
"Mau jalan-jalan ketaman?" tawar Aka agar suasana hati istrinya bisa sedikit tenang.
Fathia mengangguk.
Aka mengendong istrinya untuk duduk di kursi roda tapi kali ini Fathia menolak ia ingin berjalan sendiri takut jika nanti tubuhnya semakin kaku karena terlalu lama berbaring.
"Baiklah, tapi jalan pelan-pelan, aku akan bimbing kamu," balas Aka.
Sebenarnya Fathia bisa berjalan dengan normal, tapi karena terlalu lama berbaring di atas brankar dan juga sering menggunakan kursi roda akhirnya beberapa sendi mulai terasa kaku.
"Nanti kita ketemu dokter saraf ya, biar kamu segera terapi," kata Aka membantu Fathia duduk di bangku taman.
Fathia mencoba mengerakkan tangannya seolah ingin menulis sesuatu. Lalu Aka memberikan sebuah buku kecil dan juga pena yang selalu ia siapkan untuk sang istri.
"Kenapa wajah aku harus di operasi?"
__ADS_1
Tulis Fathia ingin tau keadaannya setelah kecelakaan.Ia masih bingung kenapa Aka tidak dapat mengenali dirinya.
"Saat di temukan wajah kamu penuh luka bakar, jadi tidak dapat di kenali. Lalu aku minta dokter Labib untuk menangani kamu saat sampai di rumah sakit. Labib bilang luka bakar derajat 2 sebenarnya tidak butuh tindakan operasi, hanya saja nanti pasti akan meninggalkan bekas, jadi aku putuskan untuk melakukan tindakan operasi merekonstruksi ulang wajah kamu agar tidak cacat permanen," jelas Aka lembut supaya Fathia paham.
Fathia hanya menghela nafas panjang. Sudahlah sekarang semua percuma toh dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa, bicara saja susah. Syukuri saja dulu kini keadaannya sudah mulai membaik dan satu lagi ada Aka yang begitu sayang dan perhatian padanya.
Jadwal dokter saraf rekan kerja Aka pun sudah tiba, Fathia mulai melakukan pemeriksaan.
"Cukup fisioterapi saja, kita lakukan sekali tiga hari. Tiga minggu istri anda sudah dapat bergerak normal juga sudah bisa bicara kembali," jelas dokter Viko.
"Bisa, nanti saya akan minta suster untuk menyiapkan ruang terapi. Silahkan anda menunggu di kamar rawat," tutur Viko.
"Terimakasih," balas Aka juga Fathia memberikan senyuman untuk sang dokter sebagai ucapan terimakasih dari nya.
"Sama-sama, semoga bu Alodie bisa sembuh secepatnya dan dapat memulai kembali kehidupan."
__ADS_1
Aka dengan setia membantu dan mendampingi Fathia melakukan terapi. Meski ada suster di sana yang akan melakukan tugasnya tapi Aka tetap berada di sana mengamati dan memberi semangat pada istri palsunya.
Fathia juga melakukan sinar laser sebagai perawatan terakhir untuk menyamarkan bekas operasi di wajahnya. Semua tindakan terbaik di lakukan dan di berikan oleh Aka untuk kesembuhan Fathia yang di anggapnya Alodie. Ia masih merasa bersalah karena pertengkaran malam itu mengakibatkan Alodie mengalami kecelakaan.
Serangkaian tindakan tambahan untuk kesembuhannya Fathia pun masih harus menginap di RS dua minggu lagi karena Aka ingin memastikan sang istri harus benar-benar sembuh sebelum pulang kerumah.
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Sini aku bantu," kata Aka ingin membuka baju Fathia yang hendak mandi.
Fathia menggeleng menyilang kan kedua tangannya di dada. "Malu" katanya setelah melakukan terapi dalam dua minggu ini.
"Hahaha, kenapa?" tanya Aka.
"Mas bu-kan sua-mi aku," kata Fathia sedikit tebata.
__ADS_1
Aka mengalah, kenapa sulit sekali meyakinkan wanita ini kalau mereka memang suami istri. Meski sudah ia berikan bukti berupa surat nikah dan foto serta vidio pernikahan mereka Alodie palsu masih saja tak percaya.