ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S3 bab 27


__ADS_3

"Gimana, Mit? Jio mau tuh langsung lamar kamu. Aah, Mbak tadi kaget loh kalau dia tanggapi omongan, Mbak dengan serius," kata Fathia pada Mita.


"Apa lagi aku!"


"Trus gimana? Kamu mau di lamar Jio?" tanya Aka.


"Duh, bingung aku, dokter."


"Bingung kenapa?" tanya Alia. Mereka semua masih berkumpul di ruang tengah setelah makan malam. Sedangkan Jio sudah pulang.


"Yaa, kan kami belum saling kenal, Tante. Masak ia aku langsung terima lamarannya."


"Terima aja dulu, nah selama tiga bulan kalian penjajakan sambil menyiapkan pernikahan, gimana?" usul Faris.


Aka pun mengangguk setuju. "Jio anaknya baik kok, dia juga nggak akan berani macam-macam sama kamu, Mit."


Mita pun masih tampak bimbang.


"Besok pagi kasih keputusannya. Kamu pikir-pikir dulu malam ini. Yuk kita istirahat," ucap Fathia.


🌱🌱🌱🌱


Pagi ini seperti biasa, habis solat subuh Aka pasti menemani sang istri jalan-jalan pagi keliling taman kota dekat rumah mereka. Katanya supaya lahiran nanti lancar. Sekalian cari sarapan pagi di pinggir jalan pas pulang.


"Mas, itu ada bubur ayam. Beli yuk," ajak Fathia.


Aka pun menepikan mobilnya. Lalu menuntun sang istri turun dari mobil.


"Bang, bungkus 8 porsi," ucap Fathia pada pedagang bubur.


"Banyak amat, Honey?"


"Di rumah kan rame, Mas."


Aka pun mengangguk. Tiba-tiba ponselnya pun berdering.


πŸ“±Hallo


πŸ“±bla ... bla ...


πŸ“±Oh, ok. Nanti saya kabari lagi.


Aka pun menutup sambungan telpon itu.


"Siapa, Mas?" tanya Fathia.


"Jio. Katanya dia nanti siang mau kesini. Minta jawaban dari Mita."


"Wwaahh ternyata dia benaran serius, yah."


"Kayaknya gitu."


Pedagang bubur pun memberikan pesanan Fathia. "Berapa, Bang?"


" 85 ribu, neng."


Aka memberikan uang 100 ribu. "Ambil aja kembaliannya, Bang."


"Terimakasih banyak, Mas."


Mereka kembali pulang menuju rumah.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Gimana, Mit?" desak Fathia.


"Nanti siang dia mau kesini loh," jelas Aka.


"Dduuh, aku nggak tau. Nanti aja aku jawab kalau dia udah ke sini," jawab Mita sambil menikmati bubur ayam.

__ADS_1


Benar saja, tepat setelah jam makan siang, Jio pun datang. Kembali untuk membicarakan hal semalam yang masih gantung rasanya.


"Saya serius dengan ucapan semalam," katanya.


"Alasan kamu serius ingin melamar Mita apa?" tanya Fathia.


"Karena saya sudah dari lama menaruh rasa padanya. Hanya saja tak berani untuk mengungkapkan."


Fathia pun menatap sang suami. Apakah Aka tau soal ini?


"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama saya?" tanya Aka pada Jio.


"Saya merasa tak enak jika membahas masalah pribadi dengan, Bapak."


"Lalu gimana dengan kamu, Mit?" tanya Fathia pada Mita.


Wanita itu sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan antara Jio dan Fathia juga Aka. Kini tiba gilirannya memberikan jawaban yang tadi sudah di janjikan.


"Hhmm ok, aku mau," jawabnya tertunduk menyembunyikan wajah merah merona.


Bibir Jio mengembangkan senyuman bahagia. "Baik, satu minggu lagi saya dan kedua orang tua akan datang untuk melamar, Mbak Mita."


Fathia dan Aka juga merasa senang. "Nanti akan kami kabari dulu pada Ciara, kakaknya Mita," jelas Fathia.


🌻🌻🌻🌻


4 bulan kemudian ...


Hari ini pernikahan Mita dan Jio akhirnya di gelar. Kebahagian tak henti-hentinya menghampiri keluarga besar Aka dan Fathia. Semua berkumpul di pesta resepsi kali ini.


Bahkan Alodie dan Galen pun juga turut hadir. Sejak di nyatakan sembuh dari sakitnya, Alodie dan Galen hidup berdua menjalani bisnis mereka yaitu melahirkan artis-artis baru di dunia entertainment.


Kaina Sofi Suhana itulah nama anak kedua Aka dan Fathia. Kebahagian mereka terasa lengkap sejak kehadiran sang putri. Perusahaan Aka juga merambah ke berbagai bidang. Membuat namanya semakin di kenal sebagai pengusaha muda nan sukses.


Bagi Aka semua ini adalah berkat kehadiran sang istri di sisinya. Sejak ia bersama Fathia hidupnya berubah ke arah yang jauh lebih baik. Bahkan sejak wanita itu menjadi istri palsunya. Dan kini setelah wanita itu menjadi istri sah nya, ia sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan wanita sehebat dan sebaik Fathia.


Ciara pun kini juga hidup bahagia dengan sang suami juga seorang putri. Rencananya ia akan menyusul Fathia untuk memiliki anak kedua. Tapi sang suami meminta untuk menunda dulu, sebab mereka akan pindah ke Filipina.


Semua keluarga berkumpul di atas pelaminan mengapit pengantin baru itu.


"Capek, ya, sayang?" tanya Aka pada sang istri.


"Iya, Mas. Kita pulang sekarang?"


"Pamit dulu yuk sama Ciara dan Joe. Sekalian pengantinnya juga," ajak Aka.


"Ci, aku sama, Mas Aka pulang duluan, ya," ujar Fathia.


"Kenapa nggak nginap aja di hotel sih, udah di siapin juga," balas Ciara.


"Nggak bisa, Ci. Kasian anak-anak, mereka nggak betah kalau di hotel."


"Ok deh. Hati-hati ya di jalan." Mereka pun berpelukan.


"Bro, gue balik dulu. Maaf nggak bisa ikut pestanya sampai habis," pamit Aka pada Joe.


"Santai, gue ngerti kok. Anak-anak udah pada resah kelihatannya," jawab Joe mencolek pipi baby Kaina yang dalam gendongan sang Papa.


"Kita pamit sama pengantin dulu," tambah Aka.


Mereka pun naik ke atas pelaminan.


"Selamat buat kalian berdua," ucap Fathia memeluk Mita lalu Jio di susul sang suami.


"Terimakasih, Mbak dan Mas," jawab pengantin baru itu hampir bersamaan.


"Kami pulang, ya. Kasian anak-anak udah rewel," kata Aka.


"Ponakan Aunty nggak betah ya," ucap Mita pada Kafha.

__ADS_1


Batita itu pun mengangguk.


"Hati-hati di jalan, Mas. Kalau sudah sampai rumah kabari," ucap Jio.


Aka pun mengangguk dan menepuk pundak laki-laki itu yang kini sudah ia anggap sebagai adiknya.


🌡🌡🌡🌡


"Mas," panggil Fathia saat masuk kamar. Ia bingung kenapa kamarnya kini gelap sekali. Apa Aka sengaja mematikan lampu kamar mereka.


"Mas, kok gelap sih? Kamu di mana?" tanyanya sambil meraba dinding mencari sakelar lampu.


Klik ... lampu kamar kembali menyala.


"Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday happy birthday happy birthday to you." Aka menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil memegangi kue tart tak lupa dengan lilin yang menyala.


"Tiup dong lilinnya," pinta Aka.


Fathia tersenyum bahagia. "Aku pikir kamu lupa."


"Nggak lah! Sengaja dari tadi belum di ucapin mau kasih kejutan."


Fathia pun meniup lilin di kue itu lalu ia potong sedikit dan menyuapkannya pada sang suami.


"Makasih ya, Mas. Meski sederhana tapi aku suka," ucapnya memeluk Aka.


"Maaf ya, aku nggak bikin pesta."


"Nggak pa-pa kok. Asalkan kamunya nggak lupa dan kejutan kecil kayak gini aku udah senang banget."


Aka pun menyerahkan kotak persegi berwarna biru ke tangan Fathia.


"Apa ini?"


"Di buka dong!"


Mereka pun duduk di sofa dan Fathia membuka kado dari sang suami.


"Wwaahh ... Mas, ini cantik sekali," ucapnya melihat kalung berlian serta cincin yang ada di dalam kotak tadi.


"Kamu suka?"


Fathia mengangguk dan tersenyum kembali memeluk suaminya.


"Makasi ya, Mas. Aku suka banget."


"Aku pesan khusus buat istri tercinta dari satu bulan yang lalu," jelas Aka mengusap pipi istrinya.


"Jadi ini modelnya cuma satu di dunia?"


Aka pun mengangguk.


"Uuuhh... so sweet sekali suami ku, muach." Fathia menghadiahkan Aka sebuah kecupan di pipi.


"Anak-anak udah tidur?" tanya Aka.


"Udah, makanya aku ke kamar."


Tanpa aba-aba Aka mengendong Fathia ala bridal menuju kasur. "Giliran Papa nya sekarang di bobokin sama Mama."


"Mas, kamu nakal deh," ujar Fathia memukul dada Aka.


"Kita bikin dedek bayi lagi ya!"


"Hah? Mas, tungguin Kaina satu tahun dulu lah," rengek Fathia.


"Ok deh. Tapi bikinnya boleh sekarang kan? Udah libur panjang ini," goda Aka menghimpit tubuh istrinya.


Fathia pun mengangguk. Layaknya pengantin baru, Aka kembali memulai mereguk nikmatnya dunia setelah libur panjang usai melahirkan. Fathia sendiri memang belum siap sebelum 100 hari. Makanya Aka di minta bersabar dahulu.

__ADS_1


Kini ia akan melepaskan segala kerinduannya, menjelajahi dan menjamah setiap inci tubuh istrinya. Tak ada yang terlewatkan oleh Aka, hingga malam memuncak cinta itu pun akhirnya menyatu membuat keduanya mendesah kenikmatan.


TAMAT


__ADS_2