ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 14


__ADS_3

Pagi hari Aka sudah berangkat bersama pengacaranya menuju kantor polisi. Mereka hendak menyerahkan bukti-bukti pada penyidik serta Aka akan memberikan keterangannya sebagai saksi.


Usai memberikan penjelasan, penyidik pun akan memanggil polisi nan dulu menemukan Fathia. Untuk di jadikan saksi dan meminta keterangannya.


Tepat jam dua siang Aka keluar dari sana dan langsung menuju rumah Alodie terlebih dahulu.


Ada hal yang perlu mereka bicarakan berdua. Aka ingin sidang perceraian mereka segera ketuk palu. Maka dari itu ia meminta Alodie agar tak menghambat jalannya persidangan.


"Mas." Senang Alodie menyambut kedatangan suaminya. Ia hendak memeluk Aka tapi di tahan oleh pria tersebut.


"Saya datang kesini hanya ingin menanyakan satu hal," kata Aka nan sudah duduk di sofa ruang tamu. Ia tak mau berbasa- basi.


"Mas, bisa nggak kamu tanya kabar aku dulu? Ini malah langsung to the poin," kesal Alodie.


"Saya nggak peduli dengan kabar kamu. Sekarang jelaskan ini!" Aka melemparkan amplop coklat ke atas meja.


Dengan dahi berkerut Alodie membuka amplop tersebut dan mulai membacanya.


"Surat keterangan kamu melakukan tindakan aborsi tepat tiga bulan setelah kita menikah. Saya mohon kamu jawab jujur! Itu anak Galen atau anak saya?" Aka menatap Alodie dengan tajam. Seakan mengintimidasi calon mantan istrinya agar tak lagi berkata bohong.


Wanita itu hanya bisa tertunduk meremas kertas tersebut.


"Jawab!" Bentak Aka.


"Anak kita, Mas," jawab Alodie lirih.


Aka menghembuskan nafas kasar. Ia tak menyangka wanita nan ada di hadapannya ini begitu tega membunuh anaknya sendiri meski baru seumur jagung. "Kenapa?"


"Ka-karena saat itu a-aku nggak siap hamil."


"Selingkuhan kamu itu juga tau soal ini?"


Alodie mengangguk pelan.


"Apa dia yang menyarankan kamu untuk aborsi?"


"Bukan! Aku yang ingin melakukannya tapi Galen yang membantu menghubungi dokter serta Rumah Sakitnya."


"Oh bagus! Kalian memang partner hidup yang sangat cocok sekali. Kenapa kamu nggak nikah aja sama dia setelah perceraian kita?"


"Aku udah nggak cinta lagi sama dia, Mas! Sekarang aku cuma cinta sama kamu!" tekan Alodie meyakinkan.


Aka tertawa sambil menggelengkan kepala. "Kamu terlambat!"


"Mas, apa nggak bisa kmau kasih aku kesempatan, sekali saja?" harap Alodie.


Aka menggoyangkan telunjuknya di hadapan wanita itu. "Jangan harap! Oh ya, saya mau berterimakasih karena kamu sudah membuat Fathia menjadi korban kecelakaan waktu itu."


Wajah Alodie langsung berubah tegang. Bagaimana Aka bisa tau soal ini. "Ma-maksud kamu apa, Mas?"


"Saya sudah tau kejadian saat malam kamu dan Fathia kecelakaan. Kamu sengaja meninggalkan dia di sisi kemudikan?! Berpikir kamu bisa selamat tapi malah jatuh terpental ke sungai."


"Mas, bicara apa sih? Aku nggak ngerti!" Alodie masih mengelak.


"Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak! Saya sudah membebaskan Fathia dan surat pengajuan banding sudah saya layangkan. Tinggal tunggu saja penyidik menjemput kamu." Aka berkata dengan santai tapi mampu membuat wanita yang duduk di hadapannya itu mati kutu.


"Takut?!" Sebaiknya kamu segera bicarakan masalah ini dengan malaikat penolong kamu itu agar dia bisa membantu kamu terbebas dari tuntutan."


"Mas, kamu nuntut aku segala?" Alodie tak menyangka akan hal ini.

__ADS_1


"Iya lah. Kamu yang bersalah bukan istri saya!"


"Istri? Dia cuma istri palsu kamu, Mas! Pernikahan kalian itu nggak sah," seru Alodie dengan nada tinggi.


"Pernikahan kami sah di mata agama dan itu cukup buat saya. Setelah perceraian kita selesai, saya akan menikahi dia lagi. Dengan rupa dan nama aslinya!" Nada tegas Aka menjelaskan pada calon mantan istrinya itu.


Alodie menggeleng tak menerima ia mendekat dan bersimpuh di kaki Aka. "Mas, kenapa kamu setega ini sama aku?" ibanya.


"Karena kamu sudah membuat dia mendekam di penjara!" Aka marah dan mendorong wanita itu agar menjauh darinya.


"Aku melakukan itu semua karena dia sudah berbohong sama kamu dan kita semua, Mas!"


"Tapi kamu beruntungkan! Akibat kebohongannya itu kamu bisa mendapatkan ketenaran sekarang dan membawa pulang penghargaan yang seharusnya itu milik dia. Lalu kenapa kamu harus menjebloskan dia kedalam penjara bahkan sampai menuntutnya dengan pasal berlapis?" Emosinya tak dapat di bendung lagi. Aka meluapkan kemarahan yang sudah ia tahan sejak tadi.


"Karena aku nggak mau dia merebut kamu dari aku!" raung Alodie.


"Dia nggak pernah merebut saya dari kamu. Kamu yang secara tidak langsung memberikan saya ke dia. Tapi terimakasih banyak karena dia adalah wanita yang baik dan mencintai saya dengan tulus dan sepenuh hati, nggak seperti kamu!"


"Mas, aku juga cinta sama kamu juga tulus dan sepenuh hati!"


"Tapi kamu membohongi saya! Berkali-kali dan bahkan kamu sampai pura-pura nggak tahu soal Fathia yang mendekam di penjara."


"Ok, jujur aku memang menuntut wanita itu dan menjebloskannya ke penjara karena aku sayang sama kamu dan nggak mau kehilangan kamu. Awalnya di janji sama Galen akan pergi dari kehidupan kamu tapi malah dia jujur sama kamu lalu pergi begitu saja."


"Kamu kesal sama dia kan, gara-gara dia jujur sama saya, lalu rencana kamu untuk menutupi kenyataan ini gagal. Itu alasan yang sebenarnya kenapa kamu menjebloskan dia ke penjara, bukan karena takut kehilangan saya!" Tunjuk Aka tepat di depan wajah Alodie.


"Mas." Alodie berusaha meraih tangan suaminya namun Aka menepis kasar.


"Persoalan kamu melakukan tindakan aborsi itu akan menjadi bukti di persidangan perceraian kita!" Aka melangkahkan kaki lebar-lebar meninggalkan rumah itu, meski Alodie berteriak dan menangis mengejarnya.


"Mas," panggil Alodie menahan Aka di ambang pintu.


"Kita cerai! Aku talak kamu!" Aka pun tak peduli lagi pada wanita itu. Urusannya sudah selesai di sini, sebaiknya ia pulang. Terserah pada Alodie yang memukul-mukul kaca mobil berharap ia akan mendengarkan. Aka terus melajukan mobilnya menjauh dan membiarkan sang mantan istri terjatuh di jalanan.


\=\=\=\=\=


"Banyak pertanyaan yang mereka ajukan." Aka sengaja berbohong pada sang istri karena tak mau Fathia merasa khawatir. Ia pun memeluknya, "Kita makan di kamar aja ya?!"


"Kenapa?"


"Ngak pa-pa, cuma lagi pengen berduaan aja sama istri aku."


"Ya udah tunggu sini, aku ambil makanan dulu ke dapur," ujar Fathia hendak melangkah.


"Eh nggak usah! Biar aku aja, Mama tunggu di sini!" kata Aka menuntun istrinya duduk di atas kasur.


Lima menit kemudian Aka pun datang bersama Mita yang membantunya membawakan beberapa jenis makanan yang tadi di pesannya di sebuah restoran.


"Banyak amat, Mas," kata Fathia.


"Rencananya pengen ngajak kamu dinner tapi kan kamu nggak bisa keluar rumah. Jadinya aku pesan beberapa menu yang kamu suka." Aka menata makanan di meja kecil yang ia bawa barusan.


"Makasih ya, Mit," ujar Fathia.


"Iya, Mbak. Boleh minta dikit nggak dokter?"


"Buat kamu sama, Mama ada di dapur," jawab Aka.


"Hehehe makasih loh aku di beliin juga. Aku tinggal yak, nanti kalau butuh apa-apa panggil aja." Gadis itu pun berlari menuju dapur.

__ADS_1


"Mama mau makan yang mana dulu? Biar Papa suapin!"


"Hahaha kamu apa-apan sih, Mas panggil aku 'Mama' "


"Loh kan bentar lagi kamu bakalan jadi Mama aku jadi Papa."


"Iya, tapi kamu nggak usah ikut manggil aku 'Mama" deh, kayak biasa aja!"


"Ok deh, Honey mau makan apa? Menunya banyak nih."


Bibir Fathia tersenyum senang. "Apa aja, asal kamu suapin."


\=\=\=\=\=


Kini pasutri itu tengah bersantai di atas kasur sambil menonton film. Aka pun memanjakan sang istri, ia memijat kaki Fathia yang sudah sering merasakan pegal-pegal di malam hari.


"Mas, kamu udah siapin nama buat anak kita?"


"Belum! Berarti harus siapin dua nama dong, satu nama cewek satu nama cowok."


"Iya lah, Mas."


"Kenapa sih kemaren kamu nggak mau tau jenis kelamin anak kita?"


"Biar kejutan, Mas. Tapi mau cewek atau cowok semoga pas lahir sehat dan sempurna."


"Aamiin."


"Bobok yuk, Mas!"


"Kamu belum minum susu, aku bikinin dulu ya." Aka bergegas menuju dapur. Sudah tugasnya sebagai suami melayani sang istri yang tengah hamil. Apa lagi dari awal kehamilan ia tak ada di samping Fathia membuat Aka selalu merasa bersalah dan sekarang ia ingin menebusnya.


Sampai di kamar Aka memberikan segelas susu rasa coklat pada sang istri dan Fathia meneguknya sampai habis.


"Mas tolong suhu AC nya di tambah, ya," pinta Fathia.


"Kamu kegerahan?"


Ia mengangguk, "Sekarang aku sering merasa panas malam hari."


"Wajar itu mah, namanya juga ibu hamil."


"Sini boboknya aku peluk," ajak Aka mendekap istrinya di dada. "Ada keluhan lain yang kamu rasain?"


"Hhmm gampang capek sih, terus aku juga udah mulai sesak napas sama susah tidur."


"Itu hal wajar kok sayang. Setiap ibu hamil pasti merasakannya. Kamu nggak perlu khawatir, ya."


"Aku pikir malah akunya yang kurang sehat."


"Nggak kok. Pokoknya ingat pesan dokter Biya, banyak istirahat dan banyak makan. Biar kamu sama baby berat badannya normal kalian juga sehat."


"Kapan kontrol lagi?"


"Satu bulan lagi. Tidur yuk, besok lagi ngobrolnya. Anak, Papa juga tidur," katanya di perut Fathia.


"Masih gerak-gerak dia, Mas."


"Kamunya tidur, nanti dia juga ikut tidur."

__ADS_1


"Nggak juga tuh, kadang aku masih suka ngerasa dia gerak malam-malam."


"Oh ya?! Anak Papa aktif juga ya."


__ADS_2