
Pagi ini baik Fathia dan Ciara menyambut hari mereka dengan harapan baru. Dan di kantor agensi pun Widia sudah menjelaskan masalah yang sedang menimpa ibunya Fathia. Artis agensi setuju untuk menggalang dana lewat akun sosial media mereka. Meski mereka artis pendatang baru tapi mereka sudah memiliki fans yang setia dan jumlah mereka lumayan banyak. Bahkan Niko pria yang menaruh rasa pada Fathia ikut menyumbang sebesar 30 juta hasil dari kerja kerasnya belakangan ini. Ia juga berniat ingin datang menjenguk tapi kata Ciara nanti saja datang bersama ia dan juga Widia.
π± "Ti, kita harus sabar ya semua butuh waktu. Kita sudah berusaha,sekarang semuanya kita serahkan sama Allah," ucap Ciara saat ia menghubungi Fathia.
π±"Pasti Ci, mudah-mudahan kita nggak nunggu lama ya biara ibu cepat operasinya."
π±"Amin. Lo udah bicara sama juragan Afkar itu untuk minta tengang waktu lagi?"
π±"Belum Ci, gue nggak bisa ninggalin ibu sendirian karena tadi ibu menjalani beberapa tes, mungkin besok aja gue kesananya."
π±"Bibi lo nggak datang gitu buat jenguk atau ngantar makanan?"
π±"Jangan di tanya Ci, males gue bahasnya. Sekarang gue nggak peduli dia mau jenguk ibu atau nggak."
__ADS_1
π±"Dasar ya tuh nenek lampir maunya ngurus ibu cuma karena uang aja, padahal kan kakaknya sendiri."
π±"Udah lah biarin aja, sekarang gue mau ibu cepat-cepat operasi dan masalah hutang ini beres biar gue sama ibu bisa tinggal di kota dan nggak berhubungan lagi sama mereka."
π±"Ia lo benar. udah dulu ya gue mau syuting nih. Nanti kalau ada apa-apa kabarin gue."
Dua sahabat itu mengakhiri obrolan mereka siang ini. Fathia kembali menemani sang ibunda di ruang rawat karena ia baru saja membeli makan siang untuknya. Sebenarnya Fathia ingin pulang dan memasak tapi kondisi ibunya sedikit menurun dia putuskan untuk tetap di rumah sakit saja takut nanti kalau terjadi apa-apa pada ibu.
ππππ
"Ini Alodie kok nggak kasih kabar ke gue ya? gue coba hubungi nggak aktif nomornya," jelas Aka menyandarkan tubuh ke kursi kerja yang di dudukinya.
"Mungkin sibuk kali atau jaringan ponsel nggak ada atau lagi ponselnya mati," tebak Beno.
__ADS_1
Aka hanya memandang langit-langit ruang kerjanya. "Dia emang sempat bilang kalau syuting di puncak dan sinyal di sana kurang bagus," tambah Aka.
"Nah tuh tau masih aja di pikirin. Atau jangan-jangan lo sebenarnya menantikan telpon dari wanita yang kita temui di clubnya Joenas, lo penasaran kan?" goda Beno.
"Apaan sih lo, gue cuma becanda aja. Lagian itu cewek paling juga ngerjain gue aja, kalau ia pasti dia udah hubungin gue," bantah Aka.
"Cih munafik lo, bilang nggak tapi sebenarnya harap."
"Siapa yang harap coba," kilah Aka mencoba kembali fokus pada laptopnya.
"Ok, kalau lo nggak mau.Nanti kalau cewek itu hubungin lo kasih ke gue ya," pinta Beno menaik turunkan alisnya.
"Emang lo sanggup bayar?"
__ADS_1
"Eh, gini-gini harta kita sama men. Alasan gue mau jadi asisten lo karena permintaan papa lo aja dan paksaan nyokap gue yang di bujuk bokap lo. Kakak adik sama suka maksa," keluh Beno.
Aka hanya tersenyum melihat Beno yang sudah meluapkan kekesalannya.