ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Tiga Satu


__ADS_3

Pihak rumah sakit akhirnya memberikan Fathia waktu satu hari untuk melunasi biaya operasi bu Julanar dan pagi ini juga usai negosiasi Fathia dan pihak rumah sakit bu Julanar akhirnya bisa melakukan tindakan operasi pemasangan ring jantung. Fathia dengan perasaan tak tentu tetap menunggu di depan ruang operasi tanpa siapa pun mendampinginya.


Dokter spesialis jantung melakukan metode invasif non-bedah jadi operasi ini hanya memakan waktu 1 sampai 2 jam saja dan bu Julanar sudah di pindahkan kembali ke ruang rawat semula. Fathia bisa sedikit lega sebab keadaan ibunda baik-baik saja tak ada masalah serius pasca operasi. Sambil menunggu ibunya sadar dari pengaruh obat bius Fathia mengirim pesan pada Ciara.


*Ci, pagi ini ibu selesai operasi dan alhamdulillah semua berjalan lancar. Saat ini biaya operasi masih belum lunas dan pihak rumah sakit hanya memberikan gue waktu satu hari untuk melunasinya. Nanti siang kita ketemu di apartment ada hal yang ingin gue bicarakan*.


Begitulah bunyi pesan yang di kirim Fathia pada sahabatnya itu. Saat bu Julanar sadar Fathia pamit ingin ke kota dengan alasan ia akan bekerja satu hari agar bisa melunasi biaya rumah sakit. Julanar akhirnya memberikan izin pada Fathia toh kata dokter keadaannya stabil jadi Fathia bisa menitipkan ibunya pada suster. Fathia juga meyakinkan ibunya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan paling lambat besok malam ia akan kembali.


Tepat jam 12 siang Fathia sampai di apartment kebetulan Ciara sudah menunggunya di sana.

__ADS_1


"Kenapa lo nggak bilang kalau ibu harus operasi pagi ini?" tanya Ciara.


Fathia menceritakan kejadian semalam sampai keadaan tadi pagi di mana ia harus melakukan negosiasi yang alot dengan pihak rumah sakit agar tindakan operasi ibunya bisa di lakukan pagi ini juga jadi ia tak sempat memberi kabar pada Ciara.


"Jadi sekarang ngapain lo ke sini? ibu sama siapa?" tanya Ciara.


"Gue kesini mau terima tawaran pengusaha yang lo ceritakan waktu itu," katanya yakin.


"Emang lo punya jalan lain?"

__ADS_1


Ciara hanya diam dalam duduknya. Benar, saat ini ia juga tak punya jalan lain pihak rumah sakit hanya memberikan waktu sampai besok dan hutang pada rentenir itu harus lunas dua hari lagi kalau tidak Fathia akan di paksa jadi istri ketiga. Ciara pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan ia menangis sejadi-jadinya kenapa nasib Fathia sekarang tak jauh beda dengan dirinya.


"Sudah lah Ci, nggak ada gunanya lo nangis. Gue capek masalah ini bukan semakin ringan malah semakin berat bahkan untuk menangis gue sudah nggak sanggup," kata Fathia memeluk Ciara.


"Kenapa kita nggak coba bicarakan lagi sama mbak Widia?" saran Ciara.


Fathia menghela nafas. "Kita nggak punya waktu lagi. Sekarang lo hubungi pengusaha itu bilang kalau wanita yang lo janjikan sudah ready. Gue dapat uang semua masalah selesai," tambahnya meyakinkan.


"Lo yakin Ti?"

__ADS_1


"Yakin se yakin yakinnya. Cuma ini satu-satunya cara agar gue bisa lepas dari masalah ini. Kalaupun dosa biar gue tanggung nanti di akhirat dan gue nggak akan pernah menyesali keputusan yang sudah gue ambil," jelas Fathia penuh penekanan.


Ciara pun kembali memeluk Fathia air matanya tak terbendung kalau Fathia harus menempuh jalan yang pernah ia lalui. Sakit dan sesak di dada Ciara saat ini tapi inilah kehidupan sepahit apa pun harus tetap di jalani dengan hati yang tegar.


__ADS_2