
"Kita bicara di kantornya Mbak Rike," kata Galen pada Fathia lalu ia keluar dari mobilnya.
Masih dengan wajah kesal Fathia pun ikut turun dan membanting keras pintu mobil Galen. Dari area parkir mereka menuju lantai tiga. Sempat terbesit pertanyaan di benak Fathia soal Galen yang membawanya kemari. Sejenak ia lupakan mungkin nanti saja di utarakan.
"Masuk!" titah Galen membuka pintu ruang kerja Rike.
"Selamat datang," sambut Rike.
"Ngapain kamu bawa saya kesini?" tanya Fathia marah.
"Gue cuma mau kasih peringatan sama lo. Jangan coba-coba kabur sebelum Alodie datang!"
Dahi Fathia berkerut lalu memandang Rike yang sedang duduk santai berpangku tangan di pinggir meja kerjanya. "Mbak Rike tau soal masalah ini?"
Rike mengangguk. "Galen sudah cerita semuanya saat ia tiba di Indonesia."
"Lalu, Mbak mendukung dia?" tunjuk Fathia mengarah pada Galen yang duduk di sofa.
"Sorry! Gue cuma membantu teman."
"Teman?"
"Alodie dan Galen kan teman lama gue. Apalagi saat gue tahu kondisi Alodie yang lumpuh bikin gue sedih dan nggak tega."
"Dan Mbak tega sama aku?"
"Bukan begitu, tapi di sini lo emang salah karena sudah memanfaatkan keadaan. Coba kalau dari awal lo jujur sama Aka, mungkin dia akan balikin wajah lo lagi."
"Kenapa Mbak bisa ngomong segampang itu? Padahal Mbak cuma dengar cerita hanya dari satu sisi."
"Gue nggak mau ikut campur masalah lo sama Galen!" kata Rike mengangkat kedua tangannya dan pergi dari sana.
Galen berdiri menghampiri Fathia. "Sekarang lo lihat kan! Nggak ada satu orang pun yang mau membela lo. Bahkan sahabat lo aja sekarang benci sama lo."
Ppppllllaaakkk ...
Tangan mulus Fathia akhirnya mendarat di pipi Galen. Hal yang sejak tadi sangat ingin ia lakukan terhadap pria yang begitu kejam menghancurkan persahabatannya dengan Ciara.
"Kenapa kamu melakukan ini semua pada saya?"
"Karena lo sudah berani mengambil tempatnya Alodie!" kata Galen menghunus Fathia dengan tatapan tajam.
Fathia menghindari wajah yang penuh aura intimidasi itu. "Tapi itu bukan keinginan saya!" tangisnya.
"Oh, ya? Lalu kenapa sampai sekarang lo masih ada di sampingnya Aka sebagai Alodie?
Benar apa yang dibilang Mbak Rike, lo memanfaatkan keadaan."
Fathia menghirup nafas dalam sambil menyeka pipnya yang mulai basah. "Saya nggak pernah memanfaatkan keadaan ini! Memang saya nggak jujur sama Mas Aka, tapi kenapa di awal kamu dan Alodie juga nggak datang menemui Mas Aka? untuk menjelaskan ini semua.
__ADS_1
Malah sekarang saat keadaan rumah tangga mereka membaik dan karirnya Alodie memuncak berkat saya, kalian baru datang merebut itu semua dari saya dengan cara menumpahkan semua kesalahan pada saya sepenuhnya. Padahal kalian juga punya andil di sini," jelas Fathia dengan bulir bening yang keluar dari kelopak matanya.
"Karena itu memang milik Alodie, bukan milik lo!" Galen dengan suara tingginya.
"Tapi saya yang berjuang dalam rumah tangga itu. Saya yang membuat rumah tangga mereka kembali harmonis dan saya juga yang sudah membersihkan nama buruk Alodie di dunia entertain, saya juga yang berjuang menaikkan namanya dengan kemampuan saya. Berati bukan saya yang memanfaatkan keadaan ini, tapi kalian!" Emosi Fathia.
Pppllllaakkk...
Belum hilang bekas tamparan Ciara di pipinya. Galen pun sudah kembali meninggalkan bekas kelima jarinya di pipi Fathia.
"Gue nggak peduli!" tunjuk Galen pada wajah yang menoleh kesamping itu.
"Mulai sekarang lo harus dengar apa kata-kata gue dan jangan pernah berfikir untuk jujur dan menjelaskan semuanya pada Aka apalagi lo kabur sebelum Alodie kembali. Gue nggak mau Aka tahu, bahwa lo yang selama ini ada di sampingnya bukan Alodie."
"Saya juga nggak akan peduli!
Saya akan bicarakan semuanya pada Mas Aka, termasuk rahasia kamu sama Alodie di masa lalu yang nggak pernah di ketahuinya," tantang Fathia dengan urat leher yang menegang.
"Coba saja! Setelah itu gue akan bikin lo mendekam di penjara atas tuntutan pemalsuan identitas dan pasal berlapis lainnya." Galen pun tak mau kalah. Ia mengancam balik Fathia dengan wajah yang menyeramkan dan senyuman miring.
Sambil menangis dan meraung Fathia memukuli tubuh Galen dengan kedua tangan kecilnya. Ia marah, kesal, benci, pada pria yang ada di hadapannya kini.
Kenapa begitu kejam padanya?
Apa salahnya?
Apa dosanya?
Galen menghindar, menahan dan meremas kuat pergelangan tangan Fathia. "Tugas lo sekarang tetap jadi Alodie, sampai Alodie asli kembali untuk mengambil tempatnya dan posisinya sebagai istri Aka juga sebagai artis papan atas yang sebentar lagi akan menerima penghargaan," tekannya mendorong tubuh Fathia sampai terhuyung kebelakang.
Galen pergi begitu saja meninggalkan Fathia dengan hati yang penuh luka goresan akibat keegoisan cintanya pada Alodie. Ia tak peduli bagaimana hati dan perasaan wanita itu, ia terus melenggang pergi seakan tak bersalah sudah merusak kebahagian orang lain demi kebahagiaan sang kekasih hati.
Sedangkan Fathia menangisi perlakuan takdir yang begitu kejam terhadap dirinya. Bukankan takdir yang sudah membawanya hidup sampai seperti ini?
Dalam tangisnya ia tertawa pedih. Ternyata takdir begitu kejam membiarkan ia mencicipi rasanya nikmat kebahagiaan dicintai dan mencintai lalu kini disuguhkan rasa sakit dan kepedihan yang begitu dalam agar ia harus segera pergi meninggalkan kebahagiaan itu.
Kembali Fathia mendongakkan kepalanya agar air mata yang turun dapat berhenti mengalir. Tapi usahanya sia-sia. Tetap saja cairan itu luruh lantak membasahi pipi menuju leher dan sampai ke dada. Membuat sesak menyapanya seakan hidungnya tak sanggup lagi untuk menghirup udara memasuki relung paru.
Tak mau berlama-lama di kantornya Rike. Fathia berusaha menguatkan diri untuk keluar dari sana. Ini adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di sini. Cukup sudah ia tau bagaimana kejamnya orang yang selama ini ia kenal baik, ternyata hanya kedok semata. Mungkin bagi Rike selama orang yang ada di sekitarnya dapat memberikan keuntungan adalah temannya. Dan sekarang Fathia sudah tak dibutuhkan lagi jadi ia pun dicampakkan.
Dengan langkah lebar Fathia melewati orang-orang yang menatap heran padanya. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa wajahnya kusut dan matanya sembab? Apakah ia habis menangis? Kalau ia, masalahnya apa?
Seperti itulah kira-kira yang dibaca Fathia dari raut wajah mereka.
π³π³π³π³
"Kamu kenapa, Honey?" tanya Aka cemas saat mendapati sang istri pulang dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Mata merah dan sembab, pipi juga memerah dan sudut bibir yang sedikit berdarah. Make up di wajah cantik itu tampak luntur menyisakan sisa-sisa bekas air mata.
Fathia langsung menghempaskan tubuhnya dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Kamu kemana aja? Sekarang sudah hampir isya baru pulang. Aku telpon dari tadi nggak di angkat."
Mendengar suara Aka yang penuh kekhawatiran akan dirinya membuat Fathia tak sanggup lagi menahan gejolak di dada untuk kembali menumpahkan semua luka dan rasa sakit yang baru saja ia dapatkan.
"Kenapa?" tanya Aka heran mengusap kepala Fathia.
Lidahnya terasa kelu, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan kondisi hatinya yang kini tengah tercabik-cabik.
Tak mendapatkan jawaban Aka menuntun sang istri masuk kedalam kamar. Mendudukkan Fathia di pinggiran kasur. "Ada apa?" tanya Aka berjongkok di hadapan Alodie palsu
Fathia masih setia dengan tangisan pilunya. Membuat Aka menghembuskan napas frustasi karena tak mengerti dengan apa yang sedang di alami istrinya. Ia hanya bisa kembali membawa tubuh bergetar itu kedalam pelukannya yang paling hangat dan nyaman bagi Fathia. Mungkin saja ini dapat menenangkan sang istri.
"M-mas," panggil Fathia lirih masih terisak.
"Hhmm apa istriku?"
"Aku mau mandi!"
Aka meregangkan pelukan mereka. "Tunggu di sini, aku siapkan air hangatnya dulu."
Fathia mengangguk dan mengusap kedua pipi serta hidungnya yang basah.
"Sudah," kata Aka keluar dari kamar mandi. "Kamu bisa sendiri?"
Fathia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Jangan lama-lama, ya. Aku mau ambil makanan, kamu belum makan kan?"
Kembali Fathia hanya menggelengkan kepala.
Aka mencium kening istrinya dan berlalu pergi meninggalkan.
ββββ
"Aak," ajak Aka mengulurkan sendok berisi nasi ke depan mulut Fathia.
Selesai mandi ia memilih duduk bersandarkan bantal di atas tempat tidur. Menerima suapan itu, meski keinginannya untuk makan tak begitu besar. Tapi karena cacing di dalam perut sudah meronta dan meminta untuk segera di beri makan terpaksa Fathia menelan nasi dan lauk yang terasa hambar di lidahnya.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin Aka lontarkan pada sang istri. Namun melihat kondisi Alodie palsu yang tampak menyedihkan ia mengurungkan niat untuk mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan itu.
"Sudah, Mas," ujar Fathia mendorong piring di tangan Aka.
Aka menghela nafas melihat nasi di piring yang masih tersisa banyak. "Minum dulu." Menyerahkan segelas air putih.
Aka kembali ke dapur untuk meletakkan piring kotor di tempat cucian. Membuatkan susu program hamil yang masih dikonsumsi oleh Alodie palsu sampai saat ini lalu ia pun kembali ke kamar.
"Diminum, ya!" ujarnya meletakkan susu tadi di atas nakas samping Fathia.
Fathia mengangguk lesu.
__ADS_1
"Kemarilah!" ajak Aka menarik tubuh Fathia untuk mendekat dan bersandar di dada bidangnya.
Biasanya malam mereka dipenuhi oleh cerita,canda dan tawa, tapi kali ini ditemani sunyi dan sepi. Tak ada yang memulai obrolan. Fathia sibuk menata kata merangkainya agar menjadi sebuah kalimat untuk disampaikan pada sang suami. Sedangkan Aka masih menunggu dengan penuh harap sang istri akan bercerita padanya sambil menyisir rambut hitam legam milik wanitanya dengan jari.