ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 2 bab 22


__ADS_3

Aka terbangun dari tidurnya kala mendengar pintu kamar hotel mereka di ketuk dari luar. Ia segera bangkit dan memakai celana lalu membukakan pintu.


"Maaf, ya, Mama ganggu waktunya. Ini Kafha udah rewel dari tadi pengen ketemu, Mama nya." Alia memberikan sang cucu pada Papanya.


"Nggak pa-pa, Mah. Sini sayang, sama Papa kita masuk temuin, Mama." Aka mengambil sang putra.


"Kafha sudah mandi dan makan. Mungkin pengen mimik susu sama, Mamanya. Mama balik ke kamar, ya mau beres-beres pulang," kata Alia.


Aka mengangguk. "Makasih, ya, Ma udah jagain Kafha semalam. Maaf kalau bikin repot," kata Aka sambil mengayun sang putra.


Alia tersenyum. " Mama senang kok bisa bobok sama Kafha, lagian juga kan ada baby siter nya jadi, Mama nggak kerepotan sama sekali. Ya, udah, Mama pergi, da-da cucu Oma," ucapnya sambil melambaikan tangan.


Aka mengangkat tangan anaknya untuk membalas lambaian tangan sang Oma.


"Kita bangunin, Mama, ya!" ajaknya menuju kasur.


Baby Kafha pun merangkak di atas kasur untuk mendekati sang mama yang masih tertidur pulas.


"Hhmm ... " Fathia menggeliat.


"Bangun, sayang. Kafha udah cariin kamu nih," kata Aka.


Wanita itu masih mengumpulkan nyawanya. Lalu di lihatnya sang putra sudah berada di atas tubuhnya.


"Mau mimik, ya?"


"Udah rewel dari tadi kata, Mama," jelas Aka.


"Pegang Kafha bentar, Mas. Aku mau cuci mungka dulu," pinta Fathia bangkit dari ranjang.


Kembali dari kamar mandi Fathia mengambil alih sang putra dari tangan Aka dan mulai menyusuinya di sofa.


"Kita sarapan di kamar aja, aku udah pesan," terang Aka.


"Kita pulang sekarang, Mas?"


"Terserah kamu, kalau masih mau di sini semalam lagi ya aku sih ok-ok aja."


"Pulang sekarang aja deh, kasih Kafha. Kayaknya dia udah nggak nyaman di hotel mulu."


"Siap, nanti aku minta Jio buat urus kepulangan kita sekalian di jemput. Tapi sebelum itu kita konferensi pers dulu di bawah, soalnya sudah banyak wartawan dan media yang nungguin."

__ADS_1


"Buat apa sih, Mas? Bukannya mereka kemaren sudah dapat liputan pernikahan kita."


"Mereka pengen tahu wajah asli kamu, lihat aja berita pagi ini. Semuanya membahas wajah kamu yang aslinya sangat cantik, di tambah mereka tau kalau dulu kamu juga merupakan seorang artis figuran," jelas Aka menyalakan TV.


Tak lama sarapan pesanannya tadi pun datang di antar oleh pelayan hotel. Aka menyuapi sang istri terlebih dahulu, sebab sang putra masih menyusu dan Fathia sepertinya sudah sangat lapar akibat pergulatan mereka semalam.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hanya sekitar 30 menit memberikan keterangan dan menjawab pertanyaan dari para wartawan serta media, Aka membawa anak serta istrinya meninggalkan hotel mewah tersebut.


"Kita nggak pulang ke rumah, Mama, Mas?" tanya Fathia. Merasa arah jalan yang di tempuh berbeda.


"Nggak, mulai sekarang kita tinggal di rumah kita."


"Rumah kita?"


Aka mengangguk. "Rumah yang sudah aku bangun sejak kamu keluar dari penjara."


Mobil mewah mereka akhirnya sampai di depan sebuah gerbang yang tinggi menjulang. Tampak dua orang satpam membukakan pintu gerbang besi itu dan mempersilahkan mobil yang di kendarai Aka masuk.


"Ini rumah kita?" tanya Fathia tak sangka.


Di belakang ada satu mobil lagi yang di kendarai Jio. Membawa beberapa barang-barang mereka dari hotel. Juga ada baby siter nya baby Kafha.


Mereka bertiga pun turun dari mobil dan memasuki rumah baru bergaya moderen itu.


"Ini serius rumah kita, Mas?" tanya Fathia mulai berkeliling.


Rumah ini bercat putih dan kombinasi coklat kayu. Sekeliling rumah di tanami pohon buah dan pohon kayu lainnya yang mempermanis halaman luas itu hingga tampak lebih asri. Tak lupa juga ada beberapa bunga kesukaan sang istri yang di tanam Aka dekat tembok pembatas rumah mereka.


Fathia bisa memandangi taman-taman kecil dari dalam rumah sebab hampir semua rumah ini hanya berdindingkan kaca tebal.


"Selamat datang Mbak dan Mas di rumah ini." Bi Runi menyambut kedatangan mereka.


"Kok, Bi Runi udah ada di sini, Mas?" tanya Fathia pada sang suami yang asik mengajak sang putra melihat kolam ikan.


"Sejak, Bi Runi nggak kerja lagi sama Alodie, dia aku ajak ikut kita."


Lalu Aka menyerahkan Kafha pada baby siter nya untuk tidur siang di kamarnya yang sudah di siapkan oleh Aka.


"Kamu suka kamarnya, Kafha?" tanya Aka pada sang istri.

__ADS_1


Fathia mengangguk dan tersenyum senang.


"Kita lihat kamar kita di lantai dua," aja Aka mengendong istrinya ala bridal.


Sambil menaiki tangga Fathia mengedarkan pandangannya untuk menjelajahi rumah baru mereka. Sungguh ia benar-benar bahagia di berikan hadiah rumah semewah ini.


"Suka?" tanya Aka menurunkan sang istri dari pangkuan.


"Suka banget, Mas. Aku bisa lihat pemandangan kota dari sini," seru Fathia berdiri dekat kaca jendela nan lebar.


Rumah mereka berdiri memang sedikit di perbukitan. Karena pada saat mencari lahan yang luas, Jio menyarankan Aka untuk membeli tanah ini meski sedikit jauh dari kepadatan kota.


"Syukur kalau kamu suka, aku senang," ucap Aka memeluk istrinya dari belakang.


"Makasih, ya, Mas kamu udah kasih aku hadiah rumah mewah sebesar ini. Aku suka dan happy banget. Tapi maaf, ya aku nggak punya hadiah apa-apa buat kamu," kata Fathia membalik badan dan merangkul kan tangan di pundak suaminya.


"Hahaha ... aku mau hadiahnya kamu hamil lagi," bisik Aka.


"Kafha masih kecil, Mas. Kasian dia kalau udah mau punya adik aja."


"Kamu nggak usah khawatir, Kafha nggak akan kekurangan kasih sayang dan perhatian dari kita. Aku janji, pulang dari kantor aku akan memberikan waktu buat kalian berdua, kalaupun bawa kerjaan ke rumah aku akan kerjakan satu atau dua jam, setelah itu fokus sama keluarga," jelas Aka sambil menyelipkan anak rambut istrinya di balik telinga.


"Aku pikir-pikir dulu deh."


"Kok gitu?"


"Enaknya di kamu, Mas. Lah aku yang nanggung sakitnya."


"Hahaha ... kamu tenang aja. Aku akan bikin kamu kecanduan buat hamil terus. Aku akan manjain kamu tiap hari, nggak perlu masak atau melakukan kerjaan rumah. Cukup hamil anak-anak aku dan urus mereka. Tapi nanti kamu juga bakalan di bantu baby siter, gimana?"


"Aahh nggak mau ah. Kamu pikir aku ini pabrik pencetak anak apa," kesal Fathia menuju kasur.


"Tiga lagi aja, ya?"


"Dua aja udah cukup, Mas."


"Aku mau rumah kita rame sayang, buat apa coba aku bikin kamar banyak-banyak di rumah ini," kata Aka menyusul istrinya yang sudah berbaring di atas kasur.


"Tungguin Kafha dua tahun dulu!"


Aka membalik tubuh istrinya dan kini ia sudah berada di atas Fathia. "Aku mau secepatnya," ucap Aka ******* bibir merona istrinya.

__ADS_1


__ADS_2