ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 39


__ADS_3

Satu Minggu di Singapura, Gelen harus kembali ke Indonesia. Meninggalkan Alodie untuk sementara waktu sampai wanita itu menyelesaikan terapinya. Menurut dokter yang menangani, Alodie bisa kembali berjalan normal sekitar dua bulan lagi.


"Mungkin aku nggak balik lagi, Al," kata Galen saat berpamitan.


"Kenapa?"


"Banyak hal yang harus aku lakukan sebelum kamu kembali ke Indonesia."


Alodie mengangguk pasrah.


"Pokoknya kamu fokus jalani terapi. Sampai nanti kamu dinyatakan sembuh dan di izinkan pulang, hubungi aku!"


"Pasti! jemput aku, ya."


" Iya. Kamu nggak apa kan kalau aku tinggal sendiri?"


"Tenang aja, nggak usah khawatir! Ada suster kok yang bantuin."


"Aku jalan, ya, setengah jam lagi penerbanganku. Tetap kabari aku soal kondisi kamu," pesan Galen memeluk wanita itu sebentar.


"Hati-hati, maaf aku nggak bisa antar," jawab Alodie membalas pelukan Galen.


Kakinya melangkah keluar dari ruang inap Alodie. Galen harus secepatnya kembali ke Indonesia. Ia takut kalau Fathia akan berkata jujur pada Aka sebelum Alodie bisa menginjakkan kakinya di tanah air.


Semua akan ia lakukan untuk kebahagiaan Alodie. Cintanya yang begitu besar pada wanita itu, membuat ia tak tega membiarkan Alodie berjuang sendirian menghadapi kelumpuhannya. Bahkan sampai sekarang, ketika Alodie mau kembali pada Aka, Galen juga siap membantu. Jangan bilang ia pria bodoh! bagi Galen kebahagiaan Alodie di atas segalanya, sekalipun ia harus terluka.


Lima belas menit dari RS tempat Alodie dirawat, Galen sampai di Changi Airport. Tak perlu menunggu di gate keberangkatan, ia langsung melakukan boarding past dan memasuki pesawat.


Selama kurang lebih dua jam burung besi itu melayang di udara, tepat jam satu siang di Indonesia pesawat yang ditumpangi Galen mendarat. Sebelum meninggalkan Bandara, ia memilih untuk makan siang terlebih dahulu di salah satu restoran yang ada di sana.


Menunggu pesanan datang Galen tampak sibuk mengutak-atik layar ponselnya, lalu ia menempelkan benda pipih persegi panjang itu di telinga.


πŸ“±Gue baru aja landing nih. Kita ketemuan di kantor aja.


πŸ“±Ok, gue tunggu.


Ia menutup sambungan telpon, memasukan ponselnya ke dalam saku celana dan menikmati makan siangnya dengan nikmat.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


"Gimana kondisi Alodie, Gal?" tanya Rike pada Galen yang sudah duduk di sofa kantornya.


"Membaik, dua bulan lagi dia bisa jalan dan kembali ke sini," jawabnya duduk menyilang kan satu kakinya di atas lutut.


"Rencana kamu apa sekarang?"


"Gue mau saat acara penghargaan nanti, Alodie datang sama gue!"


"Ok, itu gampang. Tapi gimana sama Aka?"


"Jadi urusan gue."


"Terus Alodie palsu gimana?" tanya Rike berpindah dari meja kerjanya ke arah sofa depan Galen.


"Akan gue pastikan dia pergi sebelum acara penghargaan itu berlangsung."


Rike mengangguk-anggukan kepalanya.


"Setelah Alodie mendapatkan penghargaan itu, gue mau lo ambil semua tawaran yang datang untuknya. Mau itu film, sinetron, iklan apa pun itu, karena ini adalah awal yang bagus bagi Alodie untuk menjadi artis nomor satu."


"Soal itu lo serahin aja ke gue. Sekarang lo mau ke mana?"


"Mau ke kantornya Aka, gue mau pancing dia sedikit," jawabnya bangkit dari sofa meninggalkan kantor Rike.

__ADS_1


πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†


"Ada maksud apa lo ke kantor gue?" tanya Aka sinis mempersilahkan Galen duduk.


"Gue ke sini cuma mau minat izin sama lo."


"Izin apa?"


"Soal Alodie. Jadi gini, pihak penyelengara acar FFI maunya gue datang sama Alodie nanti, makanya gue kesini mau izin dulu sama lo," jelas Galen santai.


"Alodie nggak pernah ngomong soal ini ke gue!"


"Iya, dia nggak tau sama sekali, karena undangannya baru datang tadi pagi di kantornya Mbak Rike."


"Gue nggak akan kasih izin, kalau perlu Alodie nggak usah hadir."


Galen terkekeh. "Terserah lo mau kasih izin atau nggak, yang pasti Alodie akan pergi bareng gue."


"Kita lihat nanti," tantang Aka.


"Ok, kalau gitu gue pergi," ucap Galen seraya bangkit dari duduknya.


Aka bergeming di meja kerja. Tak peduli pada Galen yang melangkah keluar ruang kerjanya.


"Oh ya, gue mau tanya, apakah istri lo itu masih amnesia atau pura-pura amnesia?" tanya Galen berbalik sebelum membuka pintu.


"Maksud lo apa?" tanya Aka berdiri menghampiri.


"Gue cuma tanya kan?! Siapa tau dia cuma pura-pura amnesia untuk nipu lo gitu."


"Sialan lo ya!" tiba-tiba Aka melayangkan pukulan tepat di pipi Galen. "Maksud lo apa ngomong gitu soal istri gue?"


Galen tak mau kalah, tanpa aba-aba ia membalas pukulan Aka di tempat yang sama. "Tunggu waktu mainnya, lo akan tau semuanya dan gue pastikan di saat itu lo akan menyesal sudah percaya sama perempuan itu," tunjuk Galen di depan wajah Aka.


"Pergi dari kantor gue," usir Aka dengan suara tinggi.


Kembali Aka melayangkan pukulan di perut pria yang sudah memancing emosinya itu.


Galen membalik tubuhnya hendak keluar dari ruang kerja Aka, tapi belum sampai ia membuka pintu kembali ia membalas pukulan Aka.


Aka berhasil mengelak serangan Galen di perutnya, hanya saja tulang rusuk Aka yang menerima pukulan itu.


Jio datang membawa dua orang sekuriti untuk mengusir Galen dari sana. Agar tak terjadi baku hantam yang lebih parah lagi.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


"Sini duduk di atas kasur biar aku kompres lebamnya," ajak Fathia ketika mereka sudah sampai rumah.


Aka membuka kemeja kerja warna putih itu lalu ia duduk di atas kasur membiarkan sang istri mengobati lukanya.


"Kenapa bisa sampai begini sih, Mas? kamu berantem sama siapa?" tanya Fathia khawatir menempelkan es batu yang di balut kain di tulang rusuk Aka sebelah kiri.


"Galen. Dia tiba-tiba datang ke kantor."


Raut wajah Fathia berubah takut. "Ngapain dia?" berusaha bersikap tenang.


"Awalnya dia mau minta izin, datang ke acara penghargaan itu sama kamu. Tapi, setelah itu ia mulai ngomong nggak jelas."


"Nggak jelas maksudnya?"


"Dia tanya kamu amnesia benaran atau cuma pura-pura buat nipu aku. Dia juga bilang kalau nanti aku tau semuanya, aku pasti nyesal percaya sama kamu. Aneh banget nggak sih dia!?"


Kecemasan Fathia tak dapat ditutupi. Dugaannya tadi kalau Galen lah yang datang ke kantor Aka ternyata benar dan pria itu sudah mulai memancing Aka.

__ADS_1


"Auw... sakit honey," ringis Aka saat istrinya terlalu keras menekan luka.


"Maaf, Mas, maaf," pinta Fathia merasa bersalah.


"Kamu kenapa sih? cemas dan ketakutan gitu wajahnya?"


"Ya, pastilah! Aku takut Galen datang lagi dan mancing emosi kamu, Mas," kilahnya.


"Aku sudah bilang sama sekuriti, kalau dia datang lagi langsung usir."


Fathia setuju. "Kamu istirahat aja dulu. Aku mau ganti baju terus kedapur," beranjak dari samping suaminya.


πŸ₯¨πŸ₯¨πŸ₯¨πŸ₯¨


Siang ini Mita mengajak Alodie palsu main kerumah Ciara mumpung kakaknya itu libur syuting. Karena Joe sudah berangkat ke Filipina tiga hari yang lalu dan kini Ciara pasti sedang sendirian di rumah.


"Nggak kasih kabar ke Ciara dulu kalau kita mau ke sana?" tanya Fathia sepulang syuting.


"Nggak usah, kita ke rumahnya langsung. Tapi tadi pagi aku udah ngomong kok mau ngajak Mbak ke rumah."


Fathia hanya mengangguk. Selama di perjalanan ia hanya memandang jalanan dari kaca jendela mobil. Banyak hal yang dipikirkannya. Apalagi soal Galen kemaren yang datang menemui suaminya. Untung saja Aka tak termakan omongan pria itu. Tapi mau sampai kapan?


Atau memang seharusnya ia jujur terlebih dahulu pada Aka. "Hhhhuuuummm hhhhhaaaa." Fathia menghembuskan napas melepas sesak di dada. Ia tak punya keberanian untuk menjelaskan semua ini pada Aka. Ia lebih takut di benci Aka dari pada di ancam oleh Galen.


Jika ia bisa pergi sebelum Alodie kembali dan wajahnya sudah kembali seperti semula, Fathia akan membeberkan masa lalu Alodie dengan Galen yang tak pernah diketahui Aka. Tapi bagaimana? Sedangkan sekarang ia sedang mengumpulkan uang untuk biaya operasinya nanti juga biaya perawatannya selama di Korea Selatan.


Ia masih butuh waktu. Jika ia meminta uang pada Aka, pasti suaminya akan bertanya.


"Mbak, turun! Kita sudah sampai," ajak Mita menyadarkan Fathia dari lamunan.


Keluar dari mobilnya Fathia heran pada satu mobil yang terparkir di halaman rumah Ciara. "Ada tamu ya, Mit?"


"Mana aku tahu, Mbak! Yuk kita masuk."


Dengan santai Fathia berjalan di belakang Mita. Keningnya tampak mengkerut memikirkan pernah melihat mobil yang tadi, tapi ia tak ingat dimana.


"Assalamualaikum," ujar Mita dan Fathia bersamaan memasuki rumah Ciara.


"Waalaikumsalam," jawab Galen bangkit dari sofa menyambut kedatangan Mita dan Alodie palsu.


"Sepertinya gue harus pamit, Ci," ujarnya pada Ciara.


Ciara hanya mengangguk.


Fathia berdiri tegang di ambang pintu. Apa lagi sekarang? Mengapa tiba-tiba ia bisa bertemu Galen di sini, di rumah sahabatnya? Mau apa lagi pria ini? Kenapa ia tak henti-hentinya membuat jantung Fathia bekerja lebih keras. Kalau ia mau menindas atau mengancam, kenapa harus lewat orang-orang terdekatnya yang tak tau apa-apa.


"Hay, Al," sapa Galen mengangkat tangan dan tersenyum manis pada Fathia. "Kenapa berdiri di pintu? masuk!"


Fathia mengangguk cepat melangkah ragu ke arah sofa.


"Nggak usah diantar Ci, gue keluar sendiri aja. Sahabat lo datang mungkin kalian mau bicara," kata Galen meninggalkan rumah Ciara.


Dari kaca ruang tamu mereka bertiga memandangi kepergian mobil Galen.


"Siapa, Mbak?" tanya Mita duduk di sofa.


Begitu pula dengan Fathia yang ikut melangkah mau mendudukkan dirinya di samping Mita.


"Tunggu!" kata Ciara.


Fathia berdiri tepat di depannya. "Ada apa Ci?"


Ppppllllaaaakkk....

__ADS_1


Tamparan keras itu mampu melemparkan wajah Fathia kesamping.


"Loh, Mbak?" kaget Mita bangkit dari duduknya.


__ADS_2