
"Lo kenapa sih, Ka?" tanya Joe ketika menemani Aka menghabiskan malam di klubnya.
"Bingung gue," jawab Aka meneguk segelas minuman.
"Ya bingung kenapa?"
Aka menghela nafas sebelum ia bercerita. "Gue nggak tau mau cerita dari mana, karena gue benar-benar bingung!"
"Lo masih kepikiran sama istri palsu lo itu?"
"Entahlah. Gue udah coba anggap kejadian ini nggak ada dan menerima Alodie. Tapi tetap hati gue masih ngerasa berat, ada yang ganjal gitu."
"Terus mau lo apa sekarang? Malah lo mulai minum-minum lagi. Nggak baik, Ka. Saran gue mendingan coba lo ceritakan sama keluarga besar lo deh. Mereka berhak tau masalah ini," usul Joe.
"Gue masih belum siap cerita masalah ini ke mereka, Joe. Gue juga masih butuh waktu."
"Mendingan lo pulang deh. Lama-lama lo bisa mabuk ini," khawatir Joe.
Aka menggeleng sambil meneguk minuman beralkohol tinggi. "Malas gue pulang, sampai di rumah gue selalu merasa kecewa. Mendingan gue di sini."
"Gue telpon Jio buat antar lo pulang," tegas Joe tak mau melihat sahabatnya kacau begini.
ππππ
"Mas Aka kenapa?" tanya Bi Runi membukakan pintu.
"Agak mabuk bi, tapi masih sadar kok. Saya di minta temannya Pak Aka buat ngantar pulang, takut nanti kenapa-kenapa di jalan," jawab Jio memapah Aka masuk ke dalam rumah.
"Langsung antar ke kamar aja kalau gitu, Mas," pinta Bi Runi.
"Emang Mbak Alodie mana?"
"Dia tadi udah pulang, tapi karena Mas Aka nggak ada jadi dia pergi lagi."
"Saya bisa sendiri, kamu boleh pulang," kata Aka melepaskan rangkulannya dari Jio.
"Baik, saya permisi Pak."
"Terimakasih. Kamu hati-hati di jalan."
Aka pun melangkahkan kakinya dengan sedikit goyah memasuki kamar. Ia langsung menghempaskan tubuh ke atas kasur. Berharap pengaruh alkohol dapat membuatnya melupakan sejenak beban pikiran namun malah semakin membuat dirinya semakin tengelam akan sebuah rasa bersalah.
Mata Aka seolah menerawang langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana. Tak lama terdengar pintu kamarnya terbuka. Aka tak mengalihkan pandangan bahkan saat Alodie mendekatinya pun Aka tetap diam di posisinya.
"Kamu dari mana, Mas? Aku cariin loh," tanya Alodie khawatir.
"Habis ketemu Joe."
__ADS_1
"Kamu habis minum ya?"
"Sedikit!"
"Mandi sana, biar lebih segar," ajak Alodie menarik tangan Aka.
Aka malah menahan badannya dan mengakibatkan Alodie jatuh tepat di atas dada. Untuk pertama kalinya mereka sedekat ini sejak Alodie asli kembali. Selama ini Aka sedikit menjaga jarak terhadap sang istri.
Kesempatan ini tak mau di lewatkan Alodie. Ia langsung mendekat dan menyesap bibir Aka. Tangan Alodie mulai membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Sesaat Aka terbuai akan ciuman itu. Sebagai laki-laki normal sudah pasti gelora dan gairahnya mulai bangkit.
Bahkan tangan Aloide sudah membelai lembut dada Aka. Ciuman itu berubah menjadi lebih panas. Seolah keduanya saling menuntut lebih. Lagi kesempatan ini di manfaatkan Alodie untuk membuat Aka kembali bertekuk lutut padanya.
Untuk masalah ini mungkin ia ahlinya. Alodie sudah tau apa yang harus ia lakukan supaya Aka tak lagi menolaknya. Satu persatu Alodie sudah melepaskan pakaiannya. Hingga saat tangannya mulai menyentuh sisi sensitif Aka "Maaf, aku nggak bisa," ujar Aka pergi meninggalkan Alodie sendirian menelan kekecewaan yang teramat dalam.
"Mas, kamu mau kemana?" teriaknya.
Aka tak menyahut ia pergi dari kamar itu dengan keadaan yang benar-benar kacau. Ia lebih memilih tidur dikamar lama yang terletak di lantai dua. Sebelum itu ia meminta bi Runi untuk mengantarkan beberapa pakaian dan juga secangkir kopi.
Sampai di kamar lama itu Aka langsung menuju kamar mandi. Membasahi badannya dengan guyuran air shower. Jujur ia begitu menginginkan sentuhan itu, tapi kenapa malah hatinya menolak dan berontak seakan tak menerima.
Ada apa dengan hatinya? Kenapa sekarang sering tak sejalan dengan keinginan. Hatinya seolah mengalahkan fungsi otak. Hati itu kini mulai mengambil alih tubuh serta pikiran Aka. Membuat ia seolah berada di dua persimpangan. Pikirannya ingin menelusuri arah kiri tapi hatinya begitu kuat membuat kakinya melangkah melewati persimpangan kanan.
Lama bertemankan dinginnya air Aka merasa perutnya mulai lapar. Ia pun turun ke dapur menyeduh satu bungkus mie instan. Lalu ia menarik satu kursi di meja makan dan mulai menyantap mie rebus bikinan sendiri.
Tiba-tiba saja memorinya memutar sebuah kenangan saat ia bersama Alodie palsu. Biasanya tengah malam seperti ini wanita itu selalu setia menemani Aka. Wanita itu, ya wanita itu yang begitu mengerti akan dirinya. Bahkan belum saja ia meminta semua sudah tersedia.
Krang______
Pecahan mangkok keramik itu bertebaran di atas lantai. Dada Aka tampak naik turun seolah menahan amarah. Lagi ia masih berusaha menyangkal suara hati kecilnya.
Ia menuju kulkas dan mengambil satu botol air mineral dingin dan meneguknya hingga tandas. Berharap dinginnya air dapat menurunkan panasnya emosi. Serasa kepalanya seakan mau pecah karena tak berhenti berdenyut dari tadi Aka kembali menaiki tangga menuju lantai dua. Istirahat adalah pilihan terbaik untuk meredam gejolak di dada.
Ia membuka lemari untuk mengambil satu selimut di sana. Tapi matanya teralihkan pada satu dress yang dulu sering di pakai Fathia saat mereka masih di kamar ini. Tangan Aka terulur begitu cepat meraih dress berwarna biru muda itu membawa menuju indra penciumannya.
Serasa semua beban di dada dan pikirannya menguap begitu saja. Seolah aroma itu mampu menghipnotis Aka, memberikan ia sebuah kenyamanan dan ketenangan yang sangat ia butuhkan. Satu-satunya obat untuk penyakit dokter Aka.
Aka membawa dan mendekap dress itu di dadanya sambil mencoba mengistirahatkan jiwa dan raga yang terasa lelah. Bagaikan obat tidur dalam sekejap Aka dapat langsung memejamkan matanya dan menjelajahi dunia mimpi.
π£π£π£π£
Pukul sembilan pagi Aka baru saja terbangun dari tidur nyenyak dan berkualitas. Baru kali ini ia benar-benar tidur puas tanpa beban pikiran. Semua berkat Fathia Iya, semalam Aka seakan bermimpi kalau ia tidur dalam pelukan wanita itu.
Sedikit gengsi mengakuinya tapi ia sangat berterimakasih pada dress itu. Kalau saja semalam ia tak menemukannya mungkin ia tak dapat menikmati waktu tidur senikmat tadi malam. Aka turun dari ranjang dan mencuci muka lalu menuju meja makan untuk sarapan karena perutnya sudah sangat lapar dari tadi keroncongan terus.
"Mas, aku mau bicara," ujar Alodie mendapati Aka di meja makan.
"Aku mau sarapan. Bisa aku sarapan dulu?"
__ADS_1
"Ok, habis itu aku tunggu di kamar," jawabnya berlalu pergi dari sana dengan tampang kesal.
Aka tak peduli. Pagi ini ia ingin menikmati sarapan saat keadaan hati dan pikirannya dalam keadaan baik dan tenang. Pagi ini Aka merasakan sedikit kedamaian di hatinya. Seolah sebuah taman bunga yang sudah layu kini tampak mekar kembali.
Ngomong-ngomong soal taman, Aka malah teringat akan taman bunga dan sayur serta buah di halaman belakang. Mungkin nanti habis sarapan ia akan kesana. Melihat bagaimana kondisi taman itu.
"Kamu kok malah di sini sih, Mas?" kesal Alodie menghampiri Aka di taman.
"Emang kenapa?"
"Tadi aku bilang kita mau bicara kan. Aku udah nungguin kamu di kamar tapi kamu malah kesini. Ngapain kamu ngurusin taman nggak jelas ini?" ucap Alodie menatap aneh taman yang semua tanamannya sudah pada layu dan mati.
"Kalau mau bicara di sini aja," kata Aka sambil membersihkan taman. Ia membuang semua tanaman yang mati. Membersihkan semak-semak yang mulai menjalar di pagar. Tanaman yang layu di siram dan di beri pupuk supaya tumbuh segar.
"Panas, Mas. Kamu nggak kepanasan?"
"Tunggu di sana. Bentar lagi aku selesai," tunjuk Aka menuju gazebo.
Dengan menghentak-hentakkan kaki Alodie berjalan ke arah gazebo. Ia duduk di sana sambil memperhatikan Aka yang rela kepanasan demi mengurus taman itu. "Kenapa nggak sewa tukang taman aja sih," sungut Alodie kesal sendiri.
Bi Runi pun datang mengantarkan dua gelas jus stroberi hasil panen Aka tadi dari taman. Hanya itu yang tersisa. Selebihnya sudah pada mati. "Makasih ya bi," ucap Aka datang dari arah taman dan mendudukkan diri di gazebo.
"Iya, Mas. Bibi kedalam lagi ya mau masak makan siang," izin bi Runi.
"Di minum," kata Aka pada Alodie menunjuk gelas satu lagi.
"Kenapa semalam kamu pergi ninggalin aku?" tanya Alodie marah menatap Aka sambil berpangku tangan.
"Maaf, semalam pikiran ku lagi kacau dan emang nggak bisa buat lanjut," jawab Aka santai meneguk jus stroberi nan nikmat.
"Mas aku ini bisa sabar loh menerima kamu yang selama hampir tiga tahun belakangan tidur sama wanita lain. Berusaha melupakan bayang-bayang kalian bersama dan mencoba memulainya sama kamu. Tapi kamu kok malah seperti ini sama aku?"
Aka menatap Alodie dengan wajah memerah. "Kamu sadar diri, itu tubuh sebelum aku jamah juga udah di jamah sama laki-laki lain kan?!"
"MAS," pekik Alodie nggak terima.
"Apa? Kamu nggak terima aku tidur sama wanita lain? Anggap aja kita impas. Jangan mulai mencari- cari kesalahan aku kalau kamu nggak mau kesalahan masa lalu kamu aku ungkit," tuntut Aka menunjuk Alodie tepat di depan wajahnya.
"Maaf," sesal Alodie tertunduk.
"Sekarang sana, bantu bi Runi masak. Aku mau makan siang masakan kamu."
"Mas, kan aku udah bilang kalau aku tuh emang nggak bisa masak. Kenapa sih kamu harus banget aku yang masak?" rengeknya.
"Belajar itu nggak cuma sekali atau dua kali, Al. Belajar itu ya harus sampai kamu bisa. Katanya mau belajar jadi istri terbaik, tapi belum apa-apa udah nyerah."
Alodie menghembuskan nafas kasar. "Ia deh, aku masak."
__ADS_1
Aka menatap punggung istrinya yang pergi menjauh dari sana. Tanpa ia sadari Aka begitu menuntut Alodie supaya bisa seperti Alodie palsu. Dan tanpa ia sadari juga hal itu sebetulnya menunjukkan kalau ia begitu menginginkan Fathia tapi ia terus menampik dan menyangkal.