ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S3 bab 1


__ADS_3

🌺Lima bulan kemudian_____________


Karma itu seolah datang menimpa Alodie. Jika dulu diawal saat menjalani biduk rumah tangga bersama Aka ia selalu bersikap tak peduli pada sang suami. Bahkan cinta pun tak pernah ada untuk Aka. Kini semua berbeda saat ia kembali dan menempati kembali posisi yang selama ini dijalani oleh Fathia, Aka malah menganggapnya tak ada. Begitu pula dengan cinta Aka yang dulu sepenuhnya untuk ia seorang, tapi kini sepertinya hati itu sudah berhasil direbut oleh seseorang dan sudah pasti itu adalah Fathia.


Aka tak pernah bisa menerima kembali Alodie. Apa lagi untuk menjalani biduk rumah tangga dengannya. Meski ia sudah mencoba untuk menjadi istri yang sempurna di mata Aka tapi, Aka tetap menolak untuk memberikan kesempatan pada Alodie. Bahkan kini Aka sudah melayangkan gugatan cerai di pengadilan agama.


"Mas, ini apa?" tanya Alodie memegang sebuah surat dari pengadilan.


"Tanda tangani surat itu dan kita pisah," jawab Aka tegas saat ia menemui Alodie di rumah yang dulu ia tempati bersama Alodie palsu tapi kini rumah itu sudah menjadi hak milik Alodie asli.


"Kenapa kamu talak aku, Mas? Apa salah ku?" tanya Alodie tak paham. Padahal ia sudah berusaha menjadi istri seperti yang dimau Aka dulu. Bukan! Tapi ia malah mencoba untuk menjadi seperti Alodie palsu. Ia sampai harus belajar memasak agar bisa menyiapkan sarapan dan makan malam untuk Aka. Ia juga rela mengorbankan karir di dunia entertainment hanya untuk fokus mengurus suaminya.


Semua usaha dan perjuangannya sia-sia. Tak ada harganya bagi Aka. "Semua percuma, sudah telambat!" Itulah kata-kata yang di ucapkan Aka padanya ketika berusaha merebut kembali hati sang suami.


"Kamu bukan dia, dan sampai kapan pun kamu nggak akan bisa seperti dia!" jerit Aka kesal saat Alodie mendekatinya.


Dua bulan sejak Fathia pergi. Aka pun pindah kerumah orang tuanya. Menceritakan semua hal yang sudah terjadi dalam biduk rumah tangganya. Seluruh keluarga Aka kaget dan tak menyangka. Bahkan Mama Alia sampai jatuh sakit memikirkan di mana kini menantu kesayangannya.


Ia pun sampai marah pada sang anak karena membiarkan sang istri pergi begitu saja. Membuat Aka menjadi serba salah. Jujur ia pun menyesal karena mudahnya tersulut emosi. Kenapa tak memberikan kesempatan untuk sang istri palsunya menguraikan benang kusut ini.


"Kamu mau balik sama perempuan yang sudah menipu kamu itu? Iya?!" tanya Alodie emosi.


"Sebelum kamu bilang dia penipu,kamu harus ngaca,Al! Kamu sendiri juga memanfaatkan keadaan ini kan! Malah kalau seandainya dia nggak jujur sama aku, mungkin kamu juga nggak akan cerita dan jujur soal kamu yang lumpuh dan menjalani terapi di Singapur. Dan kalau pun aku mau balik sama dia emang kenapa?"


"Nggak akan bisa! Pernikahan kalian nggak sah!" Dan satu lagi aku nggak mau tandatangani surat cerai ini," emosi Alodie merobek surat dari pengadilan.


"Terserah! Yang pasti sidang cerai kita tetap berlangsung." Tak peduli pada Alodie, Aka pun pergi dari sana.


πŸ₯­πŸ₯­πŸ₯­πŸ₯­


"Coba kamu cari Mita," usul Ciara saat Aka menanyakan keberadaan sang istri palsu. Ciara pun sudah menceritakan pada Aka kalau Alodie palsu adalah sahabatnya dulu yang pernah hilang.


"Emang Mita nggak ada kesini?" tanya Aka frustasi menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu rumah Ciara dan Joe.


Ciara menggeleng lemah lalu ia pun meneteskan air mata.


"Saat istri lo pergi dari rumah, Mita datang kesini memberikan sebuah surat untuk Ciara dari Fathia. Setelah itu Mita bilang kalau ia akan selalu mendampingi Fathia, tapi Ciara marah dan mereka bertengkar hebat. Sejak saat itu Mita nggak pernah ke sini lagi," jelas Joe menggosok punggung sang istri berusaha menenangkan.


"Aku juga nyesal sudah marah sama Fathia. Ternyata si Alodie itu juga ikut memanfaatkan keadaan ini. Aku mau ketemu Fathia dan minta maaf, tapi aku nggak tau dia ada di mana," kata Ciara berusaha menyusut air mata.


"Kami rasa mita Mita tau di mana Fathia sekarang," sambung Joe.


"Kalian nggak pernah cari Mita ke kampusnya?"


"Sudah, tapi dia menghindari kami. Akhirnya kita mengalah," hembus Ciara pasrah. "Tapi aku terus kirim pesan pada Mita kalau aku mau ketemu sama Fathia dan minta maaf."


"Dibaca?" tanya Aka penasaran.


Ciara mengangguk. "Tapi nggak ada balasan sampai sekarang dan dia juga nggak datang. Sepertinya Mita sengaja menghindar."


"Saran gue mending lo gunain kekuatan lo deh Ka," ucap Joe.


"Maksud lo?"


"Yaa, lo sewa orang atau apalah buat cari Mita dan istri lo itu."

__ADS_1


"Benar Mas Aka. Siapa tau dengan begitu kita bisa lebih cepat ketemu sama Fathia," sosor Ciara.


Aka mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gue minta Jio buat cari detektif swasta," ujar Aka menghubungi asprinya itu.


Ciara dan Joe tampak mengangguk setuju.


πŸ₯‘πŸ₯‘πŸ₯‘πŸ₯‘


"Buat apa dokter culik saya?" kesal Mita duduk di depan meja kerja Aka saat ia dibawa paksa oleh dua orang laki-laki bergaya preman.


"Saya mau tau di mana istri saya?!


Mita mendengus kesal. "Kenapa nggak suruh mereka buat cari Mbak Fathia?" tunjuknya pada dua orang preman tadi. "Kenapa malah menculik saya?"


"Gimana mau cari orang dengan identitas palsu dan juga wajah aslinya nggak ada," geram Aka.


"Dokter kenapa emosi sama saya?"


"Jawab, di mana istri saya!"


"Istri palsunya yang sudah di usir itu! Karena istri aslinya sudah datang."


"M I T A," hardik Aka dengan mengebrak meja.


"Ok, ok," jawab Mita berdiri sambil mengangkat kedua tangannya seolah-olah ia menyerah. "Tapi sebelum itu saya mau dokter bantu saya dulu buat cari beberapa bukti yang saya butuhkan," katanya seraya menyerahkan satu flashdisk.


"Bukti apa?"


"Suruh orang-orangnya cari beberapa bukti. Semua yang mereka perlukan ada di sana," jelasnya menunjuk flashdisk tadi dengan dagu.


"Sampai semua bukti terkumpul! Kalau gitu saya pulang dan jangan pernah paksa saya lagi untuk datang kesini. Dokter punya ponsel untuk hubungin saya," tegas Mita meninggalkan kantor Aka.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Selama hampir 3 minggu detektif swasta yang disewa Aka berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang diminta Mita.


"Ini, Pak," ucapnya seraya menyerahkan semua bukti pada Aka.


"Bukti apa ini," tanya Aka mengerutkan dahi. Membuka satu persatu tapi ia masih belum paham.


"Bukti kalau Mbak Alodie selamat saat kecelakaan itu terjadi dan ia berhasil keluar sebelum mobil meledak," jelas Boni si detektif swasta.


"Lalu?"


"Sepertinya dia sengaja memindahkan Mbak Fathia kesisi kemudi dan meninggalkannya di sana."


"Maksudnya Alodie sengaja ingin membunuh Fathia?!"


"Membunuh mungkin bukan, tapi jadi korban kecelakaan saja."


Aka menghempaskan punggungnya kesandaran kursi kerja sambil mengusap wajah frustasi. "Kamu boleh pergi," usirnya pada Boni.


Aka bangkit lalu berdiri memandangi suasana perkotaan dari kaca ruang kerjanya. Rasa sesal pun semakin bertambah. Sebagai laki-laki is begitu bodohnya bisa sampai ditipu berkali-kali oleh Alodie. Bahkan di saat ia bercerita dan Aka menuntutnya untuk jujur, wanita itu masih saja tetap berbohong soal ia yang selamat saat kecelakaan.


Aka mengambil ponsel di atas meja lalu menghubungi satu nomor.

__ADS_1


Tut... tut... tut...


πŸ“±Sudah dapat buktinya?"


Sosor Mita di sebarang sana.


πŸ“±Sudah.


πŸ“±Ok, silahkan dokter pelajari dulu. Besok pagi kita ketemu dan bicarakan masalah itu.


Lalu Mita pun memutus sambungan telpon secara sepihak.


Aka menghela nafas berat. Ia kembali duduk di singgasana dan mulai mempelajari bukti-bukti yang diberikan Boni tadi.


🍌🍌🍌🍌


Jam sepuluh malam Aka mendatangi rumah Alodie. Langkahnya begitu besar menandakan ia tak sabar untuk segera menemui wanita itu.


"Bukak pintunya," teriak Aka menggedor-gedor pintu rumah.


Agak lama, mungkin orang di dalam sudah pada tidur. Tak lama tampak seorang ART berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk Aka.


"Mana Alodie?" tanya Aka pada ART


"Ada apa, Mas," jawab orang yang dicarinya.


"Jelaskan ini apa?" geram Aka melemparkan sebuah kertas tepat di wajah Alodie.


Mata Alodie mulai membaca kata dan kalimat yang tertera di kertas itu. Keningnya tampak mengerut raut wajahnya berubah takut dan cemas.


"Mas, aku bi-"


"Anak siapa yang kamu gugurkan itu? Anak saya atau anak selingkuhan kamu?" serang Aka.


Alodie hanya menunduk bibirnya bergetar seolah takut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aka.


"JAWAB!" bentak Aka tak sabar.


Sejak masalah ini muncul Aka berubah menjadi orang yang gampang emosian. Mudah marah dan cepat meledak. Bisa dibilang ia bukan dirinya lagi sejak ditinggal Fathia. Wanita yang diam-diam berhasil mencuri hatinya tanpa ia sadari.


"Anak kamu, Mas," jawab Alodie berbisik namun dapat didengar oleh telinga Aka nan tajam.


Kkkkrraaannngggg________


Satu keramik besar di sampingnya pecah begitu saja ketika Aka melayangkan pukulan di sana. Sebagai pembalasan karena tak mungkin ia memukul seorang wanita.


"Saya akan masukkan ini sebagai bukti di pengadilan nanti untuk sidang perceraian kita," tekan Aka lalu pergi meninggalkan Alodie.


"Mas, tunggu, Mas! Aku mohon maaf, apalagi kejadian itu sudah lama, Mas. Saat-saat kita baru menikah dan saat itu aku belum mencintai kamu," jelas Alodie mengejar Aka sampai ke mobil.


Aka tetap berjalan acuh tak peduli pada Alodie yang menarik tangannya atau menghadang langkahnya.


"Mas, kasih aku kesempatan buat kita ulang semuanya karena sekarang aku cinta sama kamu, Mas," pintanya memukul-mukul kaca mobil Aka yang mulai melaju menjauh dari halaman rumah.


"Mmaaasss," teriak Alodie tak sanggup lagi mengejar Aka.

__ADS_1


__ADS_2