
"Coba pesan susu formula, sayang," kata Aka mengajak Kafha bermain di lantai agar putranya tak menangis lagi.
Fathia mengambil ponselnya dan memesan susu formula yang di produksi oleh AkaFarma lewat aplikasi belanja online.
"Kamu mandi dulu gih, Mas. Biar Kafha main sama aku," kata Fathia ikut duduk di lantai beralaskan karpet bulu.
Usai Aka membersihkan diri mereka bertiga turun ke bawah hendak menyantap makan malam. Susu formula pesanan Fathia tadi pun sudah sampai.
"Coba, Mbak kasih ini ke Kafha," ujar Fathia menyerahkan susu formula yang diseduhnya.
"Di minum buk," kata Suci.
"Hhhhaaahhh.. " Fathia menghembuskan nafas lega. Akhirnya sang putra pun tertidur pulas.
"Sini, kamu aku periksa," ajak Aka saat mereka sudah kembali ke kamar.
Benar saja suhu tubuh istrinya begitu panas. Namun tekanan darah Fathia normal.
"Ada keluhan?" tanya Aka.
"Sakit kepala sama pusing sih. Mungkin karena aku kurang istirahat kali, ya, Mas ngurusin Kafha yang rewel dari kemaren."
Aka hanya tersenyum sambil melihat kalender di ponselnya. "Kamu hamil!"
"Apa?"
"Kamu pasti hamil!"
"Aku cuma kecapekan, Mas," kekeh Fathia.
"Besok pagi kita cek langsung ke rumah sakit. Pantas Kafha nggak mau mimik sama kamu lagi, makanya dia juga rewel tau kalau mau punya adik."
"Masak sih, Mas?"
"Besok kita buktikan hasil kerja keras aku dua bulan ini," kata Aka membawa sang istri berbaring.
Fathia memukul lengan suaminya. "Enak di kamu, ya. Akunya capek tau, belum lagi hadapin Kafha yang rewelnya minta ampun.
"Muach, Aka mengecup sekilas bibir Fathia. "I love you. Makasi ya, pulang kerja aku dapat hadiah," ujarnya senang.
"Yakin banget kamu, Mas."
"Aku ini kan dokter, sayang. Yaa walaupun bukan dokter kandungan. Tapi aku tau lah," jawab Aka.
Fathia hanya mencibir.
"Sekarang tidur, kamu harus istirahat. Minum dulu parasetamol ini," jelasnya memberikan obat pada sang istri.
__ADS_1
π±π±π±π±
"Selamat, ya Kafha kamu bakalan jadi abang," ucap dokter Biya.
"Serius dokter Bi aku hamil lagi?" tanya Fathia.
"Iyah, udah jalan empat minggu. Aku resepin obat demam sama vitamin. Kamu nggak mual-mual kan?"
"Nggak ada sih, tapi sering pusing sama sakit kepala," jelas Fathia.
Aka yang sedang duduk di bangku dekat meja dokter Biya tampak menggoyangkan tangan anaknya seolah mereka berdua gembira mendengar kehamilan kedua Fathia.
"Papa kamu kejar target kayaknya, ya Kafha," goda Biya.
"Iya dong, Bi. Biar Kafha ada temannya," jawab Aka.
"Kafha harus berhenti mimik sama, Mama ya nak. Kasian nanti dedeknya," ucap Biya.
"Udah, Bi. Dia sendiri yang nggak mau lagi mimik susu Mama nya. Malah semalam aku saranin di kasih susu formula langsung di minum," jelas Aka.
"Wah abang udah pengertian aja ini," puji Biya mencolek pipi Kafha.
"Kandungan Fathia sehat kan, Bi?"
"Sehat kok, cuma jangan sampai kecapekan aja. Demam semalam karena Fathia kurang istirahat."
"Nggak masalahkan dokter Bi, kalau akunya hamil dekat gini setelah melahirkan?" tanya Fathia.
"Ini lah untungnya melahirkan normal, Ti. Nggak masalah kamu mau hamil lagi, bahkan setelah masa nifas langsung isi, aman. Beda kalau operasi sesar," jelas dokter Biya.
ππππ
Kini Aka dan Fathia serta Kafha sedang antri di apotik rumah sakit.
"Mas, kita jenguk Mbak Alodie yuk," ajak Fathia.
Aka mengangguk. "Boleh. Tapi jangan lama-lama, Kafha udah ngantuk nih."
"Iya, bentar aja kok. Mumpung kita lagi di Rumah Sakit juga kan."
Usai menebus obat mereka menuju ruang rawat Alodie di gedung yang berbeda.
"Gimana kabarnya, Mbak?" tanya Fathia.
"Lumayan membaik," jawab Alodie dengan senyuman. "Itu anak kalian?" menunjuk Kafha yang dalam gendongan Aka.
"Iya, namanya Kafha."
__ADS_1
"Ganteng."
"Siapa yang jagain, Mbak di sini?"
"Galen, dia lagi keluar nemuin dokter."
"Oh, aku kirain sendiri."
"Fathia!"
"Iyah?"
"Aku dan juga Galen mau minta maaf sama kamu, atas apa yang sudah kami lakukan," pinta Alodie tertunduk di ranjangnya.
Fathia tersenyum lalu duduk di sisi ranjang Alodie. "Aku sudah memaafkan, Mbak juga Galen sebelum kalian meminta maaf."
Tiba-tiba Galen pun datang dan ia sedikit kaget saat melihat kehadiran Aka dan juga Fathia.
"Gimana kata dokter soal kondisi, Mbak Alodie?" tanya Fathia.
"Hhmm ... " Galen tampak canggung.
"Santai saja, kami kesini hanya ingin memastikan keadaan Alodie," kata Aka.
Galen pun mendekat ke arah Fathia ia lalu bersujud di bawah kaki wanita itu. "Maafkan saya, maafkan atas semua perbuatan saya yang sudah menyakiti kamu," mohon nya.
Fathia merasa tak enak ia pun turun dan memegang bahu Galen untuk berdiri. "Saya sudah memaafkan, Mas Galen dan Mbak Alodie, jadi nggak perlu bersikap seperti ini."
Alodie pun menangis sesegukan. Begitu pula Galen yang sepertinya memang sangat menyesali perbuatannya.
"Gimana kondisi, Mbak Alodie?" Fathia mengulang kembali pertanyaannya.
"Alodie harus segera melakukan operasi pengangkatan rahim," jelas Galen.
Fathia segera memeluk Alodie, pasti wanita itu sangat terpukul mendengar berita itu. "Sabar ya, Mbak. Mungkin ini yang terbaik agar Mbak bisa sembuh," katanya mengusap punggung Alodie.
"Ini hukuman dari Tuhan buat saya yang sudah mengecewakan Mas Aka, membunuh anak kami dan juga sudah menyakiti kamu," jelasnya dengan tangis.
"Maka dari itu terima dengan ikhlas lalu bertobatlah," kata Fathia.
"Saya juga sudah memaafkan kalian berdua. Sebaiknya sekarang kamu jalani operasi dan fokus pada penyembuhan," tambah Aka.
Galen pun bersimpuh di kaki Aka. "Terimakasih sudah membantu membiayai pengobatan Alodie. Jujur untuk saat ini saya tak memiliki uang sepersen pun untuk membayar pengobatan wanita yang sangat saya cintai itu."
"Sudahlah, Gal. Kita lupakan masa lalu, kamu bantu dan jaga Alodie sampai sembuh. Setelah itu kalian bisa menikah dan bertobat meminta ampun pada Tuhan atas dosa-dosa yang sudah kalian lakukan," nasehat Aka.
Galen serta Alodie mengangguk setuju atas saran Aka. Tak lama keduanya pun pamit untuk kembali pulang. Aka juga mengingatkan lagi kalau soal biaya Rumah Sakit tak perlu mereka pusingkan karena ia akan menanggung semuanya sampai Alodie dinyatakan sembuh.
__ADS_1