ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Delapan Enam


__ADS_3

"Di dalam masih Ada tuh saudara sepupunya Aka, natar Mama kenalin lagi ya," kata Alia membawa menantunya duduk di ruang tamu.


"Kok telat Ka?" tanya Adnan.


"Habis begadang Mas, jadi bangunnya kesiangan," jawab Aka. Memang Adnan lebih tua empat tahun darinya.


"Ini dedek bayi namanya siapa? tanya Fathia pada anak bayi yang di gendong Kila.


"Namanya Kinan tante," jawab Kila menirukan suara anak kecil.


"Boleh tante gendong?"


"Boleh!"


Fathia memang suka dengan anak kecil jadinya bayi yang masih berusia 6 bulan itu langsung nurut padanya.


"Digendong sama siapa sayang?" kata Kila pada anaknya yang anteng di pelukan Fathia.


"Buruan Ka, bikin satu kayak gitu," ujar Adnan.


"Kalau pabrik mah jalan terus Mas, tapi hasilnya belum boleh jadi. Kan Alodie masih masa pemulihan jadi di tunda dulu," jelas Aka.

__ADS_1


"Kalau lo kapan Ben?" sambung Adnan.


"Gue?" tunjuk Beno pada dirinya sendiri pura-pura tanya.


"Jangan pura-pura bego lo," kesal Aka.


"Dokter Biya nya mau nggak sama Mas Ben," timpal Fathia.


Biya yang di tanya hanya tertunduk Malu. Obrolan para anak-anak masih berlanjut di ruang tamu sedangkan para orang tua sedang rapat penting di ruang kerja Faris.


"Buruan di lamar anak orang, jangan ngajak jalan mulu," saran Adnan.


"Sabar Mas, ini lagi mau menuju kesana," jawab Beno sungkan. Beno memang menghargai Adnan yang lebih tua darinya juga kerena pembawaan Adnan yang serius dan berwibawa membuat Beno tak berani ngobrol santai seperti ia pada Aka.


Suasana keluarga Aka begitu akrab tak ada batasan antara menantu juga mertua semua sudah di anggap sebagai bagian keluarga. Makanya jika ada masalah dalam keluarga mereka semua lebih suka membicarakan secara langsung dan terbuka hingga nanti tak terjadi kesalah pahaman di belakang. Semua berbaur tanpa ada yang merasa tersisihkan termasuk dokter Biya yang baru saja bergabung di sana langsung akrab dengan seluruh saudara dan ipar Aka termasuk juga dengan Alodie palsu.


"Papa sama Om Ardi juga tante Risma mau membicarakan tentang pembagian bisnis keluarga kita," kata Faris membuka sesi obrolan di ruang keluarga. Semua berkumpul di sana meski awalnya Fathia dan Biya merasa tak enak berada diantara urusan keluarga tapi Alia mengatakan kalau mereka sudah bagian dari keluarga jadi tak masalah jika mereka ikut mendengar.


"Kenapa di bagi Pa?" tanya Aka.


"Papa sudah tua, Om mu juga sudah tua. Sedangkan tante mu nggak paham soal bisnis ini, kan dia cuma terima bersih."

__ADS_1


"Lalu pembagiannya seperti apa? rumah sakit, klinik juga apotik kita banyak loh Om yakin bisa di bagi rata?" giliran Adnan yang bertanya.


"Itu dia masalahnya Om sama papa mu bingung. Kalau tante mu dia terserah kami berdua saja toh Beno pastinya nggak mau kan urus rumah sakit dan klinik, palingan nunggu adiknya yang masih kuliah lulus dulu."


"Begini aja Pa, kalau Aka boleh kasih usul. Bisnis ini kan sudah dari kakek dan sekarang jadi bisnis keluarga. Ya jadi nggak usah di bagi-bagi lah tetap seperti ini aja cuma nanti yang ngurusnya biar Mas Adnan aja, kan Mas Adnan udah sering bantu Papa, nanti hasilnya aja yang di bagi tiga."


"Setuju aku idenya Aka Om," ujar Adnan.


"Gue juga," timpal Beno.


"Aku juga maunya lebih fokus sama bisnis aku Pah, jadi pasti nanti kalau Papa wariskan rumah sakit untuk aku mungkin akan terbengkalai," tambah Aka.


"Tapi Ka, Mas mu ini tugasnya di Bandung. Kalau mau ngurus semuanya ya dia harus pindah ke kantor pusat sekalian harus tugas di rumah sakit kita yang paling besar, ya di sini," tambah Ardi.


"Tinggal pindah aja Om, sulit banget," usul Beno.


"Kamu nya gimana Nan?" tanya Ardi.


"Ya, kalau semua setuju aku mah ikut aja, tapi nanti Aka mau nggak bantu-bantu aku kalau lagi riweh?"


"Gampang itu mah Mas," jawab Aka.

__ADS_1


"Kamu gimana Ben?" tanya Risma pada anak sulungnya.


"Aku setuju banget Mam. Nanti si Rita bisa koas sama Mas Adnan juga sekalian belajar ngurus bisnis keluarga," usulnya lagi.


__ADS_2