
Selama 2 minggu Aka dan Alodie palsu menunggu untuk bisa melihat hasil dari inseminasi yang mereka lakukan dan ternyata hasilnya gagal. Tamu bulanan Alodie palsu datang tepat di hari ia akan melakukan tes urin lewat test pack. Harapan yang sudah memuncak seketika runtuh di hancurkan oleh rasa kecewa dan kenyataan. Tapi mereka berdua tak larut dalam kesedihan. Keluarga, saudara, teman dan sahabat memberikan mereka dukungan penuh untuk terus berjuang mendapatkan dua garis merah.
Bulan selanjutnya Aka dan Alodie palsu kembali menjalankan program inseminasi buatan. Semuanya di mulai dari awal lagi, dengan semangat dan harapan yang sama seperti inseminasi awal. Tak ada yang salah antara mereka berdua, juga tak ada yang salah dengan proses dan prosedur yang dilakukan oleh dokter Biya, mungkin hanya Allah saja yang belum memberikan mereka restu untuk sel mereka berdua dapat bersatu menjadi sebongkah daging. Ya, ternyata inseminasi kedua pun gagal, tamu bulanan Alodie palsu datang lebih cepat dari biasanya.
Rasa kecewa mulai berbekas di hati mereka. Tapi Alodie palsu tak mau menyerah begitu saja. Kembali ia harus memulai dari awal, masih dengan semangat dan harapan yang sama. Kali ini ia lebih berhati-hati dalam beraktivitas bertujuan agar inseminasi yang ketiga bisa sukses. Begitu pula dengan Aka memberi dukungan penuh pada sang istri dalam perjuangannya untuk bisa mengandung buah cinta mereka.
Jangan di tanya lagi bagaimana perhatian sang mama mertua, Alia. Beliau rela berpisah dengan suami tercinta hanya untuk menjaga dan merawat sang menantu yang kembali menjalani program hamil. Segitu besar harapannya untuk segera menimang cucu. Kalau boleh jujur ia juga sangat kecewa ketika mengetahui inseminasi menantunya selalu gagal. Tapi ia menutupi itu semua dari anak dan menantunya, agar mereka tak merasa tertekan dengan keinginannya yang tak dapat di bendung lagi.
"Hhhhhuuuummmm.... hhhhhhhhaaaaahhhhhh." Helaan nafas Fathia terdengar begitu berat saat Aka memberikan test pack padanya sebab hari ini adalah waktu nya mereka mengetahui hasil dari inseminasi ketiga. "Aku takut Mas, takut gagal lagi!" ucapnya sedih tertunduk.
Aka meraih Fathia membawa dalam dekapan. "Ya di coba lagi. Jangan sedih dan jangan nyerah!"
"Aku deg-deg an!"
Benar Aka dapat mendengar detak jantung istrinya. Seperti ada kuda yang sedang berlarian di sana. "Aku aja yang cek, nih kamu pipis dulu." Aka memberikan tempat plastik untuk menampung urin.
Fathia masuk kedalam toilet. Tak lama ia memberikan tempat yang berisikan urinnya pada Aka. "Aku tunggu di kamar."
Sebenarnya Aka juga tak kalah takutnya jika kali ini hasil yang di dapat adalah negatif. Ia mulai khawatir jika nanti istrinya akan tertekan dan stres. Tapi mau bagaiman lagi, sebagai suami ia harus siap dengan ini semua. "Bismillah" ucap Aka mencelupkan batangan seperi lidi itu kedalam urin sang istri.
Menunggu beberapa menit garis merah pertama mulai muncul. Menanti dengan penuh harap agar garis kedua muncul. Tapi sudah hampir 10 menit ia di dalam kamar mandi, bahkan ia memakai dua alat test kehamilan untuk memastikan dan ternyata hasilnya masih tetap sama, negatif.
Aka tersandar di tembok kamar mandi sambil mengusap wajah dan rambutnya ke belakang. Kalau ia sendiri se sakit dan se sedih ini mendapati hasil ketiga masih negatif lalu bagaiman dengan sang istri? apakah ia masih dapat menerima dan sabar untuk mengulang kembali semuanya dari awal?
"Mas." Panggil Fathia dari arah luar kamar mandi.
Aka menyeka sudut matanya berusaha tampil tegar untuk istri tercinta. Tak mau menampakkan bahwa ia juga kecewa. Sebagai suami ia akan menjadi sandaran bagi sang istri untuk itu ia harus lebih kuat.
Aka menghampiri Fathia yang sudah menunggunya.
"Gimana?"
Aka memeluk sang istri. "Hasilnya negatif. Yang sabar ya." mengusap kepala sang istri.
Tangis Fathia pecah. Ia bersedih karena hatinya begitu sakit akibat kecewa.
Harus sampai kapan kekecewaan ini ia dapatkan?
Atau ia yang salah karena terlalu berharap?
"Sssuuutt... udah jangan nangis lagi. Mungkin emang belum di kasih sama Allah." Aka.
"Aku akan coba lagi! mau sampai 10 kali gagal aku akan coba terus," ucap Fathia penuh penekanan.
Aka menggeleng menangkup pipi Alodie palsu. "Sudah cukup ya! aku nggak mau kamu tertekan dan stres tiap nanti menunggu hasilnya."
__ADS_1
"Pokoknya aku mau coba lagi!"
Aka menghela nafas. Sabar untuk mengahadapi sang istri. "Ok, tapi ini yang terakhir, kalau gagal lagi aku nggak mau!"
"Tapi Mas."
"Mau kamu coba program hamil tercanggih sekalipun, kalau Allah belum berkehendak ya nggak akan jadi."
Fathia mengangguk dengan wajah sendu.
Aka mengusap pipi basah itu lalu memberi ciuman di sana. Sebagai hiburan agar sang istri tak menangis lagi.
π½π½π½π½
Kembali, saatnya Fathia mengulang semua dari awal proses inseminasi yang ke empat atau kesempatan terakhir nan di berikan oleh Aka.
"Jadi sekarang lo sedang stimulasi ovarium lagi?" tanya Ciara saat mereka sedang makan siang di sebuah restoran.
Fathia mengangguk. "Minum obat hormon dan injeksi selama seminggu."
"Udah lah Al, jangan terlalu di paksa. Takutnya nanti lo tertekan dan stres."
"Ini yang terakhir kok, kalau gagal lagi gue pasrah."
"Menurut gue itu lebih baik."
"It's ok, gue ngerti kok. Syutingnya berjalan lancar. Oh ya lo tau Galen kan?"
Fathia menganggukkan.
"Gue syuting bareng dia. Awalnya sih gue agak kesal ya, tiba-tiba aja pemain lain di ganti sama dia. Tapi ternyata dia asik orangnya baik lagi."
"Baik gimana?"
"Yaa... pokoknya baik. Suka traktir makan artis sama kru, terus kalau ngobrol dia orangnya seru, lucu lagi. Jadi di lokasi nggak boring!"
"Ooh." Fathia hanya memberikan tanggapan biasa.
"Eh, gue baru ingat. Dulu saat-saat Fathia menghilang dan lo di kabarkan kecelakaan Galen itu pernah bilang sama ibuk, kalau lo itu Fathia."
"UHuk, uhuk, uhuk," Fathia tersedak makanan mendengar perkataan Ciara. Segera ia meraih gelas dan meneguk isinya sampai habis. "Maksudnya?"
sambil menepuk dada.
"Gue nggak tau ceritanya kayak gimana. Jadi ibuk ketemu sama dia di kafe terus dia bilang ke ibuk kalau lo itu adalah Fathia, sahabat gue yang hilang. Aneh nggak sih! mana bisa coba? ya kan! Lagi ya, dia sampai ngajak ibuk melakukan tes DNA untuk membuktikan omongannya benar. Sumpah saat itu gue pikir dia gila," tutur Ciara geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Terus ibuk percaya? lo juga percaya?"
"Yyaa... ibuk sempat kemakan omongannya. Tapi gue bantah lah, mana ada Fathia tiba-tiba bisa berubah jadi Lo. Aneh-aneh aja! Saat itu gue pikir cuma akal-akalannya si Galen buat ngerebut lo dari Mas Aka. Sorry ya, lo kan tau kalau dulu kalian punya 'affair'." Ciara mengangkat tangannya membuat tanda kutip di udara. "Tapikan sekarang lo udah setia sama Mas Aka dan juga udah lupa sama masa lalu."
Fathia tersenyum palsu. "Lalu sekarang dia ada ngomong masalah itu lagi nggak sama kamu?"
"Nggak sih, tapi dia sempat tanyain kabar ibuk. Yaa, aku bilang aja kalau ibuk udah meninggal gara-gara mikirin omongannya waktu itu. Terus dia minta maaf dan kapan-kapan mau nyekar ke makan ibu sekalian minta maaf."
Fathia menggoyangkan kesepuluh jarinya pada Ciara. "Jangan! katanya dengan nada tegas. "Maksud aku lebih baik kamu jauh-jauh dari dia. Galen itu susah di tebak orangnya. Soalnya kemaren aja saat aku masih syuting dia juga tiba-tiba dekatin aku. Mbak Rike ganti semua rekan syuting aku sama dia. Nah kali ini kita nggak tau maksud dan tujuan dia dekatin kamu."
Wajah Ciara sedikit kaget. "Tapi selama gue syuting dia nggak aneh-aneh kok!"
"Sama! selama syuting sama aku juga dia profesional. Aku cuma takut aja nanti di dekatin kamu cuma buat cari informasi rumah tangga aku sama Mas Aka. Kan sekarang aku udah nggak kerja lagi sama mbak Rike jadi nggak ada lagi informan dia tentang aku."
Ciara mengangguk-anggukkan kepala tapi tangannya tetap menyendok makanan ke mulut. "Ok deh, mulai sekarang gue jaga jarak aja sama dia."
Fathia tersenyum sekilas, syukur kalau Ciara mau mendengarkan ucapannya. "Yuk habisin makanannya, habis itu kita pulang."
ππππ
Malam harinya sehabis makan malam. Aka kembali melakukan tugasnya yaitu menyuntikkan obat hormon injeksi ke perut bawah Alodie palsu. Sudah 4 bulan belakangan rutinitas ini mereka lakukan tiap sang istri melakukan proses inseminasi.
"Hhhhaaahhh... akhirnya selesai juga," lega Fathia menahan rasa sakit suntikan.
"Makanya, aku nggak mau lagi kamu jalani program hamil. Aku nggak mau tiap kali di suntik kamu nya tegang gitu. Nggak baik Al, lama-lama kamu bisa stres," terang Aka.
"Ia Masaka. Janji, ini yang terakhir," ucapnya memberikan kelingking pada Aka.
"Janji, ok. Aku nggak mau kamu tertekan nantinya gara-gara kita belum punya anak. Anak itu rezeki dari Tuhan, kapan pun dia mau kasih kamu pasti hamil, tapi mungkin emang belum sekarang." Balasnya menautkan jari kelingking mereka.
"Aku ngerti kok maksud kamu. Jadi nggak perlu khawatir ya, aku nggak akan tertekan dan stres kok."
Aka mengacak rambut Fathia. "Sekarang tidur, istirahat," ajaknya membaringkan sang istri di atas kasur.
π₯π₯π₯π₯
Pagi sebelum Aka berangkat ke kantor Fathia sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Lalu ia menyusul Aka ke kamar mereka membantu sang suami bersiap. "Ayo sini, aku bantu pakai dasi," ajaknya.
Fokus melilitkan dasi di leher Aka, tiba-tiba Fathia merasakan gejolak hebat dalam perut nya. "Hhooeek" Fathia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kenapa Honey?" tanya Aka menunduk menatap wajah istrinya.
"Hhooeekk" kali ini Fathia berlari kedalam kamar mandi. Rasanya ia ingin segera memuntahkan segala isi di dalam perut. Tapi entah kenapa hanya sedikit yang keluar.
"Kamu kenapa Al?" cemas Aka mengurut punggung Fathia.
__ADS_1
"Nggak tau Mas, kok aku mual ya?"
"Kamu hamil? eh tapi nggak mungkin deh! orang kita hubungan aja pakai pengaman." Pikir Aka.