
"Untuk soal itu saya nggak bisa, maaf Mbak," tunduk Fathia.
"Kenapa?"
"Itu cita-cita saya, mimpi saya. Kenapa Mbak minta saya harus pergi dari kota dan mengubur mimpi saya?" tanya Fathia.
"Karena saya nggak mau kamu ketemu suami saya!"
"Tapi saya janji nggak akan menemui suami Mbak lagi, atau kalau perlu kita bikin surat perjanjian di atas materai," kekeh Fathia meyakinkan.
"Ok kalau kamu nggak menemui Aka lagi, tapi kalau Aka yang mencari kamu gimana? saya tau dia,seribu cara akan di lakukan nya untuk bertemu kamu!"
"Buat apa?"
Alodie hanya diam ia fokus mengemudi.Mana mungkin ia bilang pada Fathia jika Aka menaruh rasa padanya yang ada nanti malah wanita ini tak menepati omongannya dan akhirnya ia dan Aka berpisah. Hal inilah yang sedang di cegah Alodie. Sebelum rasa itu semakin tumbuh dan berkembang sebisa mungkin ia menjauhkan Aka dan Fathia. Terserah jika tindakannya ini egois ia tak peduli karena dulu Aka juga egois memisahkan dia dari Galen.
Tiba-tiba Alodie memutar kembali mobilnya ke arah yang sudah di lewati.
"Loh, Mbak kok putar arah sih. Sebentar lagi sampai rumah sakit loh tolong Mbak turunin saya di sini," pinta Fathia.
__ADS_1
"Nggak! karena kamu nggak mau memenuhi permintaan saya!" kesal Alodie menginjak pedal gas agar semakin kencang laju mobilnya.
"Mbak, jangan begini tolong turunin saya di sini! Saya janji nggak akan menemui suami mbak, tapi maaf saya nggak akan mengubur cita-cita dan mimpi yang sudah saya usahakan sejak lama" desak Fathia memohon.
Alodie nggak peduli ia membawa mobilnya semakin melaju kencang. Fathia pun yang mulai ketakutan meraih stir mobil.
"Mbak, stop turunin saya di sini," desaknya menarik stir.
Alodie tak mau kalah mempertahankan kemudinya. "Lepas nggak," dorong Alodie.
"Nggak akan! Mbak berhenti dulu,"
"Lepas!"
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Fathia belum balik juga Ci?" tanya Junalar merasa resah.
"Belum Buk"
__ADS_1
"Kamu sudah coba telpon dia?"
"Tadi terakhir aku telpon katanya dia baru mau kerumah juragan Afkar.Fathia juga bilang kalau ponselnya habis baterai jadi sekarang pasti sudah mati," jelas Ciara juga sedikit resah.
Julanar menghela nafas panjang. Berharap semoga anaknya baik-baij saja.
"Besok pagi kita kerumahnya bi Inas dulu aja Buk. Siapa tau Fathia tidur di sana karena nggak ada kendaraan buat kesini lagi," ajak Fathia agar Julanar bisa sedikit tenang.
Julanar setuju. Entah mengapa matanya tak mau terpejam malam ini, perasaannya resah tak menentu. Berkali-kali Julanar mengubah posisi tidurnya tapi tetap saja matanya tak mau terlelap.
Ciara pun sama sudah berkali-kali ia menghela nafas tapi dirinya masih saja merasa gugup tak tentu. Bahkan kini ia sedang menghirup udara malam di halaman rumah sakit tapi kenapa jantungnya masih berdegup kencang.
"Hhhmmm..... hhhhuuuufff... " Ciara menarik dan membuang nafas.
"Semoga lo baik-baik aja Ti," harapnya.
Karena cuaca malam semakin dingin Ciara memutuskan untuk kembali masuk ke ruang rawat bu Julanar. Ciara kaget mendapati Julanar yang sedang menikmati langit malam di dekat jendela.
"Loh, kok Ibu belum tidur?" tanya Ciara menghampiri.
__ADS_1
"Kepikiran Fathia," jawab Julanar sedih.
Ciara hanya diam memeluk ibu angkatnya.Tak mau Julanar semakin khawatir kalau tau ia juga meresahkan sahabatnya itu.