
Hari ini keberangkatan mereka ke Fipina, Manila. Mereka berangkat mengunakan pesawat pribadi yang di sewa oleh Aka sebelumnya. Pukul 9 pagi mereka akan lepas landas, jadi sekarang sudah sekitar pukul 8 lewat Aka dan Alodie palsu akan segera menuju bandara.
π±Kita ketemuan di bandara aja ya Ci, aku sama Mas Aka udah mau jalan.
Kata Fathia menghubungi Ciara.
π±Ok, gue juga langsung jalan.
Sambungan ponsel di putus.
"Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Aka sebelum masuk mobil.
"Ada!"
"Apa?"
"Jejak kita ketinggalan," canda Fathia.
"Hahaha... bisa aja kamu. Yuk berangkat!"
Kali ini Aka tak menyetir, melainkan di antar oleh supir supaya nanti mobil mereka bisa di bawa pulang. Sayang kalau harus di tinggalkan di parkiran bandara berhari-hari.
"Beno juga udah jalan katanya," ujar Aka membaca pesan yang dikirim sepupunya.
Sampai di bandara mereka semua langsung menuju landasan memasuki pesawat dan segera take off.
"Mita gimana?" tanya Fathia pada Ciara.
"Mewek pengen ikutan, jadinya gue kasih tiket ke Bali biar dia liburan juga sama teman-temannya. Tapi kenapa sih lo maksa gue banget buat ikut? gue cuma jadi orang ketiga di antara kalian tau nggak," kesal Ciara.
"Nikmatin aja, lagian kapan lagi kamu liburan gratis," jawab Fathia santai.
"Ck!! mendingan gue istirahat di kamar aja, males lihat kalian mesra-mesraan," kesal Ciara memasuki bilik yang ada di pesawat itu.
"Gue penasaran deh Ka, gimana ya nanti ekspresinya Joe lihat mantan istri sirihnya?" ujar Beno.
"Bukan ekspresi Joe aja kali Ben, tapi tuh Ciara juga!" tambah Aka.
"Kita lihat aja nanti sama-sama, kalau bisa kita pura-pura nggak tau aja masalah mereka nanti pas di sana. Kasih mereka ruang buat bicara berdua," usul Fathia.
"Boleh tuh, Joe kan nggak pernah kasih tau kita siapa istri sirihnya," ujar Beno.
__ADS_1
"Terus tau dari siapa Mas?" tanya Biya.
"Dari karyawan klub waktu itu kasih tunjuk kita foto Ciara."
Aka mengangguk setuju. "Ok kalau gitu kita istirahat di kamar masing-masih. Perjalanan kita akan makan waktu kurang lebih 4 jam," ajak Aka menarik tangan istrinya.
ππππ
Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino. Pesawat yang di tumpangi Aka, Alodie, Beno, Biya dan Ciara mendarat dengan sempurna. Waktu di Filipina sendiri satu jam lebih cepat dari Jakarta, oleh karena itu mereka tiba di sana tepat pukul 2 siang menjelang sore. Mereka pun di jemput oleh bus yang merupakan fasilitas dari resort. Perjalanan menuju resort yang di kelola oleh Joe memakan waktu tempuh satu jam.Belum lagi mereka harus menyebrang pulau mengunakan kapal yang memakan waktu kira-kira 10 menit untuk dapat langsung menuju salah satu tempat terindah nan tersembunyi di Filipina.
Lelah mereka terbayar oleh pemandangan yang tersaji di depan mata saat mereka turun dari kapal. Beberapa Cottage panggung di atas air tampak berjejer rapi. Belum lagi yang di tepi pantai sampai yang di dalam hutannya pun ada. Sambil menikmati suasana baru dan hamparan laut luas mereka berjalan menuju lobi. Tampak di sana Joe sudah menunggu kedatangan mereka semua.
"Selamat datang di resort gue," sambut Joe memeluk Aka dan Beno bergantian. "Akhirnya kalian datang juga ke sini."
"Wwwiihhh...keren Bro! pantasan lo betah di sini, tempatnya aja keren gila, surga dunia ini mah," puji Beno kagum.
"Hahaha... Terimakasih. Gimana kabar pengantin baru? istrinya mana nih?" tanya Joe melihat kebelakang Aka dan Beno.
"Biasa, cewek-cewek kalau lihat yang bagus-bagus jalannya suka lambat," tunjuk Aka ke arah belakang.
"Cepatan dong honey, jalannya," sorak Aka.
Joe mengulurkan tangan dan di sambut dokter Biya.
"Kalau istri gue lo tau kan, tapi istri gue amnesia pastinya dia nggak kenal sama lo. Tapi gue sering cerita soal lo sama Alodie," kata Aka merangkul istrinya.
"Oh, ya kenalin itu teman aku, namanya Ciara," lanjut Fathia menunjuk Ciara yang semakin mendekat.
Keduanya diam terpaku, saling memandang tak percaya. Mungkinkah mereka bermimpi atau ini memang kenyataan?
Sudah 2 tahun lebih mereka tak bertemu, meninggalkan sebuah rasa yang tak pernah jelas. Ada ragu yang tak pernah diyakinkan.
Memiliki pertanyaan yang tak terjawab.
"Joe." katanya mengulurkan tangan.
Agak ragu Ciara menyambut tangan yang sudah lama tak pernah ia genggam.
Apakah masih sehangat dulu?
Apakah tangan itu sudah digenggam oleh yang lain?
__ADS_1
"Ciara." jawabnya tersenyum tipis.
"Ayok, kita masuk dan kalian bisa lihat-lihat kamarnya. Nanti tinggal pilih mau yang mana," ajak Joe mengalihkan pembicaraan.
Sambil berkeliling Ciara dan Joe berdebat dengan hati dan pikiran mereka masing-masing. Tak ada dari mereka yang memulai percakapan, setidaknya sekedar berkata "Hay" atau menanyakan kabar.
Sedangkan dua pasang di depan mereka tengah sibuk memperdebatkan kamar mana yang akan mereka tempati.
"Mau kamar yang mana?" tanya Aka pada istrinya.
"Aku bingung! mau yang di atas laut sama yang di dekat hutan. Pengen dua-duanya," jelas Fathia manja di bahu Aka.
"Joe, boleh nggak nanti ganti kamar?" sorak Aka.
"Hah, oh ia boleh," jawab Joe sadar dari lamunannya.
"Kalau kita berdua lebih suka yang di tepi pantai," kata Beno di angguki oleh Biya.
"Kita pilih yang di atas air untuk 2 hari kedepan, 2 harinya lagi kamar di dekat hutan," jelas Aka pada Joe.
Sedangkan Ciara masih belum memutuskan kamar mana yang akan ia tempati.
"Kalau kamu di mana Ci?" tanya Fathia.
"Gue, yang di tepi pantai aja," jawabnya.
"Baik, silahkan ikuti pelayan, mereka akan menunjukkan kamar untuk kalian. Silahkan istirahat dulu sebelum kita makan malam," kata Joe.
"Makasih Joe," ujar Aka dan Beno bersamaan.
"Ayo, saya antar ke kamarnya," ajak Joe pada Ciara.
Ciara masih diam membisu, ia mengikuti langkah kaki pria yang ada di depannya itu. Sampai di sebuah kamar Joe pun membukakan pintu untuk Ciara.
"Terimakasih!"
"Sama-sama, selamat beristirahat!"
Ciara balas dengan senyuman dan mengangguk lalu menutup pintu kamarnya meski Joe masih setia berdiri di sana. Ciara menyandar di daun pintu, menghirup nafas dalam menormalkan detak jantungnya yang sejak tadi bekerja dua kali lipat dari biasanya saat bertemu Joe untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah lewat secarik surat.
Begitu pula dengan Joe masih menatap daun pintu yang sudah tertutup rapat itu. Seakan ia ingin memeluk orang yang ada di dalamnya, tapi entah mengapa tubuhnya masih terasa kaku, lidahnya kelu untuk bicara. Seakan masih tak percaya cintanya datang menghampiri.
__ADS_1