ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Sembilan Dua


__ADS_3

"Assalamualaikum" panggil Fathia saat sampai di suatu tempat.


"Waalaikumsalam" jawab seorang ibu kira-kira usia 50 tahun. "Ada tamu, mari masuk," ajaknya.


Fathia menarik Aka untuk ikut masuk. Suaminya itu masih bertampang kesal. Dari tadi ia tak bertanya kemana gerangan sang istri membawanya kini.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Dona.


"Sebelumnya perkenalkan sa-." Fathia menjeda sebentar ucapannya karena hampir saja ia menyebut nama Fathia.


"Saya Alodie dan ini suami saya Aka. Maksud kami datang kesini untuk melihat-lihat keadaan panti ini siapa tau nanti kami bisa memberikan sedikit bantuan," jelas Fathia.


"Alhamdulillah. Saya sebagai pengurus dan kepala panti sosial sangat senang jika ada tamu yang mau berbagi bersama kami disini."


"Apa boleh kami lihat-lihat sebentar?"


"Boleh, silahkan! apa perlu saya temani?"


"Tidak perlu Buk, biar saya dan suami keliling berdua.Nanti kalau ada sesuatu yang mau kami tanyakan, kami pasti akan mencari Ibuk disini."


"Baiklah, silahkan Mbak dan Mas nya lewat sini."


Fathia dan Aka mengikuti langkah Bu Dona menuju sebuah taman yang berada di tengah-tengah panti sosial tersebut.


"Saya tinggal ya," izin bu Dona.


Sepeninggalan pengurus panti Fathia membawa Aka jalan-jalan di taman melihat penghuni panti sedang menikmati waktu sore mereka di sana.


"Maaf ya Mas, tadi aku nggak bermaksud untuk mempermalukan kamu di sana," pinta Fathia soal kejadian di showroom tadi.


"Awalnya aku pengen nolak tawaran kamu buat beli mobil, tapi aku masih mau menghargai pemberian dari suami aku.Soal kenapa aku memilih mobil yang harganya lebih murah itu karena menurut aku jika kita bisa membeli dengan harga yang lebih murah tapi fungsinya sama kenapa tidak.Lebih baik sisa uang nya kita simpan atau di gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.


Aka tak bergeming ia masih diam dengan tangan di saku celana masih mengikuti langkah istrinya sesekali ia mengedarkan pandangan.


"Aku tau kamu punya harga diri tinggi, takut derajat kamu turun di mata orang lain secara kamu pengusaha dan juga seorang dokter tapi hanya mampu membelikan istrinya mobil biasa.Kenapa kamu nggak meningkatkan derajat kamu di mata Allah?"

__ADS_1


Aka menatap Alodie palsu kenapa ucapan itu begitu menusuknya.


"Meningkatkan derajat di mata Allah jauh lebih baik dibandingkan di mata manusia.Salah satunya dengan kamu beramal Mas, semakin banyak amal kebaikan kamu maka akan semakin tinggi derajat kamu di mata Allah."


Fathia mengajak Aka melihat beberapa orang tua yang sedang istirahat di taman tersebut yang di dampingi oleh suster.


"Sore nek?" sapa Fathia lembut.


"Maaf Mbak, neneknya nggak bisa dengar," jelas suster pendamping.


"Oh.Neneknya sudah lama di sini?"


"Baru 7 bulan Mbak, saat itu Satpol PP datang membawa beliau kemari.Beliau di temukan di pinggir jalan dalam keadaan demam tinggi. Tak ada rumah, saudara, bahkan anak-anaknya tak mau tau," terang suster lagi.


Fathia tersenyum hangat. "Nenek nanti suami aku bakalan beliin nenek alat pendengar, jadi nanti nenek bisa dengar lagi," ujar Fathia meski sang nenek tak tau apa yang di bicarakan nya.


"Di sana khusu bayi ya sus?" tanya Fathia menunjuk beberapa suster yang sedang mengendong beberapa bayi.


"Ia Mbak, silahkan kalau mau lihat."


"Suster, ini bayi-bayinya sehat semua kan? umurnya berapa?"


"Yang ini umur tiga bulan Mbak tapi dia menderita kanker darah.Karena ibunya nggak punya biaya untuk berobat jadi anaknya di antar kesini dan sampai sekarang nggak balik lagi," jelas salah satu suster.


"Yang ganteng ini kenapa?" tanya Fathia mengendong bayi berumur 8 bulan.


"Cacat sejak lahir Mbak, kasusnya juga sama kayak bayi Lena di antar kemari karena orang tuanya nggak sanggup menanggung biaya rumah sakit."


"Sayang, lihat ini namanya Om Aka, suaminya Tante. Kamu tau nggak kalau suami tante punya rumah sakit yang gggeeedddee banget. Nanti kita berobat kesana ya gratis," kata Fathia mengajak bayi yang tampak tak normal itu bicara sambil ia gendong lalu di dekatkan pada Aka.


"Sus kami permisi kedalam dulu ya mau ketemu Ibu panti," pamit Fathia memberikan lagi bayi itu pada suster.


Fathia kembali berjalan bersama Aka menuju kantor panti sosial. "Kamu orang pintar Mas, pasti kamu tau apa maksud aku membawa kamu kesini. Aku nggak mau menggurui tapi hanya ingin mengingatkan suami aku."


Aka memeluk istrinya.Ia sadar alasannya untuk marah dan merasa kesal pada Alodie palsu sangat tak masuk akal. Hanya karena istrinya membeli mobil yang harganya lebih murah Aka merasa harga dirinya terinjak-injak.Seharusnya ia bersyukur di saat orang lain bangga memamerkan harta mereka tapi istrinya tidak.Istrinya lebih senang tampil sederhana tanpa menonjolkan harta yang di miliki oleh Aka. Seharusnya ia bangga punya istri yang masih memikirkan orang lain, masih peduli pada orang yang sedang kesusahan. Harta itu hanya titipan Allah dan kenapa tidak digunakan untuk membantu hambanya yang sedang kesulitan pastinya akan jauh lebih berkah dibandingkan ia membeli sepuluh mobil mahal untuk istrinya agar dipandang oleh orang dan mendapatkan pengakuan kalau ia orang kaya.

__ADS_1


"Maaf," pinta Aka di punggung Fathia.


Fathia mengusap punggung Aka. "Nggak perlu minta maaf Mas, kamu nggak salah apa-apa dan aku juga nggak merasa marah dengan sikap kamu."


"Terimakasih karena kamu sudah membuka mata aku, mau menyadarkan aku, mau mengingatkan aku," tambah Aka melepas pelukan mereka.


"Sama-sama Mas, tugas istri dan suami saling mengingatkan kalau salah satunya salah jalan," sambung Fathia mengelus rahang Aka. "Jadi, bagaimana?"


"Kita bicarakan dengan Ibu pengurus panti ini," ajak Aka bersemangat.


Setelah mendengar penjelasan dari Ibu Dona tentang kondisi panti sosial juga kebutuhan yang sangat mereka perlukan, Aka memutuskan untuk menjadi donatur tetap di sana. Ia juga akan membuka rumah sakitnya untuk pengobatan gratis bagi penghuni panti. Juga Aka akan memberikan obat, susu dan vitamin secara gratis bagi yang membutuhkan seperti lansia dan balita. Di tambah jika Ibu Dona merasa butuh sesuatu bisa hubungi langsung orang yang nanti di utus Aka.


"Alhamdulillah, Terimakasih banyak saya ucapkan," ujar Bu Dona menangis terharu.


"Sama-sama Buk, kami senang bisa membatu. Harta yang kami dapat bisa bermanfaat bagi banyak orang," ucap Fathia.


"Sekali lagi Terimakasih.Maaf kalau saya tidak bisa menyuguhkan sesuatu."


"Lain kali saja, kalau kami kemari sajikan nasi kuning buatan ibu," pinta Fathia.


"Ah, ia pasti. Tapi darimana Mbak tau kalau saya suka bikin nasi kuning?"


Fathia tersedak ludahnya sendiri. Kenapa sampai nggak sadar sih kalau sekarang ia adalah Alodie.Memang dulu Ia dan Ciara sering datang kesini untuk menghibur anak-anak dengan cerita atau dongeng. Kadang mereka mengajar menari di sini.Nah bu Dona suka sekali masak nasi kuning dan mereka berdua tidak pernah absen untuk mencicipinya sampai habis.


...----------------...


Huhuhuhu... 😩😫😭 sedih aku tuh kalian nggak mau kasih dukungan juga nggak mau meninggalkan jejaknya kalau habi baca. Please beri


LikeπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Komen πŸ–ŠπŸ–ŠπŸ–ŠπŸ–Š


FavoritπŸ–€β€πŸ’œπŸ’š


Hadiah 🎁🎁🎁🎁

__ADS_1


Terimakasih buat yang sudah memberikan dukungan dan meninggalkan jejaknya love you ❀😘πŸ₯Ί


__ADS_2