
"Iiisshhh, aduh" ringis Alodie memegang kepalanya yang terasa sakit akibat terbentur pada kemudi mobil.
Sadar kini mobilnya di atas tebing dan bagian depan mobilnya menghantam pohon kayu besar yang menahan hingga mobik tak sampai jatuh masuk ke dalam sungai. Alodie memeriksa Fathia. Masih hidup tapi tak sadarkan diri dan sepertinya kondisi Fathia cukup parah karena darah segar sudah mengalir dari kepala.
Alodie menyadari kalau bagian depan mobil sudah ada percikan api. Berkali-kali Alodie mencoba membuka pintu mobilnya tapi tetap tidak bisa sepertinya macet.Tiba-tiba muncul sebuah ide di benaknya, setan berhasil menghasut Alodie. Karena api semakin besar di bagian depan mobil, Alodie bersusah payah memindahkan Fathia ke sisi pengemudi.
"Sekalian gue jadikan lo korban kecelakaan, "gumam Alodie.
Rencananya setelah keluar dari mobil ia akan menaiki tebing untuk mencapai sisi jalan raya.Nanti ia akan mengarang cerita kalau Fathia sengaja menculiknya karena ingin merebut Aka, lalu membawanya ke daerah pinggiran kota. Tapi Alodie berusaha melawan sampai mobil mereka mengalami kecelakaan merosot ke bawah jalan yang merupakan tebing.
Inilah satu-satunya cara agar Fathia bisa menjauh dari Aka. Dan kalaupun jika gadis itu tidak selamat malah akan lebih bagus pikirnya.
Misinya berhasil Alodie bergegas keluar dari dalam mobil. Baru saja ia menutup pintu mobil ledakkan pun terjadi, Alodie terlempar ke sungai yang deras akibat pintu mobil terpelanting karena ledakan.
Beberapa warga mulai berdatangan ke lokasi saat mendengar ledakan yang cukup keras. Dan polisi juga sudah berada di sana.Semua orang berhasil mengeluarkan Fathia dari dalam mobil. Wajah dan bagian beberapa tubuhnya mengalami luka bakar sampai mereka tidak bisa mengenali siapa wanita ini.
🥬🥬🥬🥬
__ADS_1
"Pagi" panggil Ciara di depan rumah bi Inas.
"Ada apa?" tanya Inas ketus.
"Fathia ada di dalam kan Inas?" tanya Julanar.
"Nggak ada!"
"Loh memang nya dia kemana? bukannya kemarin dia kesini dan malamnya berangkat sama kamu ke rumah rentenir?"
"Ia.Tapi sekarang Fathia sedang di rumah juragan Afkar dia mau dijadikan istri ke tiga," jawab Inas santai.
"Kok bisa? bukannya semua hutang sudah di bayar oleh Fathia?" tanya Ciara kesal.
"Nggak tau, cari aja dia di sana," usir Inas.
Malas berdebat dengan Inas, Julanar buru-buru mengajak Ciara ke rumah juragan Afkar.
__ADS_1
"Dimana anak saya?" pekik Julanar menangis di depan rumah Afkar.
"Ada apa ini?" tanya Afkar yang baru muncul dari halaman belakang.
"Dimana Fathia? kenapa kamu menjadikannya istri ketiga padahal anak saya sudah melunasi hutangnya," seru Julanar histeris.
"Dia sudah pergi!"
"Pergi kemana? jangan bohong!" pekik Ciara.
"Semalam dia kabur saat rumah saya kebakaran," jelas Afkar tak suka di tuduh.
"Kalau memang dia kabur, seharusnya dia sudah kembali dan nggak mungkin kami datang kesini untuk mencarinya,"tambah Julanar.
"Kami bisa lapor polisi," ancam Ciara.
Tak mau berurusan dengan pihak berwajib Afkar mengalah. "Silahkan periksa seluruh rumah saya kalau kalian tidak percaya bahwa Fathia memang sudah kabur semalam."
__ADS_1
Tanpa pikir lama Ciara dan Julanar mulai memeriksa satu persatu kamar dan ruangan di rumah Afkar. Benar adanya Fathia tak ada di sana. Lalu kemana dia? Hati Julanar semakin tak tenang. Begitu pula dengan Ciara, ia bingung dan takut kalau sesuatu sedang terjadi menimpa sahabatnya.