ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 38


__ADS_3

Seoul menjadi ibu kota dan pusat inovasi teknologi perawatan operasi plastik di Korea Selatan.Β Membuat Fathia memutuskan untuk melakukan tindakan operasi plastik atau mengubah kembali bentuk wajahnya di sana. Sebenarnya bisa saja ia menghubungi dokter Labib yang menanganinya dulu, tapi Fathia tak mau rencananya ini di ketahui oleh orang-orang terdekat Aka.


Sebisa mungkin ia harus pergi jauh sampai wajahnya berhasil di ubah kembali menjadi Fathia.


Lewat mesin pencarian di internet Fathia mencari informasi tentang beberapa dokter dan klinik yang terpercaya di sana. Mengirim pesan lewat E-mail menanyakan tentang beberapa informasi yang dibutuhkannya. Dari sekian banyak dokter hebat yang sudah di hubungi nya, hanya satu yang membalas pesan dari Fathia.


Kemudian dokter tersebut mengajak Fathia untuk bertemu langsung. Ia akan memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai prosedur operasi, hal apa saja yang harus dipersiapkan, dan berbagai risiko yang mungkin terjadi dari yang ringan hingga serius. Dokter tersebut tak mau melakukan konsultasi lewat dunia maya. Ia mau menjawab langsung hal-hal yang ingin diketahui Fathia. Sekaligus melakukan serangkaian pemeriksaan terkait kondisinya.


"Kalau aku berangkat dalam waktu dekat, kayaknya nggak bisa deh.Apa lagi kalau cuma buat konsultasi aja. Lebih baik sekali berangkat untuk melakukan tindakan." Fathia bicara sendiri.


Akhirnya Fathia memutuskan untuk berangkat sekitar 2 bulan lagi. Sebelum pergi Ia harus menghadiri sebuah acara penghargaan di beberapa stasiun televisi. Mungkin setelah menerima penghargaan ia baru bisa meninggalkan Indonesia serta Aka selama 6 bulan kedepan.


Tapi ada hal yang masih mengganjal di hatinya. Yaitu soal Galen dan kedatangan Alodie asli. Fathia khawatir jika mereka datang sebelum ia pergi dan menghancurkan rencana yang sudah di susunnya rapi. Ia takut Galen datang lagi dan menekannya agar pergi jauh dari hidupnya Aka.


"Nggak! aku akan merebut Mas Aka dari tangan Alodie. Tapi sebelum itu aku harus menjadi Fathia dulu, setelah itu aku baru menjelaskan semuanya pada Mas Aka." Tekad Fathia.


Ia menutup laptop dan beranjak dari meja rias menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu berdandan rapi untuk segera ke lokasi syuting.


πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—


"Mita, setelah aku menghadiri acara penghargaan di TV tolong kosongkan semua jadwal ku ya!" ujar Fathia di perjalanan menuju lokasi syuting.


"Emang Mbak mau kemana?"


"Nggak kemana-mana, mau istirahat aja dulu."


"Mbak aneh deh, kemaren pengen banget kerja. Sekarang pengen berhenti lagi." Geleng Mita.


Fathia hanya menyunggingkan sudut bibirnya memandang kearah jalanan lewat kaca mobil. "Aku cuma lagi kumpulin uang buat biaya operasi Mit. Setelah itu aku harus pergi meninggalkan Mas Aka dan cinta aku di sini. Meski nanti Mas Aka bingung aku kemana. Tapi tenang saja aku pasti akan kembali, menghadapi Alodie yang asli dan merebut cintanya Mas Aka!" batin Fathia.


"Mbak, kata Mbak Rike baju untuk acara penghargaan mau pakai sponsor atau bikin sendiri?" tanya Mita.


"Hhmm terserah Mbak Rike aja!"


"Ok. Katanya nanti bakalan di atur jadwal ketemu disainer baju yang mau sponsori sekalian bawa dokter Aka. Mbak datang sama dokter kan?"


"Oh, kalau gitu biar aku yang bikin sendiri sama disianer langganan aku."


Mita menipiskan bibirnya. "Ck, tadi katanya terserah."


"Aku lupa Mit! kalau perginya sama Mas Aka."


"Ia, ia. Aku kirim lagi pesan sama Mbak Rike dulu, batal pakai sponsor."


"Hehehe makasi ya Mit."


"Nggak usah makasi segala, Mbak! kan udah kerjaan aku."


πŸ…πŸ†πŸ…πŸ†πŸ…


"Mas, pas kamu libur kita ke butiknya teman aku ya!" ajak Fathia yang sedang rebahan di sofa ruang kerja Aka.


"Ngapain?" matanya fokus ke layar komputer.


"Bikin baju buat hadiri acara penghargaan di TV. Ntar kamu temanin aku ya!"


"Kapan acaranya?"


" 2 bulan lagi."


"Masih lama itu mah honey."


"Tapi Mas, acaranya nggak hanya satu. Ada 3 jadi harus bikin 3 baju."


"Ya udah ia. Sabtu kita pergi." mematikan komputer lalu bangkit dari duduknya menghampiri sang istri di sofa. "Tapi aku nggak mau di wawancara ntar!" menindih Fathia.


"Kalau di tanya sedikit boleh lah di jawab ya, ya, please?" dengan mata memohon dan menangkup pipi Aka.


"Hhhhaaahh ok deh." ******* bibir istrinya.


"Hhmm, udah," mendorong dada Aka.


"Kok udah?"


"Nanti kamu pengen lagi. Awas, aku mau ke kamar dulu, mau cuci muka." Berusaha beranjak tapi di tahan Aka.


"Ia lagi aku pengen!" Aka menatap istrinya dengan penuh hasrat.

__ADS_1


"Tuh kan, kamu sih mesum mulu Mas."


"Sama istri sendiri kok di bilang mesum sih?"


"Kamu nggak bosan apa?"


"Nggak!"


"Awas Mas, iiihh. Aku mau cuci muka ini," desak Fathia mendorong tubuh Aka untuk turun darinya.


"Sekali ya, please."


"Aku cuci muka dulu."


"Nanti aja. Aku maunya di sini," ujar Aka membuka kemeja.


"Di kam... hhmm... hhmmm." Fathia memukul dada Aka. Bibirnya sudah di bungkam sang suami sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Hhmm... M-mas kita pindah ke kamar aja yuk!" ajak Fathia ketika suaminya sudah menanggalkan seluruh pakaiannya.


"Kenapa? hheemm"


"Malu Mas, ruang kerja kamu terang banget lampunya."


"Sekali-kali aku mau lihat semuanya dengan jelas," kata Aka meneruskan kegilaannya.


Jujur Fathia tak dapat menolak pesona Aka. Begitu gagahnya dan jantannya sang suami kala menjunjungnya menaiki puncak surga dunia. Tapi semua ini tak akan berlangsung lama. Secepatnya ia harus berpisah dengan Aka. Meninggalkan kebahagiaan mereka, juga kenangan indah yang sudah di bangun selama ini. Apakah Aka akan mengingat semuanya nanti ketika ia kembali dengan wajah yang baru?


"I love you Mas, I love you so much," ucap Fathia saat mereka berdua berhasil mencapai titik *******.


"Love you to honey!" balas Aka memeluk erat tubuh polos istrinya.


πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚


Esok harinya Aka dan Fathia menuju satu boutique milik teman Alodie palsu selama ia menjadi artis.


"Semoga bawa piala ya Al," ucap disianer yang sedang mengukur Fathia.


"AMIN."


"Biar suami kamu tambah bangga!"


"Oohh so sweet. Ternyata pak dokter manis juga." Goda Nindi.


"Manis asal sama istri saya. Kalau sama kamu, maunya saya bedah!"


"Iisshh seram ya."


"Cukup kan waktunya Nin?" tanya Fathia pada wanita separoh itu.


"Sebenarnya sih kurang ya Al, tapi buat kamu aku usahain yang terbaik." Mengepalkan tangan.


"Makasih ya, kamu emang yang paling the best!" Memeluk.


"Pereszz!"


"Serius aku, kapan sih aku pakai jasa lain. Selalu ke kamu kan kalau mau bikin baju."


"Hehehe.. ia, ia. Aku bencanda. Yuk sekarang lakinya di ukur dulu."


"Mas." Fathia memanggil.


"Hhmm." Sibuk dengan ponselnya.


"Yuk di ukur dulu sama Nindi."


"Nggak ada laki-laki tulen apa?"


"Ada nggak?" tanya Fayhia pada Nindi.


"Kalau buat dokter saya bisa jadi laki-laki tulen buat sementara waktu," tegas Nindi dengan suara bassnya.


Aka melangkah terpaksa menyerahkan dirinya untuk di ukur oleh si wanita separo.


"Parfumnya wangi loh, pasti mahal," kata Nindi.


Fathia hanya tertawa kecil di sofa melihat wajah bete Aka yang di goda dan di rayu oleh Nindi laki-laki jadian itu.

__ADS_1


"Cepatan, jangan lama-lama," gerutu Aka.


"Sabar dong dokter! buru-buru amat sih, saya mau memastikan dulu ukurannya pas, biar nanti dokter makin ganteng pakai jas dari saya."


Aka memutar bola matanya malas.


πŸ§„πŸ§„πŸ§„πŸ§„


πŸ“±Mbak, hari ini bisa datang ke kantor?


Tanya Jio ketika menghubungi Fathia yang berada di lokasi syuting.


πŸ“±Ada apa emangnya?"


πŸ“±Itu Mbak, ada pria yang datang ketemu Bapak. Saya nggak tau mereka bicara apa, sampai tiba-tiba mereka berantem di ruang kerja bapak.


πŸ“±Hah, kok bisa? siapa orangnya?


πŸ“±Saya nggak tau Mbak! mendingan Mbak segera kesini deh.


πŸ“±Ok, saya jalan sekarang.


Sambungan di putus sepihak oleh Fathia. Dengan gegas ia mengemasi semua barang yang ada di lokasi syuting dan mengajak Mita ikut bersamanya.


"Ada apa Mbak?" tanya Mita.


"Mas Aka berantem sama orang di kantornya."


"Kok bisa? Masalahnya apa?"


"Nggak tau aku Mit. Aku juga dapat kabar dari Jio." Fathia jalan terburu-buru menuju mobil di parkiran.


"Pak, kita ke kantornya dokter Aka," kata Mita pada supir.


Selama perjalanan otak Fathia berusaha menebak siapa kira-kira orang yang sudah memancing emosi dan kemarahan suaminya. Mendadak begini, rasa khawatir, cemas dan takut semua menjadi satu.


Perjalanan menuju kantor Aka begitu jauh rasanya bagi Fathia.


Tak biasanya Aka main tangan begini meski memang terkadang jika kalanya Aka sudah tegas dan marah akan tampak menyeramkan tapi tak akan mudah tersulut emosi sampai harus memukul orang. Ada seseorang tebakan Fathia,tapi ia masih ragu dan membuat perasaannya semakin gelisah. Ia was-was kalau orang yang di maksud benar datang menemui Aka dan mengungkapkan segalanya.


Baru saja mobilnya berhenti di depan Gedung AkaFarma Fathia membuka pintu dan melompat turun. Berlari masuk ke arah lift pribadi menuju lantai tertinggi tempat ruang kerja Aka. Semua mata karyawan memandangi Alodie palsu yang tampak cemas masuk ke area kerja. Tak seperti biasanya pikir mereka.


"Mana, mana Mas Aka?" tanya Fathia pada Jio menahan dadanya yang naik turun akibat sesak nafas setelah berlari dari bawah.


"Ada Mbak, di dalam. Masuk aja," jawab Jio mempersilahkan dengan tangannya.


"Mas," panggil Fathia mendorong pintu kaca kantor suaminya.


"Honey!" kaget Aka tau istrinya datang.


"Kamu kenapa Mas?" khawatir Fathia melihat wajah Aka yang luka lebam juga sudut bibirnya berdarah.


"Cuma insiden kecil."


"Insiden kecil? Berantem sama siapa kamu, Mas?"


"Duduk dulu," ajak Aka menuntun bahu istrinya ke sofa.


"Sini aku bantu kompres!" mengambil alih es batu dari tangan suaminya.


"Kamu kenapa bisa kesini?"


"Jio yang telpon aku!"


"Jio sialan!" umpat Aka berbisik.


"Kok kamu marah sama Jio?"


"Bukan marah sayang! aku cuma kesal dia pakai acara lapor segala sama kamu."


"Terus kamu nggak suka aku tau?!"


"Duh, bukan gitu maksudnya honey! aku cuma nggak mau kamu tau dan khawatir gini. Lihat nih wajah kamu aja pucat loh, nafas juga ngos-ngosan," tunjuknya.


"Makanya cerita sama aku sekarang!"


"Di rumah aja, ya. Kita pulang yuk!"

__ADS_1


Fathia menghembuskan nafas dan mengangguk setuju untuk ikut suaminya pulang kerumah. Memang lebih baik kalau mau menjelaskan sesuatu atau menjelaskan sebuah kesalahpahaman dengan kepala dingin tanpa adanya emosi.


__ADS_2