
Bagaimana, Ustad? Apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah? Sedangkan identitas yang dipakai wanita itu bukan yang asli, melainkan nama wanita lain," tanya Faris dengan serius.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan bapak, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu," ujar Ustad Yahya.
"Apa itu, Ustad?"
"Dulu setelah ijab kabul dilakukan. Wanita yang dinikahi, Mas Aka pernah menanyakan hal serupa pada saya."
Seluruh keluarga besar Aka tercengang. Bahkan Beno dan Aka juga tak tahu akan hal ini.
"Lalu, apa jawaban yang, Ustad sampaikan." Aka semakin penasaran. Ia tak sabar rasanya ingin mengetahui hukum pernikahannya bersama Fathia.
"Hukum nikahnya sah. Salah satu syarat nikah adalah kedua calon pengantin sudah jelas ditentukan identitasnya baik fisik maupun namanya. Namun, kalau fisiknya jelas tapi namanya ada perubahan baik disengaja atau tidak, ini tidak mempengaruhi keabsahan nikah karena sosok yang dimaksud sudah benar. Khotib Al-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj, hlm. 3/150 menyatakan:
قال صاحب "مُغْنِي المحتاج": "ويشتَرط تعيين كل من الزوجين، فقول: "زوجتك إحدى بناتي" أو "زوَّجْتُ بنتي - مثلاً – أحدَكما" باطلٌ، ولو مع الإشارة، كالبيع ولا يُشْتَرَط الرؤية.
وإن قال: "زوجتك بنتِي" أو "بِعْتُكَ داري" وكان رأى داره قبل ذلك، وليس له غيرها، أو أشار إليها، صحَّ كُلٌّ منَ التزويج والبيع، ولو سَمَّى البنت المذكورة بغير اسمها، أو غلِطَا في حدود الدار المذكورة، أو قال: "زَوَّجتُكَ هذا الغلام"، وأشار إلى البنت التي يُرِيدُ تزويجها، صحَّ كل من التزويج والبيع، أما فيما لا إشارة فيه، فلأن كُلًّا من البنتية والدارية صِفة لازمة، مُمَيِّزة فاعتُبِرَتْ، ولغا الاسم، كما لو أشار إليها وسماها بغير اسمها، وأما فيما فيه إشارة فتعويلاً عليها
Artinya: Disyaratkan menentukan masing-masing dari kedua calon suami istri. Maka, perkataan wali "Aku nikahkan salah satu putriku denganmu" atau "Aku nikahkah putriku -- misalnya -- dengan salah satu dari kalian berdua" (perkawinan itu) tidak sah walaupun disertai isyarat sebagaimana jual beli. Tapi tidak disyaratkan melihat (calon pengantin).
Apabila wali berkata: "Aku nikahkan putriku denganmu" atau "Aku jual rumahku padamu" Sedangkan calon pembeli sudah melihat rumah itu sebelumnya dan wali atau pemilik rumah tidak memiliki anak atau rumah lain selainnya, atau wali / pemilik rumah memberi isyarat padanya, maka sah hukum akad perkawinan dan jual beli walaupun wali atau pemilik rumah menyebut nama putri dimaksud selain dengan namanya atau salah dalam menyebut kriteria rumah yang dimaksud.
Atau wali nikah mengatakan pada pengantin pria: "Aku nikahkan kamu dengan anak ini," lalu wali memberi isyarat pada perempuan yang hendak dinikah si pria, maka nikahnya sah dan jual beli. Adapun dalam soal tidak memakai isyarat itu karena masing-masing dari putri dan anak merupakan sifat yang tetap dan unik, karena itu maka itu yang dianggap (penting). Sedangkan nama itu tersia-sia (dianggap tidak prinsip). Sebagaimana apabila wali memberi isyarat putrinya dan menyebutnya dengan nama lain selain nama aslinya.
"Apakah sudah jelas, Bapak dan Ibuk?" tanya ustad Yahya. "Ada hal lain yang ingin di pertanyakan lagi?"
"Jadi jatuhnya wanita itu adalah istri kedua bagi anak saya?" Kembali Faris melayangkan keraguannya.
"Secara syariah, sudah tentu!"
Penjelasan yang diberikan oleh Ustad Yahya bagaikan angin segar yang memberikan kesejukan nan menangkan hati. Keraguan mereka terjawab sudah. Aka pun bisa bernafas lega bahwa ia dan sang istri palsu tak melakukan perbuatan dosa zina nan dituduhkan sang Papa.
"Saat itu, Mbak nya bilang sama saya kalau akan menjelaskan masalah ini pada, Mas Aka. Maka di saat itu saya memilih diam, karena tak mau ikut campur masalah rumah tangga kalian." Ustad Yahya menjelaskan alasannya soal tak memberitahu Aka.
"Kami mengerti, Ustad. Sekali lagi terimakasih atas penjelasannya ini. Maaf kalau sudah menganggu waktunya," ujar Faris.
"Saya senang bisa membantu. Apa pun masalah yang tengah keluarga ini hadapi semoga bisa di selesaikan secepatnya dengan kepala dingin.
Saya izin pulang sekarang boleh? Soalnya mau ada pengajian," kata Ustad Yahya.
"Boleh, boleh! Silahkan, Ustad biar di antar supir kami." Faris meminta Beno mengantar Ustad Yahya sampai depan dan masuk mobil.
"Terimakasih, maaf kalau merepotkan, Pak."
"Tidak sama sekali, Ustad. Justru kami yang berterimakasih banyak. Hati-hati di jalan."
Seluruh keluarga menyambut salam perpisahan dari Ustad Yahya sebelum beliau keluar dari rumah.
"Karena status pernikahan kalian sudah jelas, lalu hal apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ka?" tanya Adnan pada adik sepupunya.
Aka masih tertunduk dalam simpuhnya. Sesal itu masih ada dan semakin dalam rasanya. "Aku nggak tau, Mas. Bingung mau cari dia kemana?"
Faris dan Alia saling pandang. Mereka ikut merasakan kesedihan yang dialami sang anak. "Lapor polisi saja!" saran Alia.
"Bagaimana kita mau lapor polisi, Tante. Sedangkan kita nggak tau rupa wajahnya yang sekarang. Kalaupun kita lapor pakai nama aslinya, kan dia termasuk dalam daftar orang hilang." Ucapan Beno ada benarnya juga. Merasa putus asa, semua orang duduk terdiam memikirkan cara bagaimana menemukan Fathia.
"Mita! Mita pasti tau keberadaan Fathia," lontar Ciara.
"Kamu yakin? Aka merasa ragu.
"Aku yakin Mita pasti tau. Coba saja kamu temui dia di kampusnya. Kalau aku atau Mas Joe yang samperin dia pasti menghindar," jelas Ciara lagi.
"Besok dia ada jadwal kuliah pagi. Kamu tunggu di kampusnya sampai dia selesai," tambah Joe.
Aka setuju akan saran para sahabatnya itu. Kepala dan punggungnya ia tegakkan untuk menyambut hari esok dengan penuh harap untuk bisa segera bertemu dengan wanita pemilik hatinya.
🍆🍆🍆🍆
Jam 7 pagi Aka sudah berada di depan gerbang kampus Mita. Semalam ia sudah mengirim pesan atau menghubungi wanita itu. Tapi tak ada satupun jawaban darinya. Mita hanya membaca pesan Aka dan mengabaikannya begitu saja.
"Mita!" panggil Aka saat melihat orang yang di carinya baru saja turun dari ojek online.
"Pak, jalan lagi!" Mita kembali menaiki motor. Meminta pengemudi berjeket hijau itu memacu motornya lebih cepat tampaknya Ia sengaja menghindar.
Aka yang kebingungan bergegas masuk ke dalam mobil dan mengejar Mita. Tepat di satu lampu merah, motor yang di tumpangi Mita berhasil lolos sedangkan ia terjebak di sana.
__ADS_1
"Sial!" umpat Aka memukul stir mobil.
Lepas dari lampu merah mobil Aka menyusuri jalanan yang mungkin dilalui Mita. Tiga puluh menit mencari tapi tak membuahkan hasil. Ia pun memutuskan menuju rumah Joe dan Ciara.
🍒🍒🍒🍒
"Kita nggak tau dia tinggal di mana sekarang. Mita sudah pindah dari apartemennya," jelas Joe.
"Nggak coba kalian cari tau sama teman-temannya?" tanya Aka.
"Kata teman di kampus, Mita nggak pernah lagi kumpul sama mereka. Habis kelas dia langsung pergi. Teman-temannya juga heran dengan sikap Mita yang seperti orang sibuk banyak kerjaan, tapi nggak tau dia sibuk apa dan ngapain," tambah Ciara.
Aka menghembuskan nafas berat. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa lalu merebahkan kepala di sana. "Kenapa dia malah ikut menghindari gue, ya?"
"Karena lo mau cari Fathia!" ujar Joe.
"Tapi kenapa harus menghindar?"
Joe mengangkat bahu.
"Besok samperin lagi aja, Mas. Sampai dia mau di ajak bicara," saran Ciara.
"Ok. Gue ke kantor dulu deh." Aka pun pamit pada Ciara dan Joe. Sebenarnya ia sangat pusing akibat ulah Mita tadi. Tapi kalau di pikirkan terus bisa semakin pecah kepalanya. Bekerja di kantor bisa menjadi pengalihan.
🥞🥞🥞🥞
Sudah satu minggu Aka berusaha untuk mengajak Mita bicara empat mata. Akan tetapi ia terus menghindar dan bahkan sampai tak masuk kuliah. Aka stres dan bingung bagaiman lagi caranya ia mencari informasi tentang istrinya.
Menunggu di depan gerbang kampus sudah. Meminta rektor untuk memanggil Mita dan bicara di sana juga sudah ia lakukan. Tetap saja wanita itu bersikukuh kalau ia tak tahu akan keberadaan Fathia.
Meski begitu Aka tak percaya begitu saja. Ia sangat yakin ada hal nan disembunyikan gadis itu darinya. Pernah sekali ia membuntuti Mita tapi, gadis itu malah mengerjainya. Membuat ban mobil Aka kempes di jalan dan berakhir ia terjebak di satu gang sempit.
"Buat apa lo punya duit banyak, kalau untuk membawa Mita ke rumah atau sekedar bicara sebentar nggak bisa," ledek Beno.
"Yaa terus gue harus apa?"
"Sewa detektif swasta buat paksa dia ketemu sama lo, atau kalau perlu diculik!"
"Ide lo boleh juga!"
"Eh itu mulut dijaga. Gue bukan bodoh tapi, otak gue buntu!" kilah Aka tak terima.
Beno menipiskan bibir. "Alasan!"
"Keluar sana! Gue mau bicara sama Jio." Aka mengibaskan tangan mengusir saudaranya agar keluar dari ruangan itu.
"Bilang Terimakasih dulu kek, ini malah ngusir," sungut Beno kesal keluar dari sana.
"Makasih!" sorak Aka.
🥐🥐🥐🥐
Aka sudah menyewa detektif swasta yang disarankan Jio dan langsung memberikan tugas pada mereka untuk membawa Mita menemuinya.
Agak sulit awalnya sampai tiga hari Aka memutuskan memakai cara yang disarankan Beno.
"Culik saja dia!" Aka kesal karena Mita tak mau di ajak kompromi.
Sekitar jam delapan malam semua orang sudah berkumpul di rumah orang tua Aka. Menunggu kedatangan Mita yang sudah di culik oleh beberapa preman bayaran Aka.
Gadis itu akhirnya sampai. Turun dari mobil ia sudah tau kalau kakinya menginjak rumah Faris dan Alia. Mau tak mau ia harus masuk, tak bisa menghindar lagi. Dua orang pria bertubuh tegap dan kekar mengapitnya kanan dan kiri.
Saat sampai di ruang tengah Mita mendengus. Menarik sudut bibirnya menyeringai kesal. "Dokter putus asa, sampai harus sewa orang ini buat paksa aku ke sini?" tanya Mita menunjuk pria besar di sampingnya.
"Duduk duli, Mit!" ajak Aka.
Gadis itu duduk dengan gaya angkuh. Penampilannya kini sedikit berubah dari yang terakhir kali mereka temui. Celana jean sobek dan kemeja kotak-kotak, dalamnya memakai kaos oblong hitam. Dipadukan dengan sneaker putih nan tampak sudah coklat karena sering di pakai.
"Kenapa kamu menghindar dari saya, Ciara dan Joe?" tanya Aka.
"Memangnya kita ada urusan apa?"
"Kami ingin tau keberadaan Fathia!" jawab Ciara.
"Hahahah apa? Aku nggak salah dengarkan?!" Mita mendekatkan telinganya ke arah sang kakak.
__ADS_1
"Kamu kenapa berubah begini sih, Mit? Heran Ciara.
"Aku nggak punya waktu banyak! Ada perlu apa aku di paksa ke sini?" tanya Mita mengalihkan pembicaraan.
"Mita, boleh Tante tau keberadaan menantu Tante? Alia berusaha membujuk gadis yang duduk di depannya ini.
"Maaf, Tante aku nggak tahu!"
"Kalau kamu nggak tahu, lalu buat apa menghindar dari Aka?"
"Yaa karena aku nggak mau aja ketemu sama dokter!"
Alia berpindah duduk ke samping gadis itu. Ia meraih jari-jemarinya dan menggenggam lembut. "Tante mohon, izinkan kami tau keberadaan Fathia." Wanita tua itu mengiba.
"Tante sudah tahu?"
Alia mengangguk. "Tante baru saja tau masalah ini kemaren. Kalau Aka salah sudah mengusirnya, kamu boleh marah pada Aka tapi jangan hukum Tante," pinta Alia berderai air mata.
Mita mengalihkan wajahnya kesamping. Menahan air mata di pelupuk agar tak jatuh. Ia harus tampil kuat sebagai benteng pertahanan Fathia. "Nggak semudah ini, Tante!"
"Kenapa?"
"Maaf, aku nggak bisa menjelaskannya sekarang. Aku harus pergi." Mita bangkit hendak melangkah namun di tahan oleh Aka.
"Apa susahnya kamu memberi tahu kami akan keberadaan istri saya." Aka berkata dengan suara lantang dan muka merah padam.
"Istri? sejak kapan dia jadi istri dokter?" balas Mita menantang Aka.
"Sejak saya menikahinya!"
"Oh, jadi sekarang dokter baru sadar?! Kemaren kemana saja, HAH?!"
"MITA!!" Urat leher Aka tampak tegang.
"APA? Dokter pikir saya takut sama dokter?! NGGAK! Saya nggak akan pernah mengatakan di mana keberadaan Mbak Fathia pada pria bodoh seperti anda. Apa lagi anda sudah mengusirnya pergi dan lebih memilih mendengarkan wanita penipu itu!" Mita berapi-api meluapkan emosinya.
"Tapi Tante nggak pernah mengusir Fathia, malah Tante ingin membawanya pulang," sela Alia menangis.
"Maafin aku, Tante," kata Mita mengusap setetes air mata di pipinya.
"Mit, Mbak mohon kasih kami kesempatan untuk meminta maaf pada Fathia!" Ciara bersimpuh di kaki sang adik.
"Dia sudah memaafkan, Mbak dan juga dokter!"
"Jangan keras kepala seperti ini, Mit. Kami juga ingin bertemu dengannya," timpal Joe membawa sang istri berdiri.
Mita menggelengkan kepalanya. "Maaf, Om, Tante sekali lagi aku minta maaf. Ini sulit dan aku harus pergi. Ada hal lain yang sedang aku kerjakan." Ia melangkahkkan kakinya lebar meninggalkan semua orang dalam teka teki keberadaan Fathia.
"Mita." Aka mengejar gadis itu. Lalu ia bersimpuh dan menyatukan kedua tangannya di dada. "Saya hanya ingin menemui wanita yang sudah memberikan cinta dan kebahagiaan dalam hidup saya. Ingin mengatakan kalau saya mencintainya, izinkan kami bertemu, jangan hukum saya seperti ini." Laki-laki itu rela kehilangan harga dirinya bahkan sampai menangis dan mengiba untuk meluluhkan hati Mita.
Mita menghela nafas sambil berkacak pinggang. Setelah dipikir-pikir ia tak berhak memutuskan hal ini. "Baik, tapi sebelum dokter bertemu dengan Mbak Fathia, saya minta dokter cari beberapa bukti yang saya butuhkan. Besok pagi akan saya kirim E-Mail berkas-berkasnya."
Aka mengangguk masih dalam posisi bersimpuh ia mendekati Mita. "Terimakasih."
"Jangan senang dulu! Sebelum semua bukti terkumpul jangan temui saya atau paksa saya ke sini. Dokter bisa hubungin ponsel saya saat sudah mendapatkan semua buktinya."
"Baik akan saya usahakan."
"Satu lagi! Carikan saya buah delima putih."
Kening Aka berkerut. "Buat apa?"
"Cari aja, itu satu syarat kalau mau ketemu Mbak Fathia. Saya mau pulang, Assalamualikum."
"Waalaikumsalam," jawab Aka sambil menggaruk kepala memikirkan di mana ia harus mencari buah delima putih.
...****************...
Sumber di atas aku ambil dari Google.
Mohon maaf jika ada yang salah..
dan tolong dibenarkan secara baik.
Terimakasih.
__ADS_1
https://www.alkhoirot.net/2014/07/pernikahan-dengan-identitas-palsu.html?m\=1