ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Tiga Enam


__ADS_3

"Eh gue juga dong bawa beberapa pakaian yang panjang buat nutupin ini bekas," sambung Fathia memperlihatkan leher serta dadanya.


"Ih, merah semua Ti," Ciara bergidik.


"iiisshh, bantu gue pilih baju dulu, takut nanti ibu lihat ini. Pasti lama hilangnya," gumam Fathia di depan cermin.


"Udah pakai kaos sama sweater aja di dekat ibu nanti," saran Ciara.


Fathia mengangguk setuju. Menunggu Ciara siap-siap ia memesan taxi online untuk mereka berangkat menuju rumah sakit tempat ibunya di rawat.


Selama perjalanan pandangan Fathia mengarah keluar jendela tapi pikirannya kembali melayang mengigat malam panasnya bersama Aka. Laki-laki itu memperlakukannya sangat lembut. Berkali-kali Aka membawanya terbang menuju nirwana bahkan saat Fathia menahan sakit dan perih kala Aka memasukinya, laki-laki itu merelakan bahunya di gigit oleh Fathia.


"Kamu boleh cakar, gigit atau tarik rambut aku kalau rasanya semakin sakit."

__ADS_1


Kata Aka kembali terucap di benak Fathia.Juga Aka mengusap air matanya saat ia sudah menyerahkan keperawanan yang dijaganya selama ini. Tak sampai di situ pujian dan ucapan terimakasih tak henti keluar dari bibir Aka saat menggagahi dirinya.


"This is a mistake baby, but i love you."


Racau Aka setelah melepaskan cairannya dan terkulai lemas di atas tubuh Fathia.Lalu ia mengecup lama kening Fathia menyalurkan rasa yang ada di dadanya karena tak tau kata apa yang harus ia ungkapkan untuk Fathia. Mata keduanya pun bertemu sambil terengah-engah melepas penat dan menormalkan kembali pernafasan Aka membelai lembut rambut Fathia yang sudah kusut.


"Mata kamu indah."


Fathia kembali tersenyum mengigat pujian Aka. Ciara pun tau kalau kini sahabatnya itu benar sedang jatuh cinta. Tapi ia hanya bisa berharap semoga itu hanya cinta semalam dan esok seiring waktu Fathia dapat melupakannya.


Sampai di rumah sakit Fathia mengurus pelunasan biaya rumah sakit ibunya di bagian administrasi. Bahkan kini ruang rawat sang ibunda di pindahkan ke ruang VIP agar lebih nyaman dan ia juga Ciara bisa istirahat dengan nyaman di sana.


"Sekali lagi terimakasih karena sudah percaya sama saya dan memberikan saya waktu," ucap Fathia pada pihak rumah sakit sebelum menemui ibunya.

__ADS_1


"Sama-sama mbak, maaf kalau awalnya kita sempat meragukan mbak," balas seorang wanita.


Fathia hanya tersenyum lalu melenggang pergi dengan rasa lega karena satu masalahnya sudah teratasi.


"Bu, alhamdulillah biaya rumah sakit sudah lunas," kata Fathia menghampiri ibunya.


Mereka bertiga mengucap syukur. Urusannya beres Fathia memilih istirahat karena tubuhnya masih merasakan lelah dan penat semalam. Rencananya besok ia akan menemui Afkar setelah menemui dokter untuk pemeriksaan terakhir ibunya sebelum pulang.


"Memangnya Fathia kerja apa kok sampai kelelahan?" tanya Bu Julanar pada Ciara yang sedang menyuapinya.


"Eemm... itu ambil beberapa kerjaan jadi dia syuting dari siang kemaren sampai pagi tadi," jawab Ciara bohong.


"Ibu jadi merepotkan kalian berdua," keluh Julanar sedih.

__ADS_1


"Nggak kok bu, sekarang kita senang ibu sudah sembuh dan kita bisa tinggal bareng di kota," bujuk Ciara.


Senyum pun merekah di wajah Julanar yang sudah tak pucat lagi.Ia juga tak sabar untuk segera pulang dan mengurus kedua anak gadisnya. Sudah tak mau ia tinggal bersama Inas yang hanya bisa membuat masalah untuk Fathia.


__ADS_2