ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 12


__ADS_3

Sambil mengobati luka sang istri, Aka sesekali mengusap air mata nan jatuh di pipi. Ia berusaha tampak tegar di depan wanitanya, agar Fathia tak ikut merasa sedih. Apa lagi kondisi badan Istrinya yang tampak kurus semakin membuat Aka merutuki dirinya sendiri.


"Sudah!" Aka memakaikan baju tidur panjang pada Fathia.


"Makasih, ya, Mas!"


"Iya, sayang. Kamu mau langsung tidur?"


Fathia mengangguk lemah. Aka pun menuntun sang istri berbaring di atas kasur dan menyelimutinya sampai batas dada. "Aku tinggal bentar, ya. Mau bicara sama, Mita."


"Iya, jagan lama-lama."


Sebelum pergi Aka mengecup kening sang istri, seolah mengatakan ia sangat menyayanginya.


⚽⚽⚽⚽


"Sudah lihat, luka-lukanya, Mbak Fathia?" tanya Mita.


"Sudah!" jawab Aka lesu mendudukkan diri di sofa ruang tengah.


"Malam sebelum aku kemari, Mbak Fathia di keroyok sama tahanan. Gara-gara dia nggak mau bagi makanan. Setiap tiga hari aku selalu datang buat antar makanan bergizi dan vitamin juga susu hamil. Tapi sulit, tahanan lain merasa iri dan membuang semuanya."


Aka hanya dapat mengembuskan nafas berat. "Kenapa malam itu kamu nggak cerita?"


"Buat apa? Nggak ada gunanya! Aku aja yang datang ke sana buat membawa Mbak Fathia ke rumah sakit, nggak di bolehin. Cuma boleh lihat sebentar, karena katanya bukan waktu kunjung."


Aka mengusap wajahnya. "Kondisi bayinya gimana?"


"Kata mereka baik-baik saja. Tapi aku nggak tau, soalnya belum pernah di USG. Untung ada sipir yang baik, mau bantu aku kasih kabar tentang Mbak Fathia. Aku nggak bisa datang tiap hari, selain waktu kunjung yang dibatasi, aku juga harus cari bukti-bukti ini," jelasnya memberikan setumpuk dokumen.


"Dokter bisa baca dan pelajari lebih lanjut. Setelah itu, dokter tentukan tindakan apa yang akan di lakukan setelah ini. Tugas aku selesai, menjaga Mbak Fathia dan membebaskannya. Sekarang giliran, dokter. Tuntut keadilan buat, Mbak Fathia dan bikin dia bahagia."


"Satu lagi! Dokter tau? Aku sampai harus jual rumah dan motor serta alih sewa apartemen untuk dapat uang buat biaya Mbak Fathia selama dia di penjara. Bahkan uang tabungan Mbak Fathia habis untuk bayar denda."


"Maafkan saya, Mit," pinta Aka tertunduk. "Terimakasih sudah menemani istri saya dan mau membantunya."


"Mbak Fathia, sudah seperti kakakku sendiri, jadi dokter nggak perlu terimakasih. Aku melakukan ini karena tau dia nggak bersalah. Apa lagi aku takut anaknya lahir harus di sarang penjahat. Itu nggak adil buat mereka."


Meski Mita berucap dengan santai dan nada datar, tapi tetap saja setiap kata dan kalimat yang diucapkan gadis itu mampu mengoyak dan mencabik hati Aka. Bagaikan di sayat sembilu, perihnya luar biasa.


"Kalau ada yang mau, dokter tanyakan aku siap bercerita. Hhhmmm... hhhaaahhh... aku boleh ke kamar sekarang?" Mita pun juga butuh istirahat. Badannya lelah sejak lima bulan belakangan ini harus kesana-kemari mencari bukti juga pikirannya ikut lelah karean tak lupa mengkhawatirkan keadaan Fathia di dalam penjara.


Aka mengangguk. "Silahkan! Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau."


Mita tersenyum simpul. "Terimakasih." Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Aka seorang diri.


🐞🐞🐞🐞

__ADS_1


Di dalam kamar, Aka memandangi wajah sang istri yang sedang tertidur. Namun wajah itu tampak resah, peluh bercucuran di dahi Fathia. Keningnya berkerut seolah ada hal yang dipikirkannya meski sudah terlelap.


Aka mengusap peluh sang istri dan memeluknya erat lalu berbisik di telinga Fathia. "Tidurlah! Aku di sini akan menjaga kamu dan anak kita."


Nafas istrinya mulai teratur, tak seperti tadi yang nampak sesak seperti orang habis berlari. Perlahan wajah Fathia berubah tenang dan damai. Peluh tak lagi membasahi dahinya. Aka mengusap rambut hitam sang istri dan menciumi puncak kepala itu berkali-kali. Seakan mengatakan kalau ia sangat mencintainya.


Terasa badan itu agak panas, Aka pun berinisiatif untuk mengompres sang istri agar tak sampai demam. Hingga menjelang subuh ia baru bisa tertidur lelap karena suhu tubuh Fathia sudah mulai turun.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Tidur Aka terusik mendengar istrinya yang tengah muntah-muntah di kamar mandi. Segera ia bangkit dari pembaringan dan bergegas menyusul Fathia.


"Kenapa, Honey?" tanya Aka mengurut punggung wanita itu.


"Nggak tau, tiba-tiba aku mual cium bau tubuh kamu."


"Hoek ... hoek ... "


Fathia semakin mual ketika Aka mendekat. Aneh rasanya, padahal kemaren biasa saja.


"Mas, panggil, Mita deh! Aku nggak kuat dekat kamu, makin mual," kata Fathia menutup hidungnya.


"Hah, oh iya, tunggu di sini. Aku panggil, Mita," jawab Aka kelimpungan.


Akhirnya Mita membantu Fathia membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia mengeluh pusing dan badannya meriang. Mita pun meminta Aka untuk segera memanggil dokter kandungan, takut kalau sesuatu terjadi pada bayi di kandungan Mbaknya.


"Aku suapin makan, ya." Aka membawakan sarapan pagi untuk sang istri.


Aka cemberut. Padahal niat hati ingin. menghabiskan waktu berdua dan melepas rindu. Eh malah ada kejadian aneh seperti ini. Istrinya tak suka akan aroma tubuhnya. Dulu saja Fathia sangat suka menempel padanya. Kenapa sekarang malah nggak, ya? Apa karena hormon hamil?


Dari kamar mandi Aka mencoba mendekat. Tampaknya Fathia baik-baik saja, tak lagi menutup hidung seperti tadi. "Masih mual? tanya Aka.


"Lumayanlah, baunya nggak kayak tadi. Ini lebih segar tapi tetap harus jaga jarak," jawab Fathia.


"Waktu di penjara kamu mual-mual nggak?" tanya Alia.


"Nggak ada deh, Mah. Normal aja kok, aku nggak mual atau pusing."


Alia tersenyum. "Sepertinya bayi kalia marah deh, Ka sama, Papanya. Buktinya sekarang dia nggak mau dekat-dekat kamu." Alia menatap sang putra sambil mengelus perut Fathia.


"Bisa gitu, Mah?" tanya Aka.


"Buktiin aja, coba sini kamu duduk gantiin, Mama," ujar Alia beranjak.


Aka mengantikan posisi sang Mama di samping istrinya.


"Hoek... iiissss udah, Mas. Benar kata, Mama. Aku mual mendingan kamu jauh-jauh deh." Fathia menutup hidung dan mulutnya.

__ADS_1


Segera Mita memberikan minyak kayu putih untuk meredakan rasa mual Fathia.


Kesal Aka pun terpaksa menjauh. Ia hanya bisa melihat sang istri dari dekat tapi tak bisa di peluk dan di dekap.


"Dokternya kapan datang dokter?" tanya Mita mengemasi piring kotor bekas makan Fathia.


"Bentar lagi, mereka juga bawa beberapa alat-alat. Kan Fathia nggak mau di bawa ke Rumah Sakit. Jadi aku siapin semuanya di rumah."


"Maaf, ya, Mas. Aku bikin kamu susah." Fathia merasa tak enak.


"Nggak masalah, sayang. Nggak bikin repot kok, justru ini memang yang tebaik, sampai nanti kamu bisa merubah kembali wajah kamu."


"Asalamualiakum." Ternyata dokter Biya dan Beno datang menjenguk Fathia pagi ini.


"Dokter, Bi," sambutnya merentangkan tangan. Ia masih tetap di posisinya yang menyandar di kepala ranjang.


"Maaf, ya aku baru datang sekarang," kata Biya melepas pelukan mereka.


"Nggak apa-apa kok. Dokter Bi gimana kabarnya, sehat?!"


"Aku sehat. Harusnya aku yang tanya kabar kamu. Gimana? Kurusan loh sekarang!"


Fathia hanya cengengesan.


"Aku datang ke sini sekalian mau periksa kondisi kandungan kamu. Semalam Aka hubungin, Mas Beno minta izin agar aku bisa menangani kamu. Karena kondisi kamu sekarang yang nggak memungkinkan ketemu orang baru, aku sampai maksa, Mas Ben supaya mau kasih izin aku buat kerja lagi tapi khusus untuk kamu. Aku nggak mau nanti kamu stres atau sampai depresi. Kasian dedek bayinya," jelas Biya mengelus perut Fathia.


"Makasih banyak loh, Mas Ben sama dokter Bi. Aku ngerasa nggak enak. Dokter Bi lagi hamil juga?"


Biya mengangguk. "Mau jalan empat bulan."


"Ka, orang-orang dari Rumah Sakit sudah datang. Mereka mau masang beberapa alat-alat yang di bawa, kamu bisa bantu?" tanya Faris dari ambang pintu kamar.


"Oh, ok, Pah. Semuanya, ditinggal dulu sebentar ya," izin Aka.


"Yuk, gue bantu," ajak Beno. Mereka berdua keluar dari kamar meninggalkan para wanita.


"Gimana Bi? Masih suka mual?" tanya Alia.


"Udah nggak kok, Tante. Biasanya ibu hamil cuma mengalami pusing dan mual di tiga bulan pertama. Setelah itu normal kok," jelas Biya.


"Lah kok beda ya, dokter Bi. Aku malah di awal-awal biasa aja tapi hari ini mual-mual sama pusing dari tadi."


"Katanya gara-gara bau, Aka tuh," tambah Alia.


"Bisa jadi karena pengaruh hormon. Pemicu mualnya baru ketemu sekarang," tawa Biya.


"Iya kali, Mbak. Kan selama ini, Mbak di penjara," timpal Mita.

__ADS_1


"Nanti kita periksa dulu, ya. Habis itu aku resepin obat sama vitamin. Sekarang kamu sudah bebas jadi jangan banyak pikiran, jangan sedih pokoknya harus happy." Dokter Biya memberikan semangat pada Fathia, setelah ia mendengarkan semua cerita tentangnya dari sang suami. Biya sempat sedih dan tak percaya kalau Alodie bisa berbuat setega itu.


Makanya sekarang dokter Biya mau turun tangan untuk menjadi dokter pendamping Fathia selama dia hamil. Sebagai sesama wanita yang tengah mengandung, Biya dapat mengerti keresahan yang di alami Fathia saat ini soal wajahnya yang masih menyerupai Alodie.


__ADS_2