ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 10


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Aka dan seluruh keluarga sudah menunggu kedatangan detektif swasta yang dibayarnya untuk mencari bukti-bukti nan diminta Mita. Sedangkan gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sudah dari pagi Aka meminta agar datang terlebih dahulu tapi, sampai malam ini tak ada kabar darinya sama sekali.


"Lama amat sih si Mita." Aka tampak resah menanti kedatangan gadis itu di ruang tamu. Takut kalau Mita tiba-tiba saja menghilang. Ketika dihubungi nomornya sudah tak aktif lagi.


Tak lama detektif itu pun datang membawa semua bukti yang sudah berhasil dikumpulkannya. "Semua bukti sudah saya dapatkan. Apa pelu saya jelaskan?" tanya Hendro.


Aka menggeleng. "Kita tunggu Mita dulu."


Pukul sembilan malam gadis yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Membuat semua orang semakin resah dan khawatir. Bahkan Alia sudah tak dapat membendung air matanya. Takut akan harapan bertemu dengan sang menantu hanya omong kosong.


"Sabar, Mah. Mita pasti datang!" Faris berusaha menenangkan sang istri.


"Tapi kemaren dia janji sama, Mama bakalan datang siang, Pah. Sekarang sudah jam segini dia nggak muncul. Bahkan ponselnya nggak aktif. Mama takut kalau Fathia melarangnya untuk menemui kita." Wanita itu berusaha menyusut air mata, namun usahanya sia-sia, bulir-bulir itu tetap saja jatuh menyentuh pipi nan tampak mulai keriput.


"Kalau begitu saya pulang dulu, Pak. Besok pagi saja saya kembali kesini." Hendro bangkit dari duduknya hendak pamit.


"Tunggu! Saya mohon kita tunggu setengah jam lagi. Kalau gadis itu tak datang juga, Anda boleh pergi." Aka berusaha menahan detektif itu.


Ciara juga tampak resah menunggu kedatangan sang adik. Dicobanya menghubungi ponsel Mita berkali-kali. Tetap operator mengatakan kalau nomor yang ditujunya sedang tak aktif. "Jangan-jangan dugaan Tante Alia benar! Fathia ngelarang Mita buat datang lagi untuk nemuin kita," ucapnya mulai menangis di pelukan sang suami.


"Kamu jangan berpikiran negatif dulu. Siapa tau Mita lagi ada sedikit masalah. Kita tunggu saja sebentar lagi," kata Joe mengelus punggung istrinya.


"Assalamualaikum." Suara itu membuat hati semua orang yang menunggunya bersorak gembira.


"Kemana saja sih, Mit? Ditungguin dari tadi?" Aka meluapkan kekesalannya karena sudah menunggu terlalu lama.


"Ada urusan penting! Sudah dapat bukti yang aku minta?" Gadis itu pun langsung mendudukkan diri di sofa tanpa di beri perintah. Ia sepertinya sudah tak sabar ingin melihat bukti-bukti yang selama ini berusaha dicari tapi susah untuk bisa mendapatkannya.


"Sudah, Mbak," jawab Hendro memberikan beberapa dokumen.


"Bukti apa itu, Mit? tanya Alia.


Wajah gadis itu tersenyum sumringah membaca dan membalik lembaran-lembaran kertas nan berisi keterangan saksi atau bukti tertulis lainnya. "Bukti kalau Mbak Fathia nggak bersalah!"


"Maksud kamu?" Dahi Aka berkerut, tak paham akan perkataan Mita.


"Mbak Fathia dituntut dua belas tahun penjara atas pasal berlapis. Pemalsuan identitas, pencurian identitas, bertransaksi dengan identitas orang lain tanpa izin pemilik identitas, identitas orang lain digunakan untuk perjanjian yang otentik dan yang terakhir penipuan."


Berita yang disampaikan Mita bagaikan petir nan menyambar seluruh orang yang ada di ruangan itu. Mereka kaget, tak percaya, bingung, khawatir, sedih semua rasa campur aduk. Bahkan Aka menjambak rambutnya karena berita ini begitu menamparnya.


"Siapa yang melakukannya, Mit?" Geram Aka.


Gadis itu masih bersikap santai, meski semua orang yang ada di sana tampak cemas. "Siapa lagi kalau bukan istri dokter sendiri dan mantan pacar juga mantan selingkuhannya."


Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun, dadanya tampak naik turun menahan amarah dan emosi yang sudah siap meledak. Aka tak percaya bahwa Alodie melakukan hal sampai sejauh ini. "Bajingan, bangsat!! umpat Aka memukul dan menendang tembok.


"Sabar, Ka!!" Beno berusaha menahan saudaranya. "Kita selesaikan masalah ini dengan hati dan kepala dingin. Jangan terbawa emosi seperti ini," ajaknya membawa Aka duduk kembali.


"Terus di mana, Fathia sekarang, Mit? tanya Ciara khawatir. Ia tak menyangka kalau sahabatnya akan mengalami masalah seberat ini.

__ADS_1


"Mbak Fathia sudah dipindahkan ke lapas pondok bambu sejak dua bulan yang lalu."


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?!" Aka emosi pada Mita yang menutupi hal ini darinya sejak kemaren.


Gadis itu mendengus kesal. "Hei sadar! Anda yang membuat dia dalam masalah ini! Kalau saja malam itu Anda mendengarkan semua penjelasannya, maka Alodie dan Galen nggak bisa melakukan hal ini padanya!" Mita tak kalah emosi menunjuk Aka tepat di depan wajahnya.


"Apa nggak ada pembelaan sedikit pun untuknya, Mit?" tanya Alia berderai air mata.


Mita menyeringai dan menggelengkan kepalanya. "Pembelaan dari mana, Tante? Orang saksi kunci yang bisa membelanya sudah mengusir dia pergi. Egois! Kalian hanya memikirkan luka sendiri yang ditimbulkannya, sedangkan dia menderita menerima hukuman atas kesalahan yang tak sepenuhnya ia lakukan." Mita menunjuk Aka dan Ciara dengan wajah yang memerah dan air mata yang akhirnya jatuh.


"Mbak minta maaf, Mit." Mohon Ciara menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Hah, maaf kalian nggak akan bisa mengeluarkan dia dari dalam sana!!"


Aka bahkan sampai tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Kenyataan ini begitu menyakitkan seakan ribuan belati tajam menghujam jantungnya, nyeri ngilu dan tak tertahankan. Bahkan tangis pun tak sanggup untuk meluapkan kesedihan terdalam ini


"Mit, bawa saya ke sana, saya akan melakukan apa pun untuk membebaskan istri saya." Aka bersimpuh di kaki Mita meminta diberikan kesempatan untuk berjumpa sang pemilik hati yang kini sedang menderita.


"Sebelum itu dokter harus menyiapkan uang jaminan untuk bisa mengeluarkan, Mbak Fathia dari dalam penjara. Siapkan pengacara terhebat untuk menuntut balik Alodie!!"


"Kenapa Alodie harus di tuntut balik?" tanya Faris


"Pak Hendro, bisa tolong jelaskan sesuai bukti yang anda dapat," pinta Mita.


Pria itu mengangguk. "Setelah kami selidiki, malam sebelum terjadi kecelakaan Alodie dan Fathia berada dalam satu mobil. Alodie sendiri di sisi kemudi dan Fathia di sisi penumpang. Sampai pada kecelakaan itu terjadi Alodie masih dalam keadaan sadar tapi, ia sengaja memindahkan Fathia yang tak sadarkan diri ke sisi kemudi lalu ia keluar dari dalam mobil. Tepat saat mobil meledak ia terpental dan jatuh ke sungai. Alodie ditemukan oleh seorang warga di hilir sungai dan di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Kami juga sudah memintai keterangan warga tersebut sebagai saksi jika diperlukan."


"Bagaimana keadaan istri saya sekarang, Mit?" tanya Aka menghapus air mata.


"Besok bisa dokter pastikan sendiri. Saat itu terjadi saya pastikan dokter akan semakin menyesal!" Mita berusaha menahan diri agar tak mengungkapkan yang seharusnya. Sesuai permintaan Fathia, biarlah laki-laki itu yang akan mengetahui sendiri nantinya. "Besok pagi dokter sudah siap dengan uang jaminannya. Kita berangkat jam sepuluh pagi, saat jam besuk," tambahnya.


"Tante boleh ikut?" Alia pun juga ingin segera bertemu dengan sang menantu.


"Maaf Tante, hanya dua orang yang boleh datang untuk menjenguk dan itu pun waktunya terbatas."


"Aka, bawa istri kamu pulang, ya?" Alia mengiba pada sang putra agar bisa mengeluarkan Fathia dari hotel prodeo.


Aka membawa sang Mama kedalam dekapannya. "Aka janji sama, Mama besok Fathia pasti akan pulang ke rumah ini!" katanya yakin.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebelum berangkat bersama Mita, Aka sudah memangil seorang pengacara yang nantinya akan mendampingi ia untuk menjamin kebebasan sang istri.


"Berangkat sekarang?" tanya Mita.


Aka mengangguk mereka bertiga menaiki mobil sedan mewah milik Aka menuju tempat keberadaan Fathia selama ini. Selama perjalanan Aka merasakan degup jantungnya semakin berdetak cepat. Mita pun dapat melihat raut wajah Aka yang berubah tegang.


"Kenapa tegang gitu mungkanya, dokter?"


"Saya takut, Mit!"

__ADS_1


"Takut kenapa?"


Aka meremas kuat stir kemudi. "Saya takut dia marah dan benci sama saya!"


Mita menipiskan bibir dan mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau saya jadi Mbak Fathia, emang nggak mau lagi ketemu sama dokter. Laki-laki bodoh yang bisa ketipu berkali-kali sama Alodie."


"Kamu menghina saya?"


"Bukan! Tapi yang saya katakan kenyataan! Satu lagi, ada hal yang belum dokter ketahui. Nantilah kalau masalah Mbak Fathia ini selesai. Saya juga capek bolak-balik selama ini cari bukti tapi nggak dapat."


"Kenapa nggak minta tolong saya?"


Mita menggeleng. "Mbak Fathia nggak mau. Katanya dia ikhlas menerima hukuman itu asalkan dokter bahagia, jadi dia nggak mau merusak kebahagiaan dokter."


Aka merapatkan bibirnya. Segitu tulus kah cinta wanita itu untuknya sampai ia rela menderita dan menanggung hukuman yang tak pantas ia dapatkan.


"Kenapa? Nggak bisa berkata-kata?"


Aka hanya memaksakan senyum di bibirnya.


Mita yang merasakan bosan selama perjalan memilih untuk memutar sebuah lagu di ponselnya.


...๐ŸŽผ๐ŸŽท๐ŸŽน...


...Melihat mu bahagia...


...Satu hal yang terindah...


...Anugerah cinta yang pernah ku punya...


...Kau buat ku percaya...


...Ketulusan cinta...


...Seakan kisah sempurna kan tiba...


...Masih jelas teringat...


...Pelukanmu yang hangat...


...Seakan semua tak mungkin menghilang...


...Kini hanya kenangan...


...Yang telah kau tinggalkan...


...Tak tersisa lagi...


...Waktu bersama...

__ADS_1


__ADS_2