
βͺ Flash back....
"Kemana Fathia, Ciara?" tangis Julanar.
Ciara merasakan hal yang sama, ia juga bingung.Tak tau jawaban apa yang harus ia berikan agar dapat menenangkan hati ibu angkatnya.
"Buk, kita balik ke rumah sakit lagi. Siapa tau Fathia ada di sana," ajaknya. Ia mencoba berfikir positif dan berharap kalau Fathia memang ada di sana.
"Ayok! siapa tau semalam ia nggak bisa kerumah sakit karena nggak ada kendaraan,"tambah Julanar penuh harap.
Ciara dan Julanar kembali menuju rumah sakit dengan penuh harapan akan bertemu dengan Fathia. Meski hati mereka harap-harap cemas tapi Julanar dan Ciara berusaha menepis dugaan buruk tentang Fathia.
Sampai di rumah sakit mereka berkeliling mencari Fathia. Bertanya pada orang lewat atau suster dan dokter tapi jawaban mereka semua sama, tak pernah melihat gadis yang di maksud.
"Bagaimana ini Ciara? Fathia juga tak ada kemari," resah Julanar.
Ciara menghela nafas berat. Pandangannya masih mencari-cari Fathia.Merasa lelah ia membawa sang ibu istirahat di bangku taman.
"Ibuk duduk di sini ya, aku mau beli minuman dulu," ujarnya.
Berjalan menuju kantin rumah sakit Ciara sempat melihat dua orang polisi memasuki UGD. Rasa penasaran membawa kakinya melangkah ke sana.
"Sus, boleh tanya? itu ngapain ya ada polisi di sini?" tanya Ciara pada seorang suster yang lewat di depannya.
"Ada korban kecelakaan Mbak," jelas suster.
__ADS_1
"Mmm kecelakaannya di mana? korbannya cewek atau cowok? "
"Lokasinya nggak jauh kok Mbak dari sini, nanti kalau Mbak pulang bisa lihat bekas jatuhnya mobil. Korbannya sih cewek tapi wajahnya sulit di kenali penuh luka bakar soalnya.
"Jumlah korban?"
"Cuma kecelakaan tunggal, jadi korbannya satu."
"Identitasnya?"
"Maaf ya Mbak, kalau itu saya kurang tau. Tapi polisi lagi nunggu keluarganya datang."
"Oh, ya terimakasih. Maaf kalau saya menganggu."
Ciara kembali teringat pada Julanar. Ia bergegas kembali menemui ibu angkatnya.
"Lalu Fathia?"
"Kita tunggu di sana!"
"Kenapa nggak lapor polisi aja Ci?"
"Nggak bisa Buk, harus tunggu 2 x 24 jam. Kalau memang Fathia belum juga kembali aku akan lapor polisi dan pasti akan mencari Fathia," ujar Ciara meyakinkan. Sekarang yang lebih ia utamakan adalah kesehatan Julanar yang baru saja melakukan pemasangan ring jantung pastinya butuh istirahat. Kalau pun mereka mau mencari Fathia kemana? arah dan tujuan tak jelas pastinya akan membuang waktu percuma.
"Ibu tinggal di rumah Inas saja, tunggu Fathia di sana," kata Julanar masih berharap anak gadisnya akan pulang.
__ADS_1
"Ibuk ingatkan kata Fathia kalau Ibuk sembuh kita tinggal di kota sama-sama. Jadi lebih baik Ibuk ikut aku," bujuk Ciara.
"Tapi Fathia belum kembali."
"Kita berdoa ya, semoga Fathia baik-baik saja dan secepatnya ia kembali," kata Ciara menenangkan Julanar.
Pasrah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan sekarang. Ciara membawa Julanar pulang ke kota dengan hati yang masih berharap kalau mereka akan bertemu Fathia di sana. Fathia bukan anak kecil yang tak tau jalan pulang jika tersesat. Ia sudah dewasa dan pandai menggunakan akalnya untuk kembali pulang.
Berat hati mereka kembali tapi untuk tetap di sini juga tak ada gunanya.
Bertanya pada siapa?
Minta bantuan pada siapa?
Tak ada, seolah-olah semua orang tak peduli akan hilangnya Fathia.
...****************...
Terimakasih buat yang sudah kasih hadiah... πππ₯°π
Terimakasih juga buat yang sudah like ππππ komen ππππ dan Favorit β€β€β€β€
Terimakasih atas dukungan kalian semua...
Terus beri dukungan dan semangat ya biar aku makin sering up date.
__ADS_1
Like πππ komen πππ favorit β€β€β€ hadiah πππ tiap bab ok.