ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 9


__ADS_3

Hampir semua supermarket dan minimarket yang menjual buah di kunjungi Aka hanya untuk mencari buah delima putih permintaan Mita. Selama dua hari ia mencari keberadaan buah tersebut, bahkan toko buah besar sampai kecil juga didatanginya. Pekerjaan di kantor terbengkalai begitu saja, untung ada Beno dan Jio yang siap menghandle.


"Mah, coba tanya kek sama teman-teman, Mamah yang puya perkebunan," pinta Aka. Ia merasa putus asa tak kunjung mendapatkan buah tersebut.


"Lo kayaknya dikerjain si Mita deh, Ka," ujar Beno. Sepulang kantor ia sengaja mampir untuk meminta tandatangan Aka di beberapa dokumen.


"Bisa jadi kali, ya. Dia tau cari buah delima merah aja susah malah nyuruh gue buat cari delima putih," sungut Aka.


"Jadi buahnya belum dapat juga sampai sekarang?" Tiba-tiba Mita pun datang. Aka dan Beno yang tengah duduk di ruang tamu pun kaget. Sedangkan Alia memang sengaja menunggu kedatangan gadis itu.


"Belum!" Tampang Aka semakin kesal.


Mita menipiskan bibir berlalu begitu saja meninggalkan ruang tamu. Ia mengikuti langkah Alia menuju dapur.


"Tante masak banyak," ujar Alia memberikan rantang tingkat pada Mita.


"Dokter nggak tau kan, kalau aku minta ini buat Mbak Fathia?"


Alia menggeleng. "Tante bilang ini buat kamu." Seraya berbisik. "Kapan, Tante bisa ketemu dia?"


"Tante sabar, ya. Kita tunggu orang suruhannya dokter Aka mendapatkan bukti-bukti yang aku minta."


Alia tersenyum kecut sedetik kemudian wajahnya pun murung.


Mita sebenarnya tak tega, tetapi mau bagaimana lagi. Ia pun kini tengah berjuang untuk bisa kembali bersama Fathia. "Sekali lagi aku minta maaf," pintanya memeluk Alia.


Alia menghembuskan nafas. "Semoga menantu, Tante baik-baik saja."


"Aamiin."


Mita dan Alia kembali menuju ruang tamu.


"Dokter, usaha dong cari buahnya!" Mita mendesak Aka.


"Udah, Mit. Tapi nggak ada, yang ada cuma delima merah itu pun jarang."


"Sebar di sosial media aja. 'Seorang pengusaha dan dokter muda sedang mencari buah delima putih untuk i-' "


"Untuk siapa?" tanya Beno penasaran.


"Nggak jadi deh. Pokoknya cari sampai dapat! Dua hari lagi aku kesini. Tante, aku pergi." Mita mencium punggung tangan wanita itu lalu bergegas keluar dari rumah.


"Cari, ya, Ka! tambah Alia pergi dari sana memasuki kamar.

__ADS_1


"Usul si Mita boleh juga tuh, Ka! Dari pada lo capek kesana-kemari, mendingan gunakan kekuatan sosial media," saran Beno.


"Gue telpon si Jio dulu deh, minta dia yang sebar. Gimana caranya tuh buah harus dapat!"


"Terus bukti-bukti yang diminta Mita udah dapat?"


Aka mengeleng sambil fokus pada layar ponselnya. "Mereka butuh waktu, katanya tiga minggu."


"Lama amat!


"Yaa itu udah waktu paling cepat bagi mereka, karena katanya nggak ada saksi mata. Gue nggak ngerti si Mita cari bukti apaan." Aka memang belum mengetahui persoalan ini. Mita berjanji akan menjelaskan saat semua bukti-bukti terkumpul.


"Tapi lo sabar nggak?"


"Sesabar-sabarnya ini. Besok gue balik kantor deh, pusing kalau di rumah. Waktu lama amat putarnya," resah Aka melipat kedua tangannya di belakang kepala.


"Bagus itu. Sekalian tuh kumis sama jambang di bersihin, udah kayak laki nggak ke urus aja lo," ledek Beno.


"Emang!!"


🎸🎸🎸🎸


Berita Aka yang sedang mencari buah delima sudah berhasil menjadi trending di sosial media. Hanya dalam satu hari ia mendapatkan kiriman buah delima putih. Tak banyak tapi, ada sekitar 5 kiloan sebab buah tersebut memang jarang ada dan susah. Bibir aka tersenyum mekar, wajahnya berseri-seri.


"Kamu benaran hamil?" tanya Galen.


"Boro-boro hamil. Di sentuh aja nggak!" Alodie memasang wajah bete dan kesal. Mau di jelaskan malu rasanya, kalau di biarkan malah semakin banyak orang yang salah paham. Ah sudahlah, nanti juga beritanya akan hilang sendiri.


Ia terpaksa harus menghindari awak media dan wartawan yang meminta konfirmasi akan kebenaran berita kehamilannya.


"Malu gue!" umpat Alodie saat di kantor Rike.


"Terus, kamu mau bagaiman? Apa mau mereka tau soal perceraian kalian? Setidaknya berita ini bagus buat menaikan lagi nama kamu, juga dapat menutupi kabar kecil soal keretakan rumah tangga kalian," jawab Rike.


"Pokoknya aku nggak mau orang-orang pada tau bahwa Mas Aka menceraikan aku."


"Makanya biarkan saja berita ini menjadi heboh. Toh juga Aka nggak peduli kan. Dia nggak mau kasih statement." Rike membujuk Alodie agar memanfaatkan kondisi ini untuk mendapatkan kembali popularitasnya yang sempat turun karena berhenti dari dunia entertaintment beberapa bulan yang lalu.


🎻🎻🎻🎻


"Ini buah delimanya." Aka memberikan sekantong plastik buah delima hasil kiriman netizen.


"Cukup satu aja," kata Mita mengambil satu buah delima dalam kantong itu.

__ADS_1


"Terus yang sebanyak ini buat apa?"


"Disimpan aja dulu, siapa tau nanti pengen lagi. Aku pergi ya, nggak bisa lama-lama." Mita mampir sebentar sampai gerbang rumah Alia hanya untuk mengambil buah pesanannya.


"Eh, tunggu dulu," tahan Aka.


"Apa lagi sih dokter? Saya buru-buru nih." Kesal Mita menahan rem motornya.


"Saya ikut, boleh?"


"Nggak! Saya mau ketemu teman-teman, ngapain dokter ikut?"


"Kamu bohong pasti! Mau ketemu istri saya kan?!"


"Yakin amat!" ledek Mita mencibir, membuat Aka kesal. Gadis itu memacu motornya tanpa aba-aba hingga Aka semakin tambah kesal dibuatnya.


🎨🎨🎨


Selama menunggu bukti-bukti yang diminta Mita terkumpul, Aka semakin uring-uringan. Entah kenapa ia malah kadang suka menangis nggak jelas. Rasa rindu itu serasa membunuhnya, ia tak kuat lagi jika harus menunggu lebih lama.


"Saya mau besok kalian sudah menyerahkan bukti-itu itu." Penuh intimidasi Aka menunjuk orang suruhannya. Ia tak peduli bagaimana caranya bukti itu harus segera didapat dan di serahkan pada Mita.


"Tapi, Pak kami butuh waktu sedikit lagi dan semua bukti bisa terkumpul."


"Kalau begitu kalian boleh pergi sekarang dan dapatkan semua bukti segera. Batas waktu sampai besok malam, saya tunggu di rumah." Detektif swasta itu hanya bisa menghembuskan nafas berat. Susah kalau sudah berurusan dengan orang yang punya kuasa seperti Aka.


"Baik, kalau begitu kami permisi." Mereka pamit dan meninggalkan ruang kerja pria itu.


"Ka," panggil Beno yang tiba-tiba masuk.


"Hhmmm." Aka tak mengalihkan pandangannya dari jendela kaca.


"Itu orang tadi udah kasih bukti?"


"Belum, katanya masih butuh waktu."


"Kata mereka cuma butuh waktu tiga minggu?"


"Makanya tadi gue minta besok malam semua bukti sudah di dapat."


"Bagus itu, gue juga males lihat lo marah-marah nggak jelas di kantor. Eh di rumah malah nangis kejer," ledek Beno duduk di sofa. "Yang lagi malarindu."


Aka membalik badan dari tempatnya berdiri ia melangkah menghampiri Beno. "Bacot lo emang kadang suka ke-"

__ADS_1


"Suka benar! Akuin aja deh, lo emang lagi rindu beratkan sama istri lo itu?!"


__ADS_2