ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Tujuh Puluh


__ADS_3

"Kenapa kamu? dokter kok sakit?" tanya Faris mencemooh anaknya.


"Ah, Papa dokter kan juga manusia masak nggak boleh sakit," jawab Aka.


"Kenapa Aka Al?" tanya Faris.


"Kecapekan Pa, terlalu sibuk di kantor sampai pulang malam jadinya kurang istirahat. Juga asam lambungnya naik karena banyak minum kopi," jelas Fathia.


"Harus di rawat?" giliran Alia yang bertanya.


"Dua hari, kata dokter Indra biar Mas Aka nya bisa istirahat total. Takut kalau di bolehin pulang malah langsung ke kantor."


"Benar itu, Papa setuju sama dokter Indra," sahut Faris. Dokter Indra merupakan dokter sepuh juga langganan keluarga Faris dari dulu hingga sekarang.


"Kamu sudah sarapan Al?" tanya Alia.


"Belum Mah, tadi habis suapin Mas Aka aku ke ruang dokter lalu ke apotik tebus obat," jelas Fathia membantu Aka meminum obat.


"Maaf ya sayang, aku bikin kamu repot," pinta Aka merasa bersalah.


"Nggak apa Mas, sudah tugas aku sebagai istri merawat suaminya sakit. Lagian kamu sakit juga kerena aku kan. Cari nafkah buat keluarga kecil kita."


Jawaban Fathia membuat hati Aka dan mertuanya adem. Berkali-kali Alia mengucap syukur di dalam dada. Kini anaknya sudah berada di tangan yang tepat. Alodie kini menjelma menjadi istri yang sempurna. Bahkan Aka pun tak mampu lagi berkata-kata saking bahagianya memiliki istri seperti Fathia atau Alodie palsu.

__ADS_1


"Makan dulu Al, biar Aka nanti Mama mu yang urus," titah Faris.


"Kebetulan tadi Mama masak banyak. Jadi Mama bungkus dan bawa kesini." Alia menyerahkan rantang makanan.


"Aku makannya di ruang depan ya Mah, Pah, Mas," izin Fathia. Kamar rawat Aka memang ada ruang tamu yang terpisah dengan ruang rawat. Fathia juga bermaksud memberikan ruang Aka dan orang tuanya jika ingin mengobrol.


"Istri mu jauh berubah ya nak," ujar Alia menitikkan air mata.


"Ia, tapi kenapa Mama nangis?"


"Mama itu terharu, bahagia. Nggak nyangka Alodie bisa berubah sejauh ini."


"Di syukuri Mah, semoga kedepannya rumah tangga anak kita bisa menjadi rumah tangga yang SAMAWA," timpal Faris.


"Sakinah Mawadah Wa Rahmah."


"AMIN" kata mereka serempak.


πŸ₯­πŸ₯­πŸ₯­πŸ₯­


Sore hari kedua orang tua Aka pun kembali pulang setelah perdebatan panjang. Mereka ingin menginap menemani anak semata wayang tapi di larang oleh Aka dan juga Fathia.Tak mungkin mereka ikut menginap jika tak ada tempat yang layak untuk mereka tiduri. Akhirnya kesepakatan di dapat bahwa besok pagi mereka bisa kembali membawakan sarapan bubur untuk Aka tak mungkin kalau Fathia pulang dulu hanya untuk memasak bubur. Jadilah Alia dan Faris setuju untuk pulang sore ini karena pagi-pagi mereka harus mengantarkan sarapan untuk Aka dan Alodie palsu.


"Gue pikir lo tahan banting," ledek Beno yang datang menjenguk saat pulang dari kantor.

__ADS_1


"Gue manusia, ya pasti bisa sakit lah."


"Mas Ben habis lembur?" tanya Fathia.


"Ia Al, tapi Aku cuma sampai jam sembilan. Nggak tau suami kamu nih kebiasaan lama sering kerja sampai larut malam," jelas Beno.


"Aku pikir lemburnya bareng Mas Ben," ujar Fathia yang merasa sudah di bohongi Aka.


Aka yang merasa kebohongannya terbongkar cuma nyengir kuda pada sang istri yang sudah menatap horor ke arahnya.


"Mas Ben mau minum apa?" tawar Fathia.


"Nggak usah Al, aku kesini cuma mau jenguk nih orang sekalian tadi aku beliin makanan buat kamu."


Wajah Fathia sumringah jujur ia butuh cemilan saat malam. "Makasih lo Mas Ben, perhatian dan pengertian."


Aka langsung memasang wajah cemberut. Sadar belakangan ini ia kurang perhatian pada sang istri. Bahkan lupa kalau istrinya sempat memesan makanan jika ia pulang, tapi apalah daya saking capeknya ia pun lupa.


...----------------...


......Like πŸ‘πŸ‘πŸ‘......


...Komen πŸ–ŠπŸ–ŠπŸ–Š...

__ADS_1


...Favorit ❀❀❀...


__ADS_2