
Tiga bulan setelah melahirkan, Fathia pun sudah berhasil menjalani operasi plastik wajahnya. Kini ia sedang dalam masa pemulihan. Perban di wajah masih belum di buka, menunggu sekitar dua minggu lagi.
Namun ia sudah bisa beraktifitas seperti biasa di rumah. Hanya saja ia sedikit kesulitan dalam berkomunikasi dan mengkonsumsi makanan. Baby Kafha kini sudah berumur enam bulan, semakin aktif dan badannya juga tambah membulat.
Persiapan pernikahan pun sudah di rancang oleh Aka. Ia sengaja mempersiapkan acara megah dan besar untuk menikahi kembali dan menyambut sang istri tercinta. Sampai sekarang Fathia masih menutupi wajah aslinya dari sang suami.
"Bib, jadi nanti berapa lama bini gue menjalani masa pemulihan? Soalnya pernikahan kita satu bulan lagi loh!" Aka memastikan kondisi sang istri sebelum pesta pernikahan mereka di gelar.
"Kita lihat progresnya, kalau tidak ada pembengkakan, pendarahan dan lebam. Artinya proses operasi berjalan baik."
"Boleh pakai make up nggak?"
"Boleh! Soalnya Fathia hanya melakukan sedikit perubahan, nggak sama kayak yang dulu. Kita melakukan dua kali tindakan operasi karena luka bakar di wajahnya. Sekarang pemulihannya lebih cepat."
Aka menghela nafas lega. "Gue penasaran banget sama wajah bini gue."
"Jelek dari Alodie!"
"Anak gue aja ganteng gitu, masak emaknya jelek?!"
"Gantengnya turunan dari lo!"
"Nggak percaya gue!"
"Kalau emang istri lo jelek gimana? Lo masih mau sama dia?"
"Ya, mau lah. Kayak apa pun rupanya gue udah cinta mati sama dia!"
Dokter Labib hanya menipiskan bibirnya.
ππππ
"Pokoknya, ya, Mas aku mau nanti kamu lihat wajah aku saat ijab kabul kita selesai." Fathia mengingatkan suaminya.
"Lama itu mah, sayang! Kenapa nggak pas kamu buka perban aja aku boleh lihat?"
"Kejutan buat kamu, lagian kan cuma nunggu dua minggu. Selama itu aku tinggal di hotel sama Kafha, anggap aja kita lagi di pingit sebelum pernikahan," jelas Fathia sambil menyusui anaknya.
"Lah, tambah lagi dong jadwal liburnya aku. Udah enam bulan ini dari kamu melahirkan sampai sekarang," cemberut Aka menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Nggak pa-pa. Biar seru pas malam pertamanya nanti. Anggap aja kita pengantin baru!"
"Ah, kamu mah," sebal Aka.
"Sabar, Mas! Awas aku mau tarok Kafha di boxnya." Fathia menggoyangkan bahu agar sang suami mengangkat kepalanya dari sana.
"Tapi aku bolehkan mampir ke hotel kan, mau main sama Kafha?"
"Ya boleh lah! Asalkan pulang. Aku nggak mau kamu nanti ngintip-ngintip wajah baru aku."
Aka memanyunkan mulutnya. Kesal dengan kemauan sang istri yang sangat merugikan dirinya.
__ADS_1
"Tidur, yuk!" ajak Fathia merangkak ke atas kasur.
"Iyah," jawab Aka dengan wajah BT.
πΎπΎπΎπΎ
Kini Fathia dan baby Kafha serta Mita sudah menginap di hotel bintang lima, tempat pernikahan ia dan Aka nanti akan di gelar. Dokter Labib pun sedang membuka perban di wajah Fathia.
"Kamu serius Aka nggak boleh lihat dulu?" tanya Labib.
"Serius dokter! Biar jadi kejutan nanti. Tapi benar ini aku boleh dandan dua minggu lagi?"
"Kayaknya sih bisa. Luka kamu sembuh dengan sangat cepat dan kayaknya nggak ada pembengkakan sama sekali, memar juga nggak ada. Sempurna lah pokoknya," jawab Labib memuji hasil karya tangannya.
"Wwaahh ... Mamanya Kafha cantik sekali," puji Mita yang baru pertama kali melihat wajah asli Fathia.
"Iya, cantik dari Alodie ya, Mit," tambah Ciara yang ikut menemani mereka di sana.
"Tapi kemaren gue bilang ke Aka, kalau istrinya jelek dari Alodie," timpal Labib.
"Terus apa jawab, Mas Aka?" tanya Fathia.
"Dia tetap cinta sama kamu, mau rupanya kayak apa!"
"Ccciieee .... " Sorak Mita dan Ciara.
"Ini saya kasih beberapa pelembab sama serum dan perawatan lainnya. Selama dua minggu ke depan kamu bisa perawatan wajah pakai skin care ini," terang Labib.
"Makasih loh dokter Labib!" senang Fathia.
Fathia mengangguk.
"Tiga hari lagi gue kontrol ke sini."
"Siip!" Fathia mengacungkan jempol.
ππππ
"Honey, di buka dikit dong maskernya! Aku mau lihat sebentar aja," bujuk Aka pada sang istri nan menutupi seluruh wajahnya dengan masker perawatan dari dokter Labib.
"Nggak, Mas. Nanti aja pas ijab kabul selesai."
"Ih, Mama pelit ya, Nak!" ujarnya pada sang anak yang sedang di gendong.
"Kalau Kafha udah lihat!" kata Fathia.
"Kenapa sih aku nggak boleh lihat sekarang?"
"Kejutan buat kamu nanti!"
"Sama aja mah, sekarang atau nanti," desak Aka.
__ADS_1
"Beda, Mas!"
Mau tak mau Aka akhirnya mengalah. Menunggu dua minggu lagi sampai acara ijab kabul selesai.
Sungguh sangat menyiksa. Tapi mau bagaimana lagi, ya sudahlah di ikuti saja. Anggap nanti ia memiliki istri baru yang siap untuk di unboxing.
Aka memilih bermain bersama sang putra selagi sang istri memasak makan malam bersama Mita. Pas malam harinya ia harus kembali pulang ke rumah sang Mama atas permintaan sang istri, mereka harus pisah ranjang dulu sampai acara pernikahan tiba.
"Aku pulang, ya. Besok ke sini lagi," pamit Aka pada istrinya.
"Kamu kapan cuti?"
"H -2. Ngapain cuti buru-buru. Kamu nggak ada di rumah," cemberutnya.
"Hehehe ... sabar ya! Dua minggu lagi." Fathia mengecup pipi suaminya.
"Papa pulang ya, Nak. Da-da Kafha," ujar Aka melambaikan tangan di ambang pintu.
Fathia pun menggoyangkan tangan sang putra membalas lambaian tangan sang papa.
"Udah ngantuk dia ini mah. Kalian bobok ya," titah Aka sebelum pergi.
"Iyah, habis ini kita tidur kok," jawab Fathia.
"Cup! Cup! " Aka mengecup istri dan anaknya lalu ia keluar dari kamar hotel berjalan di lorong menuju. lift.
π΄π΄π΄π΄
Setelah kontrol bersama dokter Labib dan menjalani perawatan laser. Wajah Fathia semakin terlihat cantik, bahkan proses penyembuhan berjalan sempurna. Tak ada permasalahan yang terjadi di wajah Fathia. Labib benar-benar memberikan yang terbaik hingga ia sendiri takjub dengan hasil karyanya sendiri.
"Benar ini udah boleh di rias wajahnya?" tanya Fathia.
"Boleh! Udah bisa, kamu nggak perlu khawatir," yakin Labib.
"Alhamdulillah kalau gitu! Aku kasian sama, Mas Aka yang udah uring-uringan pengen lihat dari kemaren-kemaren."
"Tega benar kamu!"
"Hehehe kejutan dok. Anggap aja kami pengantin baru."
"Benar juga sih, Aka pasti kaget lihat wajah istrinya yang cantik gini!"
"Ah, dokter Labib bisa aja," malu Fathia.
"Yaa emang kamu cantik! Lebih cantik dari Alodie."
"Benar kata dokter, Labib Mbak, Mbak emang cantik banget. Aku kalau jadi cowok mungkin naksir," timpal Mita yang tengah mengendong Kafha.
"Dokter Labib naksir aku nggak?" goda Fathia.
"Digebukin laki kamu saya nanti!"
__ADS_1
"Hahaha ... iya, yah. Ya udah aku pulang, kasian Kafha mau bobok dia," pamit Fathia.
Labib pun mengantar kepergian Fathia dan Mita menuju parkiran. Mereka sudah layaknya keluarga, bahkan Labib tak jarang main ke rumah Aka saat Fathia menjalani rawat jalan di rumah, sekalian kontrol pasienlah.