
"Kapan bulan madunya Ben?" tanya orang tua Biya.
"Nunggu Biya urus surat cuti di RS Abi, mungkin dalam bulan ini," jawab Beno.
Ayah dokter Biya hanya mengangguk. "Kalau begitu Abi sama Umi ke kamar dulu, mau istirahat. Aka sekali lagi selamat atas bertambahnya umur, Abi doa kan juga rumah tangga kamu segera di karuniai buah hati," tuturnya.
Aka menunduk menyambut uluran tangan pria yang sering di panggil ustad Abi oleh tetangga kompleknya. "Terimakasih banyak doa nya Abi sama Umi."
"Bilang sama besan, kami naik duluan.Umi nggak pamit sama mereka takut ganggu dansanya," tambah Umi.
"Siap Umi. Selamat malam dan selamat beristirahat," ujar Aka.
Begitu pula Beno dan Biya menyalami kedua orang tua itu.Meski Beno menawarkan untuk mengantar mereka sampai lift tapi keduanya menolak.
"Kalian di sini saja, ngobrol-ngobrol sama nak Aka," kata Abi lalu meninggalkan restoran menuju kamar mereka.
"Jadi rencana mau honey moon di mana dokter Bi?" tanya Fathia. Pengantin baru dan pengantin lama itu masih betah duduk di meja yang tadi mereka tempati saat makan malam.
Biya mengangkat bahu. "Aku sih ngikut Mas Beno aja Al, belum tau mau kemana masih bingung."
"Gimana kalau kalian ikut honey moon juga, anggap aja program bayi alamiah dulu," sambung Beno.
"Ide bagus! tapi kemana?" tanya Aka.
"Susul Joe aja ke Fhilipin gimana?" usul Beno.
Aka menjentikkan ibu jari dengan jari tengah. "Good ide! kapan kita berangkat?"
"Kalau itu gue masih tunggu jadwalnya Bojo," jelas Beno.
" 3 hari lagi aja gimana?" kata Biya. "Kebetulan 3 hari lagi ada anak koas, jadi bisa gantiin aku buat sementara."
"Setuju, pokoknya 3 hari lagi berangkat," seru Fathia penuh semangat.
"Kita sewa jet pribadi aja, besok gue kabarin Joe untuk siapkan resort buat kita," ujar Aka.
"Hhmm... satu lagi, kita ajak Ciara," tambah Fathia.
"Ia, gue setuju!" jawab Beno. "Tapi jangan kasih tau mereka berdua! biar surprise aja gitu pas mereka ketemu."
Aka mengangguk setuju. "Jadi ini rencana double honey moon udah fix ya? tanya Aka memastikan.
Beno dan Biya mengangguk setuju.
"Ok, kalau gitu gue duluan ke kamar," kata Aka langsung mengendong istrinya Ala bridal.
__ADS_1
"Tunggu," potong Beno. "Samaan kita, balapan siapa yang duluan sampai kamar." Beno pun mengendong Biya.
"Kalian mau kemana?" tanya Risma heran melihat tingkah anak dan ponakannya yang kompakan pada mengendong istri mereka.
"Mau balapan bikin cucu," jawab Beno yang mendapat tepukan di dada dari istrinya.
"Ikutan," timpal Adnan ikut mengendong Kila, istrinya.
"Ayok Mas, tapi Mas nggak ikutan bikin adek buat Kinan kan? tanya Beno.
"Kalau adek nya Kinan belum sekarang! tapi ikutan ngadon aja."
"Siap ya! satu, dua, tiga," hitung Aka. Mereka bertiga berlari menuju lift. Sampai di Lift mereka masih adu kekuatan siapa yang kuat nahan mengendong istrinya sampai masuk kamar. Kebetulan kamar mereka bertiga berada di lantai yang sama.
"Buat para laki, habis satu ronde kita minum di balkon," kata Beno menantang.
"Apa an sih Mas?" malu Biya
"Dan siapa yang paling sedikit tanda merahnya, ciuman depan kita besok pagi," tambah Aka.
"Setuju!" sorak Adnan.
"Kamu kok ikutan mereka sih Mas?" tanya Kila.
Mereka pun sampai di depan kamar masing-masing.Tak ada satupun dari mereka yang menurunkan sang istri dari gendongan meski tangan sudah terasa pegal.
Aka meminta sang istri untuk membuka pintu kamar mereka. Sampai di kamar ia membaringkan istrinya di atas kasur. "Ayo sayang kita bikin anak malam ini," kata Aka menggoda menghimpit istrinya.
"Emang selama ini kamu ngapain?"
"Yang kemaren-kemaren kita latihan, nah sekarang benaran nih, harus jadi pokoknya!"
"Tapi kalau belum jadi kamu jangan kecewa ya Mas!"
"Nggak! kamu santai aja, jangan stres nikmati aja prosesnya, apa lagi sekarang nikmati aja permainan suami kamu ini," kata Aka menatap Fathia penuh gairah.
Malam ini menjadi awal baru bagi kehidupan rumah tangga Aka dan Alodie palsu, dimana waktu yang mereka tunggu-tunggu pun datang. Meski harus menunggu proses benih mereka dapat bertemu dan menjadi janin tak masalah bagi Aka. Mengetahui istrinya sudah lepas alat kontrasepsi dan di perbolehkan untuk hamil merupakan suatu berkah yang sangat di syukurinya sebab mereka satu langkah lebih dekat untuk dapat memiliki seorang anak, buah cinta mereka.
π₯¬π₯¬π₯¬π₯¬
Pagi hari nya seluruh keluarga sudah berkumpul di restauran hotel. Meja sengaja di pisah oleh Aka, karena pasangan muda akan membicarakan sedikit hal pribadi bersama pengantin baru yang masih saja belum tampak kehadiran mereka.
"Nah, itu mereka," kata Adnan.
"Telat nih! goda Aka.
__ADS_1
"Semalam agak sulit, jadinya kerja lembur," jawab Beno santai duduk di kursi meja makan bersama sang istri.
Fathia hanya geleng-geleng kepala. "Udah ganti hari tapi kalian masih aja obrolannya topik yang semalam."
"Ia, nggak ada habis-habisnya," timpal Kila.
"Nggak bisa gitu sayang, soalnya nih orang semalaman nantangin. Katanya bakalan ketemu di balkon mau minum, eh dianya kebablasan sampai nggak muncul," jelas Adnan.
"Gue setuju sama Mas Adnan. Kita nya balik kamar mau lanjut, eh malah di tinggal istri tidur," kesal Aka memotong sarapannya.
"Sorry, gue pikir kalian nggak bakalan muncul," kilah Beno.
"Nggak asik lo Ben!"
"Sekarang coba kasih lihat, siapa yang paling banyak tanda merahnya," tantang Adnan.
Tampak Biya menggeleng kan kepalanya pada Beno.
"Jangan deh Mas, lupain aja ya," mohon Beno. Ia teringat akan semalam yang sudah di wanti-wanti oleh istrinya tak akan mau ciuman depan Aka dan Adnan sebab Biya masih malu-malu untuk menyentuh tubuh Beno.
"Nggak! nggak Bisa," tolak Aka. Lalu Aka membuka beberapa kancing kemejanya memperlihatkan buah ceri hasil kerajinan bibir istrinya dari leher sampai dada. Begitu pula dengan Adnan, dengan bangga mempersembahkan hasil keagresifan istrinya.
"Giliran lo Ben!" titah Aka.
Beno melirik sang istri. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa semalam ia sampai bisa menantang dua orang senior ini. Sedangkan ia hanya seorang junior yang baru saja akan memulainya, jadi sudah pastilah ia akan kalah, sebab sang istri belum berpengalaman sama sekali. Alamat nggak dapat jatah nanti malam.
"Nggak ada gue," jawab Beno pasrah.
Aka, Fathia dan Adnan juga istrinya tertawa lepas melihat ekspresi Beno. Mereka sangat yakin kalau setelah ini Beno dan Biya akan bertengkar untuk pertama kalinya sebagai suami istri. Lihat saja kini Biya sudah tertunduk malu dengan wajah yang memerah.
"Sudah, jangan di goda lagi! kasian dokter Biya yang masih polos nggak tau apa-apa," ujar Fathia.
"Al, kita bawa Biya ke taman yuk, sekalian kita kasih sedikit ilmu," ajak Kila.
Ketiga para istri itu meninggalkan para suami di meja makan, sedang asik mengobrol ditemani secangkir kopi dan juga vape pengganti rokok bagi Aka.
...----------------...
Please, please... ajak teman, sahabt, saudara nya ya untuk mampir dan baca novel aku.
Tolong dukungannya dan tinggalkan jejak kalian.
Like π komen π favorit π hadiah π
Terimakasih. π€©π₯³π₯°
__ADS_1