ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season3 bab 5


__ADS_3

"Dari mana kamu semalam? Kenapa baru pulang?" Aka bertanya berang pada Alodie yang sedang duduk di atas sofa. Sepertinya sedang asik menonton tv.


"Main sama teman," jawabnya cuek.


"Kamu bisa hargain aku nggak? Kalau suami lagi ngomong ditatap!"


Alodie memutar badannya kebelakang. "Semalam aku nginap di hotel. Ada acara ulang tahun salah satu temanku," jelasnya.


"Kenapa sore ini baru pulang? Nggak ingat kamu punya suami yang harus di urusin?"


"Mas, aku pergi cuman sekali-kali loh. Tadi pagi sampai siang kita masih ngumpul-ngumpul dan habiskan waktu. Masak tiap hari aku harus ngurusin kamu sih. Kamu bukan anak kecil yang perlu di urusin. Lagian kalau pun aku bantu, kamu malah mau kerjain sendiri." Alodie berdiri menantang Aka.


"Tapi kamu nggak izin sama aku. Aku suami kamu, apa-apa izin dulu, ngomong dulu sama aku." Suara Aka terdengar tinggi.


"Aku yakin kamu pasti nggak akan kasih izin. Makanya aku pergi. Lagian kalau aku di rumah, kamu juga sibuk di ruang kerjakan. Tidur juga nggak sekamar, jadi buat apa kamu marah-marah kalau aku nggak di rumah?"


"Karena kamu nggak bisa menghargai aku sebagai suami. Coba sekali aja kamu sadar tugas dan kewajiban kamu sebagai istri dan bikin suasana rumah ini nyaman. Nggak bikin masalah yang buat aku marah-marah mulu kayak sekarang." Aka merasa geram dengan tingkah istrinya yang kadang sulit diatur. Emosi membuat Ia merasa gerah, Aka menarik dasi untuk melonggarkan krah bajunya.


"Aku capek, Al. Di kantor banyak kerjaan, tolong di rumah ini bikin aku betah dan tenang. Bisa?" Aka meminta dengan intonasi rendah seolah ia ingin dipahami dan dimengerti.


Karena Aka sudah tak marah lagi, Alodie pun berusaha untuk menurunkan amarahnya. Ia memang sudah salah pergi tanpa izin suami, apa lagi tak mengangkat panggilan Aka. "Ok, aku minta maaf. Tapi setidaknya kamu hargain usaha aku dong, Mas. Pakai baju yang aku pilihkan dan habiskan masakan yang aku masak," pintanya.


Aka menghembuskan nafas melepaskan sisa-sisa kemarah. Lalu ia mengangguk menyetujui permintaan sang istri.


πŸ₯¬πŸ₯¬πŸ₯¬πŸ₯¬


Satu minggu ini hubungan Aka dan Alodie tampak baik-baik saja. Tak ada lagi perdebatan yang memancing emosi yang nanti menimbulkan teriakan Alodie atau bentakan Aka. Mereka berdua berusaha untuk saling menghargai dan mengerti satu sama lain.


Ada satu hal yang membuat Alodie kadang menahan amarah. Sampai kini Aka masih belum mau menyentuh atau disentuhnya. Entah kenapa Aka sendiri pun bingung, padahal kadang ia sering memimpikan hal itu. Tapi kenapa ketika bersama Alodie ia tak bergairah sama sekali.


Malam ini Aka sedang sibuk di ruang kerjanya. Beberapa hari lagi perusahaannya akan meluncurkan produk terbaru. Tiba-tiba saja ia merasakan perutnya sangat lapar. Serasa ingin makan pisang molen yang dulu pernah di makan oleh Alodie palsu.


"Ada-ada saja." Aka menggelengkan kepalanya mengigat hal tersebut.


Ia berusaha melupakan keinginannya itu. Mencoba kembali fokus pada pekerjaan yang sedang menumpuk. Meskipun, cacing di perutnya memberontak minta diisi Aka tak peduli.


Tiba-tiba Alodie datang menghampiri Aka dengan mengenakan dress biru muda yang tampak tak asing di matanya.


"Kenapa kamu pakai dress itu?" Aka yang melihat hal tersebut bangkit dari duduknya dengan wajah yang merah padam karena marah.


"Loh, emangnya kenapa, Mas?"


"Lepas nggak!" Aka berbicara dengan nada tinggi kepada istrinya.

__ADS_1


"Kenapa sih, Mas. Emangnya apa spesial dress ini sampai kamu bawa tidur dan nggak boleh aku pakai?"


"Lepas sekarang juga!" Aka berang melihat Alodie yang sepertinya enggan untuk melepaskan dress tersebut.


Alodie menghentakkan kakinya sambil mendengus kesal, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan itu. Saking marahnya ia membanting pintu dengan sangat keras.


"Astaga," gumam Aka mengusap wajahnya sambil berkacak pinggang merasa frustasi.


Tak lama Alodie kembali. "Nih, aku nggak sudi pakai baju bekas." Melemparkan dress tadi ke wajah Aka dengan penuh emosi, kemudian dia berlalu pergi.


Aka mencoba menghirup aroma dari kain itu. Hanya sisa wangi tubuh Alodie yang melekat di sana. Hidungnya tak lagi menangkap sisa-sisa aroma tubuh Alodie palsu. "Sialan!" geram Aka melempar kain itu ke lantai dan menginjak-injaknya sambil mengumpat marah.


Pokoknya Aka marah dan kesal, entah pada Alodie atau pada dirinya sendiri yang masih saja merindukan sosok wanita itu. Semakin ia berusaha untuk melupakan, semakin sulit rasanya. Semakin ia berusaha menyangkal, semakin yakin hatinya merasakan cinta itu ada.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Mita!" panggil Joe saat menemuinya di kampus.


Mita memutar bola matanya malas, lalu ia hendak memutar arah untuk menghindar dari sang kakak ipar.


"Mit, tunggu." Joe mengejarnya.


"Ngapain, Mas Joe kesini?" Kesal Mita bertanya.


"Iya, nanti kapan-kapan aku pulang." Mita menjawab dengan rasa engan.


"Jangan menghindar terus, Mit. Ciara juga mau ngomong, katanya dia mau minta maaf."


"Minta maaf sama siapa?"


"Sama temannya itu, juga sama kamu."


"Ooh. Nanti kalau ada waktu, aku ke sana. Udah dulu, ya, Bang aku masih ada kelas." Mita pergi begitu saja tanpa menangapi kakak iparnya. Bahkan ia tak bertanya sedikit pun akan kabar saudaranya sendiri. Sepertinya ia masih menyimpan rasa kesal dan marah pada Ciara hingga engan lagi untuk berjumpa.


Sedangkan Joe hanya dapat menghembuskan nafas pasrah. Sudah sering ia di abaikan seperti ini oleh adek iparnya. Ia merasa bingung bagaimana caranya agar Mita mau pulang ke rumah dan bertemu dengan istrinya. Sejak kakak beradik itu bertengkar hebat tak ada lagi komunikasi antara mereka. Bahkan Mita pergi begitu saja tanpa kabar sama sekali.


πŸ₯‘πŸ₯‘πŸ₯‘πŸ₯‘


"Gimana, Mas?" tanya Ciara.


Sedari tadi ia sudah tak sabar menunggu kepulangan sang suami.


"Aku ketemu Mita." Joe mendudukkan diri di sofa. Baru saja ia sampai di rumah langsung diberondong pertanyaan oleh istrinya.

__ADS_1


"Terus? Dia nggak menghindar dari kamu kan?"


"Dia mau aku ajak bicara. Tapi ya cuma sebentar. Katanya kalau ada waktu dia bakalan pulang," jelas Joe.


Raut wajah Ciara berubah kecewa. "Untung tadi aku nggak ikut. Kalau ikut pasti dia nggak mau ngobrol sama aku. Langsung pergi ninggalin."


"Sabar, mungkin Mita masih butuh waktu. Setidaknya tadi aku udah bicara sama dia."


"Mudah-mudahan Mita mau pulang."


"Aamiin."


Pertengkaran antara Mita dan Ciara terjadi setelah sehari Alodie palsu pergi dari rumah Aka. Mita memberikan surat permintaan maaf Fathia pada sang kakak. Namun, Ciara malah merobek dan membuang surat itu. Membuat Mita tak suka akan cara marah kakaknya yang terlalu berlebihan.


Bagi Mita, Fathia hanya korban di sini. Kalau pun ia salah sudah menutupi kenyataan pada sahabatnya, karena Fathia hanya ingin menjaga perasaan Ciara. Terjadilah perdebatan yang berujung pertengkaran antara dua saudara. Menurut Ciara, Mita sebagai adiknya kenapa malah membela dan mendukung Fathia yang bukan siapa-siapa.


Bagi Mita, Fathia butuh seorang teman dan sahabat untuk mendampinginya melewati semua masalah dan cobaan ini. Tetapi Ciara masih bersikap egois, ia seakan terluka begitu dalam setelah dibohongi sahabatnya sendiri.


Karena tak ada yang mau mengalah dan masih merasa benar satu sama lain. Mita pun pergi dari rumah kakaknya. Sejak saat itu ia tak lagi berkomunikasi dengan Ciara bahkan juga Joe, sang kakak ipar.


Namun, dua bulan belakangan Ciara mulai mencarinya ke kampus juga apartemen tempat ia tinggal. Mita terus menghindar, bahkan pesan yang dikirim kakaknya hanya sekedar dibaca namun di abaikan begitu saja. Ada hal lain yang lebih penting untuk ia kerjakan saat ini.


πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹


Akibat pertengkaran kecil semalam, siangnya Alodie pergi meninggalkan rumah. Ia sudah mengirim pesan pada Aka. Tak peduli mau di izinkan atau tidak ia tetap pergi. Rasa kesal masih melanda, membuatnya butuh hiburan atau sekedar haha-hihi bersama teman-teman untuk melupakan masalah.


Lagian menjadi wanita rumahan bukanlah tipe Alodie. Ia sudah terbiasa berkumpul dan menghabiskan waktu bersenang-senang bersama kawan di luar ketimbang mengurus suami di rumah. Kalau pun kini ia di minta Aka untuk menjadi istri yang betah di rumah, Alodie masih mencoba meski kadang ia tetap merasakan bosan.


Apa lagi sejak menjalani terapi di rumah sakit. Tiga tahun kurang ia menghabiskan waktu di ruangan petak bercat putih. Bagaikan burung terkurung dalam sangkar, ingin terbang tapi tak bisa sebab sayapnya patah. Kini, ketika ia bisa mengepakkan sayap itu kembali, masak harus di kurung lagi dalam sangkar emas. Ia tak mau itu, kebebasan adalah hidupnya.


Bisa di bilang Alodie ini masih labil. Di satu sisi ia ingin bersama Aka bisa menjadi istri yang disayang dan di banggakan suaminya. Tapi di sisi lain jiwa bebasnya selalu berontak. Mengatakan kalau ia tak bisa menjadi Alodie sepenuhnya.


Makanya terkadang Alodie sering kemakan hasutan kawan-kawannya untuk tak pulang ke rumah. Lebih baik minta maaf dari pada minta izin. Itulah yang mereka katakan padanya. Membuat wanita itu termakan bujur rayu.


Saat pulang dari kantor tepat jam tujuh malam, Aka tak mendapati istrinya di rumah. Bahkan sampai ia selesai menyantap makan malam, Alodie juga belum kunjung datang. Aka tak mau ambil pusing, ia sudah bosan dengan kelakuan sang istri nan tak sadar waktu jika sudah berada di luar.


Aka menuju ruang kerja. Di sana ia mengerjakan beberapa dokumen yang harus segera diselesaikan.


Merasa punggungnya penat, Ia menyandarkan diri kesandaran kursi nan di dudukinya. Teringat tak ada lagi barang yang di tinggalkan Alodie palsu sebagai obat penenangnya, ia sedikit merasa kesal.


Ponsel! Iya, ponselnya kan masih ia simpan. Aka membuka laci meja kerja. Ia coba menekan tombol power untuk menyalakan tapi, sepertinya perangkat itu kehabisan daya. Aka mencolokkan kabel pengisian daya. Menunggu hingga baterai ponsel itu terisi setengah.


Tak sabar rasanya ia membuka dan memeriksa isi dari benda persegi nan pipih itu. Saat berhasil ia nyalakan hal pertama yang dilihat matanya adalah poto mereka berdua menjadi wallpaper layar kunci. Tanpa ia sadari bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2