
Seminggu berlalu, Alodie palsu sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan dan tangung jawabnya sebagai seorang entertain. Rencana awal ia akan cuti selama setahun berubah. Fathia memilih mengakhiri kontraknya bersama management Rike. Meski harus membayar denda penalti tak masalah baginya karena memang ia sudah merasa tak nyaman lagi bekerja sama dengan Rike sejak kembali dan bergabungnya Galen di management itu. Mungkin juga ini satu-satunya cara agar ia dan Galen tak bertemu dan Rike pun juga tak bisa mengajaknya ketemuan lagi sebab tak ada hal yang perlu di bahas.
Kini Fathia akan mulai bersiap menghadapi hari baru dan perjuangan baru dalam hidupnya yaitu segera hamil dan memiliki anak dari Aka.
Memang awalnya ia menolak hamil sebelum ia jujur pada Aka tentang siapa dirinya. Tapi kini Fathia mulai berubah pikiran kalau ia jujur di saat sekarang ada kemungkinan Aka akan membenci dan mengusirnya pergi tapi jika mereka memiliki anak siapa tau Aka akan memaafkannya karena sudah berbohong selama ini. Apakah ia egois? entahlah tapi hanya ini satu-satunya cara agar ia tak berpisah dari Aka. Jujur Fathia tak sanggup jika Aka membenci dan meninggalkannya nanti.
Sejak tak syuting lagi Fathia menikmati waktunya sebagai seorang istri. Seperti biasa setiap pagi ia membuatkan sarapan dan membantu suaminya tampil rapi sebelum berangkat ke kantor. Sedangkan siang harinya ia akan memasak makan siang untuk di antar ke kantor Aka atau Aka yang akan pulang kerumah. Jika ada waktu luang biasanya Fathia memilih main kerumah mertuanya atau ke rumah saudara sepupu Aka, Adnan untuk bermain bersama Kinan dan ngobrol santai dengan Kila.
Kadang Fathia juga ingin mengajak Ciara jalan tapi Ciara sendiri masih sibuk dengan kegiatan syutingnya. Meski sudah bersuami Ciara tetap bekerja melanjutkan kontrak kerjanya yang sudah di setujui sebelum ia menikah tapi ia mulai mengurangi kesibukannya. Sedangkan Mita ia mulai fokus pada kuliahnya, rencananya Mita ingin lulus secepatnya jadi ia tak punya waktu lagi untuk menemani Alodie palsu di rumah.
Kalau Aka masih sibuk bekerja di kantor menjelang istrinya mulai menjalani program hamil. Jadi mulai dari kini Aka memberikan beberapa tugas dan daftar kerjaan pada Jio dan sekretarisnya sedangkan kerjaan lain akan ia tangani dari rumah.
"Mas tadi aku dapat notif dari bank, kamu transfer uang 500 juta ke mamanya Alodie? buat apa? kok pakai rekening yang kamu kasih buat aku?" Fathia memburu suaminya dengan pertanyaan saat mereka sedang bersantai di kamar setelah makan malam.
"Ooh, tadi aku lupa transfer uang buat mama kamu. Semua uang sudah aku transfer buat kamu belanja honey, jadinya ya aku transfer dari rekening yang kamu pakai itu," jelas Aka memilih chanel TV.
"Buat apa uang sebanyak itu Mas?"
"Ya buat mama kamu lah. Mereka juga punya panti asuhan honey jadi mereka butuh biaya banyak."
"Sebanyak itu tiap bulan?"
Aka hanya mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Dulu saat kita udah nikah aku juga sering kirim uang buat kedua orang tua kamu. Tapi sejak kamu amnesia mereka minta uang lebih katanya kamu nggak kirim uang lagi jadinya aku yang tambahin."
"Masak sih? kok aku ngerasa aneh ya Mas!"
"Aneh apanya? udahlah nggak usah ambil pusing! Lagian buat aku nggak masalah kasih mereka uang sebanyak itu asalkan mereka nggak ganggu kamu. Makanya mereka nggak pernah datang kesini."
"Maksudnya?"
"Hubungan kamu sama mereka kan emang dari dulu nggak baik honey, karena mereka terlalu banyak menuntut sama kamu soal uang. Apa lagi setelah kamu nikah sama aku, minta ini dan itu makanya aku penuhi permintaan mereka tambah uang jajan tapi ya syaratnya mereka nggak boleh ketemu kamu atau ganggu kamu lagi apa lagi setelah kamu kecelakaan." terang Aka.
Fathia hanya mengangguk-anggukan kepalnya. Tapi jujur ia penasaran untuk apa uang sebanyak itu buat kedua orang tua Alodie. Kalau memang untuk biaya tambahan panti asuhan ia rasa tak memakan biaya sebanyak itu selama sebulan pasti ada donatur lainnya yang ikut membantu.
__ADS_1
"Sudah, nggak usah di pikirin. Sekarang kamu nggak usah banyak pikiran, fokus aja sama program baby kita. Kamu belum mens kan?"
"Belum Mas!"
"Pokoknya ingat ya, pas menstruasi kamu datang hari ke 3 nya kita cek ke RS sama Biya," kata Aka.
"Ia Mas, aku ingat kok. Besok aku pergi sama Mita boleh ya?"
"Kemana?" tanya Aka memeluk dan merebahkan kepalanya di dada sang istri.
"Mau cari apartemen baru buat dia. Katanya mau yang di dekat kampus biar dekat."
"Berangkat jam berapa?"
"Palingan siang. Besok kamu mau makan siang di rumah atau aku antar ke kantor?" Fathia mengelus rambut hitam suaminya.
"Hhhmm... antar ke kantor aja deh sebelum kamu pergi."
"Ok, besok aku siapin."
"Aku berangkat ya, Mita udah nungguin di kampusnya," pamit Fathia setelah menemani suaminya makan siang di kantor.
Aka mengangguk memeluk istrinya dan mencium puncak kepala Alodie palsu. "Hati-hati di jalan! nanti aku pulangnya agak malam jadi nggak usah di tungguin," kata Aka melepas pelukan mereka.
"Pokoknya kabarin aku aja pulangnya jam berapa!"
Fathia mengecup pipi suaminya lalu meninggalkan ruang kerja Aka menuju lift turun dari gedung bertingkat itu.
"Pak, kita ke kampus Mita ya," kata Fathia pada supir.
"Baik bu," jawab supir menjalankan mobil keluar dari parkiran AkaFarma.
Sampai di depan kampus Mita, Fathia menghubungi gadis itu agar menyusulnya di depan gerbang kampus.
"Lama amat sih Mbak," ujar Mita masuk mobil Alodie palsu.
"Macet Mit, kan lagi jam makan siang."
__ADS_1
"Jalan Pak, kita ke daerah B ya," kata Mita pada supir.
"Udah punya pilihan apartment nya?" tanya Fathia.
Mita menggeleng. "Belum, tapi kata teman-teman aku daerah sana apartment nya bagus dan murah. Makanya mau lihat dulu kesana."
"Apa ada pilihan lain?"
"Ada, masih dekat-dekat situ kok. Pokoknya Mbak temanin aku lihat dan pilih mana yang bagus buat di sewa."
"Hhhmm... Ciara udah tau kalau kamu mau pindah?"
"Udah, kemaren aku kerumahnya dan bilang mau pindah. Aku juga bilang hari ini mau cari-cari apartment."
"Terus dia bilang apa?"
"Hhmm.. awalnya sih ngajak aku tinggal di rumahnya. Tapi aku nggak enak sama bang Joe, kadang kami suka bertengkar dan itu bikin dia ngerasa nggak nyaman di rumahnya. Makanya aku milih tinggal sendiri."
"Tapi Ciara nggak masalahkan? kalian nggak heboh lagi kan?"
Mita menggeleng "Nggak kok. Aku udah jelasin alasannya dan dia setuju. Dia juga bilang nggak bisa temanin aku cari apartment, ya aku bilang aja nggak perlu karena aku perginya sama Mbak."
"Terus?"
"Dia cuma angguk-angguk kepala aja."
Fathia hanya geleng-geleng kepala. "Kalian itu aneh ya, saudara tapi kayak orang lain aja."
"Mungkin emang karena kita nggak bareng dari kecil Mbak jadinya nggak dekat."
"Tapi sama aku kamu kok bisa?"
"Yaa, gimana ya," bingung Mita menggaruk kepalanya tapi tak gatal. "Mbak itu bisa jadi teman, sahabat, kakak, dan saudara buat aku pokoknya Mbak bisa lah menempatkan diri. Tapi kalau Ciara aku ngerasa dia lebih banyak nuntut aku buat jadi adik yang nurut. Aku ngerasa nggak terima, selama ini dia kemana eh pas ketemu dia ngatur-ngatur hidup aku," jelas Mita sedikit kesal.
"Nggak boleh gitu, gimana pun kalian saudara. Mungkin butuh waktu buat kalian untuk bisa memahami satu sama lain."
Mita tersenyum dan mengangguk. "Udah sampai turun yuk Mbak," ajaknya.
__ADS_1