ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 8


__ADS_3

Jujur Fathia sendiri sebenarnya masih ragu untuk memiliki anak dengan Aka, permasalahan tentang identitasnya yang selama ini masih di tutup rapat membuat ia merasa di lema, mau jujur pada suami tapi ia juga takut nantinya akan menghancurkan kebahagiaan ini.


Fathia masih membutuhkan waktu mempersiapkan diri dan hatinya untuk mengungkapkan kebenaran pada Aka. Hatinya merasa sedih saat melihat raut kekecewa di wajah sang suami kalau mereka harus menunda dulu program hamil yang sudah di rencanakan dari jauh hari, tapi mau bagaimana lagi Fathia memang belum sanggup untuk hamil jika keadaannya di sini atau lebih tepatnya di sisi Aka belum jelas. Statusnya sendiri bisa dibilang hanya sebagai istri palsu, lalu bagaimana nanti nasib anaknya jika sampai ia melahirkan masih memakai identitas Alodie. Fathia tak mau yang jika nanti anaknya mengenal dirinya sebagai Alodie, bukan Fathia.


🍣🍣🍣🍣


Keduanya, Aka dan Alodie palsu sedang berada di ruang tengah sehabis makan malam. Aka sendiri sibuk dengan pekerjaannya di laptop. Sedangkan Alodie palsu asik menonton TV.


"Kapan berangkat ke Singapur Mas?"


" 2 minggu lagi."


"Berapa lama?"


" 4 hari honey!"


Fathia menghela nafas "Lama banget sih," rengek nya.


"Kalau gitu ikut aja!"


"Nggak bisa Mas, aku harus syuting dan pemotretan sama beberapa brand."


Aka merangkul sang istri. "Aku usahin pulang cepat ya! jangan sedih lagi, kan bisa VC."


Fathia hanya mengerucutkan bibir.


"Jangan manyun gitu!" goda Aka mencolek puncak hidung istrinya.


"Kenapa nggak Mas Ben aja yang pergi?"


"Beno juga pergi ke Malaysia sayang. Kita bagi-bagi tugas," jelas Aka lembut.


Fathia masih cemberut, ia akan sangat susah untuk tidur kalau Aka tak ada di sampingnya. Sejak musibah kebakaran di RS dulu dan Aka hampir saja menjadi korban Fathia mengalami sedikit ketakutan jika sang suami sudah jauh darinya.


"Janji! aku usahin pulang cepat. Kamu boleh deh hubungin aku kapan pun!"


"Ntar di bilangnya aku istri posesif atau ganggu kamu lagi kerja!"

__ADS_1


"Nggak kok! aku berangkat sama Jio, ntar kalau aku nggak bisa angkat telpon, kamu hubungin dia."


Jio adalah asisten Aka yang baru sejak Beno menjabat sebagai wakil CEO di AkaFarma Selvi pun menjadi sekretarisnya. Sedangkan Fina dia hanya bertugas di dalam kantor saja.


Meski berat hati Fathia menyetujui kepergian sang suami. Berharap semua akan baik-baik saja, tak ada hal buruk yang akan menimpa Aka.


🌯🌯🌯🌯


Esok adalah hari keberangkatan Aka ke Singapaura, malamnya Fathia sedang mengemas beberapa pakaian suami dan perlengkapan lain ke dalam satu koper kecil. Sedangkan Aka memeriksa semua berkas dan dokumen yang akan ia bawa besok bersama Jio di ruang kerjanya.


"Semua sudah lengkap Pak!" kata Jio.


"Ok, besok pagi kita ketemu di bandara saja," jelas Aka merapikan map-map dan di masukkan kedalam satu tas.


"Siap Pak, boleh saya pulang sekarang?"


"Kita makan malam dulu. Istri saya tadi sudah masak. Ayo kita ke meja makan," ajak Aka.


Di meja makan Fathia sedang menata beberapa makanan yang baru saja selesai ia masak sehabis berkemas tadi. "Makan dulu sebelum pulang," basa-basi Fathia pada Jio yang mungkin hampir seumuran dengannya.


Fathia mengambilkan makanan untuk suaminya lalu untuk ia sendiri sedangkan Jio di persilakan Aka untuk mengisi piringnya sendiri.


"Saya boleh minta nomor ponsel kamu?" tanya Fathia.


"Buat apa Buk?" tanya Jio cemas sambil melirik Aka.


"Jaga-jaga nanti kalau ponsel saya nggak aktif, istri saya bisa telpon kamu buat tanya keadaan saya," jelas Aka.


"O, oh boleh Buk, nanti biar Pak Aka aja yang ngasih ke Ibuk!"


Fathia memberikan senyuman ramah sebab Jio masih tampak sungkan berhadapan dengannya. "Panggil Mbak aja, saya belum setua itu kalau di panggil Ibu."


"Hhmm.. baik Mbak."


Menikmati makanan yang di hidangkan dan perut sudah merasa kenyang. Jio segera pamit pada Aka dan Alodie palsu karena harus mengemasi barang yang akan ia bawa untuk esok.


"Besok aku ikut kebandara ya," kata Fathia saat ia menyandar di dada Aka yang berbaring di kasur.

__ADS_1


"Nggak perlu honey, aku berangkatnya pagi-pagi sekali. Kasian kamu kalau harus bolak-balik," larang Aka mengelus rambut istrinya.


"Ya udah deh, aku boleh ya bawa Mita nginap di sini!?"


"Boleh istri ku! kenapa izin segala sih? Kan biasanya Mita emang nginap disini kalau aku nggak ada."


"Aku cuma izin aja!"


"Tidur yuk, besok mau bagun pagi-pagi kan!"


Fathia mengangguk lalu berbaring menghadap Aka. "Mau sarapan apa besok?"


"Apa aja, apa pun yang kamu masak aku suka," jelas Aka membawa sang istri kedalam pelukan. Mata terpejam tapi tangannya tak henti mengelus pelan rambut hitam istrinya sampai elusan itu pun berhenti dan keduanya sudah tertidur pulas.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Sebelum solat subuh Fathia sudah bangun. Menuju dapur membuatkan sarapan pagi praktis untuk suaminya yang akan berangkat jam 6 pagi. Fathia sengaja membawa tuna eeg mayo bread ke kamar agar Aka bisa sekalian sarapan saat ia sedang bersiap-siap. Membangunkan Aka untuk mandi dan mereka solat subuh berjamaah. Setelah itu Fathia membantu suaminya berpakaian memasangkan kemeja, dasi dan juga jas. Sesekali Aka memasukkan beberapa roti kedalam mulutnya. Sebab jika harus sarapan di meja makan ia takut akan terlambat ke bandara.


"Mas, semua perlengkapan kamu sudah di dalam koper ini ya," katanya menarik koper itu untuk di bawa turun.


"Makasih istri ku," pinta Aka mengecup kening istrinya. Aka mengambil alih koper dari tangan Alodie palsu dan mereka turun bersama.


Sebelum Aka masuk mobil ia memeluk erat sang istri. "Sampai sana langsung aku kabarin! mau oleh-oleh apa?"


Fathia mengangkat wajahnya "Kamu cepat pulang," jawabnya manja.


"Hahaha... suami belum pergi sudah disuruh pulang."


"Pokonya cepat pulang!"


"Ia, ia. Sini cium dulu," tunjuk Aka di bibirnya. Fathia memenuhi permintaan suami menyatukan bibir mereka sebagai tanda perpisahan untuk 4 hari kedepan.


"Aku berangkat ya, doa in kerjaan aku cepat beres dan sukses," pinta Aka mengecup puncak kepala istrinya.


Fathia mengangguk. "Pasti Mas! Jangan lupa makan kalau lagi sibuk kerja, jaga kesehatan dan minum vitamin yang aku siapkan," pesan Fathia mengantar Aka ke mobil.


Aka mengangguk dan memasuki mobilnya. Tak lupa ia membuka kaca jendela melambaikan tangan pada sang istri saat mobil melaju meninggalkan halaman rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2