
📩 wanita yang saya janjikan sudah ready, dia minta malam ini untuk bisa langsung bekerja.
Bunyi pesan yang di kirim Ciara pada pria yang ia temui malam hari saat di club Joe.
Aka tampak berfikir setelah membaca pesan yang baru saja ia terima dari Ciara. Saat ini ia sedang di rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan pada semua pasiennya. Di ruang kerjanya Aka mondar-mandir sebelum membalas pesan itu. Ada sedikit keraguan di hatinya karena tak mau mengkhianati sang istri tapi jiwa laki-lakinya berontak untuk menerima tawaran itu.
📩ketemu di hotel X kamar 207 jam 8 malam atas nama Beno.
Balas Akalanka akhirnya setelah pikirannya menimang-nimang dan ia putuskan hanya ingin bertemu dengan wanita itu.Entah ia akan melakukannya atau tidak lihat saja nanti ia tak mau ambil pusing. Lalu Aka meminta Beno memesan kamar hotel sesuai yang ia kirim tadi pada Ciara kebetulan hotel yang di maksud sering di pesan Beno jika sepupunya itu sedang bersama wanita.
Di apartment atas saran Ciara, Fathia mulai bersiap mereka menuju salon dan spa untuk relaksasi dan mempercantik diri anggap saja Fathia sedang mempersiapkan dirinya untuk di sajikan nanti.Tak lupa mereka belanja pakaian dalam dan gaun malam. Semua di persiapkan Fathia agar kesan pertama nanti saat bertemu tak mengecewakan pikirnya.
__ADS_1
Jam 7 malam Fathia sudah siap. Penampilannya sangat cantik dalam balutan gaun malam simpel warna hitam berbelah samping menapakkan kaki jenjang dan mulusnya.
Ciara ikut mengantar Fathia mereka berdua hanya diam selama perjalanan menuju hotel tapi tangan mereka saling menggenggam erat menguatkan satu sama lain. Jam 8 kurang meraka sampai di hotel yang dimaksud dan Ciara langsung menuju meja resepsionis meminta kunci kamar yang sudah di reservasi oleh Beno.
"Apa kita nggak kecepatan sampai di sini?" tanya Fathia saat memasuki kamar hotel 207.
Ciara tampak menyalakan lilin aroma terapi agar Fathia bisa sedikit tenang dan dapat mengatasi rasa gugupnya.
"Minum obat ini nanti," kata Ciara memberikan Fathia satu butir obat.
__ADS_1
"Obat apa ini?" tanya Fathia.
"Minum aja, nanti lo tau sendiri," jawab Ciara ambigu.
Fathia tak ambil pusing ia menyimpan obat yang di berikan Ciara tadi. "Ci jangan ceritakan hal ini sama mbak Widia, cukup kita aja yang tau," pinta Fathia.
Ciara mengangguk setuju lalu mereka berpelukan sebelum ia kembali ke apartment meninggalkan Fathia sendiri di sana menunggu kedatangan Aka pria yang akan membeli dirinya malam ini.Entah lah tapi jauh dari dalam lubuk hatinya Ciara masih berharap agar pria itu tak datang dan semoga Tuhan memberikan mereka jalan terbaik lainnya untuk bisa menyelesaikan masalah ini tepat waktu.
Kini tinggallah Fathia sendiri di kamar hotel yang cukup mewah.Berkali-kali Fathia menghela nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya tapi tetap saja jantungnya bergemuruh darah mengalir begitu cepat keseluruh tubuhnya membuat tubuh Fathia bergetar. Dan ia kaget saat mendengar bel pintu kamar hotelnya berbunyi. Buru-buru Fathia membukakan pintu dan ternyata hanya pelayan hotel yang datang mengantarkan minuman.
Setengah jam berlalu tak ada tanda-tanda bahwa orang yang di tunggunya muncul Fathia pun mulai resah dan sedikit frustasi takut kalau orang ini benar tak datang maka habis lah dirinya menanggung semua beban dan masalah ini esok hari.Fathia membuka tutup botol wine yang di antarkan tadi oleh pelayan hotel dan menuangkannya kedalam gelas. Sekali teguk saja oleh Fathia minuman itu tandas olehnya karena ia merasa kehausan akibat dirinya yang meras tak karuan.
__ADS_1