
Sebelum magrib Aka pun sampai di kediaman orang tuanya. Akhir-akhir ini ia memang lebih sering pulang kantor lebih sore atau malam. Aka tak pernah lagi semangat jika waktu kerja sudah usai. Ia lebih memilih menyibukkan diri di kantor sampai tubuhnya terasa sangat lelah barulah ia pulang.
"Papa mana, Mah?" tanya Aka mencium punggung tangan Alia.
"Ada rapat sama Adnan di kantornya. Mungkin sampai malam," jawab Alia membawa sang putra menuju ruang tengah.
"Udah mau magrib, aku boleh mandi di sini nggak?" tanya Aka melepas jas.
"Ya boleh dong, ini kan juga rumah kamu. Sana bersih-bersih dulu di kamar. Habis itu kita solat berjamaah, ya. Mama tunggu di mushola," kata Alia seraya berlalu meninggalkan Aka.
Sejak Alodie palsu pergi Aka kadang sering menginap di rumah sang mama atau hanya sekedar menghabiskan waktu malam sebelum pulang ke rumah. Rasa malas selalu menguasainya ketika ingin menginjakkan kaki di rumahnya. Entah mengapa Aka merasa tak ada lagi kebahagiaan dan kecerian di dalam sana. Serasa hidup kehilangan arah tak tau harus apa dan mengapa jika sampai di sana.
Usai melaksanakan solat magrib, Aka dan Alia berpindah menuju meja makan. Semua sajian yang terhidang di atas meja adalah hasil masakan Alia khusus untuk putra semata wayang.
"Udah lama aku nggak makan masakan rumah," ujar Aka menyuap nasi ke mulut.
"Emang Alodie udah nggak masak lagi?"
Aka pura-pura tak mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan sang Mama. Ia tampak fokus menghabiskan makanannya.
"Ka, tadi Mama ke rumah kamu loh."
"Hhhmm terus ngapain? Ketemu Alodie?"
"Mama kangen masakan Alodie jadi tadi Mama ke sana minta di masakin."
"Terus?"
"Katanya dia lagi nggak enak badan jadi masaknya kapan-kapan aja. Habis itu mama ditinggal ke kamar," jelas Alia dengan santai.
"Yyaa mungkin aja Alodie emang lagi sakit atau demam, jadi dia mau istirahat."
"Mama boleh ngomong sesuatu?"
"Ngomong aja Mah, kenapa mesti izin dulu," jawab Aka memandangi sang Mama.
"Mama ngerasa kalau Alodie itu berubah loh. Apa lagi tiga bulan ini Mama sering lihat kalian nggak akur, nggak seperti biasanya yang mesra, ceria dan penuh cinta. Ada apa sih? Kalian lagi ada masalah?"
Aka menghembuskan nafas berat. Memikirkan sebuah alasan yang tepat sebagai jawaban atas pertanyaan sang Mama. "Alodie udah nggak amnesia lagi, Mah," jawab Aka. Seolah ini adalah jawaban terbaik.
Raut wajah Alia langsung berubah kecewa. "Jadi itu yang bikin dia berubah seperti Alodie yang dulu?"
Aka hanya menganggukkan kepala.
Alia hanya tersenyum tipis. "Dihabisin makanannya, setelah ini kamu mau pulangkan?"
"Iya, aku banyak kerjaan sekarang. Mungkin bakalan lembur di rumah," jawab Aka menggenggam jari-jemari sang Mama seolah memberikan kekuatan agar tak bersedih.
Sebenarnya ia tak tega berbohong pada Alia. Namun, mau bagaiman lagi, Aka malah lebih tak sanggup menyampaikan sebuah kebohongan besar yang mungkin nanti malah dapat membuat mamanya terluka. Lebih baik seperti ini setidaknya Alia hanya sedikit kecewa.
Aka pun segera pamit.
"Maaf, ya, Mah aku nggak bisa temanin Mama nunggu papa pulang."
"Papa mu sudah di jalan, sebentar lagi juga sampai," kata Alia mengantar sang putra sampai mobilnya.
__ADS_1
"Aku pulang, besok sore aku kesini lagi, ya."
"Mau makan masakan Mama lagi?"
Aka mengangguk sungkan. "Kalau Mama nggak capek."
Alia tersenyum senang. "Mama bakalan masak buat kamu."
"Assalamualaikum," kata Aka mencium tangan sang Mama yang tampak sudah mulai keriput.
ππππ
"Bik, Alodie mana?" tanya Aka saat baru sampai di rumahnya.
"Mbak Alodie tadi pergi sama teman-temannya. Katanya udah izin sama Mas Aka," jawab Bi Runi.
Aka tampak bingung sambil mengangguk-anggukkan kepala meninggalkan bi Runi yang sedang membereskan dapur. Pikirnya tak ada pesan atau pun telpon masuk dari Alodie. Bahkan saat ia mengirim pesan mengatakan akan mampir sebentar ke rumah mama tak di baca oleh sang istri.
Aka mencoba menghubungi nomor ponsel Alodie. Aktif dan nyambung tapi tak di jawab sama sekali. Sampai tiga kali Aka pun memutuskan untuk tak lagi menghubungi istrinya itu. Lebih baik ia fokus pada pekerjaannya.
Saking fokusnya pada layar komputer dan asik menarikan jari di keyboard, Aka sampai lupa kalau waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Matanya sudah terasa perih, punggungnya juga terasa kaku akibat duduk terlalu lama. Ia pun menyudahi pekerjaannya, menuju kamar untuk segera tidur.
Aka pun teringat kalau istrinya belum pulang. Kembali ia menghubungi nomor Alodie. Sekarang malah sudah tak aktif lagi. Ia hanya bisa menghela nafas panjang lalu keluar dari kamar menaiki lantai dua.
Aka memang lebih sering tidur di kamar lamanya sambil mendekap dress biru muda milik Fatia dulu.
ππππ
Aka terbangun saat azan subuh berkumandang ia menuruni satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Ternyata Alodie tak pulang semalam. Sudahlah pikir Aka ia memilih untuk segera menunaikan solat subuh.
"Bi, nanti kalau Alodie pulang telpon saya," pesan Aka pada bi Runi sebelum meninggalkan meja makan.
"Siap, Mas!"
Ia melangkahkan kakinya dari meja makan menuju pintu depan rumah. Sampai di ambang pintu kakinya berhenti. Sebuah kenangan terlintas di benaknya. Biasanya saat ia akan berangkat ke kantor selalu di antar oleh sang istri. Di lepas dengan pelukan serta lambaian tangan mengiringi laju mobilnya meninggalkan rumah.
Serta ucapan "Cepat pulang, ya!" seolah menantikan kehadirannya secepat mungkin di rumah. Namun, kini semua hanya bayangan yang selalu ia harapkan dan nantikan.
Aka kembali menghalau itu semua. Ia bergegas masuk ke mobil dan memacunya. Terselip sedikit rasa sedih dan kecewa di dada tapi tak di hiraukan nya.
π₯π₯π₯π₯
"Lo lagi ada masalah, Ka?" tanya Beno.
Ia merasa khawatir atas perubahan sifat saudara sepupunya itu belakangan ini. Aka lebih sibuk bekerja dan jarang bercerita lagi padanya. Bahkan Aka tak seceria dulu, ia tampak murung dan kadang emosinya gampang meledak.
"Nggak gue lagi kepikiran aja sama kerjaan," jawab Aka sengaja berbohong.
"Alah lo nggak usah cari alasan sama gue. Gue kenal lo udah dari kecil, jadi gue tau lo luar dalam," kesal Beno.
Aka tak peduli. Ia malah mengabaikan Beno dan memilih fokus pada dokumen yang sedang di bacanya.
"Cerita sama gue," ajak Beno menepuk pundak Aka.
"Nggak ada yang perlu gue ceritain. Gimana kondisi Biya?" tanya Aka mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Lo sengaja mengalihkan pembicaraan."
"Bukan mengalihkan pembicaraan, Ben. Sekarang gue lagi coba menyelesaikan masalah sendiri dulu. Nanti kalau gue butuh bantuan dan nasehat, gue pasti cerita sama lo."
Beno mengangguk-anggukkan kepalnya.
"Gimana kondisi Biya?" tanya Aka lagi.
"Baik, tapi ya gitu pagi-pagi sering mual sama muntah kadang juga pusing," jelas Beno santai sambil menyilang kan satu kakinya duduk di sofa.
"Biasalah itu, orang hamil di trimester pertama emang mengalami morning sickness."
"Makanya sekarang dia gue minta cuti. Nggak usah kerja dulu sampai melahirkan nanti."
"Nggak cuti selamanya kan?" tanya Aka.
"Kalau itu pilihan dia. Mau kerja lagi setelah punya anak atau fokus ngurus anak gue serahin sama Biya," jelas Beno.
"Sayang loh kalau Biya berhenti jadi dokter. Dia kan salah satu dokter terbaik di Rumah Sakit kita, pasiennya banyak lagi."
"Tau gue, makanya gue biarkan dia yang memutuskan nanti. Tapi kalau sekarang memang harus dia istirahat dulu. Kasian gue kalau lihat dia muntah-muntah. Kadang yang di makan keluar semua," tutur Beno geleng-geleng kepala.
"Udah kontrolkan?"
"Udah, tapi ya gitu tetap aja. Meski udah minum obat mual."
"Lo sebagai suami harus selalu ada dan mendampingi," nasehat Aka.
"Pastilah!" jawab Beno jumawa.
"Udah sana pulang," usir Aka.
"Lo nggak pulang?"
"Bentar lagi, tanggung ini di tinggalin."
"Ok deh gue pulang duluan. Lo jangan sampai lembur di kantor kasian Alodie nungguin," pesan Beno lalu keluar dari ruang kerja Aka.
Aka hanya tersenyum palsu. Tak ada lagi Alodie yang menantikan kepulangannya. Tak ada lagi Alodie yang menyambut kedatangannya. Jadi buat apa ia buru-buru pulang ke rumah kalau hanya akan mengecewakan hati.
Terdengar dering ponselnya di atas meja. Aka segera mengangkat.
π±hallo Bik
π±Mas, Mbak Alodie baru saja pulang.
π±Hah, baru pulang? Sore ini?
π±Ia, Mas. Kayaknya lagi bersih-bersih di kamar.
π±Makasih ya, Bik. Saya pulang sekarang. Nanti kalau dia mau pergi lagi tahan dulu.
Aka memutus sepihak sambungan telpon. Membereskan meja kerjanya dan bergegas turun. dari gedung kantornya.
Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Alodie. Membuat Aka tak sabar untuk segera pulang. Bahkan ia melupakan janji pada Alia kalau akan makan malam bersama.
__ADS_1