
Waktu terus bergulir, hari pun berganti. Luka bakar di lengan dan punggung Aka sudah sembuh laki-laki itu dapat beraktifitas normal kembali. Semua berkat istrinya, Alodie palsu yang merawat suaminya dengan penuh cinta, penuh curahan perhatian.
Seperti biasa pagi ini mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Alodie palsu tak pernah lupa membantu suaminya berpakaian rapi sebelum berangkat ke kantor. Sedangkan ia sudah rapi duluan setelah menyiapkan sarapan pagi.
"Dari lokasi syuting aku ke bandara ya Mas, mau jemput Ciara dari Bali," kata Fathia memasangkan kemeja suaminya.
"Ok sayang, hari ini aku ada jadwal meeting di luar kota, dan mungkin pulangnya malam. Nggak apa kan?"
Fathia mengangguk "Berangkatnya sama Mas Ben kan?"
"Ia, sama Fina juga, kalau Selvi kan harus stay di kantor."
"Pokoknya jangan lupa kasih kabar ya!"
"Pasti! sini," ajak Aka menarik pinggang istrinya yang sedang memasangkan dasi menghapus jarak antara tubuh mereka. "Cium dulu, biar akunya semangat kerja hari ini," tambah Aka ******* bibir istrinya. Fathia memegang rahang Aka membalas ciuman itu.
Aka melepas tautan bibir mereka, menghapus bibir istrinya yang basah dengan ibu jari. "Nanti malam kita lanjutkan, tamu bulanannya sudah bereskan?"
Fathia tersenyum malu dan mengangguk memukul pelan dada Aka. "Aku tunggu," bisik nya berjinjit di telinga Aka.
"Ayok kita turun biar aku segera berangkat kerja agar cepat pulang,"tambah Aka.
π»π»π»π»
Di bandara Ciara berlari kecil saat melihat Alodie palsu menghampirinya.
"Kangen," ucap mereka bersamaan sambil berpelukan bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Laper nggak? kita makan dulu yuk!" ajak Alodie palsu.
"Boleh! makan di mana kita?"
"Kamu lagi pengen makan apa?"
"Di masakin aja gimana? kangen masakan lo!"
"Ok deh, kita belanja dulu habis itu masak di apartment kamu aja."
"Yuk!" rangkul Ciara penuh semangat.
__ADS_1
Asistennya Ciara dan juga Mita mengikuti mereka dari belakang. Mobil pun melaju menuju satu pusat perbelanjaan karena Alodie palsu akan membeli bahan makanan terlebih dahulu.
Asistennya Ciara memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, soalnya ia ingin segera istirahat di rumahnya jadinya Alodie palsu dan Ciara serta Mita yang berbelanja. Rencananya mereka akan memasak daging asam manis, tumis buncis, dan kangkung krispi kesukaan Ciara, plus sup telur puyuh permintaan Mita.
Bahan-bahan sudah mereka masukkan kedalam troli, lanjut menuju kasir untuk membayar setelah itu mereka meluncur ke apartment Ciara. Pukul 2 siang sampai di apartment mereka membantu Alodie palsu menyiapkan bahan masakan. Selebihnya untuk masak memasak adalah tugas Alodie palsu. Ciara dan Mita tak mau ikut campur takut nanti rasa masakannya tak enak.
"Yuk makan," ajak Alodie palsu saat semua hasil masakannya jadi dan sudah tertata di meja makan.
"Hhhuummm wangi," ujar Mita menghirup aroma masakan Alodie palsu.
"Gila, enak banget masakan lo Al," puji Ciara.
"Ia Mbak, pantas pak dokter tergila-gila sama Mbak Alodie. Bukan hanya cantik tapi pintar memanjakan lidah dan perut dengan masakan."
"Bisa aja kamu Mit." ujar Fathia.
"Mita benar loh Al, siap coba yang bisa nolak masakan lo ini," tambah Ciara.
Bibir Fathia tersenyum merekah. Sambil menikmati makanan di piringnya ia memperhatikan Ciara dan Mita nan memiliki gaya dan cara makan yang sama, apalagi kalau di ingat-ingat cara Mita bicara serta sifat yang cuek dan blak-blakan sama persis dengan Ciara, hanya saja Mita sedikit penakut kalau menghadapi orang yang baru di kenalnya.
"Kalian mirip tau nggak! apa jangan-jangan kalian saudara," cetus Alodie palsu.
Keduanya, Mita dan Ciara kaget dengan ucapan Alodie palsu tangan mereka pun menggantung suapan yang hampir sampai di mulut.
"Kok lo bisa bilang gitu?" tanya Ciara kembali menyuap makanan.
"Kisah kalian tuh saling berhubungan tau nggak! Yang satu punya adik di kampung tapi nggak pernah ketemu. Satu lagi punya kakak di kota juga nggak pernah ketemu. Tapi punya kesamaan kalau sang kakak suka kirim uang jajan buat adiknya di kampung. Coba deh kalian ngobrol siapa tau dugaan aku benar," cerocos Alodie palsu.
Mita dan Ciara tampak mengerutkan dahi sambil menyuap makanan mereka berfikir. "Mama gue meninggal saat melahirkan adik gue itu, kalau nyokap lo apa masih hidup Mit?" tanya Ciara.
Mita menggeleng "Meninggal Mbak, saat melahirkan saya!"
"Nama ibu lo siapa?"
"SARINA."
Ciara berlari menuju kamarnya. Mita dan Alodie palsu heran melihatnya lalu mereka pun menyusul Ciara.
"Ini bukan ibu Lo?" tanya Ciara menyodorkan selembar foto lama.
__ADS_1
Mita memperhatikan wanita yang ada di foto itu. Sedang memeluk seorang anak kecil perempuan. "Ibuk, ia ini ibuk! ini ibuk saya Mbak!" tegas Mita.
Ciara pun langsung memeluk Mita. Mita masih tergugu ia antara percaya dan tidak percaya bisa semudah ini bertemu dengan saudara nya yang tak pernah ia temui seumur hidupnya. Bahkan ia pun tak ada niat untuk mencari sebab ia masih merasa hal itu tak begitu penting mengigat hubungan mereka yang seperti orang asing.
"Maaf mbak ya, kalau Mbak nggak pernah datang ke kampung buat temuin kamu," ujar Ciara.
Akhirnya Mita pun menangis. "Saya pikir Mbak nggak pernah menganggap saya."
"Bukan begitu! sejak papa Mbak meninggal hidup Mbak banyak masalah itu yang membuat Mbak lupa untuk lihat kamu kesana."
"Saya juga minta maaf kalau saya nggak pernah hubungin Mbak, atau cari informasi tentang Mbak saat saya sampai di kota ini," tangis Mita di pelukan Ciara.
Fathia tersenyum bahagia akhirnya dua saudara ini sudah bertemu. Ia juga ikut terharu melihat dua adik kakak itu. "Sudah nangisnya, yuk lanjut lagi makannya habis itu kalian bisa saling cerita tentang banyak hal," ajaknya.
"Yuk kita makan lagi, saya masih lapar," kata Mita.
Ciar pun tertawa mendengar penuturan adiknya itu.
π·π·π·π·
"Sudah sore, aku pulang dulu ya. Mau masak makan malam buat mas Aka. Mit kamu nginap di sini aja! pasti masih banyak hal yang ingin kalian ceritakan."
"Makasih ya Al, sudah masakin kita," pinta Ciara.
"Makasih ya Mbak, sudah pertemukan saya sama kakak saya," tambah Mita.
"Saya hanya membantu Mita, karena cerita kamu sama dengan Ciara dan ternyata dugaan saya benar!"
Ciara mengerutkan kening "Tau dari mana lo, kalau gue punya adik tapi nggak pernah ketemu?"
Dalam hatinya Fathia mengutuk dirinya sendiri yang masih saja suka merasa kalau dirinya adalah Fathia yang dulu saat berdekatan dengan Ciara.
"Kamu tuh suka lupa ya! kan kamu sendiri yang cerita."
"Kapan?nggak pernah! gue cuma cerita soal suka kirim uang jajan aja sih," kata Ciara tampak ragu.
"Ah, sudahlah! pokoknya sekarang kalian sudah bertemu. Selamat ya, jadi sekarang kamu nggak sendirian lagi Ci, ada Mita buat curhat kalau nggak ada aku."
Ciara dan Mita saling pandang lalu mereka berpelukan.
__ADS_1
"Aku pulang ya!" izin Alodie palsu.
"Ia, hati-hati di jalan Mbak," balas Mita sedangkan Ciara melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil Alodie palsu.