
Mereka memilih untuk makan malam di restoran resort. Karena Aka dan Beno masih ingin bicara banyak bersama Joe, sahabat yang sudah lama tak bertemu. Sedangkan para wanita menikmati makan malam mereka di tepi pantai.
"Lo gemukan sekarang, tambah ganteng lagi," ujar Joe pada Aka.
"Ia lah, di urusin dan di kasih makan enak tiap harinya di tambah hidup gue sekarang bahagia," jawab Aka.
"Susul bro, biar ada yang urus juga," sambung Beno.
Joe menarik sudut bibirnya, senyuman mengejek diri sendiri. "Belum ada yang pas."
"Belum ada yang pas atau belum bisa move on?" tanya Beno.
"Kita sengaja loh bawa tuh mantan istri lo ke sini, biar kesalah pahaman antara kalian bisa di selesaikan," jelas Aka.
Joe mengerutkan dahinya. "Dari mana kalian tau kalau dia mantan istri gue?"
"Bar tender lo waktu itu ngasih lihat fotonya pas lo pergi dari indo. Ya kita penasaran lah, wanita mana yang bisa bikin lo galau mampus gitu, sampai mau bunuh diri segala," tutur Beno.
"Kepo lo pada!"
"Ada gunanya juga kami kepo, buktinya sekarang kalian ketemu. Tapi masih pada gengsian!" balas Aka.
"Bukan gengsi, gue cuma nggak tau harus mulai dari mana, bingung buat ngejelasinnya!"
"Bilang "HAY" aja dulu, tanya kabar habis itu baru coba jelaskan pelan-pelan kalau lo tuh cinta sama dia sampai sekarang," saran Beno.
"Tapi kalau dia nggak cinta sama gue gimana? gue takut kecewa!"
"Dia cinta sama lo!" kata Aka.
"Sotoy lo!"
"Lah, dia sendiri yang cerita sama bini gue!" balas Aka.
Joe menghela nafas berat, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Pokoknya nanti habis ini samperin dia, jelasin semuanya!" saran Beno di setujui Aka.
"Butuh waktu gue Ben!"
"Lah, butuh waktu berapa lama lagi? udah dua tahun lo pergi dan sekarang waktu yang tempat!" Aka.
"Nggak laki lo!" cibir Beno.
"Rumit Ben, rumit! Gue takut dia marah dan makin memperburuk hubungan gue sama dia. Gue capek Ka, kalau harus kembali menata hati."
__ADS_1
"Setidaknya lo udah jelasin semuanya! habis itu terserah mau hubungan kalian membaik atau nggak ya itu urusan tuhan.Makanya solat dan berdoa, jangan hanya sembunyi di pulau ini," nasehat Beno.
"Benar kata Beno, jelasin aja dulu. Se enggaknya lo nggak merasa bersalah lagi sama dia!" tambah Aka.
Lagi-lagi Joe menarik nafas dalam. "Nanti gue coba!"
"Nah, gitu! yuk Ka makan yang banyak kita mau kerja keras bikin bayi ntar malam," ajak Beno.
"Ck!! sialan lo Ben, ngomong nggak pake filter depan gue. Bikin otak gue traveling ke sono tau nggak!" kesal Joe.
"Makanya, buruan ngomong dan bikin hubungan kalian jelas nggak salah paham lagi. Biar bisa ikutan kita," sambung Aka.
"Gila ya kalian berdua, sama aja!" kesal Joe geleng-geleng kepala.
π§π§π§π§
"Udah lah Ci, buang gengsi kamu," coba bicara baik-baik sama dia" Saran Fathia saat Ciara menceritakan kalau pria yang selama ini ia rindukan adalah Joe, sahabat suaminya Alodie palsu.
"Kalian akan sama-sama menyiksa diri sendiri kalau nggak ada penjelasan yang kalian dapat!" tambah dokter Biya.
"Tapi gue ngomongnya dari mana?"
"Ya minta maaf aja dulu soal lo minta pisah sama dia waktu itu cuma lewat surat, jelasin juga posisi lo saat itu!" Fathia.
"Gunanya kamu jelasin untuk ketenangan hati kamu sendiri! biar kamu nggak penasaran, biar kamu nggak bertanya-tanya lagi dan juga biar kamu nggak merasa bersalah sama dia. Mau dia punya pasangan atau nggak itu urusan belakang, setelah semuanya kamu jelaskan pasti hati dan perasaan kamu lebih tenang." Nasehat dokter Biya.
"Betul kata dokter Bi,. Kalau pun nanti dia udah punya pasangan, kalian nggak menyimpan tanda tanya besar seumur hidup dalam hati dan nggak akan ada masalah yang muncul di kemudian hari. Kalau semuanya jelas kalian bisa berteman kan!" tambah Fathia.
Ciara menghela nafas, dadanya sejak tadi tak dapat bernafas lega. Serasa ada beban berat yang menghimpit.
"Coba lah bicarakan dari hati Ci. Gue pamit ke kamar dulu, mas Aka udah jemput," Kata Fathia melihat ke tiga pria datang menghampiri meja mereka.
"Aku juga ke kamar ya Ciara, mas Beno juga jemput," izin Biya.
Ciara hanya mengangguk dan tersenyum kecil.Fathia dan Biya menarik suami mereka untuk segera pergi meninggalkan Joe dan Ciara berduaan di sana. Sengaja untuk memberi waktu dan ruang agar mereka bisa saling terbuka dan menjelaskan soal rasa yang ada di hati masing-masing.
"Hay, belum mau ke kamar kan?" tanya Joe menarik bangku untuk duduk di meja bersama Ciara.
Ciara menggeleng.
"Gimana kabar kamu?"
"Seperti yang terlihat!"
"Tampilan luar bisa menipu!"
__ADS_1
Ciara hanya diam mengaduk makanannya.
"Sorry! Bagaiman, suka dengan tempat ini?" tanya Joe mencari topik pembicaraan lain.
"Suka, tempatnya bagus dan bikin tenang!"
"Kalau sama orang di depan kamu suka nggak?"
Ciara menatap Joe sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah pantai. Langit mulai gelap angin laut semakin bertiup kencang. Ciara mulai merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya yang hanya tertutup drees tipis berbahan satin.
"Pakai lah," kata Joe memakaikan jaketnya pada Ciara.
"Terimakasih!"
"Aku kedalam dulu, kalau kamu masih mau di sini silahkan," izin Joe meninggalkan Ciara.
Ciara menatap punggung itu bergerak menjauh darinya.
"Aku minta maaf!" ujar Ciara sedikit keras takut Joe nanti tak dapat mendengar.
Joe menghentikan langkah kakinya. Menunggu kata berikutnya yang keluar dari mulut wanita yang ia cintai itu.
"Aku minta maaf!" lagi Ciara mengucapkannya dengan suara tertahan.
Joe masih setia berdiri di tempatnya ia masih belum berani membalik badan untuk menatap Ciara.
Isak tangis wanita itu terdengar semakin keras. Joe perlahan melihat ke arah belakang, tampak Ciara menangis tertunduk, bahunya bergetar seolah beban di hatinya begitu berat, tangis pun tak sanggup meringankannya.
Segera Joe mendekati Ciara, membawanya kedalam dekapan, mengusap rambut hitam bergelombang itu. "Aku juga minta maaf!"
Setelah menumpahkan tangisnya di dada Joe, Ciara merasa sedikit lebih baik. Isak tangisnya mulai mereda, Joe pun mengurai pelukan mereka."Kita bicara di dalam," ajaknya masih merangkul Ciara.
Joe membawa Ciara menuju kamarnya yang berada di dekat hutan. Sampai di sana Joe memberikan segelas air putih untuk Ciara. "Minumlah!"
Ciara meneguknya sampai habis tak bersisa.Joe hanya tersenyum kecil. "Haus?"
Ciara mengangguk malu.
"Mau lagi?"
"Nggak, sudah cukup!" katanya duduk di sofa panjang.
Joe ikut duduk di sofa menghadap Ciara. Di tatapnya lama wajah itu, wajah yang selalu ia rindukan. "Aku juga mau minta maaf dan sekalian akan menjelaskan kesalah pahaman antara kita."
"Salah paham?"
__ADS_1