ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 40


__ADS_3

Ppppllllaaaakkk ...


Tamparan keras itu mampu melemparkan wajah Fathia kesamping.


"Loh, Mbak?" kaget Mita bangkit dari duduknya.


Fathia meraba pipinya yang terasa panas dan kebas. Pikirannya mencoba menerka kenapa Ciara sampai menamparnya sekeras ini.


"Mbak, kenapa sih? Tiba-tiba nampar Mbak Alodie."


"Diam kamu!" tunjuk Ciara tepat di wajah Mita. "Jangan ikut campur! Ini urusan gue sama dia," tekannya lagi mengubah arah tunjuknya.


Mita pun tak berkutik lagi, masih dengan raut wajah yang kaget ia memberi waktu untuk Ciara dan Alodie.


"Ci, kenapa kamu tiba-tiba nampar aku?" tanya Fathia bingung.


Ciara mengambil amplop coklat di atas meja lalu melempar kasar ke dada Fathia. "Buka dan baca!"


Fathia membuka amplop tadi menarik selembar kertas dari dalamnya. Matanya mulai menangkap sebuah logo rumah sakit di bagian atas kertas itu. Di bawahnya ada huruf besar bertuliskan HASIL IDENTIFIKASI DNA. Fathia menelan ludah. Bola mata berwarna coklat itu turun lebih bawah lagi membaca sebuah tulisan yang tak di mengerti lalu ada angka yang sejajar rapi membuat alis Fathia bertaut. "Aku nggak ngerti! Ini tes DNA siapa?"


"Baca sampai bawah!" tegas Ciara berpangku tangan di dada.


Kembali mata Fathia menjelajahi setiap kalimat di dalam kertas itu. Sampai satu kalimat bercetak tebal probabilitas Julanar sebagai ibu biologis dari Alodie Camila Naria 99%. Mata Fathia terbelalak kaget. Tubuhnya mematung, bibirnya terkatup rapat.


Ia tak berani mengangkat wajah untuk menatap Ciara.


"Kenapa?" tanya Ciara. "Lo nggak bisa ngomong?"


Ciara bertepuk tangan dan kepalanya mengeleng. "Hebat, sangat hebat! Sandiwara dan acting lo dapat meyakinkan gue. Oh, bukan hanya gue, tapi ssseemmmuuaaa orang yang ada di dekat lo."


Fathia masih diam seribu bahasa. Mencerna yang sedang terjadi sekarang. Hhhaahh ... akhirnya Ciara sudah tau kebohongannya. "Ci, a-aku bisa jelaskan!"


Ppplllaaakkk ...


Tamparan kedua dilayangkan kembali oleh Ciara tepat di pipi Fathia yang masih merah akibat tamparan pertama.


"Jadi ini alasan lo ngelarang gue buat dekat sama Galen? iya!"


"Ci, dengar penjelasan dari aku dulu!" pinta Fathia dengan wajah memohon.


"Apa? Apa yang mau lo jelaskan?" Ciara menggeleng seolah tak percaya dengan kenyataan yang terungkap. "Gue bingung pas lo hilang entah kemana. Setiap hari gue cari keberadaan lo. Bahkan ibuk, ibuk sampai masuk Rumah Sakit gara-gara mikirin lo. Apakah anaknya sudah mati atau masih hidup? Ibu terus berharap dan menantikan kepulangan lo. Apa lo nggak mikir? Hhaah ...


Air yang menggenang dipelupuk matanya jatuh sudah. Fathia tak sanggup lagi menahan rasa sedihnya membayangkan hal itu. " Ci, maafin aku! Di saat itu aku nggak bisa apa-apa buat datang nemuin kamu sama ibu," jelasnya terduduk di sofa.


Ciara mendengus kesal memalingkan wajahnya kesamping. "Gara-gara mikirin lo ibuk meningal dan gara-gara lo gue hancur, gue sendirian menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi."


"Aku tau kamu marah, kamu kecewa, kamu kesal karena aku, ibu meningal. Tapi jujur aku menyesal, Ci. Awalnya aku mau hadir di pemakaman ibu tapi dengan kondisi wajah ku yang bukan lagi seperti Fathia aku takut kamu akan marah dan mengusir aku." Berlinang air mata.

__ADS_1


"Kalau di saat itu lo datang dan menjelaskan semuanya sama gue, mungkin gue bisa terima alasan lo. Tapi kalau untuk sekarang gue nggak bisa! sakit Ti, sakit!" katanya memukul dada.


Fathia berlutut di kaki Ciara. "Aku mohon Ci, jangan marah sama aku. Kamu nggak tau gimana rasanya ada di posisi ini. Aku pun bingung!"


Emang lo peduli sama perasaan gue saat ditinggal ibuk?"


Fathia tertunduk meremas kertas yang masih di pegangannya. "Tapi aku berusaha hadir dan ada buat kamu kan Ci, meski dengan bentuk orang lain."


"Tapi kenapa Fathia? Kenapa?


Kenapa lo nggak cerita sama gue di saat itu?"


"Aku takut kamu akan marah dan aku tak-"


"Sekarang ia gue marah! Bukan! Gue malah benci sama lo!" tunjuk Ciara di depan wajah Fathia. "Bisa-bisanya lo menutupi ini semua dari gue, bahkan hampir 3 tahun. Lo tau kan sampai sekarang gue masih mencari keberadaan lo!


Gue kayak orang gila, kayak orang bego mencari keberadaan orang yang ternyata dia ada di hadapan gue."


"Sekali lagi maafin aku, Ci. Aku nggak tau lagi harus ngomong apa. Aku akui aku salah sama kamu, tapi please dengarin semua penjelasan aku! Jangan kamu menarik sebuah kesimpulan dari satu sisi," ratapnya mengiba.


"Nggak! Nggak ada lagi yang perlu gue dengar dari. mulut lo itu. Semua sudah dijelaskan sama Galen."


"Kenapa kamu lebih percaya dia dari pada aku sih, Ci?" Fathia mendongakkan kepala keatas memandang wajah Ciara.


"Karena dia membuktikan ucapannya!"


Dia yang minta izin ke gue untuk membongkar makam ibuk dan melakukan tes DNA itu," tunjuknya pada kertas yang sudah di remuk Fathia.


"Tapi lo berhasil bohongin gue selama ini! kalau lo emang anggap kita sahabat, dari awal lo udah cerita soal masalah ini sama gue."


Kata-kata Ciara langsung tepat menikam dada Fathia. Benar! Persahabatan mereka terjalin sudah hampir sepuluh tahun, bahkan senang, susah, sedih, bahagia dan kecewa mereka hadapi bersama. Lalu hal apa yang membuat ia tak sanggup untuk bercerita pada Ciara?


Apakah benar Fathia takut kalau Ciara akan marah padanya?


Atau Fathia hanya tak mau orang-orang mengetahui dirinya yang asli? Karena ia takut nanti Aka juga akan mengetahuinya.


"Ternyata Galen benar! Kalau saja saat itu gue percaya sama apa yang di bicarakan ibuk. Mungkin saat itu semuanya akan jelas. Ibuk nggak akan meninggal.Tapi sekarang ... " Ciara menghempaskan dirinya di sofa menutup wajanya dengan kedua telapak tangan. Pertahanannya luruh sudah, air mata yang sedari tadi di tahan tak sanggup lagi di bendung.


Fathia merangkak memeluk kaki Ciara. "Bukan salah kamu Ci, ini salah aku. Aku egois di saat itu, aku terlalu memikirkan Mas Aka sampai aku melupakan bagaiman perasaan ibuk dan juga kamu," isaknya menyesal.


Ciara mengibaskan kakinya hingga Fathia tersungkur di lantai. "Pergi lo dari rumah gue! Jangan pernah lo muncul lagi di hadapan gue."


"Ciara," raung Fathia.


"Gue benci sama lo, gue benci!" teriaknya berderai air mata.


"Maafin aku, Ci!"

__ADS_1


Ciara mengusap pipi basahnya dengan kasar. "Pergi sana minta maaf sama laki lo. Syukur kalau dia bisa menerima kenyataan ini, kalau nggak gue nggak tau bakalan kayak gimana nasib lo nanti," kesal Ciara meninggalkan Fathia yang menangis sambil bersujud memohon ampun sahabatnya itu. Ia tau ia salah tapi ia juga ingin didengar dan dimengerti.


"Mbak," panggil Mita memegang bahu Fathia menuntunnya duduk di sofa.


"Aku nggak paham sama permasalahan kalian. Aku juga nggak bisa ambil kesimpulan begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan dari Mbak atau Mbak Ciara."


Fathia mengangguk masih menangis sesegukan. "A-aku akan cerita sama kamu. Bisa kita pergi dari sini dulu?"


Mita tampak bingung harus mendampingi siapa saat ini. Satu sisi Ciara mungkin sedang butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya tentang persoalan ini. Tapi di sisi lain Alodie palsu pasti juga membutuhkannya.


Fathia mengusap hidungnya yang berair. "Kalau kamu mau di sini dulu temanin Ciara nggak apa. Aku bisa pulang sendiri sama supir. Mungkin kapan-kapan kita bisa cerita," kata Fathia paham dengan keraguan Mita.


Mita menganggukkan kepalanya. "Ayo, aku antar Mbak ke depan."


Setelah mengantar Alodie palsu dan melepas kepergian mobilnya. Mita kembali masuk rumah agak ragu ia mencoba mengetuk kamar Ciara. "Mbak? bisa kita bicara?"


Tak ada sahutan dari dalam. Hanya isak tangis Ciara yang terdengar pelan. "Kalau Mbak mau cerita, aku ada di kamar," ucapnya pergi dari depan pintu kamar Ciara.


πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡


Mobil Fathia melaju meninggalkan komplek perumahan Ciara. Di dalam mobil Fathia masih saja menangis menyesali semuanya, bahkan kini hubungannya dengan Ciara memburuk. Ada rasa geram pada Galen yang dengan lancang melakukan tindakan tes DNA tanpa izinnya.


Tapi pria itu tak bisa disalahkan sepenuhnya. Di sini memang dirinyalah yang paling pantas disalahkan karena sudah menutupi sebuah kebenaran pada Ciara, sahabatnya sendiri. Pantas kalau Ciara sekarang membencinya dan bisa saja Ciara tak mau bertemu lagi dengannya.


"Buk, di belakang ada mobil yang ngikutin kita," kata sopir.


Fathia memutar kepalanya melihat kep belakang. Mobil yang mengikutinya adalah mobil yang tadi terparkir di halaman rumah Ciara dan sudah pasti itu adalah Galen.


"Pak, saya turun di sini. Itu mobil teman saya, tadi kita janjian dan saya lupa."


Pak supir menepikan mobil yang di kemudikannya. Fathia pun turun. "Bapak langsung pulang, ya. Kalau Mas Aka tanya bapak jawab aja nggak tau, biar saya yang jelaskan nanti."


"Baik Bu," jawab Pak supir mengangguk.


Mobil Galen pun berhenti tepat di belakang mobil Fathia. Memandang mobilnya pergi menjauh, Fathia berjalan menghampiri mobil Galen.


Tok ... tok ...


Mengetuk kaca mobil dan Galen pun menurunkannya.


"Masuk!"


Fathia menghembuskan nafas kasar. Mau tak mau ia akhirnya masuk juga. Ia akan menuntut Galen untuk menjelaskan semuanya. Kenapa pria itu sampai melakukan hal sejauh ini padanya.


Fathia berusaha menahan amarah selama satu mobil dengan Galen.


Bahkan ia tak menanyakan kemana arah dan tujuan Galen melajukan mobil. Ia hanya duduk diam membisu dengan pandangan lurus ke jalanan yang di lewati.

__ADS_1


...############...


Please like πŸ‘ komen πŸ–Š favorit ❀ dan hadiah 🎁


__ADS_2