
Siang ini Widia dan Ciara juga Niko datang menjenguk ibunya Fathia di rumah sakit. Sekalian mereka memberi kabar kalau uang hasil galang dana dan pinjaman dari Widia sudah terkumpul 200 juta tinggal sedikit lagi bu Julanar bisa menjalani operasi pemasangan ring jantung.
"Makasih banyak loh Mbak mau bantu aku," pinta Fathia memeluk Widia ketika mereka hendak balik lagi ke kota.
"Sama-sama Thia, Mbak senang bisa bantu kamu. Sekarang fokus dulu sama kesehatan ibu kamu ya, Mbak akan kosongkan jadwal kamu satu minggu kedepan, mudah-mudahan ibu kamu bisa operasi dalam minggu ini," harap Widia.
"Makasih banyak, sekali lagi Terimakasih banyak, aku nggak tau lagi mau minta bantuan sama siapa karena aku cuma punya ibu dan Ciara," ucap Fathia sungguh dari dalam hati yang paling dalam.
"Pokoknya sekarang kalian semua itu adik-adiknya Mbak, jadi kalau ada masalah cerita sama Mbak ya!".
Fathia mengangguk. " Nik, makasih juga lo mau bantu," ucap Fathia.
"Gue senang kok Ti bisa meringankan beban lo," jawabnya.
"Ti, kita balik ya soalnya masih ada kerjaan," potong Ciara.
__ADS_1
"Ah ia, gue jadi lupa karena asik ngobrol. Hati-hati di jalan ya Mbak, Niko lo juga Ci," ingat Fathia.
Mereka berpelukan di halaman parkir rumah sakit sebagai tanda perpisahan dan juga memberikan kekuatan pada Fathia bahwa sekarang ia memiliki keluarga baru tempatnya berbagi dan bercerita.
Sore harinya Fathia keluar menuju Mini market terdekat ia ingin membeli beberapa camilan dan juga kue dan buah untuk sang ibunda karena beliau tak begitu suka makanan rumah sakit. Selesai berbelanja ia kembali keruang rawat ibunya. Fathia kaget melihat Inas bibinya sudah ada di sana.
"Ngapain Bibi kesini?" tanya Fathia tak suka juga sedikit marah.
"Saya kesini mau cari kamu, sejak malam kamu pergi dari rumah kamu nggak pulang-pulang," jawab Inas kesal.
"Buat bayar hutang lah, juragan Afkar cariin kamu."
Fathia tampak kesal dengan Bibinya. Ia pikir wanita ini datang untuk menjenguk kakaknya ternyata hanya datang untuk menambah masalah.
"Kita bicara di luar, aku takut ibu dengar," ajak Fathia.
__ADS_1
"Disini saja, ibu kamu nggak akan dengar dia tidurnya nyenyak," jawab Inas malas jika harus keluar.
Fathia menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. "Bilang sama juragan Afkar aku butuh waktu satu bulan lagi buat lunasi hutang karena sekarang ibu lagi sakit jadi aku butuh biaya dulu untuk operasi ibu."
"Nggak bisa, bayar hutang dulu. Ibu kamu masih bisa operasinya di tunda," paksa Inas.
"Nggak bisa gitu dong, ibu lebih penting bagi aku," bantah Fathia.
"Pokoknya bayar dulu hutang atau nggak nanti juragan Afkar akan melaporkan kamu ke polisi," ancam Inas.
"Silahkan aku nggak takut!" tantang Fathia balik.
"Ok, lihat aja nanti ya!" ingat Inas pergi meninggalkan Fathia.
Fathia terduduk di sofa ruang rawat ibunya kenapa bibinya tau kalau ibunya akan di operasi dan ia juga tau kalau sekarang Fathia sedang memegang uang untuk biaya operasi sang ibunda. Apa ia tidak ada rasa kasihan sedikitpun pada kakaknya yang sedang sakit parah ini. Kenapa tega sekali Inas pada kakak kandungnya? apa benar mereka saudara kandung?
__ADS_1
Sudah lah Fathia tak mau ambil pusing dulu, lebih baik ia istirahat ketika ibunya terlelap.