
Seluruh keluarga besar Aka tak ada yang tau akan masalah ini. Karena Aka memilih untuk menutupi kenyataan dari pada harus membuat semua keluarganya merasa tertipu dan kecewa. Bahkan ia sendiri masih sulit untuk bisa menerimanya. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati kecilnya, tapi apa? Aka sendiri merasa bingung.
Aka berusaha mencoba untuk melupakan dan menjalani hari seperti biasa bersama Alodie asli. Memang tak ada yang berbeda jika dilihat dari mata orang lain. Semua masih sama, hanya saja hari demi hari mereka mulai merasakan sedikit perbedaan sikap dan sifat Alodie.
"Alodie mana, Ka?" tanya sang Mama saat Aka berkunjung kerumah orang tuanya.
"Syuting dia, Mah. Mungkin bentar lagi sampai sini," jawab Aka mendudukkan diri di kursi meja makan.
Belakangan Aka memang lebih sering makan malam di rumah sang Mama.
"Malam semua, maaf aku terlambat," sapa Alodie yang baru saja datang.
"Malam, Al. Kamu makin sibuk ya sekarang?" tanya Mama Alia.
"Hehe gitu lah Ma. Sejak aku mendapatkan penghargaan banyak tawaran syuting. Sayang kalau di tolak," jawabnya sambil mengisi piring untuknya sendiri.
"Aka kok nggak di ambilin?" tanya Mama Alia.
"Hah, oh aku lupa. Maaf ya, Mas. Sini aku ambilin," ujarnya seraya bangkit mengambil piring Aka.
"Nggak usah, aku bisa sendiri," ketus Aka.
Entahlah, meski ia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja selama dua minggu ini terhadap Alodie tapi tetap Aka tak bisa. Kesal, marah dan kecewa masih bersarang di hatinya membuat ia lebih mudah meledak-ledak.
"Kamu kenapa sih, Mas? Selalu aja bawaannya ketus sama aku?" heran Alodie.
"Makan! Kalau mau ngobrol nanti di rumah."
Alodie hanya bisa menghela nafas. Sabar itu adalah kuncinya.Sedangkan Mama Alia menatap heran perubahan sikap sang putra. Aka lebih banyak diam dan wajahnya kadang tampak menyimpan amarah. Bahkan di kantor para karyawan mulai merasa takut akan auranya.
"Aku mau ke kamar aku dulu sebentar," izin Aka meninggalkan meja makan.
Alia memandangi punggung Aka sampai menghilang di balik tembok. "Kalian lagi ada masalah?" tanya Alia pada Alodie.
"Nggak, kita baik-baik aja kok Ma."
"Terus Aka kenapa? Belakangan Mama lihat dia lebih banyak diam."
Alodie hanya mengangkat bahu sambil menyuap makanan ke mulut.
"Mama juga mau tanya, kenapa kamu sekarang malah lebih sibuk syuting ketimbang ngurus suami kamu? Padahal kemaren-kemaren kamu nggak gini loh. Apa-apa itu Aka, semua yang mau kamu lakukan pasti izin dulu sama Aka. Juga biasanya kamu masak buat Aka kan?"
"Hah, masak?"
"Iya, kok kamu aneh sih Al? Kenapa sekarang kamu nggak masak lagi di rumah?"
"Eeemm itu Mah, nggak ada waktu lagi," alasan Alodie.
__ADS_1
Alia menggelengkan kepala. "Jagan kembali seperti kamu yang dulu, Al."
"Maksud Mama?"
"Dulu kamu juga gini kan?! Sibuk syuting dan lupa ngurus suami sebelum kamu kecelakaan. Tapi setelah kecelakaan kamu berubah jauh dan itu buat Mama dan Papa senang. Apa lagi Aka, dia begitu bahagia. Jadi Mama harap kamu jangan merusak rumah tangga kalian hanya karena karir kamu sekarang melejit."
"Ia, nanti aku bicarakan sama manager aku buat kurangin job," jawab Alodie.
ππππ
"Mas, ngapain kamu tadi di kamar rumah Mama?" tanya Alodie saat mereka sudah sampai di rumah.
"Itu urusan ku. Kamu nggak perlu tau," jawab Aka kembali ketus.
"Mas, kamu kenapa sih? Dari aku datang kamu bawaannya marah mulu sama aku. Nggak ada manis dan baiknya. Kamu kenapa sih?" heran Alodie.
Aka tak bergeming. Ia tampak mengambil pakaian dari dalam lemari dan membawanya menuju kamar mandi.
"Mas, jawab aku!"
"Aku nggak tau!" bentak Aka. "Tolong jangan paksa aku, aku masih butuh waktu."
"Butuh waktu buat apa Mas? Aku ini istri sah kamu loh, kenapa kamu perlakukan aku seperti orang lain sih?"
Aka hanya menggosok wajahnya frustasi. Ia pun tak tau apa yang diinginkan dari Alodie. Ia bingung otak dan hatinya tak lagi sejalan.
"Kamu mau aku bisa masak kayak Alodie palsu itu?
Aka hanya mengangguk.
"Aku mohon lupakan semua kejadian dan masalah ini. Kasih aku kesempatan untuk bisa menjadi istri yang lebih baik," pintanya lagi memeluk Aka.
ππππ
Sudah hampir satu bulan Alodie belajar memasak. Tapi tak ada satupun masakan yang bisa disajikan untuk Aka. Kadang masakannya masih ada yang gosong atau rasanya asin dan ada juga rasanya nggak jelas sampai Aka sakit perut dan muntah akan hasil masakan Alodie.
Begitu pula dengan janjinya yang ingin membantu Aka bersiap berangkat ke kantor. Bagun aja ia masih sering kesiangan bahkan kadang sudah di bangunkan oleh suaminya tetap saja mata Alodie terasa berat alhasil ia tertidur kembali dan melupakan tugasnya sebagai seorang istri.
Untuk pekerjaan Alodie masih menyelesaikan beberapa kontrak yang sudah terjalin. Tapi Aka memintanya untuk pulang saat sore hari dan menunggunya pulang dari kantor. Tapi lagi-lagi Alodie melupakannya. Atas bujukan Galen dan ajakan teman-teman Alodie masih sering pulang larut malam.
Aka menghela nafas berat saat menemui rumahnya kosong. Tak ada orang yang menantikan kepulangannya. Entah kenapa kakinya melangkah ke arah meja makan. Berharap makan malam sudah tersaji di sana.
"Mikirin apa sih gue. Siapa juga yang mau masak makan malam," gumam Aka seorang diri. Ia kembali merasa kecewa, kesal dan marah. Langkah gontai Aka memasuki kamar. Kembali hati kecilnya berharap seseorang akan menyambutnya di sana.
Tak ada hanya ruang hampa nan sunyi sepi yang menyapa kehadirannya. Begitu pula dengan hati kecilnya yang merasakan kehilangan sesuatu. Berkali-kali Ia menghembuskan nafas berat berharap dadanya bisa terasa lebih lega.
Tak mau emosi semakin menguasai Aka menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu ia memilih untuk menghadap sang maha kuasa meminta kelapangan hatinya. Tak lama saat sedang membaca kitab suci Al Quran Aka mendengar deru mesin mobil Alodie.
__ADS_1
"Sadaqallahul azim," ucap Aka mengakhiri kajinya.
Ia menyongsong sang istri ke pintu depan. "Dari mana saja kamu?" tanya Aka berpangku tangan di dada.
"Syuting, kan kamu udah kasih izin," jawab Alodie santai.
"Kamu lupa, kalai izinnya cuma sampai sore?"
"Maaf, Mas. Aku sengaja syuting sampai malam biar cepat selesai."
"Sana ganti baju. Habis itu masak, aku lapar," pinta Aka.
"Duh, Mas mendingan kita pesan makanan aja deh. Kayaknya aku emang nggak bisa masak sama sekali. Jadi aku udah nggak ikut les masak lagi."
Aka menghembuskan nafas kesal. Ia sengaja tak makan di kantor karena begitu berharap sang istri sudah menunggunya di rumah dan mereka akan makan malam bersama. Tapi apa? Yang ada malah ia yang menyambut Alodie pulang. Bahkan sampai harus menahan rasa lapar karena begitu menginginkan masakan istrinya.
"Kamu pesan sendiri aja ya, Mas. Aku mau buru-buru mandi," ujar Alodie meninggalkan Aka dengan buru-buru.
πΏπΏπΏπΏ
"Pak, ini ada kiriman makan siang," ucap Jio pada Aka.
"Dari siapa?" tanya Aka fokus pada laptopnya.
"Nggak tau pengirimnya pak, tadi di titipin di meja resepsionis."
"Ok, tarok di meja!"
"Saya permisi," izin Jio keluar dari ruang kerja Aka.
Aka bangkit dari duduknya melangkahkan kaki menuju sofa dan menatap lama sekotak makan siang yang entah dari siapa. Mamanya tak mungkin mengirim sebab beliau sedang berada di luar kota menemui sang papa. Alodie lebih nggak mungkin lagi karena wanita itu nggak bisa masak sama sekali meski sudah les dan kursus.
Hanya satu yang sering mengiriminya makan siang yaitu Alodie palsu. Buru-buru Aka membuka kotak tersebut. "Ini kan makanan kesukaan gue di restoran tempat kami sering makan dulu," gumam Aka sendiri.
Hati kecilnya bersorak riang. Tapi rasa gengsi dan emosi masih berusaha mempengaruhinya untuk membuang jauh makanan itu. Entah kenapa keinginannya untuk menyantap makanan itu begitu kuat.
Bibir Aka tersenyum mekar setelah ia menghabiskan makan siang itu meski awalnya tampak ragu. Ia menghembuskan nafas lega. Dadanya terasa lebih ringan dari biasa. Sedikit keceriaan tergambar di wajah Aka.
Terlintas sebuah pertanyaan di benaknya tentang kabar akan sang istri palsu. Kemanakah dia?
Di mana dia sekarang?
Bagaimana kabarnya?
Secepat kilag Aka mengusir pertanyaan itu dari pikirannya. Ia sedang berusaha untuk melupakan wanita itu dan memberikan kesempatan pada Alodie yang jelas-jelas adalah istri sahnya.
"Besok kalau ada yang kirim makanan lagi, buang aja," ucap Aka menghampiri Jio di mejanya.
__ADS_1
"Baik pak," angguk Jio.
Meski terasa berat melakukan hal itu, tapi ia harus. Aka masih berusaha memungkiri hati kecilnya yang terus berharap akan kehadiran sang istri palsu.