
"Mas hari ini aku pulang agak sore nggak apakan?" ujar Fathia sambil membantu suaminya berpakaian sebab Aka hari ini sudah mulai masuk kantor lagi.
"Nggak apa kok, aku hari ini juga pulangnya sore ada beberapa meeting soalnya," balas Aka berdiri tegak di depan sang istri untuk di pasangkan dasi.
"Yakin kamu udah bisa kakinya di bawa jalan normal?"
"Lihat ya," ajak Aka berjalan santai di kamar mereka menunjukkan pada Alodie palsu bahwa kakinya sudah sembuh meski masih ada luka tapi sudah kering. "Nggak sakit lagi kok, kan dirawatnya penuh cinta dan kasih sayang sama istriku ini!" tambah Aka mencolek dagu istrinya.
"Bisa aja kamu," merona Fathia. "Yuk kita turun, sarapan," ajaknya mengandeng Aka.
"Pagi." Sapa Mita yang sudah duduk di meja makan.
"Pagi Mit," balas Aka dan Alodie palsu bersamaan.
Mereka bertiga menikmati sarapan pagi sesekali di sela dengan obrolan ringan antara Aka dan Mita yang menanyakan kegiatan istrinya hari ini. Selesai sarapan Aka berangkat ke kantornya bersama Alodie palsu. Aka belum yakin untuk membawa mobil sendiri sebab luka di lengannya masih terasa sakit jika banyak di gerakkan.
"Nanti sore pulangnya gimana Mas?" tanya Fathia saat mereka sudah di perjalanan.
"Aku pulang di antar Beno aja."
Mobil Alodie palsu pun sampai di depan gedung AkaFarma. Fathia dengan sigap turun untuk membantu suaminya masuk ke dalam gedung, meski Aka bilang ia sudah mampu berjalan normal tapi Fathia tau kalau suaminya itu sedikit memaksakan diri.
"Aku bisa sendiri sayang," yakin Aka saat di papah istrinya.
Fathia mengalah ia membiarkan Aka jalan duluan di depannya. Tak lama Aka tampak berhenti dan meringis menahan perih kakinya yang sakit akibat memakai sepatu.
"Tuh kan Aku bilang apa, makanya pakai sendal aja!" ujar Fathia lalu meminta tolong pada Mita untuk mengambilkan sendal Aka yang sempat ia bawa.
Fathia memapah suaminya sampai loby, lalu di sana ia mendudukkan Aka di kursi tamu dan menganti sepatu suaminya dengan sendal nan lumayan nyaman buat Aka berjalan nanti.
"Biar aku aja Han," kata Aka tak enak.
Fathia tak menghiraukan perkataan Aka. Ia tetap melanjutkan kegiatannya mengoles obat luka di telapak kaki suaminya lalu memakaikan sendal di kaki Aka.
"Udah, pakai sendal aja ya, nanti lukanya sakit lagi kalau di paksa pakai sepatu. Sendal ini tuh nyaman buat kamu aktifitas," jelas Fathia menunjuk sendal busa yang di belinya untuk Aka pakai saat di rumah.
__ADS_1
Aka tersenyum senang mendapatkan perhatian penuh dari istrinya. "Makasih ya sayang," pinta Aka mengecup kilat bibir Fathia.
"Mas, ih malu tau di lihat banyak orang," tunduk Fathia menyembunyikan wajahnya. Tampak beberapa karyawan Aka memperhatikan mereka sedari tadi, ada juga yang merekam pasutri itu.
"Kenapa malu, kan udah sah suami istri!" jawab Aka.
"Ih kamu mah," cemberut Fathia. "Tuh lihat karyawan kamu pada ketawa."
"Ngapain pada rame-rame di sini?" tanya Beno yang baru sampai.
"Itu Pak, lihat pasangan gemas," tunjuk karyawan.
"Akhirnya, si bos masuk kantor juga," seru Beno menghampiri Aka dan Alodie palsu.
"Mas Ben, aku titip Mas Aka ya! lukanya masih sering sakit jadi nanti tolong di bantu ya," pinta Fathia.
"Oh, ok siap Al!"
"Mas, ini obatnya jangan lupa di minum ya. Makan siang nanti aku mampir ke sini, kita makan bareng.Aku pergi dulu, Assalamualaikum," tutur Fathia menyalami tangan suaminya.
"Waalaikumsalam," jawab Aka dan Beno bersama.
"Pas libur besok kamu tinggal bawa pakaian aja ke sini," kata Alodie palsu saat mereka kembali menuju mobil.
"Ia, Maksih ya Mbak," pinta Mita senang.
"Kamu sudah saya anggap kayak adik sendiri. Makanya kalau ada apa-apa atau butuh bantuan cerita sama saya, ya."
"Ok."
"Kemana lagi kita bu?" tanya supir.
"Kita ke toko furniture ya Pak!"
Di angguki oleh Pak supir dan mobil pun melaju.
__ADS_1
"Mit, temani saya cari perabotan rumahnya mbak Kila ya!"
"Ok Mbak. Emang kapan saudaranya dokter Aka pindah?"
" 3 hari lagi. Mereka pindah nggak bawa barang.Makanya mereka minta bantu saya belanja perabotan untuk isi rumah barunya."
"Habis itu kita makan siang di mana Mbak? biar aku pesan dulu tempatnya."
"Kita pesan aja ya! saya mau makan siang sama mas Aka di kantornya."
"Hhuuhh susah ya kalau udah bucin. Pisah bentar aja udah kangen," goda Mita memainkan ponselnya.
Fathia hanya tersenyum.
"Ok mau makan apa? aku pesan sekarang aja lalu minta di antar tepat jam 12 siang jadi pas sampai sana Mbak tinggal makan," tawar Mita.
Fathia dan Mita pun asik memilih menu makan siang di aplikasi yang ada di ponsel Mita. Kedekatan mereka semakin hari mulai terjalin. Mita pun sudah tak merasa sungkan lagi untuk dekat dengan Alodie palsu dan Aka. Tapi tetap ia menghargai dan menghormati pasangan suami istri itu. Bahkan Mita bersyukur bisa bekerja bersama mereka, orang baik bagi Mita.
Karena Kila tak ada waktu ke Jakarta untuk berbelanja perabotan rumah akhirnya ia meminta bantuan pada Alodie palsu.Kila sudah memberikan list apa saja perabotan yang harus di beli oleh Alodie palsu. Untuk soal model dan merek Kila percayakan pada Alodie palsu sebab Kila yakin pada pilihan iparnya itu.
"Jadi kapan bisa di kirim Pak?" tanya Fathia pada pemilik toko furniture.
"Besok sore paling lambat Bu!"
"Ini nomor asisten saya, kalau bapak mau antar barang silahkan hubungi!"
"Siap Bu. Terimakasih sudah berbelanja di toko kami."
Fathia membalasnya dengan senyuman ramah. Lalu ia dan Mita kini menuju kantor Aka untuk makan siang sebelum mereka melanjutkan jadwal Alodie palsu hari ini.
π₯π₯π₯π₯
"Tttaaarrraaa," ujar Mita saat sampai di lantai tempat ruang kerja Aka ia membawa 3 bungkus besar makan siang.
"Berisik kamu Mit," kata sekretaris Aka yang juga sudah kenal dekat dengan Mita sebab mereka sering makan siang bareng kalau Alodie palsu makan siang bersama suaminya.
__ADS_1
"Hehehe, ini aku sama Mbak Alodie bawa makan siang buat kita."
"Wwaahh... makasih banyak loh buk! jadi nggak enak tiap makan siang di sini kita juga di kasih," sungkan Selvi.