
"Ih, Mas solat dulu," tolak Fathia mendorong dada Aka yang sudah mengukung tubuhnya.
"Ah, ia aku lupa! yuk solat berjamaah," ajaknya.
Untuk pertama kali mereka menunaikan ibadah berjamaah juga sekalian Fathia dan Aka membaca ayat suci al Quran secara bergantian.Setelah itu Fathia mencium punggung tangan Aka dan di balasnya kecupan di kening Fathia.
Fathia melipat mukena dan membantu Aka membereskan sajadah.
"Mas, kok lampunya di mati in sih?" tanya Fathia yang hendak ganti baju.
"Ini kan masih ada lampu tidur sayang, lagian aku mau lanjut yang tadi," ajak Aka menarik istrinya ke atas kasur.
Tanpa aba-aba Aka mulai melancarkan aksinya. Jadwalnya malam ini sudah di atur sejak tadi, Aka ingin menghabiskan waktu bersama Fathia atau Alodie palsu. Sudah lama ia berpuasa sejak malam terakhir kali membayar Fathia di sebuah hotel.
Hhmm... rasanya... Aka kembali mengulang malam itu di sini bersama istri palsunya. Semua nya terasa sama, suaranya, desahannya, rintihannya. Tapi kenapa? Apa karena Aka mencoba membayangkan wanita itu lagi?
Tidak! ini tidak boleh!
__ADS_1
Aka menepis dugaannya itu dan kembali fokus pada permainan yang begitu nikmat.
Akhirnya Aka memuntahkan cairan cintanya di dalam rahim Fathia. Sambil melepas lelah ia tak melepaskan diri. Aka mencoba menatap dalam mata sang istri yang tengah berada di bawahnya. Matanya. Ia Matanya kenapa persis seperti mata wanita malam itu?
"Kenapa, Mas?" tanya Fathia mengelus rahang suaminya.
Aka tersenyum simpul. "Mata kamu!"
"Kenapa?"
Fathia menangkap sesuatu yang aneh dari ucapan Aka. Meski berupa pujian "Juga?"
Aka menarik diri dari tubuh istrinya tak lupa ia menutup tubuh polos itu dengan selimut. Aka pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Fathia masih heran, bingung sekaligus penasaran. Akhirnya ia pun menyusul Aka. "Kalau Mas mau cerita, aku siap dengarkan," kata Fathia lembut membantu Aka membersihkan diri.
"Kemarilah," ajaknya membawa Fathia masuk kedalam beth up untuk berendam melepas lelah.
__ADS_1
"Aku akan jujur, tapi please kamu jangan marah dan pergi.Meski kamu lupa ingatan tapi aku tak mau menutupi kesalahan aku dan kesalahan kita berdua," kata Aka menyiramkan air pada tubuh istrinya.
Fathia hanya mengangguk saja. Sekarang ia akan menjadi pendengar yang baik agar bisa tau kondisi rumah tangga Aka dan Alodie yang sebenarnya karena ia bukan paranormal yang bisa menebak.
"Aku sempat tidur dengan wanita lain karena kamu tidak pernah memberikan aku nafkah batin," jelas Aka meski terasa berat. Ia ingin memulai hubungan ini dengan kejujuran dan tak ada kebohongan lagi.
Fathia kaget bukan main. Bukan karena Aka tidur dengan wanita lain, tapi fakta kalau Alodie tidak pernah melayani suaminya di ranjang.
"Nggak mungkin! sekali pun nggak pernah?"
"Hanya tiga kali, pertama saat malam pengantin yang seharusnya aku jadi yang pertama ternyata tidak. Kedua dan ketiga hanya karena kamu meminta uang dalam jumlah yang banyak dan itupun terpaksa kamu lakukan," jelas Aka lagi.
Fathia hanya bisa geleng-geleng kepala. "Alasannya?"
"Dulu aku merebut kamu dari Galen. Tunangan kamu, bahkan kalian sudah berencana menikah. Kamu akhirnya menikah dengan aku karena terpaksa.Setelah itu kamu masih berhubungan dengan dia di belakang aku."
Anggukan kepalanya menandakan kini ia sudah tau masalah yang menimpa rumah tangga Aka dan Alodie. Tak perlu lagi ia mencari tau atau menerka-nerka.
__ADS_1