ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 2 bab 21


__ADS_3

Fathia datang menghampiri suaminya yang tengah berbincang dengan para tamu. Memberikan satu gelas wine pada Aka.


Pria itu sedikit kaget dan tercengang dengan tampilan baru istrinya yang sudah berganti baju. Dress hitam dan gaya rambut itu memancing kembali ingatannya.


"Permisi," izin Aka meninggalkan teman-temannya. Ia lalu membawa Fathia menepi sedikit dari kerumunan.


"Kenapa kamu ganti bajunya yang se xi begini? Sengaja mau goda laki-laki lainnya?" bisik Aka terdengar tak suka.


"Siapa juga yang mau goda laki-laki lain. Aku cuma mau goda kamu, sekalian mancing ingatan kamu."


Aka menatap sang istri dari ujung kepala hingga kaki. "Kayaknya benar deh, kita pernah ketemu."


Fathia kembali tertawa. "Masih belum ingat?"


Aka menggeleng. "Emang kita pernah ketemu?"


"Kita tutup dulu pestanya, nanti aku jelasin," ajak Fathia kembali ke tengah kerumunan tamu.


Mereka semua larut dalam hentakkan musik yang di putar DJ sebagai penutup pesta resepsi Aka dan Fathia malam ini. Sebelum para tamu pulang pengantin lama serasa baru itu mengucapkan terimakasih atas hadiah dan kehadiran para teman, sahabat, keluarga, dan para rekan kerja.


🥭🥭🥭🥭


Sampai di kamar presidential suite yang di pesan khusus untuk malam pertama mereka setelah kelahiran Kafha. Aka mengendong sang istri ala bridal menuju kasur. Sesekali mereka saling mengecap bibir.


"Sekarang katakan, kapan kita pernah bertemu?" tanya Aka membaringkan sang istri di atas kasur.


"Benar kamu nggak ingat sama sekali?" tanya Fathia.


Aka sudah berada di atas sang istri. Satu tangannya berada di sisi kiri kiri kepala Fathia satu lagi menyisir rambut hitam sang istri.


"Aku cuma merasa pernah ketemu kamu dengan tampilan seperti ini. Tapi nggak yakin sama sekali."


Fathia tersenyum. Tangannya sudah mulai membuka satu persatu kancing kemeja Aka. "Aku mau kamu mengingatnya sendiri."


"Maksud kamu?"


"Diam dan nikmati," ucap Fathia membalik tubuh Aka.

__ADS_1


Fathia memulai memainkan sebuah permainan yang dulu ia lakukan untuk pertama kalinya bersama Aka. Pria yang memberikannya uang 1 milyar kini sudah sah menjadi suaminya, bahkan menjadi bapak dari anak-anaknya.


Garis takdir tak ada yang tau. Seberapa besar kita ingin mengubahnya jika itu sudah di tetapkan yang maha kuasa maka kita akan tetap menjalani takdir itu. Bisa di bilang ini adalah kebahagian terbesar bagi Fathia.


Bagaimana tidak, cinta satu malamnya dulu kini menjadi cinta abadinya. Laki-laki yang mendapatkan kesuciannya sekarang menjadi suaminya. Meski dulu yang dilakukannya adalah sebuah dosa besar, tapi ia tak menyesalinya sama sekali. Biarlah dosa itu nanti ia tanggung sendiri di akhirat nanti.


"Apa kamu sudah ingat, Mas?" bisik Fathia di telinga Aka.


Bagaimana ia mau ingat. Suasana panas dan menegangkan sudah mulai di ciptakan oleh Fathia membuat Aka tak bisa berkonsentrasi untuk memutar memori lama.


"Bi-bisa katakan saja, aku nggak bisa mengigat apa-apa. Pikiranku cuma ingin makan kamu malam ini," jawab Aka sedikit terbata kala merasakan nikmat permainan dari bibir merona sang istri.


"Oohh, ayolah, Mas. Coba kamu ingat-ingat lagi," kesal Fathia mengangkat kepalanya dari bawah.


"Please, Honey kita lanjut saja," mohon Aka membalik tubuh sang istri hingga berada di bawahnya.


"Aahh ... kamu nggak seru, Mas," kesal Fathia.


Aka tak peduli lagi. Keinginannya sudah berada di puncak kepala. Ia mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri menghirup wangi dan menggelitik kulit halus itu.


"Malam itu aku datang menemui kamu di sebuah hotel," ucap Fathia sambil menahan geli.


Suara de sah an pertama lolos dari mulut Fathia. Jujur ia pun begitu merindukan sang suami.


"Ka-kamar 207," kata Fathia menahan nafas.


Aka mengangkat kepalanya dari belahan gunung kembar istrinya. "207?"


Fathia mengangguk dan tersenyum. "Kamu ingat?"


"Jadi?"


"Jadi apa, Mas?"


"Wanita yang malam itu aku bayar ... adalah kamu?"


"Hahaha ... ia, Mas. Itu aku."

__ADS_1


"Tapi setelah itu kamu nggak tidur sama laki-laki lain kan?"


"Ya nggak lah! Ngaco kamu kalau ngomong. Aku emang jual diri malam itu, tapi bukan berarti aku wanita murahan."


"Pantas dari tadi itu aku berasa ketemu kamu, tapi di mananya itu aku lupa," jawab Aka memeluk istrinya.


"Kamu senang nggak?"


"Senang lah!"


"Aku juga senang, Mas. Setelah malam itu, aku jatuh cinta sama kamu."


"Kamu bercanda kan, Honey? Mana ada orang jatuh cinta cuma gara-gara ML semalam."


"Serius, Mas. Kamu laki-laki pertama dalam hidup aku dan juga yang terakhir. Aku nggak pernah pacaran atau dekat sama laki-laki lain."


Aka mengecup kening Fathia. "Kita lanjut lagi, ya. Ceritanya di sambung besok. Aku mau ngulang malam itu sekarang," kata Aka dengan mata yang berkabut gairah.


Jujur hatinya penuh dengan bunga bermekaran. Ia tak menyangka perempuan yang dulu membuatnya merasakan sebuah kesucian wanita selama ini berada di sampingnya, memberikan cinta tulus dan suci.


Meski sudah lama menikah dan memiliki seorang putra. Tetap malam ini bagaikan malam pertama bagi keduanya. Saling membelit, membelai, menjamah dan menikmati sentuhan-sentuhan yang mampu membuat mereka semakin melayang.


De sah an dan er ang an mereka mengiringi waktu berputar hingga bergantinya hari. Tak ada kata puas bagi keduanya mereka masih bergumul di atas kasur empuk itu mendaki puncak kenikmatan dunia yang sesungguhnya.


Pujian dan kata-kata cinta terlontar dari mulut mereka. Semakin menambah nikmatnya percintaan itu.


"Yes, call my name baby," kata Aka seperti malam itu.


"Mas A-aka I lo-ve you!"


"Love you too, baby," balas Aka mengecup bibir istrinya di hentakkan terakhir hingga mereka sama-sama meledak di dalam sana.


Keduanya terengah-engah, berusaha menormalkan kembali nafas yang memburu. Aka tersenyum bahagia mengusap peluh yang membasahi dahi istrinya. Begitu pula Fathia membalas senyuman Aka sambil menyisir rambut basah sang suami ke belakang.


"Semua sudah di takdir kan Tuhan," kata Aka. memeluk Fathia.


Wanita itu mengangguk di punggung Aka. "Dulu aku sempat kecewa karena jatuh cinta pada suami orang, tapi malah Tuhan membuat jalan agar kita bersama."

__ADS_1


"Jujur malam itu adalah malam yang sulit aku lupakan. Tapi setelah kamu hadir dalam hidupku aku pun bisa melupakannya makanya tadi aku nggak ingat sama sekali. Lucu ya, ternyata kamu orangnya," kata Aka tersenyum.


__ADS_2