
"Ya terus aku kenapa? kamu jangan bikin aku berharap gini dong," rengek Fathia.
"Sini aku periksa, siapa tau kamu masuk angin," ajak Aka membimbing istrinya menuju kasur.
Aka memeriksa kondisi Fathia. Semua tampak baik tak ada yang salah. Kalau pun istrinya salah makanan juga nggak mungkin. Toh semua makanan di masak dan di siapkan langsung oleh sang Mama.
"Telpon Biya aja ya!"
"Hhuuooeekk," kembali Fathia berlari menuju kamar mandi memuntahkan isi perutnya kedalam kloset.
Sambil mengurut punggung Alodie palsu, Aka menekan layar ponsel mencari nomor dokter Biya dan menghubunginya.
Tut... tut... tut...
📱Assalamualaikum Ka.
📱Waalaikumsalam Bi. Ini gue cuma mau tanya, kok Alodie tiba-tiba mual-mual ya, padahal dia sehat-sehat aja.
📱Oh, itu pasti efek samping dari obat hormonal yang di konsumsinya.
📱Tapi yang kemaren Alodie baik-baik aja."
📱Efek samping nggak selalu muncul Ka. Contohnya saja di awal, Alodie mengalami mood swing, tapi bulan berikutnya nggak kan.
📱Terus sekarang gimana penanganannya?
📱Bawa istirahat. Kalau mualnya nggak parah nanti juga hilang kok. Kita lihat 3 hari kedepan kalau mualnya makin parah berarti Alodie harus berhenti konsumsi obat hormonalnya.
📱Program inseminasinya di hentikan gitu?"
📱Ia. Kita tunggu bulan berikutnya kalau Alodie mau coba lagi.
📱Ok deh. Ntar gue kasih kabar gimana kondisi nya Alodie.
📱Aku tunggu. Kalau ada waktu nanti aku mampir kerumah kalian.
📱Makasih Bi.
Aka mematikan ponselnya lalu membawa Fathia berbaring dj atas kasur. "Kata Biya, kamu harus istirahat."
"Tadi aku dengar inseminasinya di hentikan, kenapa?"
"Kalau mual nya makin parah, bikin kamu lemas jadi program hamilnya di stop dulu."
"Aaahh... nnggaakk mmmmaauu!" rengeknya.
"Nggak bisa Al, aku nggak mau kamu sakit gara-gara program hamil ini. Gimana kamu mau hamil kalau kondisi kamu nggak bagus," geram Aka
"3 hari kedepan kalau kondisi kamu makin parah, maka nggak perlu kamu program hamil lagi." Tegas Aka penuh penekanan.
Fathia hanya tertunduk sedih. Harapan terakhirnya hilang sudah jika sampai efek samping obat hormonal semakin memperparah keadaannya.
"Istirahat di sini! aku mau nelpon Jio dulu, bilang hari ini nggak ke kantor." Tekan Aka beranjak dari kasur.
Fathia merebahkan badan sekaligus menutupi kesedihannya. Terisak diam di balik selimut, berharap sang suami mengerti akan dirinya. Lelah menangis Fathia akhirnya tertidur dengan berlinang air mata.
🌶🌶🌶🌶
"Al, bangun yuk! makan dulu," ajak Aka membangunkan Alodie palsu siang harinya.
"Hhmm..."
Aka menyusun bantal untuk Alodie palsu duduk menyandar agar nyaman. "Makan ya, tadi kan kamu habis muntah pasti lapar."
Fathia mengangguk menerima suapan dari Aka. "Maaf kalau tadi aku terlalu keras. Aku cuma nggak mau kamu sakit. Hanya itu," jelas Aka lembut sembari menyuapi istrinya.
"Aku juga minta maaf kalau aku terlalu memaksakan kemauan aku," sesal Fathia.
Aka tersenyum mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. Lalu mengecup kedua mata yang tampak sembab itu. "Jangan nangis lagi ya, jelek!"
Fathia cemberut memanyunkan bibirnya.
"Kayak gitu makin jelek."
"Hhhaa...
__ADS_1
" Hahaha... nggak kok, aku cuma becanda. Istri ku ini tetap cantik walaupun bibirnya manyun kayak bebek."
"Iiihh.. " kesal Fathia memukul Aka.
"Hahaha... ampun, ampun sakit sayang," kata Aka berusaha menghindar.
"Kamu jahat!" sebal Fathia.
"Kok jahat sih?"
"Habis kamu bilang aku kayak bebek."😒
" Kan cuma becanda sayang. Yuk aak lagi, pegal loh tangan aku pegangin sendok nya," bujuk Aka agar istrinya mau makan lagi.
Fathia membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang di suapkan oleh Aka.
"Mama mana Mas?"
"Udah pulang.Katanya kangen Papa."
"Mama tau kalau aku tadi pagi muntah-muntah?"
"Nggak! aku nggak kasih tau. Takut nanti beliau khawatir. Kamu tau kan, mama akhir-akhir ini jadi lebih over protektif sama kamu dan menurut aku itu terlalu berlebihan."
"Ia juga sih, aku jadi nggak bebas rasanya.Ini nggak boleh, itu nggak boleh."
"Sebenarnya mama cuma mau jaga kamu aja, mungkin karena beliau terlalu mengharapkan kamu untuk segera hamil."
"Maaf ya Mas, kalau aku belum bisa kasih cucu buat mama," tunduk Fathia.
"Nggak salah kamu kok sayang! emang belum di kasih Tuhan. Nanti aku coba kasih pengertian sama mama ya, biar kamu nggak merasa bersalah sama mama karena bikin beliau kecewa."
Fathia setuju. "Makasih ya Mas."
"Ia istri ku. Yuk aakk lagi, ini suapan terakhir."
🍤🍤🍤🍤
Kembali pagi ini Fathia mengalami mual dan muntah seperti kemarin. Tapi untungnya Aka sudah berangkat ke kantor dan Fathia tak mau suaminya tau kalau ia kembali mual. Ia takut program inseminasi nya harus di hentikan.Padahal ini adalah kesempatan terakhirnya.
📱Nanti siang aku makan di luar sama Mita boleh ya Mas?"
📱Nggak kok.
Bohongnya.
📱Habis itu aku sama Mita jalan ke mall ya.
📱ia sayang, boleh kok nggak apa. Mumpung mama nggak di rumah. Kasian istri aku jadi anak rumahan dari kemaren.
📱hehe.. kamu tau aja aku lagi bosan. Makasih ya Mas.
📱Happy ya nanti, tapi jangan sampai kecapekan ya. Aku tutup dulu telpon nya udah mau meeting, da sayang, muach.
📱Da Masaka. Muach.
Fathia tersenyum girang menutup ponsel. Ia mulai bersiap-siap. Sudah tak sabar rasanya ingin segera menjelajahi dunia luar. Sejak mama Alia tinggal serumah dengannya Fathia tak di izinkan jalan-jalan atau melakukan aktifitas di luar rumah. Kalau pun boleh itu hanya ke RS, setelah itu harus langsung pulang kerumah.
🍉🍉🍉🍉
Sampai di kafe tempat mereka janjian Fathia harus menunggu kedatangan Mita yang terlambat karena terjebak kemacetan.
"Ck, lama banget sih. Kalau tau gini mendingan suruh Mita jemput ke rumah," decak Fathia menyeruput jus mangga yang sudah di pesannya tadi.
Bosan menunggu Fathia berselancar di dunia maya lewat telpon genggamnya.Tiba-tiba saja seseorang yang memakai jaket warna hitam duduk di depannya. Wajah orang itu tertutup masker dan hoodie.
"Maaf, anda salah tempat," kata Fathia.
"Gue nggak salah tempat. Gue kesini mau ngomong sama lo," ujarnya membuka masker lalu memakainya kembali.
Wajah Fathia berubah tegang. Galen, buat apa laki-laki ini tiba tiba saja ada di hadapannya. Tak ada angin tak ada hujan muncul begitu saja.
"Maaf, saya rasa kita nggak ada urusan," katanya hendak pergi. Tapi terlambat Galen dengan cepat menahan tangan Fathia agar kakinya tak melangkah.
"Kata siapa? justru saya punya penawaran buat kamu," kata Galen menyuruh Fathia duduk kembali dengan gerakan dagu.
__ADS_1
Fathia hanya duduk diam tak bergeming. Otaknya mencerna, menerka kira-kira penawaran apa yang di maksud Galen.
"Bekerja sama lah dengan saya dan Alodie!"
"Maksudnya?" tanya Fathia tak mengerti.
Galen menghela nafas lalu melirik ke kanan dan kiri mamastikan keadaan di kafe sepi. " Hanya saya, kamu dan Alodie yang tau tentang kamu yang berpura-pura sebagai Alodie." Tunjuknya.
"Jadi tawaran saya adalah, kamu akan pergi dari kehidupan Aka saat Alodie sudah mampu kembali berjalan normal untuk melanjutkan hidupnya." jelas Galen.
"Anggap saja selama ini kamu mengantikan posisi Alodie, dan sekarang Alodie akan kembali jadi kamu bisa menjadi diri kamu lagi, menjadi Fathia kembali." tekan Galen.
Rasa takut sudah mulai menjalar di tubuh Fathia. Tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang.
"Buktinya apa kalau saya berpura-pura menjadi Alodie?"
Galen mendorong ponselnya di atas meja ke arah Fathia. Memperlihatkan sebuah vidio Alodie asli tengah menjalani terapi bersamanya.
"See!"
Jujur Fathia kaget, takut, cemas dan khawatir. Tapi muncul banyak pertanyaan di benaknya.
Apa benar itu adalah Alodie asli istrinya Mas Aka?
Lalu apa yang terjadi padanya?
Kemana ia selama 3 tahun kurang ini?
Dan kini ia mau kembali sama Mas Aka?
"Kalau masalah karir, saya dan Alodie akan membantu menaikan nama kamu di dunia entertaintment dengan syarat rahasia besar ini tidak akan di ungkap dan kamu tidak menganggu kehidupan Alodie dengan Aka nantinya," tambah Galen.
"Kalau saya tidak mau!?" tantang Fathia.
"Siap-siap saja kamu akan mendekam di penjara dan Aka akan mengetahui semua kebohongan kamu, yang selama ini hanya berpura-pura menjadi Alodie.Silahkan kamu pikirkan tawaran saya sampai waktu Alodie kembali, jika saat itu tiba saya akan menghubungi kamu," kata-kata Galen yang santai tapi penuh ancaman mampu membuat pikiran Fathia berkecamuk.
"Hubungi nomor ini jika kamu sudah memutuskannya," kata Galen memberikan secarik kertas bertuliskan angka, lalu dengan santainya ia meninggalkan Fathia.
Entah berapa lama Fathia duduk mematung diam dan membisu memikirkan tawaran dan ancaman yang baru saja Galen layangkan padanya. Semua terjadi begitu mendadak, tak ada tanda-tanda dan tak ada aba-aba akan maksud dan tujuan Galen kembali. Ia terlonjak kaget saat sebuah tangan menepuk pundaknya. "Maaf Mbak, aku telat," kata Mita ngos-ngosan.
"Hah,,, ee... ia, ia."
Mita menautkan alisnya. "Mbak kenapa? kok mukanya pucat gitu, kayak orang habis lihat hantu deh." Mita seraya duduk di bangku.
"Eemm... itu anu, tadi ada kucing, ia kucing lewat." Alasan Fathia.
"Mbak takut kucing?"
Fathia mengangguk cepat.
Mita celingak-celinguk kiri dan kanan mencari keberadaan kucing yang di maksud Alodie palsu. "Mana? kok nggak ada!"
"Udah pergi tadi di usir pelayan kafe."
"Ooh.Pesan yuk aku udah laper baget." Mita membuka buku menu. "Mbak pesan apa?"
"Terserah kamu aja, mau pesanin apa. Sama juga boleh."
Selama makan Fathia sudah tak fokus lagi. Raganya mungkin sedang duduk dan makan bersama Mita di kafe tapi pikirannya sudah melanglang buana jauh. Bercabang kiri dan kanan, menduga dan mengira. Sejuta tanda tanya menari-nari di benaknya. Kalau bisa di lihat mungkin kepala Fathia isinya sudah seperti benang kusut yang tak tau ujung dan pangkalnya ada di mana.
"Mbak, mbak kenapa sih? dari tadi bengong," tanya Mita heran.
Fathia menggeleng. "Kita habis ini pulang ya Mit!"
"Loh, katanya mau ke mall?!," sungut Mita melorotkan bahu.
"Aku nggak enak badan, kapan-kapan aja ya."
...****************...
Like 👍
komen 🖊
Favorit 💜
__ADS_1
Hadiah 🎁
Terimakasih.🙏🥺🥰🤩🥳