
"Berarti kamu berzina selama ini,Aka?" murka Faris bangkit dari duduknya.
"Om, tenang dulu." Beno mengajak Faris untuk duduk kembali. "Aka pernah menikahi wanita itu saat di rumah sakit." Ia berusaha menjelaskan.
"Tapi apa pernikahan itu sah?" Faris bertanya berang.
"Kalau untuk soal itu kita tanya sama Ustad yang dulu menjadi saksi pernikahan mereka." Usul Beno bagaikan air yang dapat memadamkan api kemarahan Faris di tengah-tengah rasa rasa sedih dan kecewa keluarga.
"Kamu kenal Ustadnya?"
Beno mengangguk. "Ustad itu temannya abi. Nanti coba aku temui dan minta beliau datang kesini besok."
"Baiklah, Om tunggu, Ben!" Faris meredam dulu emosinya sebelum jelas hukum pernikahan sang anak dengan wanita itu, ia tak bisa menghakimi Aka.
"Terus apa kamu tau, siapa wanita itu?" Alia menyusut air mata berusaha untuk kembali tenang. Ada rasa ingin tau soal siapa menantu palsunya.
Aka menggeleng dengan raut wajah sedih. "Dia pergi setelah mengatakan yang sejujurnya padaku, Mah."
"Aku tau dia!" jawab Ciara. "Dia sahabatku yang hilang tepat di hari Alodie mengalami kecelakaan. Namanya Fathia, ibunya meninggal enam bulan setelah ia menghilang." Lalu Ciara pun menceritakan kisah mereka dulu juga sampai saat Galen membujuknya untuk melakukan tes DNA, agar dapat membuktikan ucapannya kalau Alodie yang ia kenal adalah Fathia sahabatnya nan hilang.
"Kamu tau dia ada di mana sekarang?" Alia bertanya penuh harap agar bisa segera bertemu dengan menantu kesayangannya.
"Maaf Tante, setelah kami bertengkar. Saya memutuskan hubungan komunikasi tapi, dua bulan belakangan saya menyesal dan ingin menemuinya untuk minta maaf," jelas Ciara sendu.
"Ketemu?"
Ciara menggelengkan kepala. "Saya nggak tau keberadaannya."
"Ka, cari dia! Mama mau kamu secepatnya minta maaf dan bawa dia pulang!" pinta Alia pada sang anak.
"Mah, jangan bercanda! Sentak Faris. "Mereka itu bukan pasangan suami istri yang sah, apa lagi kita nggak tau hukum pernikahan mereka di mata Allah. Jangan tambah dosa, Mah!"
"Kalau pernikahan mereka nggak sah, ya tinggal kita nikahkan lagi saja!" tuntut Alia. Ia merasa tak rela jika Aka harus berpisah dengan wanita yang sudah memberikan kebahagiaan dalam hidup putranya.
"Astaghfirullah, Mah sadar! Anak kita ini masih punya istri. Apa kamu tega menyakiti hati wanita lain hanya karena keegoisan kamu ini?" Sembur Faris mengingatkan sang istri.
"Aku akan gugat cerai Alodie, Pah!" ungkap Aka.
Faris hanya geleng-geleng kepala. Sambil berkacak pinggang ia mengusap wajahnya merasa frustasi akan masalah rumah tangga sang anak.
"Sebaiknya kamu bicara dulu baik-baik sama istri kamu. Selesaikan masalah kalian berdua."
"Aku sudah yakin dan mantap untuk pisah sama Alodie. Dari awal rumah tangga kami emang nggak baik." Aka penuh keyakinan membeberkan alasannya.
"Begini saja, sebaiknya kita tunggu dulu Ustad itu datang besok dan menjelaskan hukum pernikahan Aka dengan istri palsunya." Adnan mencoba menjadi penengah dan memberi usulan terbaik untuk semua. Sebab Aka maupun Faris sama-sama masih dalam keadaan emosi jadi mereka pastinya tak bisa berpikir jernih dalam mengambil tindakan selanjutnya.
Anak dan bapak itu tampak setuju atas saran Adnan. Memang hal itu adalah yang terbaik. Menyelesaikan masalah satu persatu agar lebih jelas.
"Mas." Alodie tiba di rumah mertuanya. Ia langsung berlari dan bersimpuh di kaki suaminya. "Maafin aku, Mas! Aku tau salah sudah berkali-kali mempermainkan dan merusak rumah tangga kita tapi, kali ini aku mohon beri satu kali lagi aku kesempatan. Aku janji akan berubah," mohonnya dengan sepenuh hati.
Aka memegang bahu Alodie membawa wanita itu untuk duduk di sampingnya. "Aku sudah memaafkan kamu tapi, kalau untuk kesempatan aku nggak bisa memberikannya lagi."
"Kenapa, Mas? Apa alasannya?" rengeknya.
"Hati dan cintaku sudah berhasil di ambil oleh istri palsuku tanpa aku sadari!"
Alodie menggeleng tak terima. Ia menatap Alia dan Faris secara bergantian seolah memohon untuk menasehati Aka agar mau kembali bersamanya.
__ADS_1
"Keluargaku sudah tau permasalahan ini," jelas Aka.
Alodie tampak terkejut. Pantas saja dari tadi sang Mama mertua menatap tak suka akan dirinya. "Maafin Alodie, Mah, Pah! " Ia bersujud di bawah kaki kedua mertuanya. "Aku nggak berniat membohongi kalian berdua. Hanya sa-"
"Lalu apa namanya?" potong Alia geram. "Apa salahnya kamu datang baik-baik dan menjelaskannya dulu, ini malah berusaha untuk menutupi kenyataan."
Alodie mengangkat wajah menatap Alia. "Aku minta maaf, Mah."
"Maaf?! Kamu sudah merusak kebahagiaan anak saya tau nggak!"
"Mah." Faris menahan istrinya agar tak terlalu meluapkan kemarahan pada Alodie. Bagaimanapun dia masih tetap menantu mereka.
"Lepas, Pah. Biar Mama kasih tahu sama perempuan pembohong ini, gara-gara dia hidup anak kita jadi berantakan! Dari dulu sampai sekarang kamu cuma bisa bikin masalah di hidupnya Aka!!" Kesabaran Alia habis sudah, kekesalannya dahulu kina ia tumpahkan semuanya. Bagaikan bom yang meledak tepat di depan wajah Alodie. Mertuanya kini tak segan lagi mengatainya dengan kata kasar. Kalau dulu Alia sering menasehatinya dengan sabar, kini tak lagi.
"Sudah, Mah." Aka meminta sang Mama tak lagi memarahi istrinya. Bagaimanapun ini bukan hanya kesalahan Alodie semata. Ia juga berperan di sini, karena tak menerima penjelasan terlebih dahulu dari Fathia tapi malah mengusirnya pergi. Lalu dengan mudahnya percaya akan omong kosong wanita ini.
"Pergi kamu dari rumah saya! Jangan pernah menginjakkan kaki lagi di sini!" usir Alia.
Urat lehernya sampai tegang karena sudah begitu membenci Alodie. Sebagai ibu ia tak sudi anaknya diperlakukan seperti ini. Di tipu dan dibohongi berkali-kali.
"Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua, Mah. Menebus kesalahan yang sudah aku lakukan." Alodie tak mau menyerah begitu saja. Meski sudah diusir ia tetap meminta dan memohon diberikan kesempatan untuk terakhir kalinya.
"Enak saja, nggak ada! Aka, talak dia sekarang juga!!"
Entah karena emosi sesaat atau memang ia mengucapkannya dalam kewarasan, Mama Alia membuat orang seisi rumah kaget tak percaya.
"Mama, apa-apaan ini?! Kenapa Mama malah menyuruh Aka menalak istrinya. Ini rumah tangga mereka kita, nggak berhak ikut campur. Sebagai orang tua kita hanya bisa memberikan nasehat." Faris berang atas perbuatan sang istri. Tak pantas rasanya berkata seperti itu di depan menantu. Alodie berhak memperjuangkan rumah tangganya.
"Apa Papa tega membiarkan anak kita terus hidup bersama wanita yang sudah menyakiti dan mempermainkan hidupnya?" Emosi Alia memuncak, ia bahkan sampai berdebat dengan Faris karena masih membela Alodie.
"Papa tau, Mah. Tetapi biarkan mereka yang memutuskannya, jangan kamu minta Aka menjatuhkan talak sekarang!"
"Aka, sebaiknya kamu pulang bersama Alodie. Selesaikan masalah kalian baik-baik dan dengan kepala dingin. Apa pun keputusan yang kamu ambil, Mas harap itu adalah yang terbaik untuk kalian berdua," tambahnya.
"Benar kata, Mas Adnan, Ka. Jika kami sebagai keluarga ikut campur, nggak adil nanti buat Alodie. Sebaiknya kalian selesaikan berdua," timpal Beno.
Aka mengangguk. "Mah, Pah aku pulang dulu," izin Aka sebelum pergi.
"Papa harap kamu bisa bicara baik-baik dengan istrimu. Meski di sudah salah tapi tetap dia masih istrimu. Perlakukan dia dengan baik dan jangan kasar." Pesan Faris menepuk pundak anaknya.
"Aku juga pamit, Mah, Pah," Alodie hendak menyalami mertuanya tetapi, Alia hanya berpangku tangan dan memasang tampang angkuh.
"Maafkan sikap Mama yang kasar, jika perkataannya menyakiti hati kamu, sekali lagi Papa minta maaf atas nama Mama," ujar Faris membalas uluran tangan Alodie.
"Aku sadar diri kok, Pa. Wajar saja Mama marah dan benci sama aku. Sekali lagi aku juga minta maaf kalau sudah membuat masalah dalam keluar, Papa." Ucapan yang keluar dari mulut Alodie adalah ketulusan. Tak ada lagi drama atau kepura-puraan untuk menarik simpati dari keluarga Aka.
Mereka berdua keluar dari rumah Faris, meski Alia masih merasa berat melepas kepergian sang putra tapi, ia tak berhak untuk menahannya. Apa lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga Aka. Sudah jelas itu tak pantas, yang ada hanya akan memperkeruh keadaan.
"Kami juga pulang dulu. Besok kita semua kumpul lagi di sini untuk mendengarkan penjelasan Ustad tentang hukum pernikahan Aka dengan istri palsunya," pamit Adnan.
"Terimakasih, ya, Nan sudah menjadi penengah antara Om, Tante dan Aka tadi. Kalau nggak ada kamu mungkin masalah ini akan seperti benang kusut," pinta Faris memeluk ponakannya.
"Kita keluarga, Om. Sudah seharusnya aku bisa membantu apa lagi memberikan solusi."
Semua anggota keluarga lainnya termasuk Ciara dan Joe meninggalkan rumah Faris dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Meski masalah ini hanya menyangkut Aka tapi, sebagai saudara, teman dan sahabat mereka ikut khawatir dan prihatin. Semoga besok bisa mendapatkan pencerahan dan mengusulkan solusi terbaik untuk Aka.
π±π±π±π±
__ADS_1
Β
Aka dan Alodie tengah duduk berdua di halaman belakang rumah. Hari ini juga Aka ingin memberikan keputusannya pada sang istri terkait rumah tangga mereka yang sudah hancur. Bagaikan kaca yang pecah, meski disatukan kembali tak akan bisa seperti semula. Banyak serpihan yang hilang dan itu membuatnya rentan untuk kembali hancur.
"Besok aku akan melayangkan gugatan cerai ke pengadilan." Aka membuka kata.
"Apa ini karena permintaan mama tadi kamu malah kepikiran untuk menceraikan aku, Mas?"
"Bukan! Tanpa diminta mama pun aku memang sudah yakin untuk kita bercerai."
"Kenapa?
"Sepertinya kita memang tak bisa bersama. Dari awal rumah tangga ini di bangun dengan landasan keterpaksaan atas kamu menikah denganku. Sekarang malah dibumbui kebohongan yang kamu ciptakan. Aku pengennya begini tapi, kamu inginnya itu. Kita tak sejalan, maka sudah sebaiknya kita akhiri drama rumah tangga ini." Alasan yang diungkapkan Aka memang kenyataan. Meski ia sudah berusaha menjadi istri yang di inginkan suaminya, Alodie kadang merasa tak bisa. Ia seolah-olah hidup sebagai cerminan orang lain.
"Apa nggak ada sedikit pun sisa cinta kamu buat aku, Mas?" Alodie menyeka air mata di pipi. Meski sakit, ia berusaha untuk tegar menerima perpisahan ini.
Kepala Aka menggeleng. "Aku juga ingin minta maaf karena sudah memisahkan kamu dengan Galen. Apa yang kamu lakukan dulu di saat kita sudah menikah, itu semua juga merupakan kesalahan aku. Jadi kamu nggak perlu menyesali kalau pernah selingkuh. Aku sudah menerimanya dan memaafkan kamu."
"Seharusnya saat itu aku sadar, kalau sudah memiliki suami yang begitu mencintai dan baik seperti kamu kenapa aku tak berusaha untuk melupakan Galen dan mencintai kamu. Namun sekarang semua sudah terlambat, aku harus kehilangan kamu." Alodie mengungkapkan penyesalannya. Jika waktu bisa diputar kembali ia ingin mengulang waktu di mana pria ini menikahinya.
Aka berdiri dari duduknya ia rasa sudah cukup malam ini, tak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. "Aku pulang! Besok Jio akan datang untuk mengambil barang-barangku di rumah ini."
"Mas," panggilan Alodie membuat Aka menghentikan langkahnya.
"Aku nggak akan tandatangani surat gugatan cerai itu nanti!"
"Terserah kamu! Yang pasti persidangan akan tetap berlanjut," jawab Aka meninggalkan istri sahnya dengan hati yang tercabik-cabik. Melangkah pasti menyongsong hari esok untuk menemukan kepastian dan keabsahan penyatuan cintanya dengan Fathia.
π₯π₯π₯π₯
Ustad yang dulu menjadi saksi pernikahannya dengan Alodie palsu, kini sudah duduk bersama keluarga besar Aka. Setelah bercerita secara garis besar, Faris menanyakan keraguannya tentang hukum pernikahan sang putra yang sudah dijalani selama tiga tahun ini.
"Bagaimana, Ustad? Apakah pernikahan yang. mereka lakukan itu sah? Sedangkan identitas yang dipakai wanita itu bukan yang asli, melainkan nama wanita lain," tanya Faris dengan serius.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan bapak, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu," ujar Ustad Yahya.
"Apa itu, Ustad?"
"Dulu setelah ijab kabul dilakukan. Wanita yang dinikahi, Mas Aka pernah menanyakan hal serupa pada saya."
Seluruh keluarga besar Aka tercengang. Bahkan Beno dan Aka juga tak tahu akan hal ini.
"Lalu, apa jawaban yang, Ustad sampaikan." Aka semakin penasaran. Ia tak sabar rasanya ingin mengetahui hukum pernikahannya bersama Fathia.
...----------------...
Hhhaaayyooo... ada yang bisa jawab nggak...?!
Hukum pernikahan Aka dan Alodie sah atau nggak??
Komen ya... ! !!
Like π nya jangan lupa..
Favorit β€ juga biar dapat notif pas up date...
Hadiahnya π juga...
__ADS_1
Β