
Melalui proses nan panjang dan memakan waktu lama akhirnya Aka pun berhasil membebaskan sang istri dari tahanan dengan uang jaminan yang lumayan banyak. Tak masalah baginya asalkan ia bisa segera berjumpa dengan sang pengobat rindu.
Surat untuk pengajuan banding pun sudah masuk ke pengadilan. Aka bisa sedikit bernafas lega, karena satu masalah terbesar sudah dapat teratasi. Selanjutnya mungkin nanti ia akan menuntut balik Alodie dan Galen menjebloskan sepasang mantan kekasih itu ke dalam penjara.
"Dokter kenapa sih? Wajahnya dari tadi tegang mulu." Mita sedikit kesal melihat Aka yang mondar- mandir di ruang tunggu ketika menantikan sang istri di bebaskan.
Dihirupnya nafas dalam lalu ia hembuskan pelan. "Saya deg-degan parah. Biasanya kalau mau ketemu orang penting nggak sampai begini." Aka memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat. Semua rasanya campur aduk tak menentu di dalamnya.
"Lebay!" Mita mengangkat bahu seolah tak peduli pada apa yang dirasakan Aka. Ia malah memilih pergi dari sana sedangkan Aka berdiri berpangku tangan. Matanya memandangi pintu ruang tunggu itu berharap segera terbuka dan istrinya muncul dari sana.
"Hah, lama." Aka merasa kesal kesabarannya sudah habis dan tak lagi memandangi pintu tadi. Semenit kemudian,
"Mas," panggil Fathia.
Punggung tegap itu berbalik melihat si pemanggil. Aka membeku dan membisu di tempat seakan waktu berhenti berputar. Tak tau harus apa, kakinya pun serasa mati untuk melangkah. Lidahnya kelu untuk mengatakan kalau selama ini ia sangat merindu. Mata hitamnya tak berkedip memandangi sosok itu dari ujung kepala sampai kaki, seolah meyakinkan dirinya yang berdiri di hadapan kini adalah sang pemilik hati yang belakangan selalu ia sebut dalam doa.
Netra matanya menangkap sesuatu hal yang membuat lutut kakinya terasa lemas, Aka jatuh bersimpuh dan menyatukan kedua telapak tangan di depan dada. "Maaf, maafin aku," ucapnya. Ia menangis tersedu-sedu melihat kondisi wanita itu yang kini tengah berbadan dua harus mendekam di dalam penjara.
Tak ada lagi kata yang terucap dari bibir lelaki itu. Hanya derai air mata yang menyampaikan seberapa menyesalnya ia saat ini. Mita benar, ia akui kalau dirinya sangat-sangat menyesal sudah mengusir sang istri dari rumah.Bahkan beribu kali kata maaf nan ia ucapkan takkan mampu menghapuskan penderitaan yang diterima Fathia.
Wanita itu ikut bersimpuh di depan suaminya. Ia lalu memeluk Aka dan membelai lembut rambut hitam yang sudah panjang itu. "Aku dan anak kita baik-baik saja. Kamu nggak perlu merasa bersalah," katanya di balik punggung Aka.
"Aku sudah jahat sama kamu dan anak kita. Benar kata Mita kalau aku adalah laki-laki yang bodoh!" Aka melepaskan pelukan mereka lalu ia mengecup kening istrinya cukup lama seolah menyalurkan rasa yang tak terucap.
"Kamu nggak bodoh kok, Mas. Sebagai suami sudah pasti kamu akan memilih istri sah dibandingkan aku yang nggak jelas status dan identitasnya." Fathia menghapus lelehan air mata di pipi suaminya.
Aka membawa sang istri untuk duduk di bangku.
"Kamu juga istri sah aku, maaf kalau aku terlambat untuk menyadarinya. Sekali lagi maafin sikap aku yang egois tak mau mendengarkan penjelasan kamu terlebih dahulu." Aka sampai bersujud di bawah kaki sang istri. Sungguh rasa sesal itu terus menghantam dadanya hingga Aka merasakan nyeri yang luar biasa.
"Kamu ngapain, Mas? Sini duduk samping aku! Nggak pantas kamu seperti ini," ajak Fathia.
"Suami yang sudah membiarkan anak dan istrinya menderita, pantas meminta maaf istrinya dengan bersujud seperti ini, kalau perlu kamu hukum aku, tampar atau pukul aku juga nggak pa-pa." Aka mengangkat kepalanya menatap bola mata indah nan mampu membuat jiwanya merasa tenang.
"Nggak, Mas! Kamu nggak salah apa-apa dan aku nggak perlu hukum kamu. Sini duduk di samping aku," ajaknya menepuk bangku di sisi kanan.
"Gimana kondisi kamu?" tanya Aka merapikan rambut sang istri.
"Aku baik, Mas dan anak kita juga baik. Dia nggak rewel, nggak bikin aku susah selama di sini," jawab Fathia mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Aka pun ikut meletakkan tangannya di sana. "Maafin, Papa, ya, nak!"
Fathia memberikan senyuman hangatnya dan mengelus rahang pria itu nan sudah di tumbuhi bulu-bulu kasar.
"Kamu kenapa nggak cukuran, Mas?"
"Waktu aku cuma habis untuk mikirin kamu," kata Aka. Ia pun ikut meletakkan tangannya di atas tangan sang istri, merasakan sentuhan hangat yang selama ini sangat ia rindukan.
"Kita pulang, yuk!" ajak Mita yang tiba-tiba datang.
"Ganggu aja kamu!" kesal Aka.
"Nanti di lanjut lagi kangen-kagenannya di rumah!"
__ADS_1
"Kita pulang ke rumah mama dulu, ya," ajak Aka pada sang istri.
"Bukannya aku akan tetap tinggal di sini?"
Aka menggelengkan kepalanya dan membawa sang istri kedalam pelukan. "Jangan ngomong seperti itu! Aku sakit mendengarnya, bahkan melihat kondisi kamu sekarang hati aku hancur. Aku sudah menjamin kamu dan sekarang kamu bisa ikut aku pulang."
"Maafin aku ya, Mas kalau bikin kamu kecewa dan sekarang malah nambah masalah kamu," ujar Fathia di dada suaminya.
"Nggak sayang, ini bukan salah kamu. Penyebab ini semua adalah Alodie, dan dia yang seharusnya di hukum bukan kamu! Kita pulang, ya!"
Fathia mengangguk bahagia, akhirnya ia bisa memetik buah dari hasil kesabarannya selama ini.
ππππ
"Ya Allah, menantu, Mama," ujar Alia. Ia langsung saja memeluk Fathia ketika menyambut kedatangan mobilnya Aka. Wanita itu tak menyangka kalau sang menantu kini sedang berbadan dua.
"Kamu hamil?"
Fathia tersenyum dan mengangguk. "Cucu, Mama!"
"Maafin, Mama, ya, Nak. Mama sama sekali nggak tau masalah ini. Baru kemaren Aka cerita," pintanya menangkup pipi Fathia.
"Mama nggak perlu minta maaf, karena, Mama nggak salah apa-apa!"
"Masuk dulu yuk! Kasian menantu kita, Mah," ajak Faris.
Ia menuntun Fathia menuju ruang tengah dan duduk di sofa. "Kamu mau makan apa? Mama sudah masak banyak hari ini!"
"Makasih banyak, ya, Mah."
"Ciara mana, Mit?"
"Ini, baru aja jalan ke sini," jawab Mita meletakan barang-barang Fathia yang di bawanya tadi dari lapas.
"Sudah berapa bulan kandungan kamu, Nak? tanya Faris.
Fathia tertunduk dan menggeleng. " Aku nggak tau, Pah. Mungkin sudah lima bulan. Karena sejak dalam penjara aku nggak pernah periksa," jawabnya sendu.
"Nanti kita ke dokter kandungan di rumah sakit, ya," ajak Aka duduk di samping sang istri.
"Nggak, Mas aku malu! Dengan wajahku yang masih serupa dengan Alodie, aku nggak bisa keluar menghadapi orang-orang."
Aka menghela nafas berat. Benar yang dikatakan istrinya. Kondisi seperti ini sangat sulit baginya kini, karena Alodie asli sudah muncul di mana-mana. Pastinya nanti orang-orang akan bingung.
"Biar nanti dokter saja yang kemari buat periksa," kata Faris. Ternyata ia ikut merasakan kekhawatiran nan di pikirkan Aka dan sang menantu.
"Ini di makan dulu ya," ajak Alia memberikan sepiring nasi yang berisi lauk dan sayur.
"Aku suapi," tambah Aka.
πΎπΎπΎπΎ
Sampai di rumah Alia, Ciara langsung memeluk sahabatnya itu dan bersimpuh meminta maaf karena terlalu egois dan hanya memikirkan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena saat itu nggak mau mendengarkan penjelasan kamu." Ciara menggenggam erat kedua tangan Fathia.
"Ini bukan salah kamu kok, memang aku yg salah sudah menutupi semuanya dari kamu."
"Kamu punya alasan menutupinya dari aku dan ak-"
"Sudahlah, Ci. Aku nggak mau bahas ini lagi. Sekarang aku sudah bebas dan di sini. Kita cerita-cerita lagi aja ya."
Ciara mengangguk setuju mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. "Kamu kurusan sekarang! Babynya sehat?" Ciara mengusap lembut perut Fathia.
"Selama di penjara aku nggak pernah periksa tapi, dia pasti sehat kok!"
"Hhmm si Alodie itu tau kamu hamil?"
"Nggak, Mbak! Aku bilang sama, Mbak Fathia untuk sembunyikan kehamilannya selama persidangan," jawab Mita.
"Kenapa gitu?" timpal Aka.
"Kan Alodie sama Galen kadang hadir, dokter. Takutnya nanti mereka malah nuntut hukuman mati lagi buat, Mbak Fathia karena tau hamil anak dokter."
Fathia menggelengkan kepalanya seakan tak suka dengan yang di katakan Mita.
"Aku cuma mau melindungi anak kita, Mas itu aja."
"Kamu istirahat, ya. Aku sama, Mas Joe mau pulang dulu. Besok ke sini lagi." Ciara hendak pamit kerena hari sudah malam.
"Hati-hati, ya, Ci!"
"Iya. Mit, kamu mau pulang sama, Mbak atau nginap sini?" tanya Ciara pada adiknya.
"Mita di sini aja, aku butuh dia," jawab Aka.
"Oh, ok. Kalau gitu kami pulang dulu bro," ujar Joe memeluk Aka.
πΉπΉπΉπΉ
"Mas, aku mau mandi. Bisa bantuin?" tanya Fathia.
Aka mengangguk. Ia menyiapkan air panas untuk mandi sang istri dan memilihkan beberapa baju ganti.
"Sini aku bukain bajunya." Melihat istrinya yang sedikit kesusahan, Aka berinisiatif membuka resleting baju Fathia.
Seketika bola mata Aka membulat sempurna melihat punggung putih mulus itu penuh luka lebam. "Ini kenapa?"
"Aaww, sakit, Mas. Jangan di pegang!" ringis Fathia.
"Maaf, Honey. Tapi punggung kamu kenapa lebam semua?"
Fathia hanya tersenyum. "Biasalah, Mas. Di sana kan isinya kebanyakan orang jahat, ya pasti orang-orang seperti aku ini jadi bahan penindasan mereka. Tapi nggak pa-pa kok, cuma sakit dikit."
Aka mengangkat kepala seolah menahan bendungan kelopak matanya agar tak tumpah. "Nanti habis mandi aku obatin."
Sampai sang istri masuk kedalam kamar mandi, Aka menjatuhkan dirinya di lantai. Sungguh ia tak kuasa menahan air mata. Jantungnya remuk bagaikan di remas tangan tak kasat mata kala melihat tubuh wanitanya babak belur seperti tadi.
__ADS_1
Keegoisannya membawa penyiksaan terkejam pada Fathia. Ia tak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Andai saja dari awal ia mendengarkan sang istri dan meminta penjelasan lebih, mungkin kini rasa sesal takkan menikamnya sedalam ini.