
๐ฑMakasi ya, jangan lupa dukung aku loh. Vote sebanyak-banyaknya biar aku dapat piala.
Kata Fathia tersenyum bahagia sedang bersantai di atas kasur.
Alodie palsu menerima banyak ucapan selamat dari teman dan sahabat juga rekan satu profesi bahkan keluarga besar Aka atas keberhasilannya menjadi salah satu nominasi di beberapa ajang penghargaan dunia hiburan yang di selenggarakan setahun sekali.
"Aku senang deh, sekarang kamu udah kayak biasa lagi. Nggak murung kayak kemaren," kata Aka mengangkat tangan mengelus pipi istrinya.
Fathia mengelus kepala Aka yang tiduran di atas pahanya. "Alhamdulillah Mas, sejak aku balik kerja dan punya kesibukkan fokus aku ya ke kerjaan aja."
"Jangan murung kayak kemaren lagi ya!"
Kepalanya mengangguk.
"Oh ya sayang, pakaian aku buat ke Bandung besok udah di siapin?"
"Udah dong Mas, kamu tinggal beres mah kalau sama aku!"
"Makasi ya istriku." mencubit hidung istrinya.
"Benaran ya cuma 2 hari di sana, nanti malah di tambah lagi waktunya."
"Ia, cuma 2 hari kok. Hari pertama peresmian gedung baru dan hari kedua acara penyambutan dokter-dokter baru dan muda yang akan koas di sana."
"Maaf ya Mas, aku nggak bisa ikut."
"Santai aja, aku tau kok kamu kan mau syuting. Lagian nanti di sana aku pasti sibuk jadi kalau pun kamu ikut takutnya nanti bosan."
Besok pagi Aka akan berangkat ke Bandung menggantikan Adnan sebagai direktur utama Central Kesehatan untuk menghadiri acara peresmian gedung baru RS mereka yang ada di sana.
"Kalau bisa sorenya aja pulang Mas!"
"Ntra di usahain."
"Tidur yuk, besok kan mau bangun pagi-pagi!"
"Hhmmm...bikin dedek dulu yuk!"
Sunyi, bibir Fathia terkatup rapat. Raut wajahnya berubah khawatir. Kata-kata Galen saat di RS kembali terngiang di telinganya.
"Kalau kamu belum siap nggak pa-pa," ujar Aka solah mengerti akan kondisi sang istri yang mungkin saja masih butuh waktu untuk kembali melayaninya di ranjang. Setelah program hamil di batalkan Alodie palsu sempat merasa stres dan tertekan. Tapi, itu menurut pandangan Aka.
Aka memperbaiki posisi tidurnya, beralih ke atas bantal supaya istrinya juga bisa berbaring.
"Ayok Mas!"
Sekejap mata Fathia berubah pikiran. Ia ingin menguji keberuntungannya. Jika nanti ia hamil, maka ia siap jujur pada Aka meski harus menghadapi resiko terburuk sekalipun. Kalau ia tidak hamil berarti Tuhan memang tak menakdirkan mereka bersama.
"Nggak usah sayang, aku nggak mau kamu terpaksa!"
"Nggak Mas! aku nggak terpaksa kok. Tadi aku cuma kaget aja. Maaf kalau kemaren-kemaren aku mengabaikan kamu, aku terlalu larut dalam kesedihan aku sendiri."
"Aku paham kok! mungkin kamu masih kecewa. Tapi hidup itu terus berjalan sayang, nggak akan selamanya kamu merasakan kekecewaan itu." Membelai rambut sang istri.
"Ia, maaf ya Mas, kemaren aku sampai melupakan tugas aku sebagai istri. Nggak ngurus kamu, nggak masakin kamu, nggak temanin kamu makan atau ngobrol sebelum tidur, bahkan aku sampai melupakan kewajiban aku di malam hari."
"It's ok honey. Kalau gitu benar nih kita bikin dedek cara alami aja?"
"Iihh... Masaka, kumat deh mesumnya!"
"Ya habis tadi katanya ayok. Pas di ajak lagi aku di bilang mesum."
"Hahaha... ia juga sih. Eh tapi solat dulu yuk!"
Aka menepuk jidat. "Ia, aku lupa kita belum solat isya. Ayok lah kita ambil wudhu." menarik tangan istrinya menuju kamar mandi.
๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ
"Nanti pas sampai sana kabarin aku ya," pinta Fathia mengantar Aka sampai mobil.
"Ia, kamu nggak apa kan pergi syuting bawa mobil sendiri?"
Fathia menggeleng. "Syutingnya dekat kok Mas. Kamu emang lebih butuh supir, aku nggak mau kamu kecapekan. Takut nanti ada apa-apa di jalan kalau nyetir sendiri." Mengelus rahang tegas Aka.
"Mau di bawain oleh-oleh apa?"
"Apa aja, yang penting suamiku pulang sehat dan selamat."
__ADS_1
"Ok. Muach, aku berangkat ya!"
"Bye." lambaian tangan Fathia.
Melepas kepergian suaminya Fathia kembali masuk kedalam rumah bersiap menuju lokasi syuting.
"Bi, nanti aku mungkin pulang malam. Jadi nggak perlu masak makan siang yang banyak. Masak buat bibi aja ya," kata Fathia sebelum meninggalkan rumah.
"Mbak mau kemana?"
"Mau pemotretan. Habis itu aku mungkin jalan sama Mita, nanti pulangnya sore aja."
"Makan malam mau di masakin apa?"
"Terserah bibi aja, tapi pas buat kita berdua aja ya. Aku berangkat ya Bi."
Dengan yakin Fathia melangkahkan kaki nya memasuki mobil. Hari ini sebenarnya tak ada jadwal syuting, Fathia terpaksa bohong pada Aka dan juga Mita agar nanti tak terjadi kesalahpahaman.
๐ฑMit, kamu di mana?"
Lewat airpots yang di selipkan di telinga.
๐ฑDi kampus Mbak."
๐ฑOh, hari ini aku ada pemotretan mendadak, dan sekarang udah di jalan. Tadi Mbak Rike sengaja hubungin aku langsung soalnya takut aku telat.
๐ฑTerus gimana mbak? aku ada kuliah sampai sore loh ini!
๐ฑNggak apa Mit, kamu lanjut kuliah aja. Cuma sebentar kok jadi aku bisa handle sendiri.
๐ฑOk deh. Hati-hati ya Mbak!
Komunikasi mereka terputus.
"Ok, semua beres. Mas Aka ke Bandung dan Mita ada di kampus. Aku bisa lakukan rencana aku seharian ini," gumam Fathia sendiri.
Tujuan pertamanya adalah Bank. Membuat satu rekening baru. Menyimpan sejumlah uang untuk biaya operasi plastiknya nanti mengubah kembali wajahnya seperti Fathia. Lalu mencari sebuah rumah sederhana untuk tempat tinggalnya setelah proses penyembuhan. Semua mulai ia persiapkan dari sekarang.
Sebelum Galen menemuinya lagi dan mengancam akan membongkar rahasianya. Ia harus lebih dahulu pergi dari kehidupan Aka dan kembali menjadi Fathia. Ia akan menjelaskan pada sang suami tercinta soal dirinya yang asli. Fathia tak mau menerima tawaran dari Galen untuk hidup jauh dari Aka dan membiarkan Alodie kembali menjalani rumah tangga yang sudah ia bangun bersama Aka.
"Hhhmm... belum tau pak. Tapi mungkin beberapa bulan lagi."
"Kalau gitu nanti saya bantu bersihin tiap hari aja."
"Oh, boleh! Terimakasih loh Pak."
"Sama-sama Buk. Mau di isi perabotan sekarang?"
"Palingan kasur aja, sama peralatan dapur. Boleh Bapak bantu isi, nanti saya kasih uangnya."
"Boleh Buk. Biar anak saya aja nanti yang ngurus."
"Ini uang nya." Memberikan sejumlah uang. "Kalau gitu saya pulang dulu ya Pak."
"Ia Buk. Silahkan, sekali lagi terimakasih."
Fathia kembali masuk kedalam mobil dan memacunya menuju makam sang ibunda. Mungkin saja ini terakhir kalinya ia bisa datang ke pusara sebab ia secepatnya harus pergi sebelum Alodie asli muncul.
"Assalamualaikum bu," sapa Fathia menekuk kaki duduk di samping makam bu Julanar. "Gimana kabar ibu? Fathia harap ibu sudah tenang di surga ya!" menabur bunga.
"Buk, mungkin ini terakhir kalinya aku datang kesini. Aku harus pergi sementara waktu untuk mengembalikan wajahku yang asli. Sebelum pemilik wajah ini datang aku sudah menjadi diriku sendiri bu dan siap menghadapi semuanya. Menjelaskan pada mas Aka dan juga Ciara tentang keadaan ku yang selama ini menjadi orang lain. Aku mohon doa ibu dari sana ya! semoga jalan yang aku tempuh ini adalah jalan terbaik. Aku nggak mau suami ku jatuh ketangan wanita yang sudah melukainya dan menipunya berkali-kali. Wanita seperti itu tak pantas hidup bersama mas Aka bu."
Tak lupa Fathia membacakan surat yasin serta mengirim doa untuk ibu tercinta. "Bu, Fathia pulang dulu. Kapan-kapan muncul dalam mimpi aku ya bu, aku kangen. Assalamualaikum," ucapnya beranjak dari sana, melangkah menjauh melanjutkan perjalanan hidupnya menghadapi segala resiko untuk memperjuangkan rumah tangganya bersama Aka.
๐ง๐ง๐ง๐ง
"Kkkaanngeennn!" ujar Fathia seraya memeluk Aka menyambut suaminya yang baru saja sampai dari Bandung saat malam hari.
"Sama, aku juga kangen!" membalas pelukan sang istri.
"Masuk yuk, aku udah masak!" Mengandeng tangan Aka menuju meja makan.
"Wwwaahh...banyak banget masakannya." Aka mendudukkan diri di kursi meja makan.
"Ia dong. Spesial buat suami tercinta. Aku tau kamu di Bandung cuma makan dikit kan!"
"Kok tau?"
__ADS_1
"Pak sopir yang bilang, katanya 'makanan hotel nggak enak, jadinya bapak cuma makan sedikit,' gitu."
"Kapan?"
"Tadi pagi pas aku telpon kamu nggak di angkat. Terus aku hubungin pak Jaka deh."
"Ooh.. ia sih, bahkan sarapan cuma makan roti tawar aja sama kopi."
"Masak sih makanan hotel nggak enak?"
"Enak kok honey. Cuma makan sendiri tanpa istri itu yang nggak enak."
"Gombal!"
"Benar loh sayang. Kapan sih aku makan nggak bareng kamu?" di kantor makan siang bareng, kalau nggak pulang kerumah menyongsong masakan istriku yang enak ini."
"Si Mas bisa aja," timpal Bi Runi datang membantu Fathia.
"Ia Bi! Balik dari Bandung udah bisa gombal aja. Di ajarin dokter-dokter muda kali ya," sambung Fathia.
"Udah ah, kalau nggak percaya. Sini piringnya aku udah lapar mau makan!" menjulurkan tangan.
"Ini, habisin ya!"
Aka mengangguk. Dengan mata berbinar segera menyantap masakan sang istri yang begitu ia rindukan.
Habis makan malam Fathia mengeluarkan pakaian kotor Aka dari dalam koper dan menaruhnya di keranjang cucian agar besok pagi bisa langsung di cuci oleh bi Runi.
"Al, cukuran aku mana?" teriak Aka dari dalam kamar mandi.
"Bentar!" gegas Fathia. "Ini" ulurnya di balik pintu.
"Masuk aja!"
"Nggak ah, aku mau rebahan!"
Secepat kilat Aka membuka lebar pintu kamar mandi dan menarik istrinya masuk.
"MASAKAAAA!"
๐๐๐๐
"Hehehe... muach. Love you!" senang Aka sudah melepaskan rindu bersama istrinya.
"Sebel!"
"Tapi enak kan!?"
"Ia, tapi habis itu dingin. Keramas malam-malam."
"Ntar aku peluk boboknya!"
Di meja rias Fathia sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. "Mas."
"Hhhmm... " jawab Aka selonjoran di atas kasur.
"Besok kita kerumah mama yuk!"
"Ngapain? main ponsel.
"Mama demam Mas, kemaren aku habis dari sana. Kata papa nggak usah kasih kabar ke kamu, takut nanti kamu nggak fokus di Bandung."
Aka meletakkan ponselnya di atas nakas. "Penyebabnya?"
"Kata papa, mama sering ngelamun sejak aku keluar dari RS. Di tambah mama khawatir dengan kondisi aku selama di rumah."
"Kok aku nggak tau! papa juga nggak pernah ngomong."
"Makanya Mas, besok kita nginap di sana. Aku rasa mama nyimpan rasa kecewa dan sedihnya sendirian jadinya ngaruh sama kesehatan beliau." Fathia menghembuskan nafas. "Maaf ya Mas, aku bikin mama berharap banyak dan akhirnya kecewa."
Aka beranjak dari kasur. "Hey, kan sudah pernah kita bahas. Bukan salah kamu kok sayang. Ini soal izin dari yang di atas." Berlutut di depan Fathia.
Fathia tersenyum simpul.
"Tidur yuk, aku capek. Katanya tadi mau tidur di peluk."
Mereka beralih menuju kasur. Aka menarik selimut menutupi tubuh mereka dan merangkul sang istri mendekap di dada.
__ADS_1