
Rencananya Alodie palsu dan Aka akan pulang kerumah mereka sore ini, tapi di karenakan Adnan meminta Aka datang kekantor Central Kesehatan untuk ikut meeting jadinya Aka pulang kerumah orang tuanya menjemput Alodie palsu agak malam.
"Mas Aka sama Papa sudah makan?" tanya Fathia menyuguhkan secangkir kopi untuk Aka dan secangkir teh untuk papa mertuanya yang juga ikut meeting bersama tadi.
"Sudah Al, tadi sebelum pulang Papa, Aka, Adnan sama Beno makan malam dulu di restoran," jawab Faris.
"Jadi kemasin barangnya tadi?" tanya Aka pada sang istri.
Fathia mengangguk.
"Kalau gitu kita berangkat sekarang aja, takut nanti makin malam," ajak Aka.
"Nggak nginap sini lagi aja semalam. Kamu kan capek Ka, baru pulang kerja," tawar Alia.
Aka menggeleng. "Kasian Alodie Mah, udah capek beresin pakaian masak mau di bongkar lagi."
"Biar lah Ma, mereka mungkin kangen sama rumahnya juga butuh waktu berdua," timpal Faris.
"Aku ambil koper sama panggil bi Runi dulu ya Mas," kata Fathia meninggalkan ruang tamu.
Aka mengambil alih koper dan tas dari tangan istrinya untuk di bawa ke depan. "Kita jalan dulu Ma, Pa," izin Aka pamit setelah memasukkan koper mereka kedalam bagasi mobil.
"Aku pulang ya Ma," pamit Fathia memeluk mertuanya.
"Ia, maaf ya Mama nggak jadi ikut. Kapan-kapan nginap sini lagi ya!"
"Pasti," jawab Fathia beralih menyalami papa mertuanya.
Aka dan Alodie palsu serta bi Runi menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah Faris menuju rumah mereka yang selama 2 bulan di tinggalkan.
π§π§π§π§
"Saya langsung ke kamar ya Mbak, Mas," izin bi Runi saat mereka sampai.
Aka dan Alodie palsu megangguk.
"Ayok, kita lihat ruang kerja kamu dulu," ajak Fathia menarik tangan suaminya.
Masuk ke ruang kerja hal pertama yang mencuri perhatian Aka adalah pintu kaca besar yang mengarah ke taman. Kedua, rak buku besar dari kayu tampak senada dengan cat tembok yang berwarna putih kombinasi coklat soft. Semua furniture ruang kerjanya tampak baru bahkan meja kerja juga kursi di ganti oleh sang istri.Hanya komputer berlogo apel di gigit yang tak di ganti oleh Fathia. Takut nanti ada berkas atau data kerja suaminya hilang jadi ia tak berani menggantinya dengan yang baru. Sofa panjang warna putih di letakkan di sudut lain.
__ADS_1
"Suka nggak?" tanya Fathia bergelayut manja di lengan Aka.
Aka mengangguk dan menciumi puncak kepala Alodie palsu. "Makasih ya, bagus banget aku suka!"
"Nanti kalau kamu lagi bosan atau butuh ide nah pintu kacanya bisa di buka lebar jadi kamu bisa jalan-jalan di taman kecil ini sambil ngerokok. Dari sini juga bisa langsung ke halaman depan tempat parkir mobil," jelas Fathia mengajak Aka berkeliling. "Sofa panjang ini buat tamu, misalnya mas Ben atau Jio datang kesini mereka bisa duduk santai sambil bahas kerjaan. Karena buku kamu banyak yang berserakan di ruang kerja atas jadinya aku pilih rak buku besar ini, jadi semua buku-buku kamu ketata rapi dan carinya juga gampang."
"Istriku ini emang the best deh, tau aja apa yang terbaik buat suaminya," gemas Aka mencubit pipi Alodie palsu.
"Ia dong, pokoknya aku bikin ruang kerja ini senyaman mungkin buat kamu, supaya kerjanya makin semangat. Yuk kita lihat kamar," ajak Fathia berjalan ke arah connecting door. "Dari ruang kerja kamu bisa langsung ke kamar kita."
"Wwaahh... kamar kita gede banget honey!"
"Sengaja, kan kamu suka kamar yang besar. Sekalian nanti kalau kita punya baby bisa main di sini."
"Ada pintu kaca juga di sini?"
"Ia, sama kayak di ruang kerja kamu tadi. Cuma ini langsung mengarah ke halaman belakang dan taman sama kebun kita. Kalau mau tidur bisa di tutup tirainya atau di buka. Pagi-pagi kalau mau ngeteh atau ngopi juga bisa di sini."
"Itu connecting door lagi?" tanya Aka menunjuk pintu lain.
"Itu ke kamar baby, yuk kita lihat!"
"Nggak sabar Mas! lihat barang-barang bayi lucu-lucu semua bawaannya pengen beli. Ya udah aku beli aja, cuma baby tuffel, box baby, lemari, sama bouncer aja kok. Kalau baju-baju sih belum, tunggu baby-nya jadi dulu."
Aka memeluk sang istri. "Segitunya, kamu udah nggak sabar ya hamil dan jadi ibu?"
Fathia mengangguk di dada Aka.
Tapi yang sabar ya, kita masih nunggu satu bulan lagi. Habis itu kita bisa langsung program," kata Aka menangkup wajah istrinya.
"Mudah-mudahan nanti program nya berhasil ya Mas, aku bisa hamil secepatnya."
"AMIN. Tapi kamu juga harus siap ya honey, kalau nanti di awal program hamilnya gagal jangan sedih, jangan kecewa apalagi sampai stres. Pokoknya santai aja, kita cuma bisa usaha dan berdoa hasilnya kita serahkan sama Allah."
"Ia Mas, insyaallah aku pasti ikhlas apa pun nanti hasilnya. Kalau gagal ya kita coba lagi!"
"Ya udah kalau gitu aku mau mandi dan ganti baju. Yuk balik kamar!"
"Ayok, aku juga mau pindahin baju-baju kita dalam koper ke lemari."
__ADS_1
π―π―π―π―
Pagi ini Fathia kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa di rumah sendiri. Kalau kemaren di rumah mertua ia tak di perbolehkan oleh Alia untuk menginjakkan kaki di dapur, alasannya Alodie harus banyak-banyak istirahat dan nggak boleh mengerjakan pekerjaan rumah karena Alia ingin menjaga menantunya yang baru saja habis keguguran.
"Pagi Mbak," sapa Mita yang baru saja tiba.
"Pagi Mit!"
"Pagi ini aku ke kampus sebentar ya, Mbak kan syutingnya siang."
"Ia, tapi kamu nggak ke ganggu kuliahnya kalau sekalian kerja?"
"Nggak kok, lagian kan Mbak bulan depan sudah mau cuti jadi pas Mbak cuti aku bisa fokus kuliahnya."
"Duduk Mit, sarapan. Aku mau ke kamar dulu panggil Mas Aka," kata Fathia meninggalkan meja makan.
Di kamar Fathia menghampiri suaminya yang sedang berdiri di depan kaca merapikan rambut. "Sini aku pasangin dasinya."
"Kamu kok belum siap-siap?"
"Aku berangkat syuting siang kok Mas."
"Ooh... sebelum syuting bisa antar makan siang ke kantor nggak? kangen masakan kamu. Kan selama di rumah mama nggak pernah makan masakan kamu lagi."
"Boleh, mau di masakin apa?" tanya Fathia sambil memasang dasi di leher Aka.
"Apa aja, yang penting kamu yang masak!"
"Siap, permintaan Masaka akan di penuhi. Yuk sarapan Mita sudah nunggu di sana."
"Jam tangan aku belum!"
"Bentar!" Fathia melangkah ke lemari memilih jam tangan untuk di pakai Aka.
"Pantesan nggak ketemu, ternyata di sini," kata Aka berdiri di belakang istrinya.
"Jam tangan kamu banyak, makanya aku bikinin lemari khusus juga. Sini aku pakein!"
"Makasih honey, muach!" kecup Aka di kening istrinya.
__ADS_1