin kalian semua cemas lalu menyusul kesini pagi-pagi buta," jelas Beno. "Yang terpenting nggak ada korban jiwa dan Aka serta korban lainnya selamat meski mereka mengalami luka ringan, tapi merek sudah mendapatkan perawatan," tambahnya lagi.


"Ada apa ini Aka, kenapa bisa terjadi kebakaran?" tanya Faris sang papa.


"Sepertinya korsleting listrik Pa. Aku juga nggak tau kejadian awalnya seperti apa, soalnya aku lagi solat malam di ruangan aku, tiba-tiba asap sudah tebal dan aku pun bergegas keluar," jelas Aka.


"Nanti aku sama tim kepolisian akan ikut menyelidiki kasus ini Om," tambah Beno.


"Syukurlah." Faris mengusap dada. "Al, kamu pucat loh, kamu sakit?" tanya Faris memperhatikan Alodie palsu yang baru saja dari apotik.


Alodie palsu tersenyum tipis. "Nggak kok Pah, cuma kurang istirahat aja."


"Kamu kenapa nak?" tanya Alia merangkul menantunya.


"Alodie semalam kesini tante, dia sampai mau menerobos masuk ke dalam gedung yang terbakar untuk bantu cari Aka," jelas Beno.


"Kenapa kamu nekat Al? tanya mama Beno. "Bahaya itu, lagian kenapa kamu bisa nyusul kesini?"


"Aku semalaman nggak bisa tidur tante, sampai aku sudah solat pun masih gelisah. Makanya aku susul mas Aka kesini sebab ponselnya nggak aktif, hubungin nomor RS juga nggak ada jawaban," jelas Alodie palsu sedikit lesu.


"Kamu sudah sarapan belum? tanya mama mertua.


Fathia hanya menggeleng. " Lupa Mah! soalnya aku harus urus ruang rawat Mas Aka sama administrasi juga antri di apotik."


"Astaga Alodie ! Ben kamu beliin sarapan buat Alodie dulu," pinta Aka sadar kalau ia sampai lupa pada kesehatan istrinya sendiri.


"Sudah kamu duduk saja, biar Mama yang urus Aka."


"Tapi Mah-"


"Biar Mama mu yang urus suami mu. Sekarang kamu istirahat dulu dan makan sarapan yang di belikan Beno," titah Faris tegas.


"Baik Pa," jawab Fathia menunduk tak berani membantah.

__ADS_1


"Ini Al, di makan dulu. Kebetulan di depan RS ada yang jual bubur ayam, kamu suka kan?" tanya Beno memberikan kresek yang di tenteng nya.


"Suka Mas Ben, Terimakasih." Fathia pun duduk di ruang tamu kamar rawat Aka.


"Kamu kok nggak bantuin Alodie ngurus Aka sih Ben?" kesal Risma memukul lengan anaknya.


"Aduh sakit Mah," ringis Beno mengusap lengan. "Aku tuh sibuk cek pasien, cek korban dan cek kondisi kebakaran, takutnya nanti masih ada api yang bisa menjalar ke gedung lain."


"Bukan salah Beno tante, salah saya sebagai suami terlalu menikmati perhatian dari istri sampai lupa memperhatikan istri,"tutur Aka sesal.


"Jadikan pelajaran Aka, jangan sampai istri kamu sakit karena terlalu sibuk mengurus kamu," tegur Faris.


"Ia Pah, maaf."


"Minta maaf sama istri kamu."


"Eh, dia sampai jalan loh ke sini karena kejebak macet. Mita cerita sama gue pas ketemu di parkiran bawa mobilnya Alodie kesini," tambah Beno.


"Serius kamu?" tanya Risma.


"Ia Mah! kalau nggak percaya Mama tanya aja sama Mita asistennya Alodie. Mita sampai di sini jam setengah lima nyetirin mobilnya Alodie yang di tinggal di jalan, bahkan Alodie sampai nggak pakai sendal pas Mita sampai baru tuh si Alodie sadar kalau ia nyeker dari jalanan sampai ke sini," jelas Beno.


Faris dan Alia hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita Beno. "Kamu harus banyak-banyak Terimakasih sama istri kamu Aka, dan harus lebih perhatian lagi," nasehat Faris.


"Hahaha, maaf dokter kami ngobrolnya serius sekali sampai nggak sadar kalau dokter masuk," pinta Faris.


"Santai saja Pak Faris, saya kesini hanya memastikan apakah Aka sudah meminum obatnya?"


"Sudah dok," jawab Alia.


"Bagus! jadi karena kondisi Aka sudah sehat dan hanya mengalami luka luar sore ini sudah di perbolehkan pulang. Nah untuk luka bakarnya cukup di bersihkan pagi dan malam hari lalu di olesi obat dan di balut perban selama 1 minggu. Setelah lukanya kering perban bisa di lepas," terang dokter Indra


"Terimakasih dokter," pinta keluarga Aka.


"Sama-sama, kalau gitu saya keluar dulu periksa korban lainnya. Silahkan dilanjutkan obrolannya." Senyum dokter Indra keluar dari kamar rawat.


"Ben, kamu temani Om jenguk korban lain dan juga pasien yang di evakuasi," ajak Faris.


"Siap Om."

__ADS_1


Sebagai pemilik RS Faris dan juga Beno menunjukkan rasa empati pada tim medis yang menjadi korban atas musibah yang menimpa. Juga ia menyampaikan permintaan maaf pada seluruh pasien karena kebakaran ini membuat mereka merasa terancam dan tidak nyaman.


🌱🌱🌱🌱


"Kamu yakin Al, mau ngurus Aka sendirian di rumah?" tanya Alia saat mereka sudah pulang dari RS. "Nginap di rumah Mama Papa aja ya," bujuk Alia.


"Nggak apa Mah, aku bisa kok ngurus Mas Aka sendirian. Lagian kan di rumah ada bi Runi," yakin Fathia.


"Bukannya pulang kampung?"


"Sudah sampai rumah Mah, tadi pagi aku telpon bi Runi untuk balik cepat."


"Ya sudah, nanti Mama aja yang sering-sering ke sini."


Fathia tersenyum senang sang mertua menghargai keputusannya. Ia mengantar kepulangan mertuanya sampai pintu utama setelah itu ia kembali masuk kedalam rumah.


"Bi, tolong masak makan malam dulu ya. Aku mau ke kamar bersih-bersih sama ganti baju dulu," ucap Fathia.


"Ia Mbak, biar saya saja yang masak nggak perlu di bantu. Mbak nya urus Mas Aka saja."


"Terimakasih ya Bi."


Fathia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Sampai di sana sepertinya Aka tertidur pulas. Ia pun masuk ke kamar mandi untuk menguyur badannya dengan air agar terasa segar dan wangi.


"Sudah bangun aja Mas?" tanya Fathia keluar dari kamar mandi dan mencari baju ganti di lemari.


"Ia, tadi aku ketiduran nungguin kamu. Habis mandi?"


"Ia, udah bau seharian nggak mandi gerah banget rasanya plus kucel cuma pakai piyama dari tadi di RS."


"Sini," ajak Aka dengan tangan. Fathia pun duduk di pinggir kasur samping suaminya.


"Kamu tetap wangi kok juga tetap cantik mau nggak mandi seharian," puji Aka menyelipkan anak rambut istrinya kebelakang telinga. "Terimakasih ya atas semua perhatian dan cinta kamu buat aku, maaf kalau aku sebagai suami cuma bisa bikin kamu susah, bikin kamu kerepotan dan bahkan sampai kamu nggak peduli sama diri kamu sendiri," pinta Aka.


"Mas, sudah tugas aku untuk mengurus semua keperluan kamu di tambah merawat kamu kalau kamu lagi sakit kayak gini," terang Fathia menggenggam tangan suaminya.


"Maaf ya, kalau aku terlalu sibuk kadang suka lupa sama kamu, lupa tanya kamu udah makan apa belum, lupa ngajak kamu jalan, lupa kasih kejutan buat kamu.Maaf ya kalau aku egois menuntut perhatian dari kamu tapi akunya cuek," sesal Aka.


"Mas, jang-"

__ADS_1


"Aku beruntung punya istri seperti kamu. Sekali lagi aku minta maaf, aku suami yang nggak tau diri," ujar Aka sedih memeluk istrinya.


Fathia mengelus punggung Aka. "Sudah Mas, aku nggak merasa kalau kamu egois kok. Kita makan malam dulu ya, aku ambil nasinya ke bawah," izin Fathia melepas pelukan mereka.


__ADS_2