
"Setelah mereka bercerai, Papa pun menikah dengan selingkuhannya begitu pula mama yang menikah dengan laki-laki pilihannya di kampung. Mbak baru tau punya adik saat Mbak masih SMP waktu itu nenek masih hidup dan masih suka telpon Mbak. Kamu ingatkan waktu itu kita pernah bicara sesekali!?"
Ciara sedang menceritakan tentang masa lalunya pada Mita sambil duduk santai di balkon apartment menikmati pemandangan malam kota Jakarta.
"Ia Mbak, tapi sejak nenek meninggal kita nggak pernah lagi komunikasi."
"Nah, itulah mungkin yang membuat kita nggak dekat."
"Apa Mbak punya adik lainnya dari mama tiri Mbak?"
Ciara menggeleng. "Seingat Mbak, mama Tia pernah hamil beberapa kali tapi keguguran."
Ciara hanya menganggukkan kepalanya.
"Mbak tuh nggak pernah dekat sama mama Ema. Mbak lebih dekat sama mamanya sahabat Mbak, Fathia.Sampai Mbak SMA papa sama mama Ema mulai berantem tiap hari karena ternyata mama Ema selingkuh dari papa. Pas Mbak kuliah papa mulai sakit-sakitan. Mbak harus merawat papa dan kuliah sekaligus kerja itu yang membuat Mbak sampai lupa untuk mengunjungi kamu di kampung.Di tambah mama Ema menikah dengan selingkuhannya, perusahaan papa bangkrut meninggalkan banyak hutang dan akhirnya papa meninggal."
"Lalu gimana caranya Mbak bayar hutang-hutang itu?"
Ciara tersenyum miris mengigat masa lalunya."Mbak jual diri!"
"Astaghfirullah," kejut Mita.
"Sampai akhirnya Mbak harus tandatangani surat perjanjian untuk melayani dia kapan pun dia mau. Tapi kami menikah sirih karena Mbak nggak mau menanggung dosa zina."
"Terus sekarang suami Mbak mana?"
"Hampir setahun yang lalu Mbak minta cerai. 2 tahun melayani nafsunya Mbak rasa sudah cukup sebagai balas budi."
Mita hanya mangut-mangut.
Ciara melanjutkan cerita tentang hidupnya bersama Fathia saat mereka mulai meniti karir di dunia entertaintment.Tak ada yang luput dari ingatannya mulai dari mereka yang akhirnya mendapatkan kesempatan dari mbak Widia untuk bernaung di bawah agensinya sampai masalah Fathia yang harus membayar hutang pada rentenir karena perbuatan bibinya sendiri sampai Fathia memutuskan untuk menjual keperawanan nya pun di ceritakan Ciara pada Mita dan akhirnya Fathia pun menghilang sampai sekarang tak tau di mana keberadaannya kini dan hal itu pula yang membuat bu Julanar meningal dunia.
Mita dengan setianya mendengarkan kisah kakaknya. Ternyata begitu banyak masalah yang harus ia hadapi sendirian. Tanpa keluarga di sampingnya di tambah sahabat dan orang tua angkatnya pun meninggalkan ia.Bagi Mita mungkin ia tidak akan sanggup jika berada di posisi Ciara.Mita pun memeluk Ciara setidaknya kini ada ia yang akan selalu ada untuk Ciara, tempat berbagi, tempat berkeluh kesah dan juga Mita bisa menjadi pendengar yang baik.
"Aku cuma bisa memberikan Mbak pelukan ini agar Mbak nggak merasa sendiri lagi."
"Terimaksih Mit!" balas Ciara merasa lega sudah membagikan sedikit bebannya di dada.
πΆπΆπΆπΆ
Jam 8 malam Aka sampai di rumahnya. Ia selalu di sambut dengan senyuman hangat sang istri hal itu yang membuat Aka bersemangat untuk kembali pulang meski harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan.
"Mau mandi dulu atau langsung makan?" tanya Fathia melepaskan jas suaminya.
"Makan dulu, aku udah lapar."
Fathia membawa Aka menuju meja makan.Aka pun sudah tak sabar untuk segera melahap hidangan yang ada di atas meja itu, semua tampak lezat dan menggugah seleranya. Fathia pun mengisi piring suaminya dengan nasi dan hasil masakannya sore tadi.
__ADS_1
"Bi Runi mana Han?" tanya Aka mulai menyuap makanan.
"Ke rumah mbak Kila. Hari ini mas Adnan ada tugas malam di RS jadinya mbak Kila butuh teman di rumahnya."
"Oh, masih belum dapat ART mereka?"
"Belum Mas! mbak Kila juga ngajakin aku nginap di sana tadi."
"Terus?"
"Ya aku tolak, kan udah janji sama kamu."
"Janji apa?"
"Ah, jangan pura-pura lupa deh Mas!"
"Apa?"
"Makan aja dulu, sambil di ingat," kesal Fathia.
Aka sengaja pura-pura lupa hanya untuk menggoda istrinya.Selesai makan malam Aka membantu sang istri membereskan meja makan dan mencuci piring kotor di iringi obrolan ringan soal pekerjaan Aka tadi di luar kota.
"Sudah beres?"
"Sudah." jawab Fathia.
"Duluan aja Mas, aku mau nonton dulu. Kamu mandi gih!"
"Katanya kita ada janji, yuk di kamar."
"Janji apa?" sengaja Fathia pura-pura lupa. Ia ingin membalas balik mengerjai suaminya.
"Kamu sengaja ya!?"
"Sengaja apanya?"
"Ayok sini aku gendong naik ke atas!" ajak Aka.
Fathia mengelak.
"Sini ngak!"
"Nggak, tadi katanya kamu lupa," elak Fathia.
"Awas ya!" Aka mengejar istrinya yang berlari menjauhinya.
"Honey, ayok," bujuk Aka.
__ADS_1
"Nggak jadi aja Mas, kan kita sama-sama lupa," kata Fathia berlari ke halaman belakang.
Tak mau kalah Aka menggulung lengan bajunya sampai siku lalu melepaskan dasi. Ia pun mengejar istrinya untuk segera di bawa ke kamar. Hujan mulai turun dengan derasnya hal itu tak membuat Fathia masuk kedalam rumah malah ia semakin mencemooh Aka. "Hahaha... siapa tadi yang duluan pura-pura lupa?"
"Lihat aja, kalau kamu dapat nggak akan aku lepas."
Dengan kaki kecilnya Fathia berlari mengelilingi taman menghindari Aka. Dengan langkah besar Aka mengejar sang istri tak peduli lagi jika mereka basah kuyup.
Hap... Fathia pun tertangkap oleh Aka dari belakang.
"Hahahaha... Mas, lepas geli," pinta Fathia merasa geli di gelitik oleh Aka.
"Jahil ya kamu, suaminya capek pulang kerja di bawa lari-lari keliling taman hujan-hujan lagi," gemas Aka.
"Ampun Mas, ampun," pinta Fathia agar Aka berhenti menggelitik pinggangnya.
Aka membalik tubuh Fathia memeluknya agar tubuh mereka saling merapat. "Aku bilang tadi nggak akan lepasin kamu kalau dapat!" lalu Aka ******* bibir basah istrinya. Pasutri itu menikmati ciuman mereka di bawah derasnya hujan malam.
"Mas, lanjut di kamar yuk! dingin," kata Fathia sudah merasa kedinginan.
Dengan cepat Aka mengendong istrinya ala bridal menaiki tangga menuju kamar mereka.Sebelumnya mereka tak lupa menutup pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman belakang.Sampai di kamar Aka membaringkan Alodie palsu di atas ranjang melepaskan pakaian mereka yang basah.
"Aku akan bikin kamu hangat malam ini," bisik Aka di telinga Fathia. Matanya sudah berkabut gairah tampak nya Aka sudah tak tahan untuk bersatu bersama sang istri.
"Mmm... Mas," seru Fathia menerima sentuhan mulut suaminya.
"Aku suka yang ini," kata Aka memainkan bagian tubuh istrinya yang menonjol.
Keduanya saling menikmati dan memberikan sentuhan-sentuhan hangat yang semakin meningkatkan keinginan jiwa dan raga mereka.
"Mas, bisa lanjut menu utamanya?" bisik Fathia menggoda Aka.
"Dengan senang hati," jawab Aka menyatukan diri mereka. Dengan penuh semangat Aka memompa sang istri untuk mencapai titik tertinggi sebuah kenikmatan dan kepuasan dalam bercinta.
......................
Tuh kan,kebiasaan deh habis baca di tinggal gitu aja! author jadi sedih π«π
Dukungannya mana?
Jejaknya mana?
Like Nya π mana?
Komen nya π mana?
Sudah di Favorit π belum?
__ADS_1
Hadiahnya πjangan pelit dong!?